Beberapa kali saya mendengarkan visi dari beberapa sumber (kota, kelompok, dan bahkan yang terakhir adalah Visi Indonesia 2030) terdapat keinginan untuk fokus kepada bisnis atau usaha yang berbasis jasa (service). Katanya dari sisi value chain, bisnis yang berbasis jasa memiliki nilai yang paling menguntungkan dibandingkan manufakturing, misalnya.
Saya tidak mempermasalahkan apakah bisnis yang berorientasi jasa ini betul atau salah. Singapura merupakan sebuah contoh negara yang berbasis jasa. Yang saya pertanyakan sekarang adalah apabila memang kita telah memiliki visi bisnis yang berbasis jasa, apa yang kita perbuat untuk mewujudkan impian kita tersebut?
Saya melihat bahwa untuk menjadi kota atau negara yang berbasis jasa, warganya harus diajarkan cara memberikan jasa. Ini semua harus diajarkan secara formal (di sekolah) dan informal (dalam kehidupan sehari-hari). Ini yang tidak saya lihat.
Bagaimana menurut Anda?


September 6th, 2007 at 9:22 pm
Menurut saya Indonesia memiliki wilayah cakup bisnis yang jauh lebih luas dari negeri seperti Singapura . Namum bisnis pelayanan jasa seperti Singapura tersebut bisa saja dilakukan dan bahkan sudah diterapkan dilokal-lokal yang spesifik di Indonesia.
Bali misalnya , masyarakatnya memang tidak bergantung pada pendidikan formal untuk belajar cara melayani bisnis jasa , kulturnya membentuk secara temurun .
Sekali lagi karena peran tokoh-tokoh adatnya , bagaimana dengan wilayah lokal yang lain ?
September 7th, 2007 at 8:09 am
jasa?
contoh bisnis jasa :
“mau ngurus sendiri apa mau dibantu pak? kalo ngurus sendiri silahkan keloket 1, kalo mau dibantu tinggal tunggu di foto aja..”
September 7th, 2007 at 8:21 am
Memang sudah seharusnya lebih ditekankan ke service delivery ketimbang hanya sekedar product delivery.
@fanfan : betul itu… hehehehe. ada juga yang lain “mau sidang, atau titip” :p
September 7th, 2007 at 10:00 am
Mas Yockie betul, tapi sifat yang lokal tersebut harusnya bisa menjadi global Indonesia. Saya lihat Visi 2030-nya Indonesia Forum mengatakan bahwa Indonesia seharusnya menuju jasa. Nah, kalau dalam skala Indonesia nampaknya masih belum.
Saya lihat di sini (Singapura) orang diajari untuk melayani. Bahkan untuk senyumpun harus disarankan. Maklum, orang Singapura merengut (manyun) terus. he he he. Kalau orang Indonesia sebaliknya, ketawa terus … tapi kerja juga kagak. ha ha ha.
Bagaimana saya bisa melayani Anda sekalian?
September 7th, 2007 at 10:30 am
mungkin ‘moral’ melayaninya yang harus diajarkan bukan ‘melayani’ itu sendiri.
serving the public doesn’t mean being the public servant. am i wrong?
September 7th, 2007 at 10:41 am
Bisa masuk kedalam kurikulum pendidikan dasar nih..
Kalau memang pemerintah berniat menerapkan pengembangan “service oriented”.
Contohnya apa ya?
Gimana kalau cara presentasi yang baik sehingga sedari kecil anak Indonesia sudah bisa “menjual” kemampuannya.
September 7th, 2007 at 11:45 am
memang ada kata bijak di bisnis adalah “layanilah konsumen anda dengan baik, maka uang mereka akan mengalir dengan deras ke kantong andaa…” Kayaknya salah satu kompetensi soft skill yg sedang digemar gemborkan di kampus harus memasukkan salah satu skill ini deh… bagaimana pak?
September 7th, 2007 at 1:28 pm
Ratusan wali murid SMP YIMI Gresik yang beralamat di jalan Letjen Suprapto 76 Gresik kemarin pada tanggal 6 September 2007 mengadakan sebuah pertemuan untuk menentang rencana pemecatan 49 orang guru oleh pimpinan Yayasan Malik Ibrahim yaitu Hasan Syahab. Pertemuan yang juga dihadiri oleh segenap wali murid siswa, serta komite sekolah dan juga disaksikan oleh wakil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dinas P dan K) Gresik serta Dewan Pendidikan Gresik (DPG) berlangsung sangat menegangkan. Dikarenakan alasan yang digunakan sebagai dasar pihak yayasan untuk memecat guru-guru tersebut sangat tidak masuk akal. Hal ini didasari oleh munculnya surat edaran tertanda tanggal 5 september 2007 yang berisikan pilihan kepada seluruh dewan guru antara memilih untuk terus bergabung dengan yayasan atau mengundurkan diri. syarat untuk terus bergabung dengan pihak yayasan Malik Ibrahim adalah mengikuti aturan yang telah ditetapkan diantaranya mendukung untuk tidak mengikuti ujian nasional. Jelas sekali hal ini ditolak oleh semua wali murid, karena apabila murid-murid SMP YIMI gresik tidak mengikuti UNAS maka darimana mereka akan mendapatkan ijasah yang sah dan legal dari pemerintah untuk melanjutkan ke pendidikan selanjutnya? bagaimanakah masa depan mereka itu nanti? inilah pertanyaan yang meresahkan hati para wali murid.
ide untuk tidak mengikuti UNAS ini muncul dari direktur YIMI yaitu Munif Chatib dan jajaran konsultannya diantaranya Mardjuki dan Vita wardhana. setelah adanya konfirmasi langsung kepada Munif Chatib oleh seorang wali murid melalui telepon selular dinyatakan bahwa hal itu tidak jadi masalah karena dia sudah menyiapkan 400 orang guru cadangan untuk menggantikan mereka yang dipecat. Hal ini juga ditolak keras oleh wali murid yang berarti bahwa ada sebuah konspirasi antara pihak yayasan dan direktur. Pihak Yayasan Malik Ibrahim yang siang itu diwakili oleh Halim selaku sekretaris yayasan terus membantah semuanya, namun setelah didesak oleh wali murid akhirnya dia mau mengakui juga.
Akhir dari pertemuan ini ditutup dengan sebuah kesepakatan yang berisi (1) Munif Chatib dinonaktifkan selaku direktur beserta jajaran konsultannya karena dianggap tidak kompeten untuk menangani bidang pendidikan, (2) Semua guru tetap dipertahankan, (3) Surat edaran tentang pemecatan guru dicabut (4) SMP YIMI tetap mengikuti UNAS sesuai dengan aturan pemerintah.
Salah seorang wali murid yang juga seorang Kepala Sekolah SD dan pelatih program IAPBE menyatakan bahwa di YIMI telah terjadi pelecehan terhadap pendidikan, dimana semua aturan pendidikan dapat dirumuskan seenaknya oleh munif chatib selaku direktur tanpa memperhatikan peraturan pemerintah diantaranya lagi ialah menolak kurikulum KTSP, sering memberhentikan guru secara sepihak, menolak semua program pelatihan guna peningkatan SDM Guru dan karyawan sekolah dan mengancam akan memecat apabila guru tetap bersikeras mengikuti pelatihan tersebut hal ini pernah dibuktikan adanya ancaman pemecatan terhadap wakasek Nur Hadi, S.S karena mengikuti program kerjasama Indonesia dan Australia IAPBE. menolak konsep Manajemen berbasis sekolah dibuktikan dengan tidak diikutsertakannya seluruh lapisan guru dalam perancangan RAPBS.
Hal ini tidak terjadi di SMP YIMI saja melainkan juga pada TK YIMI dan MI YIMI dimana 8 orang guru TK dan 28 Orang guru MI mendapatkan ancaman yang serupa dengan seluruh guru SMP YIMI Gresik. Apabila empat tuntutan tersebut tidak dipenuhi samapi batas waktu yang ditentukan yaitu hari jum’at tanggal 7 september 2007 pukul 13.30 maka semua wali murid akan membawa kasus ini ke meja hukum dan menarik semua siswanya berikut uang pendidikan yang selama ini dibayarkan menurut K.H Zakaria selaku ketua komite
September 7th, 2007 at 3:01 pm
Pada dasarnya budaya kita memiliki sifat melayani dan ajaran islam dalam memuliakan tamu mempunyai konsep melayani dan banyak lagi yang lain. Namun dalam praktek sehari-hari kelihatannya mengarah kepada meminta, mencuri, memeras bahkan merampok.
Contoh sederhana untuk pengurusan KTP, di loket pelayanan telah tertulis gratis dan berbagai moto pelayanan masyarakat. Tapi coba kalau tidak diselipkan tip pada berkas yang di ajukan perhatikan saja orang yang dibelakang anda akan menerima KTP lebih dulu sementara anda sabar saja menunggu konsepnya ini meminta.
Contoh yang lain pengelolaan domain .id oleh pandi dan saya baca di websitenya pandi, mereka hanya akan menangani seputar registrasi nama domain lainnya tidak. Maunya yang enaknya saja dalam kategori saya ini merampok.
Kasus yang lain saya temukan pada penulis buku tutorial, dimana banyak buku tutorial berbahasa indonesia diterbitkan namun tidak berkualitas sehingga tidak memenuhi apa yang sirat pada judulnya sehingga saya yang notabene tidak bisa berbahasa ingris tapi lebih senang belajar menggunakan literatur berbahasa inggris dan memang lebih bermanfaat dari literatur yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Aneh ya!.
April 7th, 2009 at 9:34 am
Mending gak usah ditampilkan aja Pak ttg Pelecehan Pendidikan kayaknya gk mungkin.
Malah malu2in blog ini saja blur