Sex, Drugs, and Rock’n Roll
3 Juni 2007 oleh Budi Rahardjo

Sebagai orang tua, saya sangat concern dengan kehidupan anak-anak. Tidak hanya kepada anak sendiri, tetapi kepada generasi muda secara keseluruhan. Lingkungan anak muda menakutkan bagi orang tua, termasuk saya. Ada banyak pengaruh negatif yang dapat merusak masa depan generasi muda.
Saya ingin berkaca dan mencoba menceritakan masa muda saya, bagaimana saya bisa lepas dari masalah yang menyelimuti generasi muda. Saya sendiri tidak mengerti bagaimana saya bisa lepas dari itu. Namun, bisa. Mudah-mudahan cerita ini bisa membawa manfaat. (Saya akan tuliskan sedikit demi sedikit, dan akan saya update secara berkala agar tulisannya bisa menjadi lebih lengkap.)
Saya mulai dari yang paling berat dulu; drugs! Narkoba.
Saya dilahirkan di tahun 1962. Artinya masa sekolah saya terjadi di tahun 70-an dan 80-an. Jaman tahun itu kita masih belajar tentang masalah kesehatan. Belum ada larangan rokok. Perlu diingat pula bahwa tahun 70-an merupakan limpahan dari tahun 60-an, dimana gerakan hippies terjadi di Amerika. Narkoba, lebih banyak dalam bentuk ganja atau gele, masih marak. Di sekolah-sekolahpun ada. Saya masih ingat di belakang sekolah SMA saya ada tempat untuk anak-anak yang mau nge-ganja. Tentu saja tidak terang-terangan, tapi ada.
Saya sendiri tidak pernah mencoba ganja. Entah kenapa, saya tidak tertarik. Padahal banyak kawan saya yang ngeganja. Tentu saja sering ditawari, tapi saya selalu menolak. Penolakan saya bukan karena ketakutan atau sok alim. Kawan-kawan saya pada masa SMA itu bervariasi, ada yang alim ada yang kacau. Kalau ditawari rokok, ya saya sambut. Saya pada waktu itu mungkin termasuk social smoker, yaitu merokok kalau dikasih dan kalau kumpul-kumpul dengan teman. Kalau nggak, ya nggak ngerokok. Jadi kalau ada kawan yang ngeganja, ya saya ikutan ngerokok saja.
Ini yang mengherankan saya. Mengapa saya bisa menolak? Saya tidak tahu jawabannya. Banyak orang yang mengatakan bahwa peer pressure, tekanan dari kawan, sangat berat. Betul. Tapi saya tidak merasa sukar untuk menolak. Saya bilang, nggak mau atau males. Selesai. Mereka, kawan-kawan saya, nggak ada yang maksa dan tidak menganggap saya aneh atau sok atau bagaimana. Kami tetap kongkow-kongkow. Jadi apa yang membuat saya menolak? Tidak tahu. Saya merasa tidak ada manfaat, jadi menolak. Sesederhana itu.
Ketika sudah lebih dewasa pun saya juga tetap bisa menolak tanpa menunjukkan perasaan sebal (jijik), menghina, merendahkan, atau bagaimana. Saya bisa menolak drungs, alkohol, dan bahkan rokok. I just don’t want to do it, atau, I just don’t like it. That’s all. Perkawanan tetap berlangsung. (Justru saya merasa bahwa mereka malah memberi respect, karena saya bisa punya pendirian. Tapi gak perlu sok dengan menggurui mereka.)
Ketika bersekolah di luar negeri pun, ternyata sami mawon. Waktu itu saya di asrama (dorm). Well, you know the story. Seperti yang ada di film-film itulah, meskipun tidak sedramatis di film. Misalnya, ada suatu ketika seorang sobat saya jualan mariyuana. Entah kenapa waktu itu dia tiba-tiba datang ke kamar saya dan menyembunyikan rumput itu di kamar saya. Saya hanya bengong saja. Tentu saja dia menawarkan kepada saya dan saya tolak. Akhirnya kawan di sebelah kamar yang mau nyoba.
Kawan di sebelah kamar ini mencoba malamnya. Kemudian dia menangis keras-keras dan berlarian di luar kayak orang gila (ini musim dingin dan kami tinggal dimana salju bisa ada selama 6 bulan dalam satu tahun - he he he - kebayang anehnya). Keesokan harinya saya tanya kenapa dia berlaku aneh tadi malam, dia menjawab bahwa dia menyesal. Dia merasa bersalah karena keluarganya sudah setengah mati membanting tulang untuk menyekolahkan dia, tapi dia malah teler. He he he. (Maklum, dia berasal dari keluarga miskin di Hongkong.) Habis itu dia tidak mau lagi kalau ditawari oleh kawan saya yang sableng itu. He he he. Kawan yang sableng itu memang rada sableng.
