Ide Bisnis
2 Desember 2007 oleh Budi Rahardjo
Dalam persentasi saya hari Jum’at lalu, ada pertanyaan mengenai ide bisnis. Bagaimana mencari ide bisnis? Hmm… Apakah memang demikian sukarnya mencari ide? Saya sendiri sampai sekarang malah kebanyakan ide, sehingga frustasi sendiri karena tidak bisa mengimplementasikannya. Tidak bisa di sinis lebih karena tidak adanya waktu dan SDM yang bisa mendukung.
Baru saja saya baca di milis netsains tentang ceramah yang diberikan oleh Jawed Karim, salah satu founder dari YouTube.com, di University of Illinois, Amerika. Jawed ini drop out dari sana karena ikutan di startup PayPal, dan kemudian pada akhirnya mendirikan YouTube. Dia ini masih anak muda sehingga apa yang dia katakan bisa lebih berkorelasi dengan Anda-Anda yang masih muda. Ada juga videonya di sini:
Part 1: http://youtube.com/watch?v=rk8MU5u84FE
Part 2: http://youtube.com/watch?v=24yglUYbKXE&feature=related
(Saya hanya membaca hasil transcribe-nya saja. Ada yang punya URL-nya untuk teksnya saja? Ataukah harus saya simpan di sebuah tempat saja?)
Silahkan dibaca (atau dilihat dan didengarkan) bagaimana mereka memulai YouTube. Coba saja lihat bagaimana mereka juga mencari-cari, tetapi tidak diam dan menyerah kepada situasi. Yang saya perhatikan, biasanya ide bisnis ini muncul karena ada kebutuhan kita pribadi. (Necesity is the mother of invention.) Masih ada banyak pelajaran lain yang bisa dipetik.
Dalam tulisan terdahul saya telah menceritakan bagaimana mencari ide tulisan. Hal yang sama juga dapat diaplikasikan terhadap ide bisnis. Terlalu banyak ide, euy.
Ide-ide yang kita miliki hampir selalu pasti dikatakan buruk oleh para expert. Dan … selalu the experts are ALWAYS wrong. Dulu dalam kasus mulai terjadinya industri personal computer ini terjadi. Dalam kasus YouTube pun ini terjadi. Jadi, teruslah jalan dengan ide Anda.
Berikut ini adalah beberapa ide saya yang belum bisa direalisasikan. (Catatan: yang saya sebut “ide saya” ini bukan berarti saya satu-satunya yang punya ide, atau ide ini berasal dari saya pribadi. Maksudnya adalah … ide ini yang ada di kepala saya, entah datangnya darimana.)
- Membuat sistem atau software untuk mengelola sendratari. Jika di dunia musik ada MIDI dan ada banyak software untuk membuat komposisi lagu, maka di dunia tari menari belum ada softwarenya. Ini mungkin lebih kompleks dari software untuk melakukan rendering animasi film! Nanti orang bisa tukar menukar hasil karya tariannya, sebagaimana kita bertukar MP3.
- Membuat sistem untuk memperagakan tarian melalui jarak jauh. Penampilan melalui video saja tidak cukup, harus 3 dimensi. Bayangkan, Anda menyaksikan tarian Hanoman Obong [atau apa pun] dengan latar belakang candi di rumah Anda! (Mungkin harus menggunakan teknologi hologram?)
- Membuat sistem untuk memudahkan orang membuat cerita (direkam suaranya) kemudian diupload seperti YouTube (tapi hanya suara saja). Mungkin idenya mirip dengan podcasting, tapi lebih difokuskan kepada handphone (platform yang paling besar di Indonesia). Orang-orang di daerah bisa upload cerita atau dongeng khas daerahnya masing-masing. Kita bisa mendengarkannya dengan murah atau gratis! (Saya kesulitan cari bed time stories untuk anak-anak!) Ini bisa memberdayakan orang di daerah dan menjadi bagian dari USO.
- Personal Digital Assistant - dalam artian software cerdas (AI) yang membantu kita memantau kegiatan digital kita. Dia melihat kebiasaan kita membaca email, melakukan archiving email-email kita yang jarang kita baca, mengubah konfigurasi milis, dan seterusnya. Rasanya kita terlalu banyak menghabiskan waktu dalam mengelola email (nanti akan banyak *sampah email*, email yang kita simpan tapi tidak pernah kita baca). Software yang ada masih kurang smart. Dia masih seperti mesin ketik saja. Mesin ketik on steroids
he he he. - Ada beberapa ide lagi yang terkait dengan Digital Beat Store (yang ada di Blitzmegaplex itu). By the way, Blitzmegaplex baru buka lagi di Pacific Place. Wah, saya harus ke sana untuk melihat toko kami yang baru. he he he.
