Kemarin, Selasa 24 Juli 2007, dilakukan penandatanganan MoU antara ITB, THC (The Habibie Center), dan DigitalDivide.org. Acara ini merupakan langkah awal dari kegiatan iGADD (Investor Group Against Digitial Divide).
Di tulisan lain saya pernah bercerita mengenai iGADD ini. Tidak perlu diulang, kan? (Pada tulisan terdahulu itu saya salah menuliskan kepanjangan dari iGADD. hi hi hi.)
Yang perlu diperhatikan sekarang adalah iGADD sudah bisa bekerja dengan target yang jelas. Acara kemarin juga bertajuk “Call for action”. Artinya, sekarang adalah waktunya untuk mulai bekerja.
Mei 2008 ditargetkan pimpinan perusahaan IT global datang ke Indonesia untuk mendiskusikan solusi digital divide di Indonesia. Mereka kita undang bukan untuk sekedar memberikan solusi mereka ke Indonesia (baca: menjadikan Indonesia sebagai pasar bagi produk mereka), melainkan sebaliknya. Kita meminta mereka untuk bekerjasama mencari solusi yang khas Indonesia. (Yang ini pernah saya bahas di tulisan lain di Asia Blogging Network.) Suka atau tidak suka, permasalahan di Indonesia ini khas sekali. Implementasi yang dibuat dengan kacamata dan cara pandang di luar sana belum tentu cocok dengan kondisi di Indonesia. Di sisi lain, Indonesia menawarkan penggunaan teknologi yang tidak lazim. Contohnya adalah ojek.
Dicari: “ojek”nya teknologi informasi.
Congrats, Pak Budi. Way to go…
Mungkin “ojek” nya TI bisa [a] free WiFi untuk kota Bandung (dana dari perusahaan IT), [b] laptop OLPC discount, [c] Jaminan kontrak outsourcing (sekian $) dari perusahaan IT global.
mang ojeek!
indonesia memang unik.
wah, biar gak ada digital divide, jangan bandung aja donk, kawasan timur juga pengen. Kawasan pantai losari di Makassar pun sudah tercover dengan wifi tetapi masih belum free. Jadi tinggal butuh pengembangan.
asal celoteh nih, mungkin awalnya di BHTV dulu, abis itu modelnya di tawarkan ke daerah lain spt IBT Indonesia Bagian Timur) . nanya nih, how would an ISP make money from a free wifi service?
asik nih, i wish i could participate, but i have neither money, goods nor services to offer.
Indonesia memang kreatif (di luar negeri kayaknya ga ada tuh ojek…).
Mang “ojek” anterin saya yuk ke tempat “anu”… hehe
saya pengennya sih cyber mall pak. hihihi
-IT-