Pernah suatu saat saya dan dia nonton pertunjukan band Kiss. Ini band cadas yang saya suka. Oke. Saya mau juga nonton. Pengamanan di pintu masuk sangat ketat, tapi yang dicari adalah benda tajam, camera (dulu ini jadi masalah), dan sejenisnya. Kalau rokok dan ganja gak diapa-apain. Aneh juga ya. Wah … begitu nonton, banyak yang langsung nge-linting. Sobat saya juga ngelinting. Saya tanya kenapa? Dia bilang supaya bisa lebih menikmati musiknya. Saya sih nggak ikutan, tapi mengeluarkan Gudang Garam saja! ha ha ha. Baunya lebih aneh lagi dibandingkan dengan grass! Orang sana celingukan. hi hi hi. Rasain lu.
Ke topik kedua: sex
Lagi-lagi, saya bisa selamat dari pergaulan yang tidak sehat. Tentu saja di sekolah banyak kawan wanita. Yang tertarik ke saya pun banyak. (Ho ho ho. GR? ha ha ha. Tapi ini sungguhan lho. Gak percaya?) Lagi-lagi saya tidak terlalu menanggapi. Saya lebih tertarik kepada perkawanan, friendship. Entah kenapa. Bagi saya friendship itu lebih menarik dan lebih penting. (Sampai sekarang, friendship merupakan sesuatu yang saya anggap sakral.) Saya tidak tahu darimana saya mengadopsi value ini. Lagian, saya banyak kesibukan yang lain sehingga yang begini nggak kepikiran.
Hal yang membuat saya sadar tentang bahaya sex sebelum nikah adalah melihat kejadian yang menimpa seorang kawan di sekolah (di SMA). Dia hamil. Saya bisa melihat betapa sedihnya dan terpukulnya dia dan bagaimana akhirnya sekolah dia kacau dan dia tidak bisa bergaul dengan yang lainnya. Dia menjadi terisolir. Ironinya, dulu kami - saya dan sahabat saya - pernah datang ke rumahnya tapi dimarahi oleh orang tuanya karena dianggap berandalan. Padahal kami biasa saja. Justru temannya yang berasal dari the have yang kelihatan sopan santu, ternyata malah makan tanaman. Saya sadar sex itu bukan main-main.
Sampai sekarang saya kurang suka joke-joke yang nyerempet sex. Bagi saya itu sangat merendahkan martabat wanita (dan pria). Seperti nggak ada guyonan yang lain saja. Kurang kreatif.
Hal lain yang membuat saya punya kendali juga adalah agama. Saya bukan dari keluarga santri, tapi entah kenapa agama bisa masuk ke hati tanpa dogmatis. Kalau saya nggak sholat, gak ada yang marahin. Waktu kecil memang ada pelajaran ngaji. Ada guru ngaji datang ke rumah, tapi saya lebih sering malasnya. Alasannya banyaklah, sakit perutlah, pusinglah. he he he. Ketika di bulan puasa orang menamatkan Al Qur’an, saya malah menamatkan buku Kho Ping Hoo. ha ha ha.
(Catatan pinggir. Hmm… pikir-pikir, ada banyak values juga yang diajarkan di komik ini! Mungkin saya juga banyak mendapatkan pendidikan moral dari komik ini? Saya ingin menjadi jagoan yang punya jiwa bersih! Bukan penjahat yang berjiwa pengecut. Demikian pula dari cerita Winnetou-nya Karl May. Saya ingin jadi Old Shatterhand.)
Di sekolah pun pelajaran agama biasa-biasa saja. Tapi mungkin karena kawan-kawan saya rajin sholat, maka saya pun terbawa. Daripada nganggur, ikutan sholat saja. Sampai akhirnya menjadi kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan. Sampai sekarang, sholat bagi saya merupakan hal yang super penting. Dia tidak boleh ditinggalkan, titik! Gelisah rasanya kalau waktu sholat sudah mau habis dan saya belum sholat.
Saya merasa bahwa saya adalah orang yang sangat religius, tanpa perlu demonstratif. Kalau kata kawan saya, kita tidak perlu mengibarkan bendera untuk menunjukkan bahwa kita nasionalis. Saya termasuk yang super serius dalam menjalankan agama (Islam, dalam hal ini). Misalnya, saya termasuk yang tidak menggunakan bunga bank untuk hidup. Bagi saya bunga bank itu riba yang haram. Saya percaya juga bahwa rezeki itu datang dari Allah sehingga tidak perlu terlalu pusing dalam mengejarnya. Saya percaya juga bahwa korupsi dan sogok-menyogok itu haram sehingga menghindari pekerjaan yang biarpun uangnya besar tapi lebih banyak mudlaratnya. Lebih baik sedikit tapi halal. Dan seterusnya. Tapi kesemuanya itu tidak perlu dilakukan dengan cara yang demonstratif. Diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari saja. Nanti kan tercermin sendiri. (Nanti suatu saat saya akan lebih banyak menulis tentang agama. Sekarang masih dalam taraf belajar.)
Nah, pemahaman agama Islam ini mulai masuk ke saya dari SMA, kemudian menjadi lebih dalam lagi ketika menjadi mahasiswa dan ketika di luar negeri. Nah ketika di luar negeri inilah justru saya lebih mengerti mengenai Islam. Pasalnya, saya harus menjelaskan kepada orang lain. Bagaimana mau menjelaskan kalau kita sendiri tidak mengerti? (Di kemudian hari, saya mulai lebih paham bahwa apa yang saya lalui ini karena adanya perlindungan dari Allah swt. Apa lagi kalau bukan itu? Banyak “kebetulan” yang saya alami. Pasti ini bukan sekedar luck, tapi memang karena adanya perlindunganNya.)
Di luar negeri, saya sholat di ruangan (office) yang isinya bukan orang Islam. Tentu saja awalnya mereka heran melihat orang sholat, tapi lama kelamaan mereka bisa menerima saya dengan tangan terbuka. Bahkan saya malah dijadikan designated driver ketika kami pergi ke bar, misalnya. Ha ha ha. Soalnya kalau ke bar kan mereka mabuk. Pulangnya gak boleh nyetir. Jadi harus naik taksi atau ada yang ditunjuk sebagai sopir kalau mereka gak bisa pulang. Jadilah saya sopir mereka karena saya nggak minum yang memabukkan. Saya dapat jatah Pepsi bergelas-gelas. he he he.
Ketika menjadi mahasiswa (baik di Indonesia dan di luar negeri) banyak sekali aktifitas saya sehingga nggak kepikiran soal yang negatif. Di kampus ITB dulu saya terlalu aktif dengan himpunan mahasiswa (kegiatan kemahasiswaan, sedikit berpolitik, kegiatan sosial dan seterusnya) dan unit olah raga & kesenian. Oh ya, juga nge-band. he he he.
Oke. Kembali ke topik utama. Bagaimana saya bisa menghindari misalnya narkoba di antara kawan yang menggunakannya, di antara peer pressure yang katanya hebat? Entahlah. Mungkin ini jawabannya.
Pada masa itu saya punya banyak kawan dan ada sobat-sobat dekat saya. Nah, sobat-sobat saya ini anaknya baik-baik, sholat nggak bolong, ngerjain tugas sama-sama, aktif di kegiatan siswa, kegiatan olah raga, dan seterusnya. Yang nggak bener paling … ngerokok. Sobat saya pada ngerokok. he he he. Bahkan kadang-kadang mereka dikasih rokok oleh ayah saya (yang dulunya perokok berat, sekarang tidak lagi). Selain ngerokok mereka fun dan baik. Tempat mengumpulnya kawan-kawan ini adalah rumah saya. Jadi orang tua saya tahu benar dengan sobat-sobat saya ini. (Sampai sekarang, mereka sering ke rumah orang tua saya kalau Lebaran.) Rumah saya memang sering dijadikan base camp untuk kawan-kawan saya (kakak saya dan adik saya). Strategi orang tua saya bener; daripada anak-anak nggak ketahuan juntrungnya, lebih baik diwadahi di rumah saja. Bisa diawasi. Lingkungan ini mungkin membuat saya bisa lurus. Jadi, jika kita ingin anak-anak kita tidak terjerumus, akomodasi kawan-kawan yang baik mereka supaya mereka sering ngumpul-ngumpul untuk urusan yang keratif.
Selain itu pada saat itu saya punya hobby olah raga dan musik. Olah raga saya adalah Tae Kwon Do. Sayangnya saya berhenti olah raga tersebut setelah dalam persiapan kejuaraan saya ketendang kepalanya dan pingsan (pipi dalam sempat harus dijahit karena sobek). Tapi musik … itu sampai sekarang. Saya menyukai musik sejak SD! Saya coba kursus musik dari organ (tidak berlangsung lama, bosan) dan drums (juga tidak berlangsung lama tapi cukup untuk main di vokal group sekolah). Mungkin karena kesibukan saya dengan hobby ini membuat saya tidak punya waktu nganggur. Jadi, beri hobby yang positif kepada anak-anak supaya mereka punya sesuatu yang ingin mereka kejar dan memfokuskan pemikiran ke sana.
Dari ketiga judul ini (sex, drugs, rock’n roll), saya hanya nyangkut di satu: Rock’n Roll! Tapi untungnya rock’n roll (musik) ini tidak negatif.
Jadi untuk sementara ini jawaban saya untuk menghindarkan generasi muda dari keterpurukan adalah: (1) lingkungan perkawanan yang baik; (2) banyak kesibukan (hobby) yang positif; (3) bacaan yang bagus dan memotivasi untuk menjadi orang baik; (4) contoh orang yang bener khususnya dari kawannya sendiri; (5) agama (how could I forget this).
Bagaimana pengalaman Anda?
Yes, komen pertama…
Satuju pisan!
Sex, Drugs, Rock& Roll memang banyak mewakili kehidupan anak muda khususnya generasi sekarang.
Pendidikan dari lingkunganlah yang bisa men-drive mereka ke arah produktivitas positif.
