Masih Tentang Masalah Mahasiswa “Malas?”

Di tulisan sebelumnya saya mengutarakan masalah mahasiswa saya. Waktu itu saya mengusung masalah pemahaman matematika dan tugas mahasiswa. Setelah saya utarakan di milis dosen ITB dan juga diskusi langsung dengan beberapa dosen, mulai muncul tanggapan bahwa masalah yang dihadapi oleh mahasiswa ini bukanlah masalah pemahaman matematika (atau kuliah lain) akan tetapi masalah kemalasan mahasiswa. Saya cukup terkejut juga dengan pendapat ini.

Dosen lainpun kebingungan dengan kondisi mahasiswa sekarang. Berikut ini saya kutipkan pengalaman pak Kunjaya (mohon ijin untuk saya tuliskan di sini pengalamannya ya pak):

Tahun ini saya kebagian mengajar statistik untuk pengolahan data astronomi. Sekali waktu saya menanyakan kepada mereka tentang penjalaran kesalahan, semua diam, saya tanyakan lagi apakah pernah menghitung error dari pengukuran lalu mengunakannya dalam perhitungan ? diam juga.
“OK, kalau begitu apakah pernah praktikum fisika dasar ?”
manggut-manggut
“Pernah melakukan pengukuran?”
manggut-manggut,
“Mengukur apa ?”
Diam
“coba ingat-ingat kembali apa yang anda pernah lakukan dalam praktikum Fisika dasar”
diam
Saya jadi bingung…

Di lain kesempatan, saya bertanya “apa turunan dari fungsi logaritma?”
Tidak ada yang menjawab….
Tapi anehnya kalau saya menceritakan humor mereka tertawa juga, tidak diam.
Apa yang harus saya lakukan ?

Berikut ini pengalaman dari pak FX Toha (mohon ijin juga ya pak):

Ditanya: Solusi persamaan differensial y” + k y’ = 0; dan y” + k y = 0…..???
Mahasiswa: ????????????????
Bukan hanya matematika Pak, mekanika juga begitu…
Yang paling parah, kalau diberikan tugas baca (= belajar mandiri tokh?), … kuliah berikutnya, paling yang sudah baca hanya 1-2 orang, selebihnya … bengong…

Diskusi dengan beberapa dosen mengatakan bahwa ada dosen yang memberikan responsi, tutorial, tambahan untuk mahasiswa, tetapi yang datang hanya segelintir. Padahal ini sudah extra effort lho. Kalau mahasiswanya tidak mau berusaha, apapun yang dilakukan dosennya gak bakalan berhasil. Begitu pendapat rekan-rekan.

Di milis ikatan alumni ITB, masalah mahasiswa muncul dengan topik “lebih dari seribu mahasiswa ITB terancam drop out“. Sudah diklarifikasi bahwa masalahnya bukan masalah finansial. (Ada banyak beasiswa dan alumni siap membantu kalau masalahnya adalah masalah finansial.) Ramailah diskusinya. Saya kemudian menyambungkannya dengan topik di atas, bahwa mahasiswa kita sudah berubah.

Masalah IQ rasanya tidak juga karena toh mahasiswa ini telah lulus ujian seleksi. Meskipun demikian ada yang mempertanyakan kelulusan ini karena kemungkinan mahasiswa ini hanya lulus karena bimbingan test, yang menekankan kepada bagaimana menjawab soal bukan kepada pemahaman materinya itu sendiri. Yang ini kita bahas lain kali, ya.

