Banyak yang harus dikerjakan
Terlalu sedikit atensi
Kok susah sekali mengendalikan atensi ya? (Apa terjemahan yang paling pas untuk attention? Kok “perhatian” rasanya kurang pas gitu. Kurang nggreget.)
Banyak sekali tugas yang harus kita lakukan, tetapi sering susah mengendalikan atensi. Tiba-tiba dia berontak. Liar. Lari kesana kemari. Kita mau belajar, tapi atensi malah pergi ke games atau nonton film. Saya mau baca buku, kok jadinya baca blog di internet. Mau menjawab email, malah nge-kron. Bagaimana ini?
Saya memiliki banyak “baju” – mulai dari baju dosen, konsultan, entrepreneur, tukang ngeband, blogger, wirasuadma … eh, wiraswasta maksudnya. Masing-masing membutuhkan atensi. Eh, diajakin membuat perusahaan lagi. Busyet dah.
Karena kurang atensi (dan waktu) tapi maunya banyak, hasilnya adalah frustasi! Kesal! Aduhhh… Halah.
Right now, lack of attention is our biggest problem!
jangan-jangan karena yang lain banyak sekali diperlukan atensi malah energi atensinya jadi teralihkan buat curhat lho Pak.
Mungkin ini naif dan klasik tapi mujarab : “Be focus !” Ini untuk saya sendiri lho pak !
manusia kan memang didesain untuk multitasks and multi needs
dan dia baru habis atensinya kalau sudah makan tanah pak
Hahaha… ini tadinya mau kerja malah baca blog Pak BR
Kerja lagi ah…
manusia ada batasnya.
-IT-
mungkin perlu tambahan atensi dan waktu pak
Loh justru bagus kan lari-lari gitu. Explore stuffs that you really liked gitu Pak
. Sometime being too focused can make you dull…
Salam kenal,
Kata yang anda cari itu fokus. Batas fokus manusia itu tidak lebih dari beberapa saat saja. Setelah itu, seperti barisan memori yang terdapat di prosesor, kemudian memori di motherboard lalu hardisk sebagai tempat penyimpanan, informasi hanya bisa disimpan di dalam minda manusia melalui proses-proses, kebanyakan dari proses itu hanyalah pengulangan (mengulang-ulang nomer telpon) atau asosiasi dengan informasi yang lain (menghubungkan nomer telpon dengan posisi jari memencet telpon atau menggabungkan beberapa angka dengan tanggal lahir dsb).
Beberapa teori mengatakan manusia hanya mengenal satu fokus pada satu hal yang sama, sisanya namanya ground. Sisanya mengatakan manusia dapat melakukan beberapa hal yang memerlukan indra yang berbeda-beda.
Untuk keadaan terakhir, contohnya ada keadaan seseorang memegang kopi sambil mendengar radio. Itu dapat dilakukan. Namun bila kita mendengar seseorang memberikan nomer telpon pada kita sambil mendengarkan berita di tv, besar kemungkinan kedua informasi itu akan terdistorsi.
Re: “wirasuadma … eh, wiraswasta maksudnya.”
Asa mobok manggih gorowong……upami Kang Budi tiasa nyerat “Blog” dina basa Sunda.
Sigana “Bagus Suragus”…..”Sae Surase”……”Apik Surapik”
ternyata tidak hanya mahasiswa yang mengalami hal seperti itu. Dosen pun juga sama yah?
[...] blogwalking kesini akhirnya nemu sesuatu. Lucu juga ada yang disebut kronologger… intinya sih micro-blogging. [...]
itu biasa soal mata dan pikiran, nah saya jadi ingat soal kuping dan pikiran, listening dan hearing. maunya kita listening, tapi pikiran suka liar jdnya hearing