Dalam bulan ini saya terlibat dalam diskusi tentang bisnis Voice over IP (VoIP) dan 3G. Diskusi ini berlangsung informal dan terpisah. Ada yang diskusinya merupakan bagian dari presentasi saya, ada juga yang diskusi dilakukan ketika santai minum kopi.
Kesimpulan sementara dari hasil diskusi tersebut adalah bisnis VoIP dan 3G di Indonesia TIDAK MENGUNTUNGKAN.
Mari kita bahas satu persatu. Yang pertama soal VoIP. Secara teknologi nampaknya memang VoIP (atau yang sejenis, yaitu komunikasi suara yang dikonversikan ke bentuk digital) merupakan teknologi komunikasi masa depan. Semakin banyak orang dan instansi yang terhubung dengan jaringan komputer / internet. Jelas teknologi IP yang nampaknya menjadi pemenang. Semua komunikasi suara akan dikonversikan ke bentuk digital dan disalurkan ke jaringan berbasis IP ini. Kita bisa lihat dari penggunaan Skype, Yahoo! call, Google talk, dan seterusnya.
Di Indonesia, VoIP ini bermasalah karena tidak jelasnya masalah regulasi. Masalahnya adalah masalah BESAR! (harus saya tulis dengan huruf besar dan bold pula). Akibat dari ketidakjelasan ini sudah beberapa orang masuk penjara! Aneh! Di luar negeri, inovasi VoIP (seperti yang dilakukan oleh Skype) menghasilkan dana investasi mengalir 18 juta dollar. Di Indonesia, inovasi VoIP menjadi 18 hari di penjara. Mengapa teknologi dikriminalisasi. Aduh.
Selama regulasinya masih seperti ini, maka tidak ada orang yang berani melakukan inovasi bisnis VoIP ini. Resiko masuk penjara sangat tinggi, sementara kemungkinan untung masih belum terlihat. (Resiko penjara ditanggung pribadi, keuntungan diambil perusahaan. Sangat tidak adil!) Sangat disayangkan. Akhirnya nanti kita akan dijajah oleh pelaku bisnis VoIP dari luar negeri. (Mudah-mudahan Kominfo – khususnya Postel – bisa mendengarkan hal ini. Demikian pula penegak hukum Indonesia.) Ingat ini bukan sekedar masalah pelanggaran aturan, ini adalah masa depan Indonesia. Anda ikut bertanggungjawab dalam “penjajahan” modern ini.
Kembali ke potensi bisnis VoIP ini, saya melihat bahwa penghasilan dari pelaku bisnis VoIP dari traffic lokal (atau yang berasal / originated dari Indonesia) kecil. Penghasilan mereka sebetulnya berasal dari bisnis terminasi, yaitu membawa traffic dari luar negeri untuk disalurkan ke Indonesia. Sayangnya bisnis terminasi ini sebetulnya merugikan kita sendiri, yaitu merugikan Indosat (dan ada sedikit kerugian di PT Telkom). Pada prinsipnya bisnis terminasi ini adalah bisnis banting-bantingan harga sesama pelaku Indonesia. Yang rugi adalah kita sendiri.
Kesimpulan saya, bisnis VoIP di Indonesia masih merugi.
Sekarang ke topik kedua, 3G. Sama saja. Nampaknya bisnis 3G di Indonesia ini tidak jalan. Sharing Vision (pak Dimitri Mahayana dan saya juga, hi hi hi) mengungkapkan bahwa ada beberapa komponen yang dapat membuat sebuah bisnis telekomunikasi berhasil, salah satunya adalah aplikasi (atau bisa juga disebut content). Sebutkan aplikasi 3G yang ada di operator selular saat ini? Tidak ada!
Aplikasi video conferencing / video call yang disebut sebagai killer application 3G ternyata bantat. he he he. Seperti mercon yang kena air. Ini sama dengan aplikasi MMS yang tidak berhasil. Sebetulnya kalau saya ditanya, saya sudah tahu bahwa aplikasi video call ini akan susah berhasil karena sudah diriset dari jaman dahulu. (Saya sempat kerja satu tahun di telecommunication research labs di Kanada dan di sana pernah dicoba diimplementasikan penggunaan video untuk komunikasi dan ternyata kurang berhasil. Faktor manusia yang menentukan. Mungkin pada jaman anak atau cucu kita baru bisa berhasil karena faktor kultur yang berubah.)
Kelihatannya penggunaan 3G yang dapat diterima di Indonesia adalah sebagai media akses Internet bergerak. Artinya 3Gnya hanya dimanfaatkan sebagai jalur pengganti last mile saja. Ini ada implikasinya. Pertama, harganya (pricing) harus masuk ke willingness to pay (WTP) dari pengguna Indonesia, yaitu Rp 100 ribu/bulan. Yang kedua, bisnis 3G ternyata hanya bisnis akses. Operator tidak mendapatkan penghasilan lain selain dari penggunaan jaringannya. (Wah rugi besar bagi operator yang sudah mengeluarkan biaya investasi ratusan milyar.) Hitungan bisnis harus diubah. Yang ketiga, dan yang cukup penting, adalah bisnis ini rentan dengan perkembangan teknologi. Sebagai contoh WiMax sudah di depan mata. Artinya 3G bisa digantikan dengan WiMax dengan mudah (karena hanya akses saja).
Singkatnya: bisnis 3G tidak sesuai dengan harapan, belum/tidak menguntungkan.
Sangat disayangkan bahwa kedua bisnis tersebut tidak berkembang di Indonesia. Operator telekomunikasi harus memikirkan potensi bisnis lain. Sayangnya lagi, saya tidak melihat adanya “sense of urgency” dari operator untuk melakukan inovasi. Mungkin karena masih terbuai dengan keuntungan voice dan SMS? Ini ada batasnya. (Ini harus jadi artikel terpisah karena sama panjangnya, atau bahkan lebih panjang. Voice will be free! but data is not. he hehe.)
Saya khawatir terhadap PT Telkom akan seperti PT POS. Coba Anda sebutkan bisnis PT POS saat ini. Coba juga sebutkan penghasilkan PT Telkom saat ini; darimana sumber terbesar? Dugaan saya adalah dari Telkomsel. Maaf untuk rekan-rekan di PT POS dan PT Telkom, kritik ini bukan untuk menjatuhkan Anda sekalian tetapi untuk mencari solusi bersama. Anda adalah milik kami juga. Milik Indonesia. Kami ingin melihat Anda-Anda sukses!
Ah, ini untuk cerita di lain kesempatan.


November 22nd, 2007 at 7:37 am
luar negeri sama Indonesia sama angkanya dalam bisnis VoIP = 18
18 = 1+8 = 9 = angka keramat menurut fengshui
heh he he… hari gini masih percaya fengshui?
November 22nd, 2007 at 7:39 am
Waw… analisis yang mahal (baca: berharga) ini. Lagi Pak Bud…
November 22nd, 2007 at 8:15 am
[...] (*) Artikel ini dapat dibaca juga di blog Budi Rahardjo [...]
November 22nd, 2007 at 9:55 am
Saya sependapat Pak Budi. Beberapa vendor luar agak gamang memasuki pasar Indonesia. Dibandingkan India misalnya yang sekarang menjadi roti manis tehnologi 3G dan VOIP Indonesia akan sangat ketinggalan, kecuali pemerintah melakukan perubahan radikal di sisi regulasi. Analisa yang bagus.
November 22nd, 2007 at 10:37 am
hehe.. pemerintah bikin jalan tapi klo nggak ada pabrik mobil mana ada yang mau lewat..
Pemerintah jangan cuma memanjakan perusahaan-perusahaan besar dong, jadinya menganak-tirikan perusahaan kecil.
btw, klo video-call diganti dengan avatar-call (pakai wajah virtual (avatar) yang lip-synch’ed dengan suara) bakal laku nggak yah? atau nasibnya sama dengan video-call?
November 22nd, 2007 at 11:25 am
Di “depan mata” siapa pak ?
Beneran nih, atau bocoran..
November 22nd, 2007 at 11:27 am
Whew…kapan yah bisa kayak bangalore? *melamun*
November 22nd, 2007 at 12:10 pm
Wah, maaf, kalo di Indonesia kayanya cuma jadi bahan bantingan harga sih. Kalo urusan layanan sih semua operator jauh dari memuaskan. Mulai dari masalah jaringan, delay sms, sampai distribusi pulsa yang akhir-akhir ini merepotkan user.
Trus kabarnya ada operator yang dapet penghargaan dengan jumlah user terbesar. Hanya saja yang saya tidak paham masalah penghitungan usernya. Apakah dihitung user aktif saja atau user total tanpa kecuali termasuk user yang membuang nomornya tapi nomor tersebut terdaftar selamanya. Apa yang mau dibanggain coba.
Masalah VoIP n 3G, teknologi gadgetnya yang kayanya Indonesia belum siap.
November 22nd, 2007 at 12:46 pm
Ada yang menarik kalau ngomongin PT Pos. Sekarang, konon, jasa MMS (pengiriman paket superkilat) PT Pos dinilai lebih reliable dibandingkan dengan jasa paket lainnya dengan tarif yang sama. Ini karena mereka punya infrastruktur yang relatif lebih mapan, sampai ke pelosok-pelosok daerah. Dan sistem reportnya juga sangat rapi.
Ini konon ya…
November 22nd, 2007 at 1:18 pm
“Selama regulasinya masih seperti ini, maka tidak ada orang yang berani melakukan inovasi bisnis VoIP ini. Resiko masuk penjara sangat tinggi…”
Ini maksudnya apa ya Mas Budi. Saya kok masih kurang mengerti. Tolong pencerahannya. Thanks.
November 22nd, 2007 at 1:31 pm
mas Budi, apa bisa dikutip untuk berita? maksudnya buat disiarkan di Antara? trims kalau jawabannya ya .., tq
November 22nd, 2007 at 1:43 pm
makin pinter deh lama-lama nongkrong disini..
tq ya om..
November 22nd, 2007 at 2:35 pm
mbak Dewanti, jawabannya: ya, boleh.
November 22nd, 2007 at 2:44 pm
donydw, sudah ada beberapa kasus VoIP dimana sudah ada beberapa orang yang masuk bui. Informasi lengkapnya (semestinya) bisa dicari di media massa (atau via Google). Kalau dahulu yang sempat masuk penjara adalah bukan orang Telkom, sekarang orang Telkom pun masuk penjara. Lengkap lah. Ini yang membuat orang malas untuk inovasi. Sedikit “salah” (ukurannya tidak jelas), masuk bui. Lebih baik main gitar di pinggir jalan aja. Jelas gak masuk bui. he he he
November 22nd, 2007 at 3:01 pm
Pak, apa ini karena masyarakat kita suka telat menggunakan teknologi yg ada ya? Sperti skrang mulai ramai pengguna memakai gprs disaat 3G gak laku dipasaran. Atau pengaruh harga jg kali ya. Seperti sy yg lebih memilih IM(pake gprs,Rp.1/kb) daripada SMS yg muahal.
November 22nd, 2007 at 3:30 pm
Bisnis yang muncul sebagai akibat “latah” atau euforia gadget tanpa mengkaji rancangan isi (content), sumber daya modal dan manusia, keterampilan, motivasi dan insentif penggagas content, sungguh mengakibatkan VOIP dan Triji semakin terpuruk. Padahal, keuntungan sesungguhnya ada di depan mata. Namun, sekarang jadi berantakan lantaran kelatahan dan euforia semata. Bersinergilah para operator telepon selular, vendor ponsel, bersama dengan programmer dan pemerhati teknologi informasi dan komunikasi di Tanah Air. Niscaya keberuntungan kian mendekat. — btw: cmiiw
November 22nd, 2007 at 3:55 pm
kok bisa ya regulasi di indo menghambat kemajuan teknologi di indo itu sendiri.Gimana mo maju klo begitu ya pak?
November 22nd, 2007 at 3:57 pm
Artikel yg sgt mencerahkan pak…, sayangnya operator kita ga mikir di depan. Saat isu 3G mo kluar saya udah ceplas-ceplos duluan kalo ga bakalan jalan… eh rupanya benar… Maka spt.nya “telkomsel flash” pun di launching krn terpaksa (cuman prediksi lho…)
November 22nd, 2007 at 4:01 pm
@Biho
kalo 9 yg diluar negri artinya = lama, namun 9 yg di Indo artinya = mengkeret hwakakaka…., lain padang lain belalang, lainpula fengshuinya
November 22nd, 2007 at 5:47 pm
Kesimpulan bapak tentang PT. POS itu tergesa-gesa pak.
Saya punya kesimpulan yang lain, PT. POS ini BUMN yang mampu menyesuaikan perubahan. Dia mampu berubah dari bisnis inti kirim2 surat ke bisnis yg lain.
Contoh yag dilakukan PT. POS: pengelolaan dan distribusi starter pack dan vocher fisik suatu operator telekomunikasi terbesar di Indonsia dipegang oleh pos. Distributor si persh telco tinggal ambil barangnya di kantor pos terdekat. Bayangin, jaringan pos itu sampe desa2 low.
Ada beberapa lagi bisnis baru yg dikerjain pos yg info nya saya dapet dari insider tapi gak bisa saya publish di sini.
November 22nd, 2007 at 7:16 pm
Setuju pak, tapi memang demikian dunia dagang. Siapa punya uang dia yang menang.
VOIP itu dilarang ya?
gimana dg VOIP rakyat communicator?
Saya juga sering pakai VOIP pak, wah harus waspada nih. Boleh tahu landasan hukum-nya pak.
3G yang tergeser oleh WIMAX.
Tahun 2004 saya jadi panitia seminar WIMAX, waktu itu diisi oleh Pak Onno, tapi ada tanggapan miring dari beliau (krn topik waktu itu dari pihak panitia). Tema WIMAX kurang tepat krn ini masih dlm proses riset dan dilihat kedepannya akan sulit berkembang krn terlalu ‘bebas’. Membahas WIMAX seperti membahas makhluk yg blm pernah kita tahu.
Kira-kira gimana peluang WIMAX ya pak?
November 22nd, 2007 at 8:09 pm
duh saya pikir gsm bakal mati sama VoIP pak, ternyata kendalanya banyak sekali yah…
November 23rd, 2007 at 6:19 am
dibilangin yah, calon walikota bandung aja, bilang, bisnis yang menguntungkan itu, dagang nasi,
kalo menurut saya, yang untung itu dagang otak-otak :p
November 23rd, 2007 at 6:54 am
wah, ada beritanya lho pak..
http://www.antara.co.id/arc/2007/11/23/bisnis-voip-dan-3g-merugi/
salam,
adi.n
November 23rd, 2007 at 9:04 am
hhhmm
Gimana nih Pak Budi, kita sebaiknya riset apa ya ?
Kalo semua pada akhirnya merugi
Alangkah sayangnya hasil riset tapi tidak bisa diimplementasikan di masyarakat
My beloved Professor said : this is not research done in an ivory tower
November 23rd, 2007 at 10:58 am
Pak Budi,
Kalo ngomongin masalah inovasi, saya pikir sebenernya banyak orang Indonesia yang punya ide bagus…tapi masalahnya adalah dalam hal implementasinya, ya terbentur regulasi lah, terbentur teknologi untuk merealisasikannya…
Setelah si Apple berhasil bikin iPhone (menurut saya keren bangeeeet), sekarang giliran Amazon.com yang ngeluarin The Kindle (i-Pod bagi pembaca buku elektronik. katanya I-Pod Amazon ini menggunakan jaringan nirkabel dan menawarkan fasilitas untuk menyimpan isi buku, koran, dan situs internet. Alat yang dipasarkan dengan harga sekitar 399 dollar AS itu juga dilengkapi dengan tuts untuk membubuhi keterangan pada bacaan. ‘The Kindle’ ini mampu menyimpan lebih dari 90.000 buku versi elektronik. –> sumber : Kompas, 22 Nov 07.
Kalau kita? … punya ide gitu aja pasti mikir, kalo kita udah punya spek dan disain inovasi, abis itu mau diapain?…kalo Apple-nya Steve Jobbs kan abis punya ide bisa deh langsung direalisasikan dengan fasilitas Silicon Valley nya ..
Hmmmmm … =(
November 23rd, 2007 at 1:36 pm
Yang paling menarik adalah :
“…(Resiko penjara ditanggung pribadi, keuntungan diambil perusahaan. Sangat tidak adil!)..” hahahahahaha
November 23rd, 2007 at 9:33 pm
Ganti theme ya? Hm…Lebih serem seserem bahasan kali ini.
Februari 10th, 2008 at 5:07 pm
sebenarnya bisnis VoIP dan 3G di Indonesia sampai dengan detik ini memang masih kurang menguntungkan.. akantetapi bukan berarti tidak menguntungkan…. kita harus mencoba berpikir ulang mengenai hal tersebut.. sebagai contohnya VoIP…
saya mempunyai ide bagaimana jika membuat suatu alat komunikasi (HT atau Walky Talky) yang menggunakan layanan Voip tersebut…. sehingga dengan jangkauan yang cukup jauh (misal 25 – 50 meter) kita tidak perlu menggunakan layanan telp seluler
yang kedua adalah 3G… saya heran… mengapa imej kita dibuat seolah olah 3G adalah video call ya….. imej yang terbentuk adalah seperti itu… sedangkan kita ketahui sendiri… harga ponsel dengan layanan video call masih selangit hargannya dan biaya pulsa untuk teknologi itu masih jauh dari murah meriah… bagaimana jika operator bekerjasama membuat HP 3g yang di jejalkan sekalian simcard operator dan harganya mesti miring bangget.. pasti deh ntar bakalan ramai…
November 11th, 2008 at 11:26 pm
Politik aja kalau terpasung bikin demo….. Kenapa teknologi yang terpasung diam aja ? Ayo………………… maju dong Tunas2 bangsa……… Gimana mau maju Indonesiaku kalau teknologi aja bisa dipasung. Nggak adil……nggak adil……..sebel deh………..Ya nggak mas Budi.