Naik Kereta Api

Naik kereta api, tut tut tut
Siapa hendak turut
Ke Bandung, Surabaya …

Demikianlah lagu yang saya kenal ketika masih kecil. Kala itu, kereta api merupakan sarana transportasi yang digemari untuk jarak jauh. Saya masih ingat bagaimana “nikmatnya” duduk di bangku yang keras (saya lupa apakah pakai rotan?) dan dengan fasilitas yang seadanya. Di beberapa stasiun kita bisa membeli makanan, seperti telur rebus, melalui jendela yang terbuka sedikit.

Meski dengan serba terbatas, satu hal yang saya ingat bahwa tingkat reliability-nya cukup tinggi. Meski bersuara keras, kereta dapat melaju dengan kencang.

Kemarin saya naik kereta api Argo Gede dari Bandung ke Jakarta. Di banyak ruas, kereta api harus berjalan perlahan karena kereta agak miring (tentunya disebabkan kondisi jalan / rel kereta api). Beberapa tahun yang lalu perjalanan Bandung – Jakarta bisa ditempuh di bawah 3 jam. Saat ini? Jangan harap. Siapkan waktu 3,5 jam atau 4 jam. Bandingkan dengan travel mobil yang hanya 2 jam.

Saya tidak habis pikir. Semestinya dengan semakin majunya teknologi dan semakin sejahteranya Indonesia (yang ini bisa diperdebatkan), kondisi jalan kereta api semestinya lebih baik. Atau? Mungkin pegawai / pekerja kereta api sekarang kurang serius dibandingkan pekerja dahulu? Sekarang mungkin terlalu banyak berpolitik di kantor sehingga perhatian kepada faktor lain menjadi berkurang?

Untuk yang terakhir ini saya memang agak bias. Ayah saya dulunya bekerja di PJKA. Sekarang sudah pensiun. Saya masih ingat bagaimana dia bekerja keras (berdediskasi) dalam pekerjaannya. Harus sempurna. Faktor keselamatan nomor satu. Sistem diimplementasikan dengan sangat teliti. Saya masih ingat bagaimana dia mengimplementasi otomatisasi (elektronik) di beberapa stasiun kereta api. Dugaan saya, sistem itu masih digunakan sampai saat ini. Kemudian saya pernah bertanya mengapa warna penutup jalan itu kuning hitam, dan seterusnya. Semua ada alasannya.

Saya yakin kondisi dahulu tidak jauh lebih baik daripada sekarang. Mengapa dahulu saya merasa kereta api lebih solid engineeringnya dibanding saat ini?

Saya masih menyukai kereta api dibandingkan dengan travel mobil karena di kereta api saya dapat “bekerja” (meggunakan notebook, membaca laporan, memeriksa tugas, dan seterusnya). Selain itu, kalau pagi hari, saya sering ke toilet. Beser. Maunya pipis terus. Apalagi pagi biasanya saya banyak minum. Kalau naik mobil travel, bisa merepotkan orang lain. Kalau di kereta api, tinggal ke toiletnya.

Jadi sebetulnya kereta api ini punya niche market orang-orang seperti saya. Coba dibuat gerbong pekerja, dimana di dalamnya ada outlet listrik, meja untuk notebook, dan akses Internet. Wah, pasti banyak yang mau. Tiga (atau bahkan empat) jam di kereta api bisa digunakan untuk bekerja secara produktif. Bagaimana?

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

21 responses to “Naik Kereta Api

  • ephi

    Aduh pak, saya naik KA tiap kali bolak-balik Surabaya dan Jakarta, lamanya itu ga nahan. Dulu 9-10 jam, sekarang 12-15 jam juga bisa!

    Terakhir saya naik Gumarang, yang kebalik sehari sebelumnya, masalahnya saya ga tahu itu pas beli tiket. :-( Saya juga coba-coba kelas bisnis dan kapok pok pok.

    Bantal ternyata ga gratis, tengah malam dibangunin dan ditagih biaya sewa bantal, kecoa segala ukuran ada di mana-mana jadi ngeri tidurnya. Dan tempat duduknya ga nyaman.