Keep Rock&Roll !!!
kalo saya pribadi, bukannya gak ada kesempatan untuk melakukan hal2 negatif. tapi yang bisa mencegah saya kurang lebih adalah:
* saya ultra introvert. gak gaul hehehe. gaul cuma sama temen sekelas dan seminat hehehe. kalo dideketin cewe langsung gemeteran

* sekolah di tempat yang relatif punya nilai2 bagus: SMP 5 & SMA 3 bandung
* sering ikut kegiatan, terutama di SMA
* gak punya duit, buat beli rokok apalagi buat pacaran hehehe. kalo ada duit, duitnya abis buat ongkos onlen BBS
Ceritanya menarik juga Om…
Ntar deh koment yang seriusnya, nunggu updatenya…
wah, yang kayak ginian mah banyak di tempat dugem Pak. kan tempat dugem jadi tempat “hedon” anak-anak muda sekarang.
-IT-
saya setuju sekali dengan bapak budi rahardjo.bahwa yang namanya free sex & drugs itu sangat2 berpengaruh negatif bagi para generasi muda.
tapi saya ingin berkomentar sedikit juga mengenai bapak budi sebagai “designated driver” para bule’ untuk bersenang-senang di bar dan mabuk !!.itu mungkin berarti kita sama saja mengantar orang lain ke tempat “yang salah”dlm hal ini menurut syari’at islam.walaupun memang menurut mereka itu kultur/kebiasaan mereka.
tapi setidaknya kita tahu bahwa itu salah.
mungkin sama saja mengantarkan orang kepada tempat yang salah !!.Maaf kalau saya sok tahu.
@mie. iya mie. betul. kalau mau cari alasan sih bisa, bahwa mereka berangkat sendiri ke sana (kan belum mabuk). saya hanya mengantar pulangnya saja.
tapi saya tidak mencari-cari alasan. di dunia sana, mabuk itu terjadi. saya bisa saja tidak peduli dan meninggalkan mereka (atau bahkan memberi kuliah), tapi itu tidak memecahkan masalah bagi mereka. dengan saya menjadi driver mereka, setidaknya saya mengurangi terjadinya drink & drive. tentu saja saya juga bisa menjadi contoh bahwa tidak minum pun nggak apa-apa. so they feel ok not drinking.
ada banyak hal yang bisa kita pecahkan tanpa terlalu banyak berteori atau berdogma. sebagai contoh, kalau kita mau strict tentu saja bisa meninggalkan bank yang menggunakan riba, misalnya. riba sama haramnya dengan alkohol. bukankah demikian? tapi tentu saja kalau kita mencela secar frontal terhadap sistem (perbankan), banyak orang yang tidak peduli. kalau kita contohkan, dan bisa sukses, maka orang akan percaya bahwa bisa. begitu mie.
tentu saja hal seperti tidak untuk setiap orang, mie. jangan-jangan malah terpengaruh. he he he. buyar. ini membutuhkan keteguhan hati yang luar biasa. saya tidak mengatakan bahwa saya punya keteguhan hati, hanya apa yang saya lakukan terjadi begitu saja. it just happened. tidak direncanakan. saya hanya minta perlindunganNya saja.
terima kasih atas komentarnya. keep them coming.
Wah, sangat menginspirasi sekali. Terimakasih Pak Budi.
Mirip dengan masa muda saya (duh - masa muda, seperti sekarang sudah tua saja hahaha) - cuma kalau saya masih ada dugem-dugem ke diskotik atau bar-nya tapi herannya semua teman dekat saya (satu gang ± 10 orang plus minus) tidak ada yang terlibat drugs ataupun sex (kalau ini sebenarnya tidak terlalu yakin tapi so far tidak pernah bermasalah dengan kasus-kasus MBA).
Jadi saya setuju sekali bahwa aktivitas, teman dan agama (tanpa harus dogmatis - keluarga saya liberal sekali untuk urusan beragama - beberapa opini saya tentang agama bahkan sering dikatakan terlalu ‘liberal’
adalah unsur-unsur yang berpengaruh pada kehidupan seseorang.
saya juga setuju…
sebgai anak muda harusnya punya gaya….
tapi ngapain ikut2an sama yang gak benar..
biar brjiwa rock kan gak harus ikut ngedrugs..
mestinya kan bisa brfikir sndiri…klu diri lo bisa lebih baik dari yang lain
Mengenai designated driver, saya kira caranya pak budi sudah benar. Sifat manusia, kalau dihadapi dengan frontal, justru egonya naik dan masukan dari kita, walaupun baik, jadi mental
Tapi kalau kita ikuti teladan Nabi saw, memberi masukan dengan baik, atau lebih sering adalah dengan memberikan contoh teladan (seperti pak Budi, yang ke bar tapi sama sekali tidak minum alkohol); biasanya ini bisa lebih mengena dalam artian yang sangat positif.
