Sedih melihat kondisi negara ini. Tadi baca berita tentang anak SD kelas 2 yang dikeroyok temannya sampai mati! Gila! [Update: tadi saya baca di koran, katanya sang anak meninggal bukan karena keroyokannya akan tetapi karena ada luka di ususnya yang sudah lama - bukan karena keroyokan. Okelah, meninggalnya mungkin bukan karena keroyokan itu tetapi kan tetap keroyokan terjadi.]
Sebelumnya juga saya membaca berita di multiply.com (lupa URL-nya) tentang seorang keponakan dari sang penulis itu yang juga dipukuli temannya. Aduh.
Sementara kita dan negara asyik membahas UAN yang notabene hanya masalah IQ semata-mata.
Ingat, anak-anak ini adalah masa depan kita. Belum jelas? MASA DEPAN KITA. Lebih baik kita ajari anak-anak kita untuk menjadi rukun, sopan, bergotong-royong, tepo seliro, peka terhadap masyarakat, yang katanya merupakan ciri bangsa kita daripada matematika atau ilmu teknis lainnya. Mengapa kita lupa akan ini? Mengapa tidak kita kembalikan lagi ke jaman dahulu?
Mengapa tidak kita gunakan media konvensional – surat kabar, radio dan TV – untuk melakukan pendidikan “budi pekerti” ini? (Apa istilah yang paling tepat ya?) Ah, sayangnya mereka lebih banyak berpikir komersial. Peringkat kepopuleran (rating) lebih penting. Lihat saja yang diberitakan, kekerasan! Kejahatan yang terjadi di sini dan sana. Kalau tidak itu, ya infotainment.
Saya sudah tidak tahan. Kita harus melakukan sesuatu. We have to do something!
Bagaimana kalau kita langsung gunakan media internet ini untuk melakukan pendidikan budi pekerti? Mau? Tapi kita harus serius? Gak hanya dolanan! Kalau memang mau, kita diskusikan dengan lebih serius mengenai bentuknya, formatnya (misalnya apakah penggunaan web / portal anak-anak dan remaja itu efektif), pendanaannya (apakah kita urunan atau minta bantuan ke perusahaan-perusahaan), dan lain sebagainya. Kita perlu orang yang mengerti masalah ini: pendidik, psikolog, orang media, jago grafik, artis, seniman, budayawan, teknokrat, dan seterusnya. Maaf kalau ada yang terlewat. Atau … saya mimpi (bahwa masih ada orang yang concern)?


Mei 4th, 2007 at 9:44 am
IPDN sudah menular ke SD?
kacau sekali negara endonesah ini…
Mei 4th, 2007 at 10:35 am
Ya, pak… saya setuju, kita harus menghidupkan kembali pendidikan budi pekerti. Kalau menggunakan web/portal yang langsung membidik mereka, memang sepertinya kurang efektif karena kecil kemungkinan anak-anak dan remaja itu akan mengaksesnya.
Mungkin jika web/portal tersebut ditujukan untuk orang tua/guru/saudara, akan lebih efektif. Maksudnya, yang disadarkan itu adalah orang-orang lebih tua yang berada di sekitar anak-anak dan remaja.
Mungkin formatnya seperti ilmu komputer.com? Masalah dana, mungkin ada orang Depdiknas yang mau membantu…
Mei 4th, 2007 at 10:42 am
andana, perlu diingat bahwa anak-anak indonesia sekarang banyak yang sudah pakai friendster (FS). (saya ingin tahu berapa jumlahnya.) tapi ya itu … terbatas di friendster saja.
coba cek, kalau anak SD/SMP terhubung ke internet, mereka mau akses apa? detik? nggak. karena itu konsumsi orang dewasa (bukan yang itu maksudnya, ha ha ha). kemana mereka bisa berkumpul dalam komunitas anak mudanya? satu-satunya … friendster.
nah, saya ingin ada komunitas lain yang bisa meningkatkan kualitas karakter mereka. itu salah satu contoh saja.
Mei 4th, 2007 at 11:03 am
dulu waktu smp, saya pernah dipukulin sama kakak + adik kelas tanpa alasan yang jelas. Kepala belakang saya ditendang. Untung ga sampai geger otak. Sampai dirumah, ditanya orang tua, saya jawab jatuh dari sepeda.
Yah, mo cerita sedikit aja sih pak.
mengenai penggunakan media internet ini untuk melakukan pendidikan budi pekerti, sepertinya susah pak. harus sosialisasi langsung. Face to face.
Mei 4th, 2007 at 11:34 am
Sepertinya rukun, sopan, bergotong-royong, tepo seliro, peka terhadap masyarakat makin jauh saja dari bangsa ini, jangan terlalu berharap anak-anaknya akan lebih baik, kalau orang tuanya saja banyak yang tidak mengenal budi pekerti (apalagi Budi Rahardjo
).