    KRL ber-AC Jakarta-Bogor aja masih lebih nyaman dan bersih.

    PJKA memang harus meningkatkan layanannya, bukannya merasa puas dengan apa yang sudah ada. :(

  • Eka

    Saya juga heran kenapa kok kereta api gak jadi prioritas pembangunan transportasi.
    Alasan klasiknya nilai investasi super gede dibanding keuntungan karena tarif tidak bersaing.
    Dari jaman penjajahan sampai kemerdekaan, jalur kereta api malah berkurang terus.
    Ditambah sekarang ada komplotan pemotong rel kereta api. Motifnya supaya kereta anjlok dan barang2 penumpang bisa dicuri.
    Duh .. padahal saya suka naik kereta ke Bandung. Bisa lihat pemandangan sawah, bukit2. Tapi karena waktu kereta Bdk-Jkt makin lama, saya lebih suka naik travel.
    Mungkin PJKA butuh pejabat2 muda yang wawasannya dan keinginan majunya lebih baik dari manajemen sekarang.

  • galih

    Andai Gajayana secepat dan senyaman KRL Pakuan Express.. . Sampai sekarang saya masih mengandalkan kereta api untuk pulang mudik ke Jatim. naik bus lebih capek dan sedikit lebih lama, naik pesawat mahal, belum terjangkau kantong…

  • adinoto

    Jaman kuliah dulu pernah denger rencana Habibie mau bikin kereta super cepat model Shinkansen di Jepang ato GTV di Prancis. Tapi berita itu menguap aja sampe sekarang.

    Sedihnya di Tibet aja sudah ada kereta supercepat model begini, dan di eropa semakin banyak :(

    Kuis:
    “Tahukah anda kalo kepala locomotif kereta api Shinkansen dibuat oleh pandai besi secara manual diketok pake tangan???”

    Halah ternyata disana turunan orang Blitar semua kali ngelmu ketok magic hahahaha…

  • arie

    ide bikin gerbong pekerja yang ada outlet listriknya menarik banget tuh, pak.. apalagi perjalanan KA kan semakin hari semakin lama (molor terus).. kan bisa buat kerja aja tuh.. ^_^

  • mathematicse

    Usul yang bagus, menarik. Saya manggut-manggut… :D

  • suandana

    Iya, pak… Kalau saja ada gerbong seperti itu kan enak sekali. Apalagi kalau harus menempuh perjalanan selama 12 jam (Bandung-Surabaya)

  • rais

    Saya setuju bangeet tuh PaK sarannya tp kapan yach Pak Indonesia bisa kayak bisa punya KA kayak itu? dlm KA ada fasilitas hotspot and fitur2 pokoknya complete full version gt Pak apa maksudnya…kok kyak software aja ;D kapan bisa maju wong orang atas2nya cuma mikirin perut and DEMO terus tiap hari tanpa ada yg mau berbuat alias mencari solusi bisanya cuma berkoar-koar dan ngak jelas lagi.

  • Iman

    Yach wong namanya kereta api yach gmn mau sedia outlet listrik :-) Maunya diupgrade macam di EU/JP, benar2 pakai listrik.

  • Aris

    PJKA selama ini gak ada saingan, masyarakat gak punya pilihan lain kalau naik KA. Kedepan, dengan adanya UU KA, pemerintah (dephub) harusnya lebih fokus pada penyediaan infrastruktur KA, sementara PJKA diajak bersaing untuk penyediaan pelayanan yg baik dengan perusahaan jasa KA swasta. Ya seperti di dunia penerbangan, dimana Garuda tidak lagi memonopoli penerbangan domestik. Ada perusahaan2 penerbangan swasta lainnya yang melakukan usaha seperti Garuda. Kalau itu dilakukan dengan baik, keinginan orang2 seperti pak Budi untuk dapat bekerja selama melakukan perjalanan dengan KA, saya yakin bisa terpenuhi.

