Trend Musik Digital: Kembali ke Singles

Beberapa bacaan saya menunjukkan bahwa tren penjualan musik digital semakin meningkat. Pak KK (Kusmayanto Kadiman) memberikan saya sebuah artikel dari harian “The Point” (12 Mei 2007, halaman 5). Judulnya “After singles were killed off, digital tracks now dominated“. Isinya adalah sebagai berikut.

Pada awalnya industri musik mengeluarkan produk 45s (itu lho, piringan hitam yang kecil untuk singles – ada 1 lagu di masing-masing sisi) dan cassette singles (kaset yang isinya satu lagu di satu sisi, dan satu lagu di sisi satunya lagi). Saya pernah memiliki kedua hal di atas (menunjukkan tuanya saya? ha ha ha). Sayang sekali saya tidak punya lagi artifak musik tersebut. Kemudian industri bergerak ke arah album. Bahkan produk singles tersebut dihapuskan sehingga memaksa pembeli untuk membeli album.

Nah, sekarang dunia musik telah memasuki dunia digital secara besar-besaran. Lagu dalam format MP3, OGG, WAV dapat diambil secara individual. Pada prinsipnya ini adalah pendekatan singles lagi. Industri musik (dan sebagian artis) masih memaksa penggemar musik untuk membeli album. Mereka beranggapan bahwa penjualan musik ya harus album. Padahal dahulu pun sudah ada yang namanya singles.

Jika dahulu produser dari musik bisa memaksakan kehendaknya (siapa yang bisa buat piringan hitam sendiri?), maka sekarang tidak bisa lagi. Tools untuk produksi dan distribusi sudah mengalami reformasi … (untuk lebih demokratis? baca “long tail”). Penggemar musik memiliki bargaining power yang besar. Mereka tidak mau didikte oleh produser lagi. Mudah-mudahan industri musik (baca: label) dan artis musik paham tentang hal ini. Digital singles are in town!

Tanda-tanda lain masih ada. Menurut artikel yang sama disebutkan bahwa album yang berada di peringkat atas penjualan adalah “Now That’s What I Call Music!“. Isinya? Kompilasi lagu-lagu yang nomor satu. Artinya? Singles!

Jika kita lihat sejarahnya, maka mungkin di kemudian hari digital album akan lebih populer dari digital singles. Untuk sementara ini kita kembali ke … singles!

Nampaknya apa yang kami lakukan di Digital Beat Store sudah benar.

Bahan bacaan lain:

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

8 responses to “Trend Musik Digital: Kembali ke Singles

  • fisto

    apakah nanti trend-nya artis2 musik itu juga setiap saat bisa melemparkan karya mereka ke pasar ya…setiap saat….artinya setiap mereka kelar menciptakan sebuah lagu, langsung dilempar…gak usah nunggu harus jadi satu album…wah, bisa jadi tiap minggu ntar ada lagu baru dari sebuah grup tertentu dong ya…menarik!

  • Hardjono

    Iya dong, singles lebih murah. Mending bayar 0.99cent di iTunes utk 1 lagu dari pada seluruh album :)

  • mobmagz

    saya sendiri sekarang mulai merasakan makin selektif memilih lagu digital. Bila dulu, saya selalu membeli CD MP3 bajakan yang jumlah lagunya ratusan. Sekarang saya prefer download beberapa lagu saja dari internet. Misalnya lewat emule..hehehhehee..tetep carinya gratisan. Tapi tak lama lagi saya akan beli lagu di digital beat store deh. Apalagi kalau DBS makin menambah koleksi lagunya. Jadi milih lagunya mangkin uenak :))

  • Adham Somantrie

    saya masih prefer untuk membeli album… entah kenapa? dengan membeli album rasanya saya memiliki hubungan erat dengan musisi tersebut.

    karena terkadang, beberapa musisi membuat album dengan konsep tertentu, yang membuatnya menjadi tidak bisa dipisahkan satu lagu dari album tersebut.

    coba perhatikan album “dream theater – scenes from memory”, konsepnya akan hilang jika dalam bentuk singles. sehingga musisi-nya pun membuat lagu yang diaransemen ulang untuk dijadikan singles (radio edit version atau single version, bukan original version).

    IMHO, cheers!

  • toni

    Hmm, entah pak kalau balik ke singles. Untuk trial error (mencoba karya artis baru), mungkin iya, single akan di sukai. Tapi kalau sudah ngefans dengan artisnya, saya yakin nilai intangible koleksi sudah bisa mengalahkan harga bundle CD.

    *bener gk ya pemakaian tangible di atas :D*

  • antoix

    Emangnya tugas produser di rekaman itu apa sih? Sedemikian berkuasa ya? Apa milih2 lagu juga?

  • Wibisono Sastrodiwiryo

    Pak Budi, saya tunggu negosiasi harganya dengan para Label, kalo sudah jadi dan running di DigitalBeatStore, saya ingin kerja sama integrasi layanan dengan portal yang saya bangun kelola.

  • Q

    Dari dulu saya tidak suka kompilasi dan the best of. Saya lebih memilih beli satu album penuh. Karena di satu album penuh, saya bisa merasakan totalitas dari artis tersebut dalam membuat karyanya.

    Dan saya juga khawatir kalau format hardcopy dihilangkan dan kemudian digantikan dengan format digital. Pertama: kualitas CD lebih baik daripada MP3. Kedua: kita akan kehilangan packaging kreatif sampul album, jika sampul album digantikan dengan format jpg.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.904 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: