Hanya Pandai Bicara
22 Juli 2007 oleh Budi Rahardjo
Satu hal yang membuat saya kesal (one of my pet peeves) adalah orang yang hanya pandai berteori tapi tidak pernah melaksanakannya. Bagaikan jagoan dia berlagak di muka umum mengatakan “harusnya itu” atau “semestinya ini”. Dia sendiri tidak pernah mencoba melakukan apa yang dia katakan. Saya ambil contoh.
Ada orang yang mengkritik pendidikan, kampus, sekolahan, tetapi dia sendiri belum pernah terlibat dalam pendidikan. Coba dia mengajar dalam satu tahun, baru terasa susahnya. Ada juga yang hanya memberikan presentasi di seminar-seminar kemudian merasa bisa mengajar dalam waktu yang lebih lama. Ha ha ha. Silahkan dicoba. Sangat berat! Itulah sebabnya saya salut kepada bapak dan ibu guru (dan dosen) yang tetap bersemangat mengajar di tengah-tengah kesulitan yang ada. Mereka tidak berteori tapi berkarya.
Ada banyak contoh lain lah, seperti misalnya ada tukang komentar pemerintah (ketika dia duduk di pemerintahan, sami mawon dan bahkan lebih bobrok dari yang dia komentari dulu), komentator industri (elektronika, IT, musik, open source, tapi dia sendiri nggak ngapa-ngapain), komentator kehidupan di Indonesia (tapi dia berada di luar negeri), … komentator tingkah laku masyarakat (sementara dia tidak sadar bahwa dia adalah bagian dari masyarakat), dan seterusnya. Oh ya, di media masa mereka sering disebut dengan istilah “pengamat”.
Ya, ya, ya … saya tahu, komentator memang selalu berlagak lebih jago daripada pemain bola. Namanya juga tukang komentar. Kalau dia lebih jago dari pemain yang dia kritik, mestinya dia sudah di lapangan. Karena memang nggak bisa itulah dia jadi komentator. Namun saya masih belum terima komentator yang mengecilkan para pemain di “lapangan” (apapun bidangnya).
Jangan-jangan karena saya mengomentari para komentator ini, saya pun merasa sok jago berkomentar - lebih jago komentar dari para komentator. Nanti setelah ini ada komentar terhadap komentator yang mengomentari komentator. Duh rekursif … ur ur ur.
Saya berhenti. Selebihnya saya serahkan kepada sang beo, yang memang hanya pandai bicara. Silahkan … mas/mbak beo.
Maaf nih Om saya bukan komentator, tapi saya hanya mau memberi tanggapan saja.
Ya benar, biasanya komentator itu hanya bisa berkata “ini-itu” setelah melihat kelemahan atau kekurangan yang dikomentarinya.
Sering kita dengar dan saksikan “Wah harusnya begini, jangan begitu… dst”. Contoh nyatanya bisa kita lihat pada saat pertandingan sepak bola.
Di dunia pendidikan juga begitu. Banyak yang bukan ahli pendidikan berbicara masalah pendidikan, bahkan ngatur-ngatur masalah pendidikan. Makanya pendidikan di negeri kita susah benernya, karena diurus bukan oleh ahlinya. Biasanya yang bukan ahli seperti itu teriakannya paling keras biar didengar, biar dianggap bisa, biar dapat dukungan.
Haha…. Ya sudah segitu saja dulu tanggapannya.
Very nice, Bang Budi. Menurut Ilmu Sosial, ada sebutan “the fourth estate,” yaitu kaki ke-empat dari 3 kaki (ekse-yudi-legislatif). Ini direserve untuk media massa (conventional press).
Observers may have this position, which depends. They serve as “moral force” in the society, which can be quite annoying but make others think.
Just my two cents. Now I’m being a “beo.” He he he…
Have a great Sunday, Bang Budi. Keep smiling (I like the picture on this blog, very “photo model”y.)
Jennie
No Comment
Pak Budi, well you how the saying goes: “Those who can’t do,……”
bagaimana dengan yang “hanya melakukan rencana” Pak ?
..
tapi kadang kita juga butuh komentar loh pak.
jadi tahu bagaimana pendapat orang lain. karena tiap orang cara pandangnya kan beda-beda.
cuma, ya jangan keterlaluan dengan berlagak paling pintar.
ada limitasinya.
semoga aku bukan termasuk komentator yg pak budi maksud..
Mungkin pemain juga gak ngerti betapa susahnya jadi komentator? Makanya suka kesal hehe
Yang menarik itu tiap orang biasanya merasa benar. Makanya suka berkomentar ini itu. Sama dengan tiap anak kecil merasa dewasa. Dan itu bagus, asal disikapi dengan bagus. Tanya aja tiap orang di Indonesia, saya yakin mereka punya komentarnya masing2 untuk memperbaiki Indonesia.
Kalo saya daripada kesel mending diambil positifnya aja. Saya coba utk nggak take it personally, tapi saya anggap sebagai reminder atau teguran buat saya, kalau memang apa yg dikatakan lewat komentarnya itu sebetulnya benar/baik. Posting Pak Budi ini juga saya jadikan teguran buat saya yg suka kasih komentar doang, hehehe (tapi serius lho).
Cuap-Cuap tong kosong nyaring bunyinya.
Terlebih lagi dengan Media di Indonesia yg dengan mudahnya memberi label pengamat, sebenarnya mereka hanya sekedar butuh nara sumber yg gampang dihubungi, sebagai timbal baliknya sang-Nara-Sumber dapat memupuk popularitasnya.
Simbiosis Mutualisme
Tetapi terkadang orang yang ‘kurang jago tapi suka cari masalah itu’ kadang bisa memberikan masukan dari sudut pandang yang berbeda. Mereka bisa melihat dari kacamata orang luar dan tidak bias seperti mereka yang sudah terbiasa melakukan hal tersebut.
Hanya sekedar masukan
karena bukan beo, saya ndak mau kumentar ah
ya begitulah … orang mengomentari orang lain … baik sangka aja lah … sapa tahu emang baik niatnya … saya sendiri termasuk orang yang senang berkomentar … dan orang-orang juga sering berkomentar tentang saya ….
gimana jadinya pertandingan sepakbola tanpa komentator ? …. coba aja nonton bola dengan volume 0 …. hehehe
wah jadi segan untuk komentar pak :p
dengan memberi komentar di sini, berarti saya adalah komentator dari seseorang yang mengomentari komentator.
di film trilogy the matrix ada perkataan yang kurang lebih spt ini :
menjadi orang yang berada pada suatu jalan itu memang berat, tapi pengalaman kita jadi bertambah karena tahu persis hambatannya.
saya g mau komentar Pak …
takut, ntar jadi komentator level 3.
Mungkin seharusnya pelakunya harus lebih banyak daripada komentatornya. Tapi di Indonesia kayaknya komentatornya yg lebih banyak. Inilah masalahnya.
Kalo saya pikir setiap orang ada fungsi tugasnya. Pengamat memberikan masukan dan pandangan. Pelaksana belum tentu semuanya bisa seperti mas BR all-out pelaksana sekaligus mengerti apa yang akan dilaksanakannya (vision, dan punya
Ya ga :))
“helicopter view”)… So ga perlu kesal kalo anda sudah merasa benar.
Kalo ga ada yang mengeritik bisa lempeng jalan aja yang benar, padahal bisa saja jalannya belum sepenuhnya benar kan salah juga mas
Soal ibu guru dan dosen waduh ga usah ditulis juga sudah pasti dapet kredit dan salut kita semua dah. Kalo ditulis dalam paragraf yang sama terkesan mencari dukungan hahahaha *komentator mode
Saya sih happy aja orang mo ngeritik mo ga, mo kritiknya benar mau salah juga anggap aja yang bersangkutan “perhatian” sama kita mas.
Kalo ga kan repot kalo masuk golongan yang ga bisa nerima kritik hahahahaa
Dari Kritikus Bandung, Pendidikan, dan Sosial. Hmm kalo ditanya punya pengalaman? Maaf belum pernah menjabat, so ga boleh kasih kritik? Hahaha kasian deh jadi rakyat di Indonesia kalo semua dibungkam.
Just my 2 cents.
Yang biasanya komentar (hanya pandai bicara) itu bisa disebut sebagai kritikus.
Sedangkan yang biasanya kerja tanpa bicara itu ya disebut sebagai pekerja, kuli, buruh, dll.
(** Hanya asal bicara. Kabur lagi… **)
Maaf bukan mau jadi komentator…..
tapi justru komentar dari orang luar kadang2 memberikan warna lain yang berbeda dari komentar orang2 yang setiap hari menjalani….. jadi perlu juga komentar dari pihak yang tidak terlibat langsung agar lebih “berwarna” & Terbuka…..
kalo saya sih diem aja lah. hihihi.
-IT-
Menurut saya proses untuk menjadi masyarakat yang demokratis ya memang harus demikian. Semakin banyak orang bisa berkomentar semakin cepat kita semua menjalani proses belajar . Lha..kita mengenal hukum sebagai panglima tertinggi kan baru semenjak abad 20 ini saja .
Dan mas Budi ada kesalahan redaksi tuh hehe
jaman burung beo sudah lewat . (semua bernyanyi lagu setuju) Sekarang jaman burung cicak rowo mas.. Ramai & meriah , kadang-kadang berisik nyakitin kuping ..tapi kalau dinikmatin bisa kaya gitar sampeyan yang pake FX distorsi : “jjrueeenngg” .
Bagaimana mengelola bunyi-bunyian tersebut menjadi multytimbre yang harmonis , disitulah PR yang dihadapi sekarang . Mudah2an saya bukan sekedar berkomentar ngawur saja .
Kritikus lukisan sering tidak jago melukis. Kritikus musik begitu juga. Penguji usabilitas sistem sering tidak bisa memprogram
Jadi ya wajar saja koq, dalam membentuk sistem yang bagus, dibutuhkan komentator-komentator. Tinggal dipilih saja dan ditebelin aja kupingnya.
Walau kata orang tong kosong nyaring bunyinya, tapi grup STOMPER bisa dengan memukul-mukul tong menjadikan satu sajian musik yang menarik.
Saya teringat kata ‘aa gym, manfaatkanlah org yg membenci/musuh anda, karena dia pasti jujur untuk mengutarakan segala kejelekan Anda. Lumayan kan dapat masukan gratis…
he.he. b’rarti saya masuk komentator juga dong ?! Kalo bwt saya sih ga masalah mau ada berapa komentator di negeri ini..Semua org berhak mengeluarkan pendapat atas apa yg ia liat, dengar dan rasakan…Bukankah kembali lagi bahwa Tuhan memberikan akal dan pikiran pada manusia untuk mengembangkan apa yang ia peroleh dari kelima indera nya?
Jadi inget dulu saya sering mengkritisi pendidikan. Pas ngajar jadi asisten dosen, cape berath! Tapi bukan berarti saya berhenti mengkritik, tapi lebih mengkritik pada arah yang tepat
Sebetulnya untuk pandai berbicara itu perlu keahlian tersendiri lho pak Budi. Walau sering kepandaian berbicara itu tidak diikuti dengan kepandaian untuk melaksanakannya. Di kantor saya banyak yang pandai bicara, tapi pas disuruh mengerjakan malah kabur (halah malah kok curhat sich).
indonesia banget pak
Permisi , numpang komentar
Koq bahasanya seperti gaya kaum otoritarian yang kehabisan kata demi pencapaian kuasa?
Sinis dan deadlock , maaf saya masih muda bukan kurang hormat pada yang lebih tua dan pintar seperti Oom Budi
Salam hormat
Barusan saya browsing ke site-nya DJB (yg bikin qmail). barangkali orang yang tidak hanya ngomong menurut saya adalah DJB. ketika orang lain menggunakan sebuah service ato aplikasi dari orang lain, DJB lebih memilih membuat sendiri. barangkali DJB ini adalah antara egois, terlalu percaya diri, dan tidak percaya orang lain.
bahkan DJB kalo ngeblog barangkali bikin blog engine sendiri dari nol.
ya.. DJB tidak hanya pandai bicara
(ps: aku baru tao kalo DJB udah prof. muda dan pinter)
Kalau di internet sih banyak: Larry Wall, Linus Torvalds, Wietse Venema, dan masih banyak lainnya … bukan hanya DJB
Para pengamat ini memang menyebalkan. Apalagi yg cuma ikut2an menjadi komentator untuk mendukung pendapat idola-nya. Kita tentunya banyak menemukan orang2 seperti ini di blogosphere, lah iya, wong ada tempat untuk membuat comments.
Dan seperti kata Didat, kita seringkali juga butuh comment. Aku kadang memilih mengacuhkan saja komentar yg menyebalkan, anggap saja sedekah.
Yth.Pak Budi
Murid yang cerdas adalah murid yang kritis namun tidak menghakimi dan berpretensi buruk sangka pada pendapat orang lain bukan?
Janganlah karena kita sebal lalu sekonyong-konyong menuding mereka dengan julukan macam-macam.
hormat saya Pak,
seorang murid yg berusaha cerdas.
wow ..seru juga nih, anyway, pak budi pinter bikin thread, makin banyak aja yg comment, saya jadi bisa belajar “gratis’ untuk belajar memberi komentar(masukan kali yah)..
ha.ha.ha.ha.ha, mungkin juga bang, banyak komentator (istilah keren nya pengamat) cuma asbun aja nih, tanpa melihat fakta real nya
intinya mah integritas sang komentator mengenai omongannya…