Ini cerita tentang kacamata, tetapi bukan tentang bentuk fisiknya. Yang saya maksudkan dengan kacamata di sini adalah cara pandang.
Dahulu cara pandang saya sangat sempit, yaitu cara pandang orang teknis. Maklum, latar belakang saya adalah teknis. Kacamata orang teknis sering praktis, logis, dan akurat. Apa yang susah dibuat menjadi mudah (tapi kadang apa yang mudah dibuat susah? “vi” anybody? he he he). Mungkin cara pandang ini bukan hasil dari kacamata yang saya pakai, tapi hasil dari mata asli saya. Jadi, apa boleh buat, terpaksa dikoleksi. hi hi hi.
Kemudian saya ketemu dengan seniman dan budayawan. Wah, ternyata kacamatanya beda. Berlapis-lapis. Kadang kacamatanya tidak membuat pandangan lebih jelas tetapi malah menjadi kabur. Tapi apakah memang semuanya harus dibuat lebih jelas? Kadang filter yang membuat pandangan menjadi kabur itu dibutuhkan juga. (Di program pemroses citra juga ada filter “blur“. Halah, lari ke teknis lagi. Tentu ada manfaatnya.) Satu kata bisa bersayap banyak. Satu nada bisa menimbulkan perasaan yang berbeda. Satu tarikan garis di atas kanvas bisa bercerita banyak. Kacamata seniman perlu dikoleksi. Yah, pinjem dulu deh sebelum saya bisa memiliki kacamata seniman sesungguhnya.
Setelah mencoba kacamata seniman ini, saya bisa melihat sebuah topik dari sudut pandang lain. Beda saja. Menarik juga. Nah, kalau ketemu dengan orang teknis sekarang saya bisa menggunakan kacamata seniman. Saya bisa melihat bayangan seorang techie yang jatuh di kacamata seniman. Ooo kalau saya lagi jadi orang techie seperti itu toh. Orang techie itu senangnya yang akurat, semua dikutip kata-per-kata berdasarkan definisi yang ada wikipedia. he he he. Kadang mereka tidak dapat menangkap makna sesungguhnya akan tetapi malah berdebat ke hal yang teknis (mengapa 68%? darimana datangnya 68%? hi hi hi).
Oh ya, saya ketemu kacamata politikus. Yang ini kacamatanya lain lagi. Tapi saya gak mau komentar, soalnya ini termasuk “yang mudah dibuat menjadi susah”. Ha ha ha. Perlu dikoleksi nggak ya?


Oktober 1st, 2007 at 7:20 am
Bagaimana kalau lensa kanan pakai lensa seni dan lensa kiri pakai lensa teknis? Bisa kok, tapi memang awal-awal agak sedikit sakit kepala karena tidak terbiasa
.
Kalau kacamata politikus… Mungkin perlu dikoleksi supaya paham apa yang ada di otak mereka pada saat memperhatikan sebuah masalah? Hm, tapi sepertinya kita sudah tahu ya apa yang mereka pikirkan hehehe.
Oktober 1st, 2007 at 9:28 am
kenapa harus gonta-ganti kacamata sementara beberapa kacamata yang berbeda bisa bekerja di dalam sebuah tim?
kepala ngga pusing, kerjaan kelar, ekonomis lagi (soalnya tiap orang beli kacamata sendiri-sendiri).
Oktober 1st, 2007 at 9:36 am
makanya ada dunia. kalo monoton ntar jadi robot.
pinjem istilah Pak Kusmayanto, tiap orang ada habitatnya.
Oktober 1st, 2007 at 9:47 am
oh ya jadi inget cerita orang tua rekan saya (bekas pejabat tinggi salah satu perusahaan penting negara) beberapa hari yang lalu, …. asal jangan suka gonta-ganti kacamata aja katanya, dahulu salah seorang rekannya merupakan engineer yang baik, sebelum menjadi salah seorang menteri di negara ini, tapi gara-gara sudah make kacamata politisi, wah hilang deh nilai-nilai kacamata engineernya…
Oktober 1st, 2007 at 10:01 am
pak yg suka bilang 68 % tuh siapa ya ?……RS ?
Oktober 1st, 2007 at 10:42 am
gonta ganti kacamata sih boleh-boleh saja, asal jangan sampai gonta-ganti kepribadian, dan terlalu menyesuaikan diri dengan kacamata yang dipakai… hmm kayaknya perlu kebijaksanaan juga dalam memilih kacamata mana yang akan kita gunakan
Oktober 1st, 2007 at 11:01 am
kalau kaca mata kuda?
)
Oktober 1st, 2007 at 11:32 am
@agusfis
yang suka make kata 68% bukan RS, tp orang2 yang ga suka ama RS. RS-nya sendiri pas ngucapin itu kan kayak misil fire and forget.
Oktober 1st, 2007 at 12:00 pm
[...] istilah Mas Budi Rahardjo dalam posting kacamata, setiap kepala melihat melalui sebuah kacamata yang mewakili satu perspektif tersendiri, bahkan [...]
Oktober 1st, 2007 at 1:25 pm
All about tips and tricks http://puthzel.com
Free Link Exchange http://linklunk.blogspot.com
Inilah hidup… Indah karena berbeda-beda….
Terkadang apa yang kita gunakan mencerminkan jati diri seseorang….:)
Thanks…
Oktober 1st, 2007 at 2:49 pm
Asal jangan minus kacamatanya berlebihan ..
Oktober 2nd, 2007 at 9:56 am
mengapa harus pake kacamata…. ?, yg pake kacamata kan itu cuma buat orang sakit mata duank …
ah yg sehat juga bisa deng, buat gaya he he
*literal sekaleee
Oktober 3rd, 2007 at 9:49 am
Pak, bukannya kalau kacamata politikus itu lebih mudah ? Orang teknis aja masih lebih njelimet. Orang politikus pokoknya ” yang penting guwa menang”. Gimana caranya ? kayaknya perlu mempekerjakan orang teknis , hehe….:D
Oktober 3rd, 2007 at 11:18 am
@andry, kaca mata kuda nggak diikutsertakan dalam pembahasan karena kuda merasa keberatan jika ikut dibawa-bawa dalam diskusi ini. he he he.
Oktober 3rd, 2007 at 2:18 pm
Ing, yang penting mah matanya. Mau pake kacamata apa juga kalau matanya katarak atawa loba cileuh, tetep aja teu katingali
Oktober 3rd, 2007 at 3:15 pm
Nday (kamana wungkul?), kalo kita sudah tahu nggak bisa ngelihat, maka kita lebih berhati-hati. Yang repot kan kalau kita merasa melihat dengan jelas, padahal nggak. Tiba-tiba aja tidagor. he he he.
Terus uring-uringan nyalahin kacamatanya, padahal kacamatanya gak ada kacanya alias bolong. he he he.
Oktober 4th, 2007 at 12:46 am
Saya tuh lagi nyari kacamata ‘tembus pandang’ hehe.. , jangan berpikir negatif dulu mas .. kacamata tersebut buat ngambil uang dikantong atau saku celana (supaya ngga bingung kalau bayar tol , sambil nyetir mobil) hehehe..