Muncullah pendapat bahwa yang menjadi masalah adalah motivasi. Mahasiswa kehilangan motivasi untuk belajar dan menyelesaikan kuliahnya. Berikut ini adalah kutipan dari mas Syafril Hermansyah dari milis alumni (mohon ijin juga ya mas):

Dulu saat akhir-2x kuliah di elektro saya juga “malas”, malas buat tugas khir, malas ke kampus utk ketemu dosen pembimbing, pokoknya malas banget (lebih banyak nongkrong di Posko Mahawarman <G>) sampai suatu hari aya makan di Warteg bilangan Sukajadi. Entah kenapa saya jadi emperhatikan bagaimana pengunjung Warteg ini sangat bersahaja tapi riang gembira.
Tiba-tiba muncul pemikiran dikepala saya bahwa jika saya tidak lulus maka aya akan jadi salah satu diantara mereka ini dikemudian hari, mungkin tidak jelek akan tetapi masak sih ….
Pemikiran itu membuat saya jadi terpicu untuk segera menyelesaikan tugas akhir saya.
Begitulah setiap kali saya patah semangat, saya datang ke Warteg itu untuk memperkuat semangat saya.

Harus dibangkitkan kegairahan lagi. Untuk itu dosen perlu memotivasi mahasiswa. Begitu usulan yang muncul. Saya setuju saja, hanya … (kalau sudah ada kata “hanya” kayaknya bakalan nggak setuju ya? hi hi hi) saya melihat dosen-dosen sudah berusaha untuk memotivasi mahasiswa.

Kalau saya lihat, dosen sekarang umumnya jauh lebih baik dari sisi memotivasi dibandingkan dengan dosen dahulu. Kalau dosen dahulu banyak yang “kejam” he he he. Ini menurut saya lho. Dosen sekarang lebih baik-baik. Saya lihat di buletin board internal mahasiswa ITB (misalnya rileks.comlabs.itb.ac.id – forum ini hanya bisa diakses dari jaringan komputer ITB) banyak komentar terhadap dosen. Saya lihat banyak komentar yang positif terhadap dosen-dosennya. Ada banyak dosen yang melucu dan reaching out terhadap mahasiswa (meskipun masih ada juga dosen “yang nggak jelas” – he he he). Poin yang ingin saya sampaikan adalah ada banyak dosen yang sudah mencoba memotivasi mahasiswa.

Kalau Anda kenal dengan saya (sebagai pembicara profesional yang menarik, cakileh … memuji diri sendiri nih, maapin ya, bukan untuk sok-sokan akan tetapi ini saya utarakan sebagai bahan untuk mencari pemecahan masalah, lain kali kita diskusi soal teknik presentasi), saya selalu mencoba untuk memotivasi para pendengar termasuk mahasiswa di kelas. Ternyata tidak mudah. (Oh ya, saya juga melakukan pembicaraan motivasi ini tidak hanya di ITB tapi di beberapa sekolahan dan perguruan tinggi dalam berbagai acara dan road show.)

Pikir-pikir kalau kuliahnya kebanyakan berisi motivasi, kapan memberika materi (isi teknis) kuliahnya ya?

Ada juga diskusi yang mengarah kepada hipotesa bahwa mahasiswa sekarang ini dirusak oleh pola pendidikan di SD, SMP, SMA yang hanya menghafal dan instan. Ada banyak bimbingan belajar, les, dan sejenisnya yang seharusnya bisa diberikan di sekolah. Ada juga bahasan bahwa guru tidak mengajarkan hal itu karena gurunya terpaksa memikirkan periuk nasi. Jadi bagaimana caranya untuk mengubah ini semua? Apakah kita peduli? Atau masing-masing hanya saling menyalahkan (dan tidak melakukan perubahan)?

Tulisan ini sudah terlalu panjang dan topiknya melebar kemana-mana. Nanti kita sambung lagi. Bagaimana pendapat Anda?

Sementara itu … saya mau memejamkan mata saja dan berharap ketika saya membuka mata masalah ini sudah terselesaikan dengan sendirinya secara ajaib!

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

44 responses to “Masih Tentang Masalah Mahasiswa “Malas?”

  • purmana not purnama !!

    Pak, saya dah memerhatikan dosen dengan baik, ngerjain tugas selalu, dan selalu nyisihin waktu bwat blajar kalkulus… tapi tetep aja kuisnya jeblok.

    Kalau menurut saya sih (sebagai mahasiswa TPB 2007) yang membuat malas itu adalah adanya rasa sulit yang berlebihan akibat berbedanya cara belajar di SMA dan Kuliah, sehingga beberapa siswa merasa itu terlalu sulit dan menjemukan lalu mencari pelarian ke hal-hal lain.

  • Anonime

    Setelah pak Budi memejamkan mata, masalahnya akan selesai! Dengan catatan memejamkan mata selama seribu tahun :D

  • masadi

    Wah Pak Budi korban iklan nih, “buka mata semua ada solusinya”, itu iklan maksudnya jangan terus2an bermimpi kali ya??
    Dari SMA ke TPB memang ada sedikit “gegar budaya” baik budaya akademik maupun budaya sosial. Motivasi menjadi sangat penting, untuk menumbuhkan survival ability utk menghindari kelumpuhan. Bisa jadi ada (atau banyak??) mahasiswa yg merasa masuk ITB adalah ultimate achievement mereka dan surutlah motivasi mereka utk mendapatkan sesuatu yg lbh wah, jadinya cuma “sakdermo nglampahi”. Mungkin juga kontrol ortu yg semakin berkurang, ga ada raport spt di sekolah, menyebabkan mereka saenake dhewe, sudah merasa dewasa dan bisa bertanggung jawab atas hidupnya. Wacana raport dikirim ke ortu bisa juga tuh kayaknya, sehingga mungkin ortu bisa memotivasi mereka secara personal, case by case, ga spt dosen yg memotivasi secara umum.

  • Taufik

    Saya sebagai mahasiswa mulai menyadari bahwa sejak dari tingkat SD sampai SMA pemberian pemahaman (comprehension) mengenai materi pelajaran terasa sangat kurang. Mereka hampir tidak pernah diberikan informasi untuk apa mereka mempelajari suatu pokok bahasan. Malah yang dihadapi hanya hapalan mati dan rumus-rumus yang membosankan.

    Sehingga timbul anekdot pelajar yang berprestasi adalah pelajar yang sanggup menelan mentah-mentah segala hal yang membosankan tersebut. Pelajaran menjadi tidak menarik dan menantang karena kita tidak dituntut untuk berpikir, melainkan hanya melakukan apa yang diperintahkan.

    Saya sendiri justru paham dengan banyak belajar sendiri. Coba saja bandingkan textbook dari luar negeri dibandingkan dengan textbook dari Indonesia. Kebanyakan dari textbook dari luar mengajak kita untuk berpikir. Sementara textbook dari Indonesia umumnya pemberian pemahaman sangatlah kurang.

    Singkatnya, textbook asing umumnya mengajak kita untuk bertanya, “why?”. Sementara textbook lokal lebih kepada, “lakukan saja!”.

  • Andri Setiawan

    adakah korelasi BHMN dengan kemalasan mahasiswa :-)
    semakin banyak mahasiswa “Setor dana” semakin malas lah si mahasiswa :-D

  • handaru

    Sepertinya kurang akurnya Ditjen DIKTI dan Ditjen ManDikdasmen juga menjadi salah satu pemicunya. Sebelum masuk ke perguruan tinggi mereka begitu dipacu dengan hitungan dan hafalan yang luar biasa meluap [lihatlah kurikulum yang di keluarkan Ditjen ManDikdasmen untuk Fisika dan Kimia misalnya yang gak ketelungan banyaknya] kemudian begitu masuk perguruan tinggi diminta belajar analisis dan sintesis. Kalau Ditjen ManDikdasmen dan Ditjen DIKTI akur, harusnya gak perlu ada dua ujian sekaligus [Ujian Nasional sekaligus SPMB] bagi murid SMU kelas tiga. Kenapa keduanya tidak berkoordinasi saja dan mengadakan satu ujian tunggal ? Menurut saya, itu karena Ditjen ManDikdasmen mau dianggap dan perlu menguji sebelum meluluskan anak didiknya dan Ditjen DIKTI tidak sepenuhnya percaya Ditjen ManDikdasmen telah melakukan penyaringan dengan ujian yang memadai sehingga Ditjen DIKTI masih merasa perlu mengujinya sendiri calon mahasiswanya.

