Dalam sebuah tim, pembagian tugas merupakan hal yang penting. Dalam sebuah tim sepak bola, misalnya, ada orang yang bertugas untuk menyerang, bertahan, dan bahkan ada seorang kiper untuk menjaga gawang. Masing-masing memiliki tugas sendiri-sendiri. Dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari pun demikian.
Nah, seringkali kita merasa bahwa kita yang harus kerja lebih keras dibanding orang lain atau pekerjaan kita lebih penting dari pekerjaan orang lain. Seorang penyerang di sebuah tim sepak bolah harus berusaha keras untuk membuat gol. Jika dia tidak dapat membuat gol, maka tim tidak dapat menang (kecuali lawan membuat gol bunuh diri). Sang penyerang ini akan merasa bahwa dialah yang lebih penting dalam tim ini. Sementara itu sang penjaga gawang juga merasa penting juga. Tanpa penjaga gawang, tim akan kebobolan. Kalau penyerang bisa membuat dua gol, tapi kebobolan tiga gol, tim tetap kalah. Penjaga gawang itu penting. Sayangnya biasanya yang lebih banyak mendapat sorotan atau pujian adalah penyerang.
Demikian pula dalam pekerjaan. Ada yang bertugas langsung bertemu dengan klien. Ada yang mengerjakan tugas pekerjaan (apa-apa yang harus dikerjakan, seperti membuat produk, melakukan kajian). Ada yang membuat dokumentasi, ilustrasi, diagram, tabel, dan mengolah data pendukung. Semuanya penting. Nah, sayangnya yang terlihat lebih menonjol biasanya adalah orang yang memimpin tim ini.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa “rumput di padang miliki tetangga selalu terlihat lebih hijau dari rumput di padang sendiri”. Demikian pula kadang kita melihat pekerjaan orang lain terlihat lebih mudah daripada pekerjaan sendiri. Padahal … sama susahnya. Setiap orang harus bisa meghargai usaha orang lain, barulah kita bisa memiliki sebuah tim yang solid.
Ayo maju bersama!
wah..wah..pencerahan yang berharga dikala hati sedang gulana
bahkan tim cadangan juga penting …
Ada bbrapa kemungkinan :
1. Sang pemimpin belum berani mendelegasikan sepenuhnya pekerjaan kepada anggota yg lain.
2. Anggota tim belum dirasa mampu mengembang tugas yg dibagi.
Kata kuncinya di “takes credit”. Biasanya tiap orang maunya ‘takes credit’ untuk dirinya sendiri, padahal yang paling utama harusnya ‘takes credit for the whole team’ – susah nih ketemu pemimpin yang mau ’share credit’ dengan anggota timnya
.
@Ardiansyah
nomor 1 setuju
nomor 2 justru muncul biasanya karena nomor 1 :p
sebetulnya, menurut saya nomor 2 itu justru kebalikannya, yaitu Anggota tim yang diyakini mampu ternyata tidak mampu, jadi ternyata tim dibawah harapan si pemimpin. Kalau sudah begini, si pemimpin akhirnya harus ikhlas untuk bekerja lebih keras.
Kemungkinan ke-3:
)
Pemimpinnya sebetulnya tidak bisa apa-apa
@Riyogarta – kemungkinan ke empat, ada task-task yang terlalu critical dan resikonya terlalu besar untuk diserahkan ke orang lain (contoh: proyek gagal, kerugian finansial bagi client dan/atau kita, dst).
Dulu saya paling sebal kalau orang lain bikin kesalahan, tapi saya yang kena getahnya. Sampai pernah ribut dengan senior manager yang melakukan itu kepada saya.
Ternyata, kalau kita jadi manager, ini makanan sehari-hari
Kekeliruan staff kita, tapi kita yang harus minta maaf kepada client, he he.
Itu sih masih mending (hihihi, padahal dulu saya ngamuk besar kalau dibegitukan).
Yang kacau adalah jika client sampai merugi besar karena itu. Contoh; client adalah pabrik, dan produksinya jadi terhenti satu hari. Uih, itu ruginya skala milyaran euy.
Jadi, perlu kita balance antara pendelegasian dengan resiko tugas.
Penonton juga tidak kalah pentingnya.
(Kabur sebelum disambit)
Soal rumput tetangga yang lebih hijau atau pekerjaan orang lain yang lebih enak sepertinya lebih condong pada istilah “sawang sinawang” tuh Pak….!
Kebagian kerja lebih banyak sih no problem asal reward juga sepadan. Jangan kerja lebih tapi gaji sama, atau kerjaan sama tapi gaji lebih sedikit seperti gaji expat dan pribumi… hmm sekarang jadi isu hangat tuh dibahas terutama di kantor oil company.
Saya pernah baca di buku – lupa judulnya, mungkin 80/20 Principle tulisan Richard Koch – bahwa dari sebuah penelitian memang ditemukan bahwa bila posisi seseorang makin tinggi, maka makin mudah pekerjaannya. makin besar imbalannya, dan makin banyak kredit keberhasilan diberikan kepadanya.
Yang sering dilupakan adalah bahwa tanggungjawab di akhirat nya lebih besar. (tapi, siapa yang peduli..?)
Makanya memang wajar kalau kebanyakan orang ingin naik karir…
Saya sendiri percaya KERJA KERAS tidak sebanding dengan IMBALAN. Jadi perlu terus melatih diri untuk kerja cerdas, dan lebih penting lagi juga mengetahui posisi peran. Ya begitulah ‘rule of the game’ permainan kerja di dunia ini …
Ada kolega saya dulu yang “kerja cerdas”, yaitu melakukan berbagai trik sehingga :
1. kerjanya sedikit, namun
2. gajinya level manager
Teman-temannya, termasuk saya, yang jadi apes kena limpahan kerjaannya.
Saya sih kerjakan saja kalau memang critical untuk perusahaan. Tanpa diminta pun kadang saya yang berinisiatif sendiri mengerjakan sesuatu, jika hal tersebut diperlukan untuk kelancaran operasional perusahaan. Seringkali ini berarti lembur tanpa gaji.
Sambil saya terus berusaha menjelaskan kepada semua pihak, siapa sebenarnya ybs itu.
Masih sangat sedikit level pemimpin kita yang menempatkan pekerjaan sebagai sebuah tim, sehingga penggajian secara otomatis disesuaikan dengan prestasi kerja. Itulah sebabnya masalah penggajian dilakukan secara tertutup karena didalamnya terdapat banyak ketidak adilan.
Soal gaji tidak akan disesuaikan begitu saja tapi harus melalui negosiasi. Sering usaha yang dilakukan mengorbankan rekan yang lain. Tapi satu syarat utama yang tidak bisa ditawar yaitu mampu menampilkan diri di depan. Kemudian kembali kepada diri kita masing-masing apakah kita tega melakukannya. Kalau hanya kerja keras tapi selalu bermain di belakang layar, bagian anda tetap lebih sedikit.
[...] Topik kerja keras memang topik yang menarik. [...]
Hmmm… terus kerja keras ye, gak ada salahnya kerja keras, semuanya di dunia ini pasti ada hikmahnya !!!