Contoh lainnya lagi adalah soal riba. Dulu, waktu saya masih turut berjuang membesarkan institusi keuangan Islam (asuransi syariah dan, kawan-kawan di bank muamalat, bank syariah), wah luar biasa sering kita malah dicemooh; oleh orang islam sendiri
“lha bank sentralnya masih riba, gimana bisa bebas 100% dari riba?”, “syariah darimana, di dalamnya kan masih kecampur2 sama riba”, “bank syariah kok returnnya lebih kecil (iya lah pak, lha memang bank nya juga masih kecil !)”, dst.
Tapi, kami percaya bahwa sunnatullah perubahan itu adalah melalui proses. Bukan seketika / sekejap mata. Jadi ya kita lakoni saja lah.
Alhamdulillah, hasilnya baru bisa kita mulai tuai sekarang. Bank sentral pun sudah mulai banyak mendukung untuk soal keuangan syariah ini.
Apalagi di luar negeri; telah dinyatakan sebagai sektor yang berkembang paling pesat, dan sampai ada universitas non Islam yang mengadakan program studi keuangan syariah !
Karena itu saya kira baik idealis maupun pragmatis kurang baik. Idealis namun tidak realistis biasanya tidak bisa menghasilkan apapun yang bermanfaat / sindrom menara gading. Pragmatis namun tanpa idealisme akan mudah terjerumus menjadi oportunis.
Yang lebih tepat adalah kombinasi keduanya, praktis / bermanfaat & dengan niat yang baik.
Mengenai tips pak budi untuk menghindari terjerumus di masa muda, saya kira poin 1 & 2 sudah mencukupi. Kawan itu sangat penting sekali. Juga, perlu selalu ada kesibukan yang positif, kalau tidak ya jadinya ngawur kemana-mana, he he.
Very good post pak, moga bisa banyak bermanfaat untuk banyak orang.
Jadi mencoba mengingat-ingat gimana masa saya SMA dan SMP. Tapi jelas banget, emang teman dan lingkungan pergaulan pengaruh utama.
Sama seperti pri, saya juga introvert :”->
Cuman sepertinya anak-anak saya tidak.
Terima kasih tulisannnya bagus sekali.
Memang benar sekali apa yang Pak Budi paparkan, memang sih temen dan lingkungan yang akan membentuk prinsip dan kelakuan seseorang.
Berteman dengan orang baik dan di lingkungan yang baik akan menjadi baik, begitu juga sebaliknya.
Jadi mikir, gimana cara mendidik putri saya untuk lingkungan yang sudah seperti ini. Rasa sangat sulit sekali, apalagi racun kehidupan masuk lewat jalan yang sangat-sangat mudah saat ini. Yaitu televisi.
Untuk saat ini, saya mencoba untuk memilih chanel tv yang bermanfaat untuk putri saya yang berumur 16 bulan. Ini demi prinsip hidup dia nanti juga.
Kalo saya mirip mirip pak Priyadi di atas. Keseringan bokek, makanya gak punya duit buat beli rokok apalagi drugs. Tapi dulu social smoker juga, kalo ada yg ngasih, ya ngerokok.
Karena bokek juga, jadi minder sama cewek. Jadi gak sempet pacaran. Cuma naksir-naksir gak jelas.
Saya waktu masih sekolah udah hobi elektro, jadi duit jajan suka habis buat bikin proyek elektro. Pas kenal komputer, juga duit habis buat beli buku dan majalah, waktu habis buat baca dan coding. Dulu belom punya kompie, jadi coding pascal di buku tulis dulu, baru kalo udah ketemu komputer disalin, hehehe.
Pas kuliah saya jadi lebih geek dan eksentrik. Banyak baca buku filsafat & kesusasteraan, main teater, nulis, main musik juga. Aktif juga di organisasi. Pokoknya banyak kegiatan. Tapi masih tetep bokek juga.
Tulisan bagus. Pantas pak Budi sukses sebagai akademisi dan enterpreneur.
sayangnya, saya masih muda, jadi tidak bisa komentar, mungkin hanya mengambil pejaran saja dari yang sudah ada (maksudnya, cerita pak BR dan kawan2)
tiap orang punya jalan sendiri2. termasuk jalannya pak BR ini. yang terutama saya petik dari cerita pak BR ini adalah “character”. Bagaimana seorang BR memaknai dan menjalani hidup. bahkan sampai keseriusan beragama.
soal beragama ini, saya melihat pak budi ini termasuk tipe pembelajar beragama yg ‘ainul Yaqiin (keyakinan yang timbul dari pengalaman langsung) daripada sekadar ‘ilmul Yaqiin (taken for granted)
(bahkan Nabi Ibrahim-pun (bapaknya monotheisme dunia) nampaknya tidak puas dg cuma ilmul-yaqin-nya (baca “keraguan Ibrahim” di: al-Baqarah [2]: 260)
but, bener sekali pak, saya pun merasakan bahwa keberuntungan2 kita bukan lah kebetulan, tapi benar2 karena perlindunganNya..
Kebetulan saya baru saja bikin tulisan “dangkal” tentang ganja… Jadi merasa tersindir.
