Mengapa Teriak-Teriak?
23 September 2007 oleh Budi Rahardjo
Saya perhatikan di acara TV Indonesia - misalnya acara musik, lawakan, dan sejenisnya bahkan juga sinetron - bahwa orang yang bicara sering teriak-teriak! Aneh juga. Kan dia sudah pakai microphone sehingga tidak perlu teriak. Tinggal dikeraskan saja volume mikroponnya.
Ini salah siapa? Orangnya? Atau sound engineernya? Rasanya sih orangnya ya?
Memang yang sering terlihat teriak-teriak ini biasanya di acara hiburan (bodoran) dimana lebih dari satu orang yang pegang mikropon. Mungkin mereka harus berebut untuk menjadi pusat perhatian? Padahal kadang-kadang diam itu malah menjadi pusat perhatian. Nggak usah teriak-teriaklah. Toh honornya juga sama. He he he. Kecuali, memang yang lebih banyak teriak honornya lebih besar.
Keterangan gambar di atas, sambil teriak, he he he:
HOI…!!! KASIH KOMENTAR DONG!
Halah. Nggak di TV, di blog juga teriak-teriak. Dasar orang Indonesia! (sambil teriak tentunya).

BAIK PAK, SAYA KOMENTARIN..
*sambil teriak juga*
Hmm.. Bagus donk pak, kalau pengisi acaranya diam semua, apa yang dibahas? Hehe.. Kalau teriak, kan jadi ramai. Menandakan semangat 45!
Mungkin, orang Indonesia terbiasa menjadi supporter bola. Jadi kebiasaan teriak-teriak sudah melekat. Hihi.
hmmm,,, itu indonesiawi
Hahaha…
Muncrat tuh…
( ** Kabrur ** )
gimana dong Pak, udah teriak aja masih nggak didengerin…..
euh ini teh ngbahas apa..?
ga ngerti…
kebetulan saya jg berpikiran sama pak. Mereka teriak karena content yg dibawakannya sebenarnya gak menarik,dg teriak seolah-olah acaranya meriah dan orang jadi tetep terpaku nonton

strategi yg aneh,tapi berhasil.
Kalo sahur,mending nonton metro tv
ya, suatu phenomena yg ajaib memang. kayaknya yg mempelopori itu di awalnya kelompok2 lawak yg terbiasa tampil di tempat2 yg tidak ada atau minim sound system atau tempat yg mereka tampil itu sebegitu bisingnya, sehingga meski menggunakan mic, masih saja mereka kurang terdengar.
Sejak itu semua pelawak yg on stage selalu teriak2…
Kan keren pak..
TERIAK = SEMANGAT!!
HOEEEEEEEEEEE!!!…
ikutan teriak pak…
sampe buat do’a saja pake teriak-teriak
padahal Allah itu tidak tuli
seperti kata pepatah bilang…
“Itulah Indonesia ..”
Makanya waktu sahur saya gak suka nonton yang tipi karena ceritanya malah teriak dan saling nyiksa.
Seperti komeng dan adul di trans, gak mutu banget tuh acara.
Mending nonton Para Pencari Tuhan.
supaya menjadi pusat perhatian
Karena pengen teriak, mengekspresikan perasaan…
kayak OS lah (bagi yang pernah di-OS).
ga afdol kalo ga teriak.
-IT-
kebawa kebiasaan keliling mbangunin pas saur tu pak
serasa di hutan mungkin..
teriak kadang juga diperlukan
Sepertinya teriak itu sendiri udah bagian dari lelucon… Kira2 leluconnya sendiri lucu nggak ya? Hehehe…
Pak, bukannya siapa yang berteriak paling keras adalah yang akan didengar massa? *pendapat selebritis dan politikus*
hehe biasanya yang teriak2 itu gak lucu..
[...] itu (eh, tapi tetap ditonton ya?) atau acara lain di TV yang isinya teriak-teriak (saya sudah tulis di blog yang lain). Cukup senang juga mendengar bahwa acara “Para Pencari Tuhan” (PPT) merupakan acara [...]
hm, ga sengaja pak nemuin yang teriak”… halah! ikut nimbrung ya pak?
ikut TERIAK Juga: “KUNJUNGI BLOG KU DONG PAK!” hehehehehe…