- Masih banyak lagi … malas ngetiknya saja. (Ada yang sukar diketik karena harus digambar. Ada beberapa yang sudah saya ceritakan kepada beberapa kawan, tapi belum ada yang eksekusi.)
Ada juga mahasiswa / orang yang datang ke saya untuk menceritakan bisnisnya, yaitu system integrator serba bisa atau “apa yang loe mau, gua ada”. Atau ada juga yang ingin buat software house dengan produk “sistem informasi” (atau accounting, inventory, atau sejenisnya) yang sudah ada di pasaran. Yang seperti ini tidak menarik bagi saya dan tidak ada nilai inovasinya. (Apa kebaharuan sistem accounting ini dibanding dengan Zahir Accounting, misalnya?) Menurut saya, yang seperti ini akan sulit berkembang. Tapi … seperti saya sudah ceritakan di atas, the experts are always wrong! So, prove me wrong!
ya pak memang Ide tu klo banyak kesulitan buat implementainya, klo lagi gak ada kesulitan buat nyarinya.
Jangan hanya liat sisi inovasinya pak, tapi kadangkala produk “laris” itu juga karena berhasil memanfaatkan celah yang tidak/belum digarap oleh orang lain. Apakah iPhone merupakan produk yang inovatif? Saya fikir tidak juga, teknologi touch screen iPhone kan bukan yang pertama, tapi Steve Jobs mampu meramu teknologi yang sudah ada dan membuatnya menjadi trendsetter…
TED… TED… TED… Ayo kapan mau berbagi seperti ini dalam forum offline ;).
Yup… TED TED TED. Kapan ya? Seminggu dan 2 minggu ini saya sibuk habis.
Kemarin pertemuan darat ID-CERT harusnya bisa menjadi awal TED
aniwei.
Ardiansyah, ada BANYAK inovasi dalam iPhone. Yang paling utama adalah *software* dari iPhone itu sendiri. Sebagai contoh, user interface / user experience yang digunakan pada touch screen iPhone merupakan hal yang baru. Untuk zoom in dan out itu lho, seperti nyubit.
he he he. Kalau menurut Steve Jobs, aplikasi yang berhubungan dengan Google Maps dll. itu yang akan bikin iPhone sukses. It will blow your mind :). Nah, untuk Indonesia ini mungkin gak relevan. Harus dicari killer application untuk Indonesia dan itu membutuhkan … inovasi! (Yang ini harus dilakukan oleh orang Indonesia karena yang mengerti kultur kita kan - semestinya - kita.)
That’s what i mean pak… Karena kata-kata inovasi bagi sebagian besar kita (anak muda?) adalah harus creating something from scratch. Padahal inovasi itu bisa juga mengoptimalkan ceruk/celah yang sudah ada tapi belum/tidak ada yang menggarap dengan intens/serius, padahal market size nya very huge. Jadi, poin yg ingin sy sampaikan adalah don’t judge accounting/IS software is not innovative. Karena pak budi sudah ambil posisi sebagai expert yang always wrong dan sudah menantang kami, so… let give me time to prove that’s you are wrong sir…
I have read your post and You can find a reply to your post here …
Saya punya banyak ide, tetapi tidak cukup pintar untuk merealisasikan seluruhnya. Duh, aku masih harus banyak belajar…
bener Pak… memang susah merealisasikan ide.. terutama saya… :Dhehehe…
Mengimplementasikan ide seringkali tidak terlalu terkait dengan “kepintaran”.
Kadang karena terlalu pintar, maka tidak jadi mengimplementasi. Mungkin karena merasa bahwa hal itu “tidak bisa” diimplementasikan. Yet again, the expert is always wrong! Jadi mungkin dalam kasus seperti ini, “bodoh” lebih baik.
Wah, komentar No. 7, 8, dan 9 tuh gue banget. Menjabarkan suatu ide dalam bentuk tulisan terkadang cukup sulit sehingga gagasan tersebut hanya berputar-putar saja di kepala.
Karena bodoh tidak tahu resiko dalam mengerjakan sesuatu, sehingga lebih mungkin untuk dapat terealisasi. Kalau begini, lebih baik tidak mengetahui rintangan apa yang ada di depan daripada ketakutan karena melihat rintangan tersebut. Alah, bahasa saya ribet.
Terima kasih atas sarannya.
I humbly beg to differ sir.. The experts not always wrong.. the degree of possibility that they are rites is higher than the mediocre. If the experts are always wrong…,Then they are not an experts. An experts is someone that is specialized on certain area or fields and have a higher skills and knowledges on certain subjects. I believed.. the correct words is that ” An experts is not always rites “. Most of the times they are rites, but sometimes they are wrong.