Sejatinya saya merasa sebagai orang religius yang terperangkap dalam kepala liberal. Apakah religiusitas dan liberalisme itu bertentangan, saya tidak tahu. Saya sendiri merasa tetap dekat dengan Tuhan meskipun melakukan hal-hal yang oleh sebagian agama dilarang.
Terima kasih, Pak Budi. Tulisannya menyentuh sekali. Kalau bukan di kantor mungkin saya sudah menangis.
*lho, di kantor kok malah blogging , hehehe…*
Wuih…..bagi saya agak susah untuk menulis perasaan pribadi (terutama personal: the good and bad). Tapi setelah membaca tulisan Pak Budi terlihat bahwa kita semua jarang berhadapan dengan hal yg hitam atau putih, yg ada adalah nuansa dari putih dan hitam berbaur dengan warna2 lain-lain; kadang2 sulit juga mengatakan suatu hal adalah abu2. Kehidupan manusia adalah penuh warna, kita tinggal memilih kuas yang tepat untuk membuat gambar sesuai pilihan hati nurani.
IMHO. Seperti digambarkan oleh Pak Budi, seorang anak kemungkinan akan memilih kuas yang ditinggalkan oleh orangtuanya untuk mewarnai hidupnya. Meskipun ia mendapat warna warna baru dari sekelilingnya, ia akan selalu ingat bahwa warna dasarnya adalah merah (Red), hijau (Green) dan biru (Blue) seperti yang diajarkan oleh orang tuanya.
“There is so much good in the worst of us, And so much bad in the best of us, That it ill behaves any of us To find fault with the rest of us”
saya setuju banget sama pak budi rahardjo
free sex no way
drugs no way lah…!!
Kalo saya…
Smoke: gak ngerokok karena asma dan trauma (kakek wafat akibat kanker yang disebabkan oleh rokok)
Drugs: tidak tertarik (gak tahu kenapa) dan tidak pernah ditawari karena gak gaul.
Sex: sangat berminat, tapi maunya sama yang cakep sedangkan yang cakep gak mau ama saya walhasil hanya bisa melihat lihat alias mupeng… kesian deh gw
Alcohol: gak suka karena rasanya gak enak, lebih suka milk shake chocolate karena rasanya enak
Agama: lebih tertarik ke filsafatnya (walaupun sebatas pengantar) daripada ke ritualnya, ritual sebatas tidak sholat selain lima waktu (itupun banyak bolongnya karena lupa dan telat), tidak puasa selain ramadhan (belum bisa ngaji, bacaan sholat dihafalin saja)
Dugem: gak suka musiknya dan mata perih gak tahan lama
Pergaulan: anak rumahan yang gak banyak teman tapi disukai teman karena suka ngebanyol yang konyol
Kegiatan: masa SD suka snorkling di Lovina, SMP ekskul elektro dan kursus komputer di LPKIN, SMA ikut sispala, kuliah lebih suka bolos karena bosen, kerja lebih suka ngejob sendiri diluar, sekarang bikin web doang.
Rock’n Roll: bukan anak band tapi terobesesi oleh musik band (bon jovi, def leppard, gnr, dst), ingin bisa bermusik seperti mereka
Social: SD belum ngerti cewek, SMP malu malu ama cewek, SMA miskin cewek (jurusan A1, ceweknya cuma 2 orang, sisanya cowok), Kuliah miskin cewek lagi (Filkom jurusan TK, ceweknya gak ada yang cakep, yang cakep numplek di MI), kerja di IT (mana ada sysad linux yang cakep?, yang cakep adanya di CS dan marketing), sepertinya ini kutukan buat saya, lingkungan yang banyak cewek cakepnya selalu jauh dariku… duh kok jadi curhat gini sih…
Tapi semua itu saya sukuri karena membuat saya cukup terpelihara sampai sekarang, gak tahu nanti kedepannya gimana, yang jelas selalu minta perlindungaNYA dan berdoa suatu hari nanti ada yang hadir (tentunya yang baik dan cakep).. Amien
Tulisannya bagus, tambah kagum ni ma Pa Budi
Saya merasa klo lingkungan gaul saya tuh anak baik2, pinter2, soleh (tp funky..), tapi kmarin hati saya “kejedak” saat denger pengakuan sobat deket klo dia dah ngelakuin free sex sejak tahun pertama kuliah, dan saya baru tau kemarin abis wisuda….(bayangin….4 tahun!!herannya kok ga hamil ya?)
Rasanya pengen nangis, asa percaya ga percaya, kok bisa sebagai sobat deket saya ga tau hal itu…..
Akhirnya saya cuma bisa istighfar dan mohon ampun karena ngerasa bukan teman yang baik…sampai sekarang saya masih bingung menyikapinya?Apakah saya harus nangis,marah atau cuek aja??
Saya ingin berpesan buat para orang tua, tolong jaga dan awasi anak gadisnya, karena dalam hal seperti ini pasti pihak perempuan lah yang paling rugi nantinya…..
