Kejeblos Toko Buku (lagi)

Saya masuk ke toko buku. Selanjutnya Anda bisa menyelesaikan ceritanya …

Yap! Seperti yang sudah-sudah, saya keluar dengan membawa buku. Mana bisa masuk ke toko buku keluar dengan tangan hampa. Sebetulnya sih bisa, tapi iming-imingnya sangat berat.

Hari ini saya dan istri pergi Bandung Super Mall (BSM). Rencananya sih saya mau membeli sepatu. Sepatu saya sudah belah solnya. Betulan belah. (Sayang belum saya foto.) Ceritanya dia diganti solnya dengan sol yang murahan. Sebulan setelah kembali saya pakai dan patah di tengah. Mungkin karena sepatunya sering ketekuk dan solnya getas. Patahlah dia. Padahal sol baru.

Sampai di BSM, ternyata toko yang kami perkirakan ada di sana sudah tidak ada (atau memang dulunya sudah tidak ada, kami tidak tahu). Singkatnya, saya tidak jadi beli sepatu. Wah, sudah capek-capek ke BSM tidak menemukan yang sudah direncanakan. Ya sudah, saya masuk ke Gramedia saja. Mau lihat-lihat saja (ha ha ha – are you sure?).

Ada banyak buku yang menarik, tetapi hati masih teguh untuk tidak membeli buku. Pasalnya sudah banyak bahan bacaan yang harus saya baca dan masih belum dibaca. Ini mau beli buku lagi. So far so “gud”. Sampai di tempat hobby dan musik. Terlihat buku biografinya Chrisye.

Apa daya. Chrisye merupakan salah satu artis musik favorit saya. Jika dilihat dari daftar jumlah lagu yang saya putar, maka Chrisye menempati urutan ketiga (urutan pertama adalah Genesis, kedua adalah ADA Band). Bagaimana saya bisa melewatkan buku ini. Hati luluh. Buku langsung dipegang.

Membacanya kapan? Itu urusan nanti. Yang penting punya bukunya dulu. Asyik. (Semoga Allah swt melapangkan tempatmu di dunia sana, Chrisye. Terima kasih atas musikmu yang indah.)

Di rak yang sama, ada juga buku yang menarik. Judul bukunya adalah “Guitar Effects” karangan Joe Bennett (terjemahan). Ah, sekalian. Kadung. Sudah bobol, sekalian saja. Sudah lama saya ingin mengetahui seluk beluk efek gitar ini.

Secara sepintas saya lihat isinya adalah tentang bagaimana menggunakan efek gitar, perbedaan dari berbagai efek gitar (overdrive, distortion, fuzz), dan contoh-contoh penggunaan serta menghubungkan efek tersebut. Bukunya tipis dan disertai dengan CD, yang isinya adalah suara contoh dari efek yang dibahas.

Mungkin buku ini yang paling duluan saya baca karena tipisnya. Ha ha ha. (Done!)

Setelah keluar dari Gramedia, ternyata masih ada waktu. Pergi ke Disctara dulu (wah coba ada Digital Beat Store di sini, pasti saya nongkrong di sana dulu – hi hi hi). Lihat-lihat CD. Eh, nemu CD ini; Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) 1977 yang diselenggarakan oleh Radio Prambors. Wah jadul banget. Biar bagaimanapun LCLR ini merupakan salah satu tonggak perubahaan musik Indonesia.

Dulu saya punya kasetnya, tapi sekarang entah dimana. Ya sudah, dibeli saja. Untuk koleksi. Langsung menuju kasir dan dibeli. Isinya lumayan, ada lagu “Lilin-Lilin Kecil” karya James F. Sundah yang dinyanyikan oleh Chrisye dan … ada lagu “Dalam Kelembutan Pagi” karya Baskara yang dinyanyikan oleh Dhenok Wahyudi / Jockie. (Saya mau ketawa melihat nama mas Yockie di sana. Bukan mentertawakan lagunya, tapi ketawa karena nama “Jockie” itu. Tanya sendiri ke mas Yockie deh.)

Secara sepintas sebetulnya saya lebih suka LCRL yang tahun 1979 (atau 1978?) dibandingkan yang ini. Entahlah. Ini juga sudah agak lupa lagi. Harus dicari dulu tuh kaset yang taun 1979.

Sip. Selesai urusan di BSM. Kami pulang. Di jalan muncul ide untuk beli bahan makanan dulu di Hero Suci. Tahu tidak di sebelah Hero itu ada apa? Coba tebak? Yak! Betul! Toko buku! Grrrr … Istri saya ke Hero, saya masuk ke toko buku. Tentu saja keluar membawa buku lagi.

