Tadi pagi dapat email, tawaran kerja di Google. Hmm… sungguhan atau guyonan. Kelihatannya sungguhan. Halah … Hik hik hik. Untuk saat ini terpaksa saya tidak bisa. Alasan saya bisa dibaca di sini:
budi.insan.co.id/articles/google/
Hik hik hik …
Oh ya, tawarannya adalah menjadi team (trouble shooter kali ya?) di data center mereka di Sydney, Zurich, atau Dublin. Sayangnya bukan Bandung. hi hi hi. Lagian, saya gak tahu apakah technical skill dan stamina saya masih bagus seperti dahulu.
Update: diskusi tetap berlangsung. Sudah ditawari untuk diskusi via telepon, tapi sudah saya tolak. Gara-gara Bandung …
Selamat pak ya ^_^
Pengirimnya sapa?
Aku dulu pernah dapet juga, dari Kumi Bailey
Tawaran kerja atau tawaran interview untuk bekerja di Google?
wuih manstab
selamat pak
oiya google mana pak ?
s’pore ? apa us ?
Wah saya gak bisa disclose namanya. Google-nya US.
wah…
Emailnya bisa di posting disini pak ? Penasaran kayak apa sih.
http://maxalbert.com/index.php/2006/11/07/technical-recruiter-from-google/
waaaaaah…keren pak!….saya juga pengen deh kerja di google, tapi masalah mereka mau gak hire saya…?
makan makan
http://maxalbert.com/index.php/2006/11/07/technical-recruiter-from-google/
http://www.lintasberita.com/Lokal/Budi_Rahardjo_kerja_di_google/
Pemikiran seseorang memang berbeda-beda, ada yang sangat berkeinginan bekerja pada perusahaan ternama namun tidak pernah tercapai, dan sebaliknya benar ngak pak.
dulu banget awal tahun 2006 aku pernah dapet email kayak gitu juga
pak, terima aja. abis itu tarikin deh murid2 bapak masuk gugel. .. Lumayan tuh, bisa menambah devisa negara. setuju yang lain???
wuiih keren, diterima nggak pak tawarannya ?
eniwei, apakah lazim kalo google menggaet karyawan via email ?
Setuju dengan Pak Budi, kata kunci yang pentingnya adalah:
1. Bandung
2. Contoh (Role Model)
3. Menjadi Diri Sendiri (Enterpreneurship, Start-up etc.)
Setuju kalo ngomongin bandung, gak tau kenapa saya juga betah banget di Bandung. Temen-temen saya yang orang luar juga bikin kantornya di Bandung, walau cari proyeknya diluar.
… there goes my closest chance to tell the world that I know someone who knows larry and sergey.. hehehe..
http://tokohpalsu.blogspot.com/2007/09/kerabat-palsu-pak-budi-diajak-masuk.html
Wah kalau pak Budi aja cuman ditawari jadi engineer di data center, gimana kita yang kroco2 bisa masuk Google, mau jadi tukang sapu doang kali yah
Saya baca keinginan (dan keraguan) pak Budi buat kerja di Google itu taun lalu. Sekarang pas terkabul, malah ditolak, hehehe… Ndak dipikir-pikir dulu, Pak? Nggak dicoba dulu ngobrol lewat telepon? Barangkali setelah sekian tahun kerja di Google bisa balik ke Bandung dan jadi presiden Google Indonesia, hehehe..
Asik Dong Di tawarin Kerja di Google. Atau Google Tawarin saja Buat Di Bandung..
Cuma dari recruiter saja ya? Itu sih basbang.
Kalau dapat tawaran konkrit dari Google secara langsung, itu baru namanya _ditawari kerja di google_.
Kalo dulu setahun yl saya pernah interview di Yahoo Asia, lolos di ujian tertulis tapi gagal di interview. Jenis pertanyaan ujian tertulis bisa dilihat diblog saya http://dsnugraha.wordpress.com/2007/09/13/quiz-untuk-masuk-ke-yahoo-asia/
Saya tahun lalu juga dapet invitation email seperti itu. Sebetulnya itu bukan tawaran kerja, tapi tahap awal untuk “ngomong2″ dengan kita.
Tahun lalu, saya jalani aja tahap ngomong2 lewat telpon. Kemudian lanjut dengan interview (tapi akhirnya macet sampe interview tahap kedua).
Nah…. ada pengalaman berharga saat interview ini, terutama pertanyaan2 technical dari mereka.
Contohnya aja, dulu karena saya interview untuk posisi mobile development, ditanyain strategy rendering mobile contents supaya bisa di-display properly di every mobile devices (yang saat ini jumlahnya udah ribuan dengan berbagai variasi: sistem operasi, prosesor, display resolution/orientation, memory, languages, etc, etc.). Belum lagi untuk testing-nya nanti…. cost-nya bisa exponential. Challenge-nya gimana me-minimize cost untuk development and testing.