[...] membaca posting pak Budi tentang sex, drugs & rock n’ roll, pikiran saya malah langsung terbang ke masa lalu saya ketika saya masih suka merokok. Tepatnya [...]
Sex, drugs, and Rock ‘n Roll nggak akan mati, pak. Selama agama masih hipokrit dan mengekang pikiran generasi muda. Di masa pemikiran posmo ini, SD’nR sudah dipakai secara berbeda untuk kebanyakan orang, khususnya komunitas band-band indie jakarta. Baca artikel saya pada http://www.wonderbra.blogs.friendster.com berjudu, friendship, drugs & Rock ‘n Roll. and welcome to our world.
Nosa, Gitaris band Rock ‘n Roll Blues, Wonderbra
Iya bener nih Pak, jaman sekolah dulu banyak temen kepengaruh drug tp entah kenapa ak ga tertarik, dasarnya dr kecil emang ga suka minum obat hehe. Aku lg cari bahan untuk ceramah ttg narkoba di salah satu smp, aku sengaja nyari tips menghindari narkoba yang simple, mudah dilakukan, ga terlalu berteori dan yg paling penting ga menggurui. Nah tips dr Bapak nih berguna banget..makasih banyak ya Pak!
Superb!! pak budi, pemikiran yang bener2 “out of trend”, punya pendirian.
That’s the real punk dud!.
kalo saya punya judul sendiri pak :
“otak, otot, nasib, and rock n roll”
mungkin bagi orang-orang yang suka panjat tebing tau judul rock n roll saya itu he.he..
ia sii pa. . . emang musti di maklumin. . . . tapi klo anak yang prilakunya ga dipikir dlu kan gag musti di maklumin. . . ?
Ok aku setuju bgt bahwa sex bebas sangat berbahaya karna apa yg dipikirkan mrk hanyalah kesenangan sesaat aja mrk blm memikirkan gimana membesarkan anak,cari uang untuk menghidupi keluarga,dll. Dan aku ga setuju pabila rock n roll disamain dengan drugs n sex karena tidak semua menyukainya memang tidak bisa dipungkiri bahwa semua itu saling berkaitan tp seharusnya kita jg hrs memikirkannya ttg apa resikonya. Saalaam Rock n Roll never dies!!!!
wah bener2 pak Mbud, aye setuju dah.
terima kasih.. artikel nyata diatas sudah memberikan saya jawaban..
semoga kita semua bs seberuntung anda, yang diberikan jalan khusus untuk mengerti sepetik arti hidup ini..
gw pernah begituan 7 kali (2000) sama saudara gw dia ngajakin ngesex terus ya gw ngak bisa nolak sampe sekarang
sex, drugs, it’s okay. . . i’m agree, pure 1000%, that’s deppend on the human interest, if u enjoy it . . fine, but if u wrong . . the end of the world
“”Dari ketiga judul ini (sex, drugs, rock’n roll), saya hanya nyangkut di satu: Rock’n Roll!”"
Saya kebalikannya Pak, cuma ini saja yang tidak nyangkut.
Tapi sekarang saya sudah tobat.
bagi saya drugs and alkohol itu bagaikan racun yang merusak mental… jika mental kita digrogoti… semua pasti lepas kendali dan kehidupan tidak tentu arah… pasti. jangan pernah mencoba dan mencicipi … emang sih kata rama… mengapa yang dilarang itu pasti asyik… tapi gua ndak setuju dgn statement itu … alkkohon n drugs… kayaknya ngak enak… nyebelin karena harus ketergantungan dengan barang ini… kuat kan iman dan aimin… mudah2 an… terhindar amieen
merdeka… merdeka… merdeka dari drugs, free sex… itu merupakan pembuktian kemerdekaan yang nyata… perjuangan kita saat ini bukan neo imfralis tapi lebih dari itu … perjuangan diri dari hal-hal negatif… sangat lah berat dan besar arti perjuangan dalam bentuk kehidupan yang normal… bravo para pejuang… yang dapat menangkis serangan-serangan musuh itu… hadapi dengan iman dan tingkat kreasi dan explorasi diri…
YuuuPpZZZZzss….cerita nya seru+asik bgt….saya se0rang prmpuan brusia 17 thn.dan sy msh sklh di slh satu sklhn di daerah jakarta timur.saya memang sangat mnyukai musik apala9i rock n rooLL.setelah sy mmbaca cerita di atas hati sy ln9sung mmpunyai byangan ttg sex,drugs,rock and roll…slah ga si ya pa,klo sy ini se0rang prmpuan y9 mmliki kbiasaan mrokok??????pa mngkin sy ini slh prgaulan?????krn sy ini se0rang pmusik…??!!atau krna sy mmliki pr0blem yg sngt bnyk?????tp sy brsykur krn sy msh mmpnyai iman yg kuat&tuhan yg msh syng sm sy…,&sy plng 9a brni apalagi coba2…yg nm nya n9-drugs apalagi sex…..apalagi stlh sy mmbca crita di atas,mngkn bs jd pegangan,mlh bs jd motivasi sy &sy akn mnurangi kbiasaan sy itu….ju2r sy sngt mnga9umi anda&crita anda….andai sy mmpnyai se0rang ayah sprti anda….alangkah BAHAGIA nya sy….trima kasih ya pa ats cerita nya….(”,)
RiephezZ tanya: “salahkan seorang perempuan memiliki kebiasaan merokok?” Jawaban singkat (dan jujur) dari say adalah: salah! Bila pertanyaannya adalah untuk bukan perempuan, jawabannya tetap salah! Saya rasa Anda pun memahami ini. hi hi hi.
Begini ya nak (he he he, dengan memegang kacamata seperti orang tua)… hmmm mau ngomong apa? Oh ya ingat.
Mumpung masih muda (17 tahun), dan masih bisa berubah, saya usul untuk meninggalkan merokok itu. Saya tidak perlu memberi “kuliah” lah, tapi sayangilah badan Anda. Apalagi Anda adalah perempuan. Suatu saat kalau Anda ingin punya anak, rokok itu akan mempengaruhi anak anda. Just in case saja.
Saya tidak kompeten untuk memberikan nasihat tentang bagaimana caranya. Karena memang tidak tahu. Mungkin dengan mengurangi merokok dan menggantinya dengan jogging? he he he. Atau … dengan menulis & melamun? (Lha, nanti butuh rokok untuk kreatif? he he he.)
Satu hal yang harus Anda pertahankan: integritas diri. Itu saja. Jangan menyerah pada peer pressure atau tekanan diri.
Semoga Anda tetap bahagia. Masa muda, masa bahagia. Masa tua, juga … bahagia. Ha ha ha.
bner bgd pa,,
masa muda jangan dibuang gitu ajja (soalnya saya masih muda,,hehe 15 tahun)
Rock n roll musik yang echa suka,,dan nyenengin
tapii sayang nya knapa rock n roll harus identik dengan sex and drugs iia??
hehe
keep rock n roll!!
Waktu di SMP5 Bandung dulu sering diajakin sama temen2 ke Lipstick discotheque maen sepatu roda tapi lama2 kok saya jadi kenal rokok meskipun gak jadi perokok karena gak pernah punya duit buat beli (Alhamdulillah), di situ juga saya mulai liat anak2 seusia saya berani ciuman di sudut-sudut diskotik, tapi di tempat gitu hati saya kok gak ngerasa nyaman ya? yg saya nikmati hanya sepatu rodanya saja, apalagi jaman itu saya sedang tergila-gila sama klasik rock.
Waktu sering maen Band juga gitu, ikut festival band di salah satu Cafe di Setiabudi bawah (sekarang dah gak ada, cafenya kebakaran) kayaknya kita satu-satunya grup band yg personilnya gak ngerokok, sampe diledekin sama band2 laen “Ngeband kok gak ngerokok :)”.
Tapi sampe sekarang saya masih jadi perokok pasif (ngerokok tapi gak mau beli) jadi nunggu ditawarin temen, itu pun saya ambil kalo sedang suntuk sama kerjaan aja (social smoker kalo istilah pak BR ya).
BTW saya suka posting ini, begitu positif menurut saya.
gimana ya….
emang realitanya seperti itu
mau gmn lagi
rock n roll selalu
rock n roll hidupku
menurut sya smua it kembali kpd dri kta sndri…
sya tnngu crita brikutny
menurut sya smua it kembali kpd dri kta sndri…
sya tnggu crita brikutny..
ROCK N ROLL is my life..
menurut sya smua it kembali kpd dri kta masing2
ROCK N ROLL is my life..
wah.. pak saya ini peganja tulen lo.. (Heheh.. bangga banget yak..)
Saya juga ga religi religi banget, tapi tau kalo nyogok itu dosa, korupsi juga dosa..
Temen temen saya malah kebanyakan dari lingkungan santri, tapi mereka ga pernah saya paksa untuk ngeganja, palingan nawarin basa basi. Tapi anehnya.. dari temen temen santri saya itu, ga ada yang pemabuk, ga ada yang penjudi, ga ada yang kriminalis, semuanya alim & DOYAN SEX !! aneh ga tuh???
Salam kenal pak!
aq penggemar bgt ama drugs
Q pngn bngt ngesx am pcrq
tp gmn crny?
u bs bntuin G?
saya suka banegt dengan blog bapak euy! isinya bener-bener bikin hidup jadi hidup!
Terima kasih Pak Budi. Saya dapat pelajaran banyak hari ini. Meskipun tidak mungkin saya meniru 100% prinsip Pak Budi dalam pergaulan, saya coba untuk mengaplikasikannya.
Ngomong-ngomong, artikel ini layak untuk dipublikasikan di media remaja dan dewasa.
Saya tunggu update-nya.
sex : wah belum cukup umur saya
drugs : gak tertarik tuh
rock n roll : saya bangetttt….
gue sangat setuju sm sex,drunk and rock n roll
karena dapat menjadi obat yg manjur
Klo java, blog and nu-metal gimana pak bud?
: P