Negara Tanpa Tanggung Jawab

Ini cerita di tempat saya:

  • Urusan perbaikan dan perawatan jalan diserahkan kepada RW. Warga dimintai dana untuk perbaikan got, perbaikan jalan, dan seterusnya. Sekarang jalan mulai berlubang dan tidak ada yang peduli. Dulu ada perbaikan sedikit karena ada calon dewan dari partai politik tertentu. Nampaknya perbaikan jalan harus menunggu adanya pemilihan (entah pemilihan apa).
  • Urusan keamanan diserahkan kepada warga dan diorganisir oleh RW. Warga diminta untuk iuran bulanan untuk membayar hansip, atau diminta untuk ikut ronda.
  • Urusan kesehatan diserahkan kepada RW. Pengasapan (fogging), vaksinasi, dan urusan kesehatan lainnya diserahkan ke RW. Beberapa waktu yang lalu saya dengar ada form kesediaan untuk meminjamkan kendaraan apabila ada yang sakit dan membutuhkan bantuan untuk mengantar orang yang sakit ke rumah sakit.
  • Urusan kebersihan juga diserahkan kepada warga. Di tempat saya sekarang pengambilan sampah diorganisir oleh RW. Warga diminta untuk ikut iuran.
  • Urusan penerangan jalan diserahkan kepada warga. Masing-masing memasang lampu di pinggir jalan sehingga jalan tidak gelap ketika malam hari.

Lantas … dimana tanggung jawab negara ya?

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

14 Tanggapan to “Negara Tanpa Tanggung Jawab”

  • trian

    negara ngurusin urusan di luar daripada diatas pak..
    misalnya memastikan pajak dibayar tepat pada waktu dan jumlah (yang ‘disepakati bersama’).

  • budi juga

    negara ngurusin yang gak bisa diurusin RW pak! misal, menaikkan harga-harga…

  • Fiz

    Sepakat pak………… tapi maap (tanya) bukannya RW juga bagian dari sebuah negara?

  • tukang ketik

    tanggung jawab negara = membela yang korupsi pak. hehehe…

  • Budi Rahardjo

    Fiz, nggak masalah RW yang mengelola, tapi semuanya kemudian dibebankan kembali ke warga! Itu yang masalah.

    Bukan saya mengajak warga untuk tidak tanggung jawab dan tidak memperhatikan lingkungannya sendiri. Bukan itu. Yang masalah adalah Negara lepas tangan … Look ma, no hands! Itu yang bikin saya geram.

  • andana

    …………….. tidak ada yang bisa dikatakan, pak.

    “positive thinking mode on”;

    … Itulah negara KITA …

    “positive thinking mode off”;

  • maseko

    Yang saya lihat, ada penanganan yang berbeda antara kompleks perumahan dengan pemukiman umum. Di desa (Kabupaten Bandung) saya misalnya, “jalan desa” diperbaiki oleh desa/pemerintah, tapi mereka tidak menyentuh jalan kompleks. Denger-denger, karena developer tidak bertanggung jawab pada perbaikan, sebagian akan diserahkan ke desa. Begitu juga dengan penanganan sampah dan penerangan jalan.

    Dari cerita isteri saya dari petugas puskesmas, makin sedikit warga yang mau memvaksinasi anak-anaknya ke sana meskipun diberikan secara cuma-cuma, sampai-sampai harus berkeliling jika ada program vakinasi nasional, padahal sebelumnya diumumkan melalui desa/RW/RT, kebanyakan warga kompleks sudah melakukan masing-masing. Acara timbang-menimbang balita dan pemberian vaksin/obat masih berjalan di desa saya.

    Dan juga, sepertinya tergantung juga seberapa mau warga (melalui RT/RW) mengurus/mengusahakan beberapa fasilitas tertentu ke desa/instansi terkait. Misalnya fogging, sebelum diputuskan dilakukan secara swadaya, coba dulu menghubungi dinas kesehatan (atau kebersihan?), tapi ini juga biasanya masih mengeluarkan “biaya rokok” untuk oknum, tapi beban warga jadi lebih sedikit.

  • Dedhi

    Internet saja juga diusahakan RT/RW jadi RT/RW-net

  • ndoro kakung

    lah, kalo semua urusan diserahkan ke negara bukannya malah tambah repot, pak? bukannya sekarang justru zamannya pengurangan peran negara?

  • Dedhi

    #10 boleh aja peranan negara dikurangi, tapi pajak juga dikurangi dong. Di Singapore VAT cuman 5% dan PPh cuman 6%

  • rahadi

    Kita harus positive thingking “Mode ON”….
    Kita sebagai Warga Negara yang baik harus selalu siap sedia membantu negara dalam keadaan apapun, karena apapun yang dilihat orang luar negri tentang Indonesia, maka performance dan attitude kita lah yg di nilai. Jadi baik buruknya negara tergantung oleh kita semua sebagai warga negara!

    So… We Must.. Positive Thingking ‘MODE ON’

  • Jusmin Sutanto

    Itulah IndOnesia.
    (huruf “O” yang ditengah ditulis berlapis-lapis kayak logonya IndOmobil, IndOsiar, ataw IndOmaret)

  • Mita

    Indonesia emang RW=ra wangun alias ga keren hehehe maksa banget, maklum orang jawa

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 649 pengikut lainnya.