Salam kenal Pak Budi,
Saya baru bbrp minggu ini keluar masuk blog Bapak (cause of content)
… (terutama kalo lagi bosan di meja kerja dg kerjaan dsb, saya sempatkan mampir kesini untuk relaksasi).
Mengenai ide-ide bisnis, kok saya berpandangan bahwa ber-ide boleh-boleh saja (ga bayar kok :)), namun kok saya lebih berat bagaimana ide ini dapat direalisasikan se-simple & sesegera mungkin dan berguna untuk masyarakat Indonesia saat ini. Case : teknologi 3G. Di awal teknologi ini berdiri, saya melihatnya sesuatu yg wahh sekali, namun akhir-akhir ini kok menjadi useless yah ..
Kembali ke kondisi riil masyarakat kita, ternyata saat ini masyarakat sedang butuh sesuatu yang lebih riil di kehidupannya, seperti harga BBM yg murah. Kalau mau sedikit ‘canggih’, apakah kita ada ide quick win untuk menyelesaikan bagaimana laju pembangunan di daerah menjadi setara dg perkotaan. (Usul : Digital Beat Store-nya mbok ya dibuka di pulau Sulawesi atau Kalimantan ? atau sudah ? :)).
Sekali lagi ini hanya ide saya …
mungkin yg lain punya ide lain yang bahkan berlawanan dg saya ?
Salam,
Whisnu
Ass.wr.wb Pak Budi,
Makasih sudah komentar ke over50community. Biar sudah 51, kata anda, saya harus tetap semangat 45!. (Wah, pak Budi pasti “bambu tumpul”nya masih mampu “bunuh” Belanda & Jepang!! (he..he..)
Mau cerita sedikit hal implementasi ide bisnis. Beberapa tahun yl (tahun 1999-2000 kalau gak salah?), Saya yang bukan IT-Man pernah diminta oleh seorang teman - yang punya dana lumayan - untuk memimpin anak-anak muda beride cemerlang meng-implementasikan ide bisnis mereka mendirikan Clearing House. Waktu itu, kita belum mengenal electronic reload isi ulang pulsa Ponsel prabayar. Pengisian ulang pulsa harus membeli kartu dan memasukkan 13 digit angka atau melalui ATM.
Nah, ide dari anak-anak muda tsb (mungkin sebagian ex-mahasiswa (?) Pak Budi) adalah dengan mendirikan Voucher-less Prepaid Reload melalui Clearing House. (kutipan dari proposal mereka sbb:
……..Subscriber simply select a voucher amount and make the appropriate payment to the retailer who then access their account in Virtual Clearing House via their WAP access. The Clearing House server makes a real-time connection to Operator server, and clearing house automatically debit the account. A credit is instantly issued to the customer’s GSM account. The types of retail environments that are beginning to switch to electronic delivery include wireless shops, supermarkets, convenience stores, check cashers, food marts, university shops, electronics stores, hotels, newspaper sellers, Office boys, and many more.).
Sistim kerja diatas mungkin sekarang sih sudah usang kadaluarsa, dan sudah digunakan dengan modifikasi disana sini. Namun waktu itu kami sempat presentasikan di depan Direksi salah satu Operator/Provider besar dan secara prinsip proposal tsb disetujui untuk dilanjutkan ke pembahasan dengan Divisi Pengembangan. Setelah berkali-kali meeting, berbulan-bulan korespondensi, tak ada kabar berita, yes or no go!. Ndilalah, ternyata kemudian muncullah Isi Ulang Elektronik!!!! Entah siapa yang punya ide, bahkan kalau sou’dzon, adik-adik idealist tersebut ada yang nyeletuk :Jangan-jangan ini ide dasarnya dari proposal kita Pak??.”
Bagaimanapun, mereka telah mencoba merealisasikan ide, walau hasilnya beyond their expectation! Mudah2an kalimat the expert is always wrong bukanlah berarti the stupid is always right!!!
Wasalam,
Ma’af pak Budi. Mungkin anda benar tidak tertarik dengan dengan sistem informasi Accounting, inventory dan sejenisnya seperti alasan yang dijelaskan. Tapi saya yang sudah dalam kategori tua kurang setuju dengan pendapat bapak kali ini. Soalnya kalau pak Budi yang ngomong mereka yang masih muda akan mudah menerima pendapat bapak. Pada Hal soal pasar menurut saya tetap terbuka dan mungkin juga mereka akan mampu menampilkan inovasi yang lebih diterima dibanding zahir