Buku yang saya ambil adalah “The Starbucks Experience”. Saya ingin belajar bagaimana Starbucks bisa mengubah fenomena minum kopi menjadi sesuatu yang bukan sekedar minum kopi. Mungkin pelajaran ini bisa diterapkan di usaha kami. (Keep on learning! I have to make my company a learning organization.)

Oh, buku yang ini ternyata terjemahannya. Waduh. Bagaimana ya? Tidak apa-apa? Kata pak Agus Nggermanto, buku ini bagus juga. Biasanya saya tidak suka buku terjemahan karena seringkali kacau terjemahannya. Maaf, ini jangan dianggap sebagai sok ke-barat-barat-an.

Sebetulnya saya sudah pernah melihat buku aslinya, yang dalam bahasa Inggris, di Starbucks tetapi tidak terbeli waktu itu karena tidak siap. Waktu itu, hati masih teguh untuk menolak beli. Soalnya pas ke Starbucks kan niatnya mau ngopi bukan beli buku. Jadi hati masih kuat menahan godaan.

Buku satunya lagi yang saya ambil adalah buku “Filsafat Seni” karangan Jakob Sumardjo. Alasan saya membeli buku ini adalah; (1) dia diterbitkan oleh Penerbit ITB (dukung kampus sendiri dong), dan (2) saya ingin tahu apa itu “seni” (yes, seriously, I want to know what art is). Siapa tahu buku ini bisa memperkaya pengetahuan saya tentang seni dan bisa saya tularkan dalam karya saya ataupun tulisan saya di Asia Blogging Network, yang membahas masalah teknologi dan seni.

Buku ini disegel, jadi saya tidak tahu isinya seperti apa. Mudah-mudahan isinya tidak membosankan. Di sebelah buku ini ada buku tentang filsafat seni juga, tetapi juga disegel. Jadi membeli buku yang ini agak sedikit untung-untungan. Mudah-mudahan manfaat.

Inilah hasil rangkuman keluar “sebentar” tadi. Hati gembira, dompet menangis …

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

25 Tanggapan to “Kejeblos Toko Buku (lagi)”

  • dewo

    Hehehe… saya pun sering kejeblos di toko buku padahal banyak buku yg saya beli belum terbaca juga. Sering kali saya tidak membeli buku tapi beli majalah atau tabloid. Soalnya kalau beli majalalh & tabloid mbacanya lebih singkat dan isinya pun lebih ringan.

    Oh iya, sepatu saya juga sudah belah solnya padahal baru 1 tahun pakai. Gara-gara pakai merek lokal? Wadaw… tidak bermaksud menjelekkan produksi lokal.

    Salam.

  • dhani

    Kalau saya malahan sering masuk toko buku dg niat mau belanja, tapi keluar gak bawa apa2. Masalahnya sulit sekali cari buku2 dari bidang yg saya minati di toko buku sini. Terpaksa larinya ke Amazon lagi. Idem dengan CD. :(

  • Oskar Syahbana

    Hehehe, saya malah jarang ke toko buku sekarang. Masih banyak buku yang belum selesai dibaca. Paling kalaupun ke toko buku hanya membeli majalah saja untuk update informasi

  • jsop

    Masih dibulan Ramadhan , ngga baik bersuka-cita diatas penderitaan sesama lho mas .

  • Budi Rahardjo

    Wah bener juga mas Yockie.
    Ampuuuuunnn… ampuuunnn mas.

    (sambil tetap cengengesan … hi hi hi. habis gimana lagi. lha wong lucu.)

  • avianto

    “Filsafat Seni” harusnya diwajibkan dibaca oleh semua mahasiswa jurusan non-FSRD pak ;) .

    Tapi sama kok, saya kalau sudah masuk toko buku, ya sudah – ujung-ujungnya belanja. Kemarin-kemarin ini sudah keluar ratusan ribu untuk beli buku mulai dari novel, buku non-fiksi sampai majalah (majalah Wired bulan Oktober wajib baca pak, ada sisipin Geekipedia yang bagus banget).

    Susah deh kalau maniak buku hehe.

  • rendy

    sengaja jarang ke toko buku…
    bisa bangkrut ntar… gesek kartu terus…

  • firman firdaus

    sekarang jarang banget ke toko buku.

