Setelah subuh tadi pagi, saya menaiki kereta api menuju Jakarta untuk ikut dalam seminar yang terkait dengan “Fixed Mobile Convergence” (FMC). KA-nya terlambat lebih dari 1 jam. Seharusnya sampai di Gambir jam 9:30, ternyata sampai jam 10:30. (Lebih malah.) Ini bisa jadi cerita tersendiri.
Secara singkat, FMC adalah adanya gabungan antara fixed phone (seperti telepon yang ada di rumah) dan mobile phone. Gabungan ini ternyata menimbulkan masalah baru di sisi regulasi. Flexy-nya Telkom merupakan salah satu contoh yang nyata. Presentasi dari para pembicara banyak yang menarik. Hanya saja … banyak hal yang tidak terlalu menarik bagi saya. Bukannya tidak penting, tapi tidak menarik.
Tema yang dibawakan (kebanyakan dari pelaku, vendor) adalah terkait dengan masa depan dan bagaimana operator dan regulator menyikapi fenomena FMC ini. Keuntungan apa yang dapat diperoleh (oleh operator dan pengguna). Pengguna di sini adalah notabene penduduk kota besar, bukan di daerah pedesaan (rural area).
Saya memberikan presentasi lain, yaitu sudut pandang masyarakat rural. Suka atau tidak suka, kita harus menerima bahwa ada gap “digital divide” yang cukup besar di Indonesia. Saya mencoba mencari jalan apakah FMC ini dapat mengurangi gap kesenjangan digital ini. Jadi, saya tidak terlalu peduli apakah operator diuntungkan atau dirugikan dengan adanya FMC. Yang lebih menarik bagi saya adalah apakah lebih banyak masyarakat Indonesia yang memperoleh keuntungan dari FMC ini?
Ada beberapa statistik mengenai beberapa tempat di Indonesia yang sistem komunikasinya masih berbasis “gethok tular“. Sukar dipercaya? Inilah Indonesia.
Ada hal lain lagi yang ingin saya bicarakan, yaitu bagaimana meningkatkan local content sehingga kita tidak dipermainkan oleh globalisasi tetapi justru kita bisa menyikapinya dengan lebih baik. Bisakah 200 juta orang Indonesia melakukan penetrasi ke pasar 6 milyar (penduduk dunia)? Jika kita tidak siap, maka siap-siaplah digilas oleh roda globalisasi. Sebelum terlambat kita bergulir dahulu. Yuk kita buat local content yang banyak? (Blog ini merupakan salah satu alternatif.)
maaf nih pak kalo salah….
yah masalahnya seandainya ada yg “mikirin” bangun di rural area…siapa yg mau inves??
hm..mudah2-an mereka(vendor), tidak hanya berfikir tentang uang dan uang, jg harus tentang kemajuan bangsa ini.
oh ya…gimana reaksi mereka ketika bapa menjelaskan dari sudut pandang rural area?
salam hangat.
@zeus16, investasi di rural memang tidak bisa dilihat dari jangka pendek. Kita harus cari model bisnis yang lain dan aneh. Coba kita pikirin, Google, YouTube, termasuk WordPress ini, dll. itu cari untungnya dari mana ya? Kalau hanya lihat keuntungan finansial, mungkin mereka gak akan buat tuh.
Oh ya, banyak orang kaya yang jadi philantropis loh.
yah memang sekarang kita butuh orang2 philantropis, karena kalau hanya bergantung pada kaum kapitalis yang mencari profit semata, tidak akan ada kemajuan di Indonesia, masayarakat rural akan selalu tertinggal dan semakin tertinggal karena para investor tidak melihat adanya peluang bisnis disana, ibarat lingkaran setan, investor malas menanam modal karena tidak potensial, namun ia (pedesaan) tidak potensial ya karena tidak ada investor yang ingin memajukan, memang susah…
Yuk kita buat local content yang banyak? (Blog ini merupakan salah satu alternatif.)
-> berarti saya juga sudah berkontribusi dengan blog saya…
so pasti Adham …
konten kita memang masih kalah jauh dengan negara lain. untuk blog aja indonesia hanya bisa masuk dalam kategori “other” dalam kategori bahasa yang digunakan. kalah dengan bahasa Farsi
http://technorati.com/weblog/2007/04/328.html
Setahu saya, istilah FMC yang sedang ngetrend di dunia telco, adalah konsep yang berdasar pada penggunaan protokol yang sama untuk jaringan fixed, selular, maupun Internet. Implementasinya, dengan melepas jaringan berbasis SS7 dan mengadopsi IP/SIP yang lebih flexibel untuk jaringan telco. Standardisasi jaringan berbasis SIP untuk telco tersebut dikenal dengan nama IMS (IP Multimedia Subsystem). Sementara, Telkom Flexi adalah produk jaringan selular konvensional yang dipasarkan dengan nama fixed phone (dengan menonaktifkan fitur roaming). Jadi Telkom Flexi bukanlah contoh nyata FMC yang sering disebut2 vendor tersebut. Mungkin perlu menyamakan istilah dulu, FMC mana yang dimaksud oleh penyelenggara seminar.
Pak Budi yang baik, mungkin yg Anda maksud dengan FMC adalah “fixed mobile communication” dan flexy mmg cocok sbg contohnya. Kalo convergence network, saya setuju sama bung opr, IP-based interconnection, komponen utama pengembangan 4G.
Om Budi, kekna sih yang convergence 2 an gitu model2 kek VoIP gitu. (CMIIW)
Btw kasih artikel2 tentang convergence network gitu donk om… penasaran pengen tau lebih banyak lagi masalah cenvergence network niiy…
Kemarin ada yang menjelaskan bahwa yang dimaksud “convergence” itu bisa bertahap. Bisa convergence dari sisi service, misalnya tagihan telepon, internet, handphone dijadikan satu. Kemudian bisa convergence dari sisi network, dan seterusnya, sampai ke convergence experience. Sayangnya saya gak punya handoutnya. Jadi tidak bisa saya tuliskan ulang. Mudah-mudahan hari ini dapat handoutnya. (Hari ini saya memberikan presentasi lagi, tapi dalam bahasa Inggris. weks!)
ingin menyediakan konten lokal tapi masih pake wordpress, mail nya masih Yahoo, chat nya masih Gtalk/ aim/ YM..
Ayoo developer lokal…
jangan pada kabur luar negeri doong..
OOT: Pak BR yang terhormat, ada ide membuat pelatihan security?? kami akan sangat antusias..
@li, pelatihan security dalam waktu dekat ada. Silahkan lihat di training.indocisc.com.