Mei 4th, 2007 at 11:49 am
Idenya bagus, tapi apa akan efektif?
Masih sangat banyak masyarakat yang tidak bisa menikmati internet. Internet masih relatif mahal untuk sebagian orang.
Akan sulit sekali untuk bisa menjangkau anak-anak melalui media internet ini.
Saya pikir bahwa hal-hal kekerasan ini akan bisa dikurangi kalau hukum benar-benar ditegakkan dengan keras dan tegas tanpa pandang-bulu / kompromi.
Saya lebih melihat aparat keamanan / hukum kita masih lemah, memble, bisa dipengaruhi (sogok).
Tindak tegas dan hukum seberat-beratnya para pelaku kejahatan dan kekerasan.
Tapi apakah bisa?
Bagaimana kalau JUGA dibikin yang sebaliknya? Kita gunakan internet untuk “mendidik” / “menyentil” aparat keamanan kita?
Kita ungkap kebobrokan polisi / hakim dengan sangat detail. Paparkan borok-borok mereka.
Misalnya seperti: http://au.ratemyteachers.com/
Tapi kali ini khusus untuk polisi dan hakim Indonesia !
Mei 4th, 2007 at 11:57 am
saya setuju pak…
kalo butuh, saya bisa menyumbangkan artikel pembelajaran musik klasik atau tarik suara untuk adik2 saya. Kebetulan saya hobby di bidang sana.
Hehe.
Mei 4th, 2007 at 12:45 pm
1. tentukan waktu dan tempat untuk membicarakan ini.
2. siapkan resource, on voluntary base.
apa yang bisa saya bantu?
Mei 4th, 2007 at 1:11 pm
Saya yakin, komentator di sini akan bilang setuju semua. Tapi, ya cuma sebatas omdo aja, tanpa aksi. Inilah kultur kita (termasuk saya lho). Seperti halnya adu penalti Chelsea vs Liverpool, siapa yang mau menjadi korban? Siapa yang mau menanggung beban untuk bergerak, memfasilitasinya? Kalaupun sudah ada, apakah yang omdo-omdo ini tetap pada komitmennya? Kebanyakan nantinya cuma beberapa orang saja yang tetap bergerak. Dari 100 orang yang ngomong dengan berapi-api, paling hanya 5 orang yang sesuai dengan omongannya.
maaf, sikap apatis yang timbul karena rasa desperate yang berkepanjangan.
Mei 4th, 2007 at 1:30 pm
Ngomongin anak2: Di ujungberung ada anak umur 6 tahun diamankan oleh pak polisi.
—
teryata pak polisi tersebut bapak dari anak berumur 6 tahun
(halah euy garing pisan..Punten pak)
Mei 4th, 2007 at 4:08 pm
Pendidikan sekolah dasar kita masih sedikit melibatkan partisipasi orang tua. Padahal sebenarnya ini yang paling efektif dalam pembentukan budi pekerti.
Kalaupun ada masih sebatas monitoring PR saja.
Sebenarnya kita tidak perlu repot-repot bikin portal. Harusnya pihak sekolah masing-masing yang bertanggung jawab. Bagi yg punya akses ke sekolah-sekolah, silakan usulkan model portal yang mampu melibatkan partisipasi orang tua dlm pembentukan budi pekerti anak.
Mei 4th, 2007 at 5:52 pm
Kenapa gak mulai dari rumah? pendidikan dalam rumah. Seberapa banyak orang tua sekarang yang peduli akan pendidikan anak-anaknya?
Bagaimana kita bisa merubah negara kalau rumah tangga kita sendiri berantakan? Mungkin benar beberapa pendapat diatas yang menyatakan bahwa alangkah baiknya pendidikan akhlak dan budi pekerti ini ditujukan kepada orang tua. Dalam artian, pendidikan akan bagaimana menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya.
Kalau plesetan pepatahnya, Di dalam rumah tangga yang sehat terdapat anak-anak yang kuat.
Mei 4th, 2007 at 6:31 pm
Saya concern sekali Pak Budi, tapi orang-orang media itu sama sekali tidak peduli. Yang mereka peduli cuma uang, uang dan uang. rating yang entah dari mana ukurnya itulah target mereka.
Mei 5th, 2007 at 3:14 am
“Lebih baik kita ajari anak-anak kita untuk menjadi rukun, sopan, bergotong-royong, tepo seliro, peka terhadap masyarakat, yang katanya merupakan ciri bangsa kita daripada matematika atau ilmu teknis lainnya. Mengapa kita lupa akan ini? Mengapa tidak kita kembalikan lagi ke jaman dahulu?”
Om, kenapa matematika sih yang disebut?
Kalo kembali ke jaman dulu, sepertinya ga cocok deh, soalnya jaman sudah berubah, masalah juga berubah dan makin compleks, segalanya berubah. Kembali ke jaman dulu berarti mundur dong…., eh bisa ga ya dikembalikan ke jaman dulu?
Mei 5th, 2007 at 6:17 am
Sebagian besar mengatakan bahwa harus mulai dari rumah dulu, dari orang tua dulu. Ini tidak salah. It’s as true as motherhood.
Namun, artinya ini adalah usaha sendiri-sendiri. Tidak ada upaya yang terprogram untuk reaching out. Dengan kata lain, nggak mau ikut (usaha) ngurusi orang lain. Karena negara gak ngurusi yang ini, kemudian siapa yang ngurusi?
Apakah dengan membiarkan seperti ini, mudah-mudahan orang tuanya bisa sadar dengan sendirinya? Saya kok tidak terlalu yakin.
Mei 5th, 2007 at 8:59 am
Menurut saya media yang paling pas saat ini untuk mensosialisasikan pendidikan Budi Pekerti ada media Televisi, karena televisi memiliki akses yang paling luas di bandingkan dengan komputer (internet), coba bayangkan apakah internet sudah masuk sampai ke pelosok kampung di Indonesia ini ???
Coba bandingkan dengan Televisi, saat ini di gubuk paling reyok di sudut dusunpun sudah memiliki Televisi. Dan masalah budi pekerti ini bukan hanya untuk masyarakat perkotaan aja. Yang di kampungpun semakin terkikis saja kebersamaan dan budi perkerti anak-anak. hal ini karena pengaruh televisi.
Dibandingkan dengan acara televisi negara tetangga kita Malaysia, acara televisi negara kita hapir 99.9 % adalah sampah. Acara televisi kita banyak sekali di rasuki impian-impian semu, percintaan, kebencian, kesirikan, kesuksesan “yang tak jelas”, kekayaan, dan banyak lagi yang tidak konpatibel samasekali dengan kehidupan nyata.
Coba nonton salah satu sinetron di dua televisi yang katanya terbesar di indonesia, apa yang kita bisa kita dapat. Terus coba nonton televisi yang katanya pendidikan, berapa banyak pendidikan yang kita dapat dari televisi tersebut selain pendidikan “goyang pantat” dan “perdukunan”. Tak lebih semua sampah.
Bandingkan dengan televisi Malaysia, yang masih dengan setianya menyiarkan acara “Mari mengaji”, “Hikayatul Ambiya”, dan acara-acara yang sarat akan pesan moral yang bagus dan pendidikan Agama.
Sekian dulu komentar saya, yang sudah sangat muak melihat televisi Indonesia.
(Televisi Indonesia yang saya tonton saat ini adalah MetroTV dan TVRI, untuk acara-acara tertentu TransTV)
Mei 5th, 2007 at 9:33 am
Saya setuju, media yang cocok saat ini mungkin televisi. Program Televisi Edukasi yang diluncurkan oleh Depdiknas (jika dijalankan benar-benar dengan dukungan sepenuhnya dari semua pihak yang terkait), saya rasa sudah lumayan. Saat ini permasalahan yang dihadapi sama dengan jika kita menggunakan web/portal/komunitas di internet; CONTENT. Materi yang dipancarkan saat ini, kurang menarik karena masih menggunakan materi bekas TPI dulu (tahun 90-an), sehingga membuat anak-anak tidak berminat.
Jadi, sekarang ini kita harus memikirkan pengembangan content yang tepat (baik untuk televisi maupun untuk komunitas internet). Yang disukai anak-anak, dan tepat sasaran dalam memberikan pendidikan budi pekerti. Saya kurang mengerti masalah ini (belum punya anak, sih)…
Mei 7th, 2007 at 2:40 pm
iya pak saya setuju 1000%…
anak2 sekarang ini bisa dibilang sebagai “digital native” sementara sebagian kita ini mungkin masuk sebagai “digital immigrant” dan sebagian besar kita (termasuk guru dan orangtua) malah “orang asing” (tarzan???) di peradaban digital. Jadi sbnrnya kita ini tentu yang harus bisa memahami bagaimana “bahasa” mereka.
saya juga miris kalo anak2 sekarang dg couriusity mereka yg tinggi ini masuk ke internet tanpa tujuan dan panduan,ya ujung2nya masuk situs porno..
nha mungkin peran kita ini yang harus menciptakan image internet sehat bagi mereka sekaligus memfasilitasi intetnet sehat tsb spt apa(memberi pengertian bahwa di internet ada segudang hal yg lebih menarik dan keren).
kita fasilitasi mrk utk mbuat blog atau komunitas, tersedia konten2 keren (nggak harus pelajaran sekolah, mgkn malah banyak materi2 ekskul).yg suka musik misalnya, kita fasilitasi komunitasnya. nanti ada materi dan forum ttg cara belajar gitar (pak budi khan jago tuh, atau om yockie, jd bs mentor di sana haahaha. kalo musikus sekaliber om yockie bisa sekali dua kali nanggapi ato comment di situ aja khan anak2 pasti seneng dan bangga tuh..)
dari interaksi di sana khan kita secara nggak langsung bs masuk ke mereka ttg moralitas, budi pekerti (net-tiquette?), tanggung jawab, kepercayaan diri, dll
dg diluncurkannya jardiknas, saya kira ide2 macam gini akan disambut baik oleh Depdiknas, pak gatot dkk, (krn jardiknas sendiri masih sebatas infrastruktur dan masih butuh byk konten)
(btw saya dan temen2 sebenarnya baru menggagas utk mewacanakan pemanfaatan blog utk pendidikan bagi guru2(kantor kami kebetulan salah satu pusat penataran guru Depdiknas). Jd mungkin ide ini bisa disinergikan…)
Mei 10th, 2007 at 8:22 pm
Ya begitulah kalau orang yang mengajarkan pendidikan kurang berpendidikan, makanya pendidikan jangan hanya di tekankan pada pengetahuan saja, sesejkali di ajari moral yang baik donggg…
Mei 13th, 2007 at 12:03 am
gimana mo bahagia nih kalo Indonesia gini terus
Mei 18th, 2007 at 1:28 am
Sigma.. Masalah dan dilema…
ketulusan dan kesadaran termasuk beberapa indikator tentang INTELEGENSI seorang MANUSIA,
“tentang content acara /televisian indonesia”
Saya sering bertanya dalam hati saya..
apa yang di dambakan, dan apa yang dicita2kan oleh para penyelenggara Pertelevisian Indonesia??? terhadap para pemirsanya??
apakah hanya untuk memasarkan iklan?? terus bagaimana dengan pemegang iklan tersebut.. apakah produk yang mereka banggakan tersebut akan laku?? jika disuatu masa negara INDONESIA yang Tercinta ini menjadi negara termiskin di Dunia???
karena apa??
salah satunya karena content acara Pertelevisian di Negeri yang (Ramah Tamah) ini telah membuat sebuah Evolusi Sikap Mental & Intelegensi yang tak tentu arah..
Aku melihat mendengar dan Merasakan..
Telah terjadi PEMBODOHAN GENerasi Bangsa Indonesia..
Jika tidak dipikirkan dan dibenahi.. Kapan kita akan kembali membeli Produk yang sedang diiklankan sekarang ini?
apakah mesti dengan cara Korupsi??
Bagaimana jika kita bekerja di perusahaan pemegang iklan tersebut??
artinya??
Oh mungkin Media TV yang suka menawarkan conten kepada sebuah Produk untuk diiklankan… dengan menggunakan Acuan List Rating Acara yang tidak jelas di mana Sourcenya…
Kenapa tidak dipikirkan dahulu??
Gimana Dampak Psikologis Pemirsa??
Demi keuntungan ya??
Jangka Pendek Iya!!!
apa Akibat jangka Panjangnya??
Kemiskinan Segala Aspek.
Banyak penjual, tapi tak ada yang bisa membeli,
mungkin berhenti.
Tak ada pembeli, tak ada dana Untuk media..
tak ada dana.. Tak ada Media.
Artinya Tak ada Pemirsa..
Ini Kajian Jangka Panjang tentang Dampak(efek) bukan efektivitas.
Lembaga sensor Indonesia.
sensor indonesia hanya bekerja pada unsur Pornografi saja.
Tetapi tidak tentang Unsur Psikologis Pemirsa.
Masa sih.. Sarjana S2 S3 dan apa saja yang terkait entah itu tanda Mata,Dosa apa tanda Usaha. tidak pernah berusaha ntuk Membuktikan Bahwa “Tanda ini bukan sekedar Tanda, dan ini adalah Saya!!..”
Tolong di B H A K T I K A N..
Solusi??
No Body Care
Jangka pendek bisa saja ada yang mengatakan begitu..
Tapi Jangka Panjang??
Reformasi? Diambil dari kata
Re=Pengulangan
Formasi=Susunan
Hmmmhh…
MAsih Bermilyar kata yang aku keluhkan tentang pertanyaan dalam Hati saya..
mau bertanya.. sesat dijalan..
mau…
MAU JADI APA BANGSA INDONESIA INI NANTINYA??
INTELEGENSI Tidak terbukti pada KEBODOHAN
INTELEGENSI dapat terbukti pada KEPINTARAN
***Media edukasi Psikologis yang terdekat pada masyrakat Indonesia sekarang ini, yang menggunakan biaya terendah dan mendakup Jajaran Nusantara, adalah TELEVISI dengan CONTENT acaranya.***
Stay With
hhhhhhhhhhmmmmhhhhhhhhhh…