  • ardimas

    Sama pak….yang penting punya bukunya. Anehnya klo komik g ada yang g kebaca y.he…

    Udah banyak buku yang antri buat dibaca. Tapi berhubung UTS, buku2 kuliah antri tedepan.

  • Paman Tyo

    Wahai Budi saudaraku,
    sesungguhnya pusat syaiton penggoda itu ada di dua tempat, yakni toko buku dan toko CD.
    Maka jauhilah tempat-tempat itu.

    Untuk toko pakaian kau akan segera tahan diri, kerna semua pakaian masih bisa dipakai, lagi pula lemari sudah penuh. Tapi bacaan dan musik? Kau takkan peduli bahwa rak sudah sesak, bahwa waktu baca dan dengarmu kian berkurang kerna sehari tetap 24 jam.

    Insyafkah wahai saudaraku. Jauhilah tempat-tempat itu. :D :P

  • Noeq

    untung borders gak ada di Bandung, klu gak dompetnya udah bolong lagi pak..

  • ephi

    Pak, yang Starbucks itu harganya 5rb bukan? Terakhir ke Gramedia TP, Surabaya, harganya 5rb.

  • Nico

    Yah pak, kejeblos n bli bukunya sih gapapa. Yg sakit tu, dah kejeblos trus pulang ga bawa apa2. Sakit pak, sakiit *haiah,ketauan dari dlm hati*hehe

  • hilman

    Wah kayanya kita senasib nih Pak, banyak buku yang saya beli sampe sekarang kadang-kadang masih ada plastiknya.
    Kalo masih disegel memang menggoda untuk dilihat dalemya, kalo saya sih diem-diem ngumpet sambil lirik kanan kiri dan lepaslah segel itu he..he
    gak mau beli kucing dalem karung

  • BeNDoT

    Blog Anda masuk ke Blog Bhs Inggris:
    http://rahard.wordpress.com/2007/10/07/kejeblos-toko-buku-lagi/

    Apa belum diset ke bhs indonesia atau sengaja?

  • BeNDoT

    Sorry salah, yang 2 atas di hapus saja….

    http://botd.wordpress.com/top-posts/?lang=en
    No: 42

  • Budi Rahardjo

    Memang nggak saya set ke ID bahasanya karena saya nggak suka menunya menjadi Bahasa Indonesia dan membingungkan. Untuk soal statistik, saya tidak tahu apakah mereka menggunakan setingan bahasa tersebut untuk mengurutkannya. Kayaknya iya ya?

    Biar diset bahasa Inggris, tetap dapat ranking. he he he. Meskipun postingannya dalam Bahasa Indonesia. Asyik he he he.

    Ok deh. Sekarang saya set ke Bahasa Indonesia. Pengen tahu juga apa efeknya ya.

  • farid

    saya juga sering keceblos… mending yang ada sudah selesai dibaca, belum juga

  • eko

    Iya yach…kenapa kalau kita masuk ke toko buku dan toko kaset, hasrat untuk membeli tidak dapat dibendung…???? bukan masalah belinya…tapi bacanya kapan….??????? kalau ke toko buku lagi coba dech baca Avatar (Filmnya disiarkan di Global TV)…seru dan lucu…yach nggak apa2 sekali-kali baca cerita anak-anak…he..he..he…

  • Riri Satria

    Ha ha ha … ternyata penyakit kita sama Pak … godaan terbesar ada di toko buku … dua dari buku yang Pak Budi beli sudah saya baca, yaitu buku Chrisye dan Starbucks … kedua buku tsb bagus kok Pak … setidaknya utk orang penggemar lagu Chrisye dan nongkrong di Starbucks (spt saya) … salam Pak.

  • Riri Satria

    Btw, sedikit tambahan Pak … I consider the Chrisye book is not just a simply biography book, but a business strategy book … setuju nggak Pak ?

  • antown

    Yang perlu diwaspadai juga, hati2 kalo naik angkot(baca:bus). Karena disana suka ada orang jual buku juga. . .
    Hehehe

    antown.blogspot.com
    usmany.deviantart.com

  • agus

    mas aku lagi nyari2 data skripsi nih,,,bantu dong,,,seandainya saya nyari buku effect guitar di toko buku ud gak ad,,gmaana ya??? saya b sepertinya butuh banget tuh buku nya….tolong blz emeil saya atw FB saya ja…
    aguswijaya_83@yahoo.
    thanks yaaaa.

  • Budi Rahardjo

    wah sayangnya sekarang saya tidak tahu dimana keberadaan buku itu :(

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 650 pengikut lainnya.