Hi hi hi … kalau soal perkawanan sih ada beberapa kawan di California sono. Kemarin saya juga ngobrol dengan sobat saya di Intel. Dia sih punya akses ke beberapa bos di perusahaan gedhe (Intel, Google, dan seterusnya). Kalau mau kerja di sana sih nggak terlalu sulit. Saya maunya sih tetap di Bandung. Justru mereka yang datang ke sini (sok-nya, he he he). Nah, ini yang susah. Siapa sih BR itu kok ngajakin kita ke Indo. Begitu kira-kira pemikiran mereka.
Bandung emang hade lah….
kalo pak budi ndak bisa.. biar saya saja pak.. dengan senang hati menggantikan posisi bapak disana nanti… :p
* gak tau diri *
emg bener pak, bandung enak bgt, sayah ge pengen bgt bisa d bandung lagi… hiks…
top pisan si bapak
pada akhirnya, tawaran-tawaran seperti ini memang the matter of networking…. biasanya kalo lewat jalur ini prosesnya jauh lebih cepat…. anyway, selamat buat Pak Budi yang tidak jadi ke Google (loh?)
What are you trying to prove, sir? That you’re very intelligent (we all know that), that you got an “offer” from Google, and you later turned down, because of your “entrepreneurial spirit”?
What kind of message / example are you trying to pass to your students?
I’m not saying you should’ve accepted the “offer”, but…. in my opinion you pulled the plug too early. I think you have missed many things. At least, if you have managed to go through the entire process, you’d have a lot more to say / tell us.
I was expecting something more …, umm, …. thoughtful…., coming out of you.
You wrote
————-
“Hi hi hi … kalau soal perkawanan sih ada beberapa kawan di California sono. Kemarin saya juga ngobrol dengan sobat saya di Intel. Dia sih punya akses ke beberapa bos di perusahaan gedhe (Intel, Google, dan seterusnya). Kalau mau kerja di sana sih nggak terlalu sulit. ”
————-
Sorry bukan bermaksud menyerang, apalagi di publik. Saya cuma bermaksud memberikan reality check.
Perusahaan besar emang umumnya punya program yang jelas / terbuka: “member get member”; para (recruiters) emang berkepentingan to attract top talents. Jadi, untuk memberi reference itu, semua employee juga bisa.
Tapi kan tetep aja ada proses. Keterlibatan employee dalam hal referal ya sebatas memberi nama. Sisanya ya tetep lewat proses rekrutmen standar: wawancara, etc. Memang selalu ada kasus exceptional, khususnya untuk posisi2 semacam distinguished engineer, atau semacamnya. Saya gak familiar soal itu.
Intinya, sekali lagi, what are you trying to say, sir? That you’re very intelligent for you, that it _shouldn’t be_ difficult for you to get it? This world is littered with intelligent people, sir. Relying too much on intelligence is not going to take you very far (tentu saja asumsi saya inteligensinya macam level saya, cuma dalam batas2 normal, not einstein type of intelligence).
Ya, mungkin memang tidak sulit bagi bapak, mengingat inteligensia dan pengalaman bapak. Tapi…, for most people, terutama yang baru memulai karir: don’t count too much on referral. Ini bukan mencari kerja seperti mencari kerja menjadi pegawai negeri sipil di indonesia atau semacamnya. There are procedures to follow. Know it and prepare yourself for it.
Sayang sekali gak banyak company2 macam google, ms, intel, amd. etc di Indonesia. Di cina, murid2 kuliahan beruntung bisa get themselves familiarized with this kind of thing from early on, and prepare themselves. They have more chance to succeed in and take advantage from this capitalist world.
Dalam rekrutmen pekerjaan IQ hanya salah satu komponen, yang kadang malah tidak terlalu penting. Ok, ok, ok, penting, tetapi bukan satu-satunya. Di perusahaan, kelompok kami, proses rekrutmen sering melalui “member get member”. Asal tidak terlalu jongkok IQ-nya saja. Jadi saya tidak mengerti dari mana Anda menyimpulkan ini soal intelegensi dan bahwa saya menjagokan intelegensi saya?
(Di tim saya, ada banyak yang lebih jago dari saya! Saya sangat super sadar tentang hal itu. Justru karena saya tahu bawah saya tidak jagoan maka saya dikelilingi oleh orang-orang yang lebih jagoan. he he he. Jadi kelihatannya hebat. Padahal saya hanya biasa-biasa saja. Lulus juga pas-pasan. He he he.)
Kalau intinya adalah “networking”, KKN, member-get-member mungkin lebih cocok. Ini selalu saya tekankan kepada mahasiswa. Jangan hanya fokus pada kuliah tetapi melupakan pertemanan. Aktiflah di berbagai organisasi sehingga banyak teman.
Justru fokus saya adalah kepada … referral! I know it works! At least, it works in my company
Ini bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Maksudnya di sini itu bukan KKN dalam artian yang ada di Indonesia ini (ada faktor korupsi, nyogok, dll.) tetapi dalam arti perkawanan / pertemanan / koneksi. Jadi … use your network. (That’s why there’s Linked In and the like.) Referral, man!
Putu mengatakan: “you pulled the plug too early”
Putu, saya berpendapat lain. Kadang-kadang orang sering lupa kepada mimpinya sehingga ketika datang tawaran – yang arahnya lain – kemudian diterima.
Contohnya ada orang yang ingin jadi entrepreneur. Kemudian ada tawaran jadi pejabat di pemerintahan. Dia banting setir, ambil jabatan tersebut. Kemudian ada tawaran apa lagi, diambil lagi. Semakin lama semakin dia jauh dari cita-citanya. Dia lupa apa yang dia mau. (Atau mungkin dari awalnya memang tidak tahu apa yang dimaui.)
Kesulitan banyak orang adalah tidak bisa berkata TIDAK! NO!
That’s another lesson that I want to share in the story. (Ada cerita yang mirip seperti ini, seperti misalnya ditawari jadi Dirjen, jadi Menteri, jadi komisaris di perusahaan BUMN terkenal, jadi orang penting di partai politik, ditawari jadi … masih banyak lagi tawarannya. Google hanya salah satu saja.) Ada orang yang mengaggap saya bodoh karena tidak mengambil jabatan tersebut. Kalau tidak bodoh, ya arogan. Tinggal pilih.
Saya sih melihatnya lain. Bagaimana ketetapan hati, istiqomah, harus tetap terjaga. Tidak mudah memang … karena tawaran yang datang sering terlihat lebih menggiurkan. Hmmm… (gambar Homer ngiler mengimpikan donat).
Ok
Now it’s clear. It was not clear on your original posting. People can take it in a completely different way.
Keadaan di Indonesia memang serba sulit.
Orang pinter di Indonesia stoknya makin menipis akibat brain drain.
Tapi itu wajar terjadi karena secara naluri manusiawi perut harus terlebih dahulu diutamakan baru nasionalisme.
Tapi salut untuk Pak Budi yang tetap mau berkiprah di Indonesia, meski peluang untuk meninggalkan negeri ini begitu besar.
Taufik, saya sebetulnya tidak antipati terhadap orang Indonesia yang bekerja di luar negeri. Bahkan, sebetulnya saya *menganjurkan* anak muda Indonesia untuk berkiprah di luar negeri. Saya tidak melihat ini sebagai fenomena brain drain, tetapi sebagai brain reserve.
Jadi orang Indonesia yang di luar negeri adalah “cadangan” (reserve) kita. Mereka lebih baik berkiprah di luar negeri jika di Indonesia tidak bisa dimanfaatkan secara optimal. Ini seperti seorang pemain sepak bola Indonesia yang kualitasnya hebat sehingga sayang kalau hanya bermain di level RT/RW saja. Lebih baik dia bermain di Liga Inggris atau Italia gitu. Nanti, suatu saat kita membutuhkan mereka, kita minta mereka membantu (dengan kemampuan mereka dari luar negeri).
Saya tetap di Indonesia karena pilihan. Hey, I love this place.
OK dah pak Budi… gini aja dari pada ributin postingan bapak yang udah lewat lebih baik kita bikin sesuatu yang mungkin bermanfaat. seperti buat search engine lah sapa tau bisa besar kayak google, dulunya kan google mulai tahun 1998 digarasi lagi… nah kita mungkin bisa ngikutin jejaknya google, paling tidak kita mulai dari search enggine khusus untuk yang berakhiran .id, saya pikir bukan hal yang tidak mungkin hal seperti itu bisa kita wujudkan. Source code robot crawling sudah bertebaran dimana-mana di SF, freshmeat di banyak tempat sudah tersedia. kalo bisa kerja team deh, ada yang lay out, ada yang buat system ada yang jagaain system.
Sekedar saran, kalo ngga sekarang kapan lagi kita sebagai anak bangsa mulai buat sesuatu yang unik di internet, sebab dari dulu-dulu kita hanya numpang content aja dari develop luar
Zoel, ide bagus … tapi lebih bagus lagi kalau diimplementasikan. he he he. Sebagai contoh ada banyak kok buatan anak Indonesia yang lucu-lucu seperti misalnya Moodmill, kronologger, dan seterusnya. Udah dilihat?
Kronologger memang tidak jauh berbeda dengan twitter atau jaiku, tapi rame dikunjungi oleh kronner Indonesia. Aneh aja. Cobain deh. Nge-kron yuk? (Siapa tahu nanti kronologger dibeli oleh Google. he he he.)
Kayaknya musti diralat nih pak, saya juga dapat tawaran sejenis, tepatnya bukan tawaran kerja/job offer namun tawaran wawancara untuk bisa bekerja di google……
Proses wawancara sendiri sekitar 4-5 kali kabarnya dan gak gampang lho
pak, saya tertarik untuk kerja di goole. waktu itu bapak mengirimkan CV ke website mana pak di googlenya?
soalnya tadi saya coba kirim di website googlenya tidak bisa di masukin.
boleh minta alamat web-nya gak?
thanks-
[...] bola, tapi juga menjemput bola. Ada rekan-rekan profesional IT dari Indonesia yang mendapat tawaran tersebut. Well, clearly, unfortunately, it’s not [...]
Wah keren ya.. apa anda tidak bisa bekerja secara online langsung dari rumah pak ?