    Tentu masalah lain juga ada. Terutama yang berkenaan dengan sikap mental.

  • MFA-WP

    Berarti harus ada matkul wajib tentang Studi & Motivasi mungkin 3 sks ya :) Yang mengisi Andrie Wongso, TUng DW, AA Gym, dll. Bagaimana ?

  • sandynata

    idem deh pak :) tapi utk semester ini saya lihat mhs saya sepertinya lebih baik dari sebelumnya, ada yang ketinggalan materi lalu datang ke saya minta dijelaskan .. good good.. :D

  • rani

    Saya ada pemikiran yang rada marxis pak. Mahasiswa dulu (atau setidaknya saya) ngerasa masuk ITB adalah suatu “puncak prestasi”. Dan selalu ada pemikiran bahwa setelah lulus saya harus bisa menghasilkan duit supaya ga nyusahin orang tua. Hal2 seperti ini yang jadi motivasi. Mahasiswa sekarang (umumnya) secara finansial lebih baik dari mahasiswa dulu. Dan kayanya lebih cerdas juga, minimal gizinya lebih baik-lah :D Jadi pandangan mereka terhadap ITB mungkin gak segitunya, dan juga tidak ada keharusan untuk cepat-cepat “gak nyusahin orang tua”.

  • aRuL

    Hasil mengajar dosen dapat dilihat dari hasil evaluasi yang diberikan, hal itu umum biasa dilakukan.
    So jika ternyata hampir sebagian kelas tidak mencapai nilai yang diinginkan, so cara dosen mengajar harus diubah.
    Bukannya dosen memiliki Akta5 sehingga bisa menciptakan cara mengajar yang tentunya harus bersesuaian antara materi sama mahasiswanya?

  • TonSicky

    Pak Budi, minta izin numpang berkomentar

    Saya setuju bahwa seharusnya sistem lama tetap dipertahankan .. dimana dosen yang “kejam” dalam mendidik dan memberi nilai, mutlak diperlukan untuk merubah pola fikir mahasiswa baru .. terutama yang malas .. dam menjadikan mereka manusia yang tidak “cengeng”

    Saya fikir itulah kekuatan kita alumni ITB .. itu selling point kita .. dimana kita selalu diajarkan (atau dipaksa) untuk bekerja keras dan terbiasa bekerja dengan tekanan yang tinggi ..

    hal2 seperti itulah yang membuat kita tidak kalah dengan mahasiswa lain di luar negeri ..

    kebetulan saya sedang kuliah postgrad di univ yg rangkingnya jauh lebih tinggi dari itb dan menjadi graduate teaching assistant .. setelah beberapa waktu, saya menyadari kalau sebenernya mahasiswa itb itu gak kalah dari mereka .. mereka itu cengeng dan selalu minta “disuapin” .. just a bunch of lucky guys

    lalu mengenai alasan dan sebab penurunan kualitas ini.. saya percaya bahwa kehadiran mahasiswa2 45 juta rupiah itu di kampus ganesha merupakan penyebabnya .. pernah berfikir tidak bahwa 30 % (katanya) mahasiswa ujian khusus itu bisa mempengaruhi mentalitas seluruh mahasiswa yg lain .. saya percaya pak sama “hypothesis” ini ..

    ada cerita lucu ketika saya sedang registrasi semster 9 di itb dulu .. ketika sedang mengantri, tiba2 ada seorang ibu yang tergopoh2 bersama anaknya menyelak barisan saya, padahal seharusnya saya yg diberikan layanan saat itu karena dia bilang masalahnya urgent .. lalu saya (tidak sengaja) mendengar pecakapan mereka dengan orang BAA .. dan mendadak mengelus dada lah saya .. karena anak dari ibu ini DITERIMA DI ITB LEWAT JALUR KHUSUS TETAPI TIDAK LULUS UJIAN NASIONAL !!!!!!!!!

    what the f$%k .. sebegini burukkah kualitas input itb .. no wonder keadaanya begini sekarang .. hehehe

    pak budi, mohon maaf kalau kurang berkenan ..

    saya tunggu comment lanjutannya ..

    btw, saya alumni penerbangan 2001 .. suatu hari nanti saya juga mungkin akan kembali ke ganesha 10 , :)

  • chekabuje

    Pendapat Pak Budi aku rasa banyak benarnya. Dulu sekitar th.2000 ada kawan yg melanjutkan S-2 dan menjadi Asisten di Lab Aero-Struktur PAU juga pernah mengeluhkan hal serupa. Intinya, dia menilai mahasiswa ITB saat itu beda jauh dibandingkan jaman kami yg masuk di era 90-an awal. Mereka cenderung lebih manja, malas, kurang serius, dan suka nawar kalo dikasih tugas. Cuma, waktu itu kawanku beranggapan bhw hal itu disebabkan kurangnya OS/Ospek ;)

    Kalo aku berpikiran lain, adanya fenomena spt itu sebenarnya menunjukkan bhw kualitas mahasiswa yang masuk ITB sudah mengalami penurunan yg cukup berarti. Kalo dulu di awal 90-an, dari daerah kami (kota kecil di Jatim) yg bisa menembus ITB ada sekitar 10-an orang, skrg hanya 2 orang. Bagi anak pintar yg ortunya mampu, mereka lbh memilih sekolah ke LN, sedangkan bagi yg tdk mampu lbh suka masuk ITS. Selain itu, makin banyaknya porsi penerimaan jalur khusus juga berpengaruh thd input ITB. Sama dengan di dunia industri, kalo bahan bakunya aja sudah bukan Grade A, maka susah untuk mencetak produk berkualitas A juga….

  • Wildan

    Karena mahasiswa belum tahu tujuan mata kuliah yang diambil itu untuk apa. Belom kebayang Pak, apalagi mata kuliah Wajib tertentu.. Kalau mata kuliah pilihan mah Enjoy aja..
    Kalau sudah tahu tujuan dan suka, pastinya jadi rajin.. Hehehe.. misalnya, kuliah pilihan EC-5010..

  • errytarman

    Ya mungkin cara belajar mengajar harus diubah pak pakai active learning/collaborative learning jadi ngak klas besar/mimbar, ya dibuat klas2 kecil dengan seorang fasilitator. Apakah di ITB sudah menerapkan sistem PBL (Problem Base Learning)

  • punk!

    DO ato kasih nilai jeblok aja mahasiswa yg males mah Pak.. susah amat.. lha kalo kita kerja males2an ato engga bener aja bisa di “kick” ama kantor.. tanpa ampun!

  • IMW

    Mhs th 90-an mengeluh mahasiswa th 2000-an ndak seperti zamannya. Mhs th 80-an mengeluh mahasiswa th 90-an ndak seperti zamannya. Mhs th 70-an mengeluh mahasiswa th 80-an ndak seperti zamannya. Begitu seterusnya.

    Sebetulnya ini ada 2 masalah : memang mahasiswanya yang makin lama makin dogol. Atau dosen mengajar dengan pendekatan dan approach yang tak berubah (seperti zaman makin ke arah sini makin memiliki “godaan” konsetrasi yang lebih besar (Rushkoff)).

    Utk itu saya sarankan dosen tetap “gaul” dg mahasiswa baru (youtube, friendster dsb) membantu mengurangi gap ini. Sehingga bisa mendekati permasalahan (mengojok-ojoki mahasiswa) dg cara yang bisa mereka terima.

    Mas Bud di ITB, dan bayangkan di kampus yang mahasiswanya lebih massal dan lebih beragam. Mungkin tukar-menukar pengalaman dengan kampus yang seperti ini bisa menambah tip dan trick mengajar.

  • mathematicse

    Hmmm ini masalah internal ITB ya? :D

  • Dedhi

    Saya alumni ITB, tapi seingat saya belakangan masuk ITB bisa pakai bayar kan? Soalnya denger dari family family yg masuk perguruan tinggi, pada cerita kalau masuk UI sekian, ITB sekian, dibandingkan dengan Trisakti atau Gunadarma sekian. Dari situ saya jadi berpikiran bahwa sekarang masuk ITB sudah tidak perlu lagi cuman UMPTN belakan, tapi bisa dengan jalan bayar. Saya juga sempat ke ITB melihat parkiran mobil yang semakin luas, jadi beranggapan mahasiswa sekarang makin makmur. Jadi saya berpikiran, kalau bisa bayar, tidak perlu cerdas bukan?

    Atau saya yg salah informasi yah?

  • gre

    Andaikan ada banyak dosen seperti Pak Herman Judawisastra (dosen Teori Medan) di ITB, tentu akan lain ceritanya..

  • mtamim

    saya barusan ngajar satu kelas besar… 200an mahasiswa kali. saya beberapa kali tanya, pertanyaan sederhana, apakah ada yang tahu? tidak ada yang jawab..
    ketika saya tanya apa yang tidak tahu? tidak ada yang jawab..
    waduh… segini banyak mahasiswa gak ada respon sama sekali..

    giliran kuliah dimulai, kebanyakan malah pada ngobrol sendiri…

    saya bertanya pada diri sendiri, apa mahasiswa sekarang emang kayak gini atau saya yang tidak mampu menguasai suasana..

    btw kalo kuliah nya pak budi saya kira is the best i ever had
    masalah materi kuliah mungkin udah banyak lupa, tapi motivasi yang diberikan benar-benar tertanam…

  • Budi Sulistyo

    Apakah ada korelasinya dengan semakin banyak jumlah mobil yg parkir di ITB. Peningkatannya drastis lho!
    Saya dulu termasuk mahasiswa yang agak-agak malas, he2. Saya juga heran, Pak. Padahal ketika SMA saya termasuk yg paling rajin. Sampai sekarang belum tahu sebabnya. Untungnya masih selamat, masih bisa lulus dengan susah payah :-P

  • geowana

    yang masuk itb pake “jalur uang” tuh gak bodo-bodo amat kok…

    yang pergi ke kampus pake mobil mewah juga gak bodo-bodo amat kok…

    Ubahlah pandangan yang sempit ini. Kenali orang-orang seperti itu, kalau sudah kenal baru bisa men-judge. Kenal juga belum kok dah punya pikiran yang negatip sih???

  • rendy

    yuk, diskusinya sambil buka puasa bareng :)

  • Oskar Syahbana

    Kalau diluar, mahasiswa diberikan kesempatan untuk menikmati SEMUA kuliah yang diberikan oleh universitas sehingga dia bisa menentukan akan mengambil major dan minor yg mana (bahkan sangat mungkin mahasiswa memiliki 2 major).

    Kalau di Indonesia, at least ketika saya masih di Unpad dan di ITB dulu, baru lulus SMA sudah langsung dihadapkan kepada pilihan “mau jurusan apa”, yg notabene mereka tidak tahu apa-apa.

    Kalau mau mahasiswanya engga malas dan termotivasi, bebaskan dong mahasiswa mengambil mata kuliah yg mereka mau (dan tetap dihitung sebagai kredit – bukan sit in) — di ITB ini baru 6 sks saja maks per semester kalau saya tidak salah.

  • aJOemOni

    Mahasiswa belum merasa ‘nyata’-nya pelajaran-pelajaran tersebut..

    Jadi, ogah-ogahan deh.. :)

  • testan

    mau USM atau SPMB,nanti ‘alam’ juga yang akan menyeleksi .. Apakah ada bukti konkrit bahwa 10% mahasiswa DO semuanya adalah dari USM? *jangan2 iya lagi :mrgreen:*

    Bapak Budi, mohon komentarnya dongk. Koq saya membaca komentar dari pengunjung artikel ini malah jadi membentuk opini bahwa para USMers yang salah.. *hmm,saya teuteup aja no comment melihat para USMers*

    Ganti aja judul postingan menjadi USM vs SPMB :P

  • ak

    Menarik juga pak. Menurut saya bukan hanya di ITB saja tetapi di univ lain seperti Binus juga tidak jauh beda. Rasanya seakan-akan murid itu tidak (kurang) mau menyelami mata kuliah yang diberikan. Angin-anginan, hanya mau nilai bagus. Soal minta dimudahkan, syarat-syarat tugas minta diturunkan. Belum lagi minta deadline tugas ditunda. Di kelas juga ribut sendiri, bahkan main game.

    Yang benar-benar bersemangat belajar itu sedikit sekali. Akibatnya seringkali yang bersemangat itu kalah angin dibanding yang kurang bersemangat (karena mereka merasa kurang enak jadi menonjol sendiri).

  • AswinIndra

    Saya pernah keluh kesah di blog saya perihal yang kurang lebih sama. Sepertinya salah satu problem dosen adalah selalu berurusan dengan beberapa mahasiswa yang pemalas dan kurang motivasi seperti ini. Saya punya hipotesis yang belum terbukti sah bahwa mungkin mereka akan lebih antusias kalau dosen mereka bisa mereka banggakan. Misalnya, kalau di bidang saya, dosen A ternyata arsitek hebat, banyak proyek, suka menang sayembara,dll. Mungkin saya salah, tapi saya bisa melihat kecenderungan mahasiswa di tempat saya tertarik pada dosen yang “berbicara di luar”..hehe

  • xec

    tERINGAT mASA lALU. mUDAH2AN sEKARANG g lAGI :-D

  • andrecht

    hal tersebut terjadi karena dosennya lupa kalau dulu dia juga seorang mahasiswa…

  • sawung

    wah pak kun itu cerita mahasiswa as angkatan berapa yak? klo angkatan muda-muda ini banyak yang malesnya. himpunan ga ke urus kuliah nda betul, maunya apa sehhh.

  • nugie

    Mungkin apakah gara-gara dosennya mulai suka nge-blog ya ?
    *peace pak*

  • network_pirates

    …Entah kenapa saya jadi emperhatikan bagaimana pengunjung Warteg ini sangat bersahaja tapi riang gembira.
    Tiba-tiba muncul pemikiran dikepala saya bahwa jika saya tidak lulus maka aya akan jadi salah satu diantara mereka ini dikemudian hari, mungkin tidak jelek akan tetapi masak sih ….
    Pemikiran itu membuat saya jadi terpicu untuk segera menyelesaikan tugas akhir saya.
    Begitulah setiap kali saya patah semangat, saya datang ke Warteg itu untuk memperkuat semangat saya…..

    lho, kok jadi salah satu diantara mereka?…..

  • network_pirates

    lanjutan dari posting diatas, jangan2 orang yang datang kesana kayak pak budi semua… :D, cari spirit

  • isal

    dapat kabar dari jurusan almamater, skrng mhs ITB dipersulit untuk bikin server di lab, bikin kegiatan yang menyangkut lab dan intinya dipersulit untuk cari duit untuk kegiatan kmahasiswaan. payah neh..katnaya sih pining irit. efeknya mereka gak kreatif. sudah mulai kerasa neh sekarang. beda bgt pas jama saya kuliah dulu tahun 97-an. tahun2 belakangan ini sudah mulai kelihatan kok. gmn neh rektornya payah..

  • dodo

    Pak ,saya juga mempenyai problem seperti teman2 yang lain … yaitu dalam pers Differensial saya juga sudah belajar .berusaha mengerjakan tugas , dan saat ulangan saya kelihatannya bisa..namun nilai tetep aja belum baik…. mungkin bapak dapat mencari solusinya…
    makasih ….

  • el-tia_

    ngomong2 tentang males..saya ^nemu^web ini juga pas nyari2 all about males karena saya pemalas..tapi lama-lama saya malas dengan kemalasan saya. dan saya ingin brubah agar tidak males lagi..
    ternyata jadi pemalas g enak.. makanya
    jangan malas..
    ugh di sini banyak orang2 hebat
    akh..saya juga mau hebat n doain y biar saya g males lagi…

  • go-win

    bener!!!!!!!!!! ini masalah aku jg, 8 tahun kuliah gak lulus2. Entah stress apa. Tp memang dosen dan kampus gak ada daya tarik sama sekali.

  • Eko Sedane Putra

    Wah kalo masalah yang satu ini pasti setiap mahasiswa pernah bahkan sering mengalaminya, namun dengan dosis (kaya’ obat…) yang berbeda-beda….

    memang saya perhatikan mahasiswa sekarang pengen instan…tugas nyontek…bejarar mau ujian SKS (sistem kebut semalam)…yang lebih parah lagi neh ada temen yang bilang ” kuliah itu yang penting ip tinggi, g perlu terlalu banyak konsep…toh entar kalo kerja kita juga g bisa apa2, harus mengulang dari awal…” wah parah juga kalo setiap mahasiswa berpikiran kaya’ temen ku ini….

    mahasiswa Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan mahasiswa asing, tapi sayang jarang sekali mahasiswa yang bisa nulis…ato mempublikasikan setuatu….

    bagi temen2 mahasiswa…malas bole seh…wajar tapi ingat masa depan bangsa ada di tangan kita…so kerja keras mumpung masih muda….ok…!!

  • rizyana

    jangan males, tar ga dapet rezeki..nyambung kan ? ;)

  • journalight

    wahhh, pak f.x Toha dosen saya sekarang tu
    ngajar mekanika tanah 2
    dan saya juga biasanya bengong doang kecuali waktu beliau cerita-cerita pengelaman atau cerita humor ;)

  • fitri

    terimakasih sindirannya pak… eh teguran maksud saya pak. yang bapak utarakan memang benar adanya. mahasiswa memang butuh motivasi. mahasiswa butuh perhatian. saya mahasiswa dari …… kebetulan kami sepertinya cuek2 sangat (ne menurut saya ya)… kalo dia masuk, ngasi tugas, nagih tugas dan kapan kita ujian..

    jadi dosen, pa salahnya sih tanya kabar ke.. atau apa. udah gitu…

    tiba mahasiswanya udah mau lulus (paska nyusun skripsi) … dosen mulai bertingka… yang inilah.. yang itulah.. bikin pening mahasiswa.. nanti kalo dibilang salah.. kembali kembali ke pasal satu (dosen tak penah salah)

    tapi saya Alhamdulillah tetap berterimakasih untuk para dosen atas pengorbanan dan pemberiannya kepada kami mahasiswanya…

    manusia memang punya kelemahan.. tidak mungkin semua orang sesuai dengan keinginan kita melainkan kita yang harus menyesuaikan diri dengan karakter orang lain.

    terimakasih..

  • rifki

    kalau menurut saya kemalasan mahasiswa itudikarenakan karena lingkungannya yana ga kondusif,,pergaulan yang mengarah ke hedonismean,dan sistem yang diterapkan dikampus monoton,.sehingga mahasiswa jenuh akan kegiatan kampus.kurangnya pelatihan tentang motivasi di tiap kampus.banyak da,,yang harus ditekannkan pada mahasiswa bahwasannya kuliah itu tidak hanya untuk mengejar nilai tetapi ilmu..ini juga yang perlu dipikirkan tiap kampus kalau sistem yang diterapkan seharusnya tidak membuat mahahsiswa untuk mengejar nilai

  • adhi

    Kalo kesulitan yg sy alami membagi waktu antara belajar yg berkaitan dgn perkuliahan dan otodidak ilmu2 yg tdk dipelajari diperkuliahan yg dipakai untuk bekerja, semisal mengenai network computer dan server. Kedua hal tsb. tdk sy dptkn di kelas (krn sy bkn dr STEI). Malah sy kdg merasa spt di “2 dunia yg berbeda” ketika kelar kelas nyoba untuk ngelanjutin ngoprek atau kerjaan di tempat kerja yg blm slesai.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.839 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: