Baru saja saya melewati jalan menuju ke daerah perumahan saya. Sekelompok warga sedang asyik melakukan sesuatu di jalan. Oh, ternyata mereka sedang merusak aspal jalan untuk membuat “polisi tidur”.
Selidik punya selidik, ternyata mereka geram dengan banyaknya pengendara yang ngebut ketika melalui jalan tersebut. Aha! Itu permasalahannya. Yang masih membuat saya heran adalah solusi yang diambilnya. Mengapa membuat polisi tidur? Bukankah ini juga menyusahkan hidup mereka. Belum lagi nanti kalau musim hujan, air akan tergenang di polisi tidur sehingga merusak jalan. Ah, saya tidak mengerti.
Nampaknya ketika kita tidak mampu memecahkan masalah secara elegan (dan benar), maka kita cenderung untuk merusak saja. Kalau bisa dipersulit, mengapa dipermudah? Pikir-pikir, mengapa membuat polisi tidur? Mengapa nggak sekalian aja dirusak tuh jalan (seperti jaman dahulu)?
Bos, ajak mereka ngikutin orang Cimindi, Cimahi. Bandung coret, kata Priyadi.
[...] Agustus 8th, 2007 — Arief Fajar Nursyamsu Membaca tulisan BR di sini dan Paman Tyo di sini, saya hanya membenarkan dan setuju jika polisi tidur illegal juga dibabat [...]
menurut saya PERLU di bikin peraturan membangun (?) polisi bobo, karena selama ini kesannya malah asal-asalan, lha masak jalan kecil aja di kasi polisi bobo, orang g pake polisi bobo g mungkin bisa ngebut, udah jalan kecil, banyak lobang pula..
trus kadang juga terlalu tinggi sampe-sampe mobil sedan (standart g pernah di modif) susah lewat
aneh emang ni orang-orang, jadinya malah nge-rusak, bikin g nyaman ..
Dalam dunia pemrograman, orang sering melakukan “hack” dibanding mencari solusi yang elegan. Pertimbangannya bisa saja karena waktu mepet, solusi elegan kadang membutuhkan perubahan design, yang ujung-ujungnya cost membengkak. As long as it works…
Saya kira ini berlaku di banyak bidang lainnya. Orang sering kepepet, dipaksa oleh situasi, atau karena tidak tahu bagaimana seharusnya.