  • Aris

    O ya sedikit lagi nambahin komentarnya, bagaimana PJKA mau bisa memberikan pelayanan maksimal kalau penumpangnya banyak yang gratisan alias ogah bayar. Dan celakanya prilaku naik KA gratisan sudah diajarkan sejak kita kecil. Kalau gak percaya, simak aja kelanjutan lagu yang disampaikan pak Budi:

    Naik kereta api, tut tut tut
    Siapa hendak turut
    Ke Bandung, Surabaya
    Boleh lah naik dengan percuma … :)

  • irvan132

    naek kereta nyaman kalo ga dikejer waktu. :D

    -IT-

  • padto

    Saya setuju banget dengan indenya Pak. Bisa jadi terobosan inovasi yang luar biasa. Tapi kenyataannya sulit. Dulu semasa kuliah, saya sering ke jakarta dengan Senja Utama Solo, karena dia punya gerbong kuset (bayangkan gerbong seperi di kereta di film James Bond “From Russia With Love” jadi bisa tidurnya enak, dapet AC dan harganya dibawah kelas eksekutif (50rb, eksutif 75rb wkt itu). Tp skrg gerbong itu digusur karena DAOP Jogja gak suka penumpangnya kesedot ke Senja Solo (yg mana miliknya DAOP Solo) Kemaren denger2 temen rombongan pemakai rutin Senja Utama Solo usul pingin menghidupkan lagi gerbong itu, tp still, DAOP Jogja nggak mau krn katanya ngurangin penumpang Senja Utama Jogja. So gimana nih mo ningkatin pelayanan?

  • indra kh

    kalau gak terdesak waktu, perjalanan dengan KA masih mengasyikkan.

  • Riyogarta

    Naik kereta api itu … sayangnya … makanannya tidak enak :( Sayangnya lagi, kursinya kurang enak (kecuali yang pak Budi naik, lebih enak). Sayangnya juga sering telat dari jadwal, sayangnya lagi harganya kurang pas untuk bersaing dengan kendaraan lain. Sayangnya lagi … halah banyak banget :(

  • Bayu

    dulu saya pelanggan kereta api, naik bima sby-jkt,
    jalan-jalan ke malang naek gajayana, jalan ke jember juga naik kereta.

    terakhir kali naik kereta adalah kebandung, dengan tujuan mengambil mobil yang trouble dibandung. si bengkel tutup jam 5, saya sampai bandung jam 16.55.
    untung jarak bengkel dari stasiun dekat…
    padahal dari jatinegara berangkat jam 13.30 (dapat extra nunggu 30 menit) bukannya ke bandung itu 3 jam naik kereta ya ?

    semoga bseok lebih baik.

  • Abimanyu

    Sebagai anak muda yang masih bertenaga, saya malu.. kenapa?? karena seumur2 blom pernah naek kereta api.. hihihi.. Lha mau gimana lagi?? baca dikoran, liat di tivi, banyak kecelakaan kereta, banyak pengamen, banyak copet, mana ada teman yang pernah di-palak ma preman di atas gerbong lagi.. wuihh serem…
    hehehe… jadi saya punya buanyak alasan untuk tidak naek kereta api.. kagak jadi malu… :)

  • Leon

    Itulah Pak,
    Pekeretaapian itu dilematis, dulu bisa kuenceng karena rel-nya bagus. Sekarang walaupun ada GAPEKA (Grafik Perjalanan Kereta Api), realisasinya tidak bisa mengikutinya. Karena relnya sudah pada kriting, kenceng dikit njungkel. Mau diganti? mahal, APBN mentok PSO mentok. Belum lagi loconya yang juga sudah pada sepuh speednya juga terbatas, gerbongnya, interiornya, pendukung keselamatan, pendukung persinyalan. Milyaran deh.
    Cerita ortu juga yg orang PJKA, awal2 perkeretaapian punya pemerintah kolonial cuma 1 dari 4 maskapai sisanya suasta. Tapi akurasinya men tidak ada yang telat sapai 3 detik. Inrastrukturnya yahud, sepenuhnya dikelola pemerintah. Nah kalo sekarang, mau perbaikan rel saja harus rebutan APBN dari yang lain2, mulai yg basic sampai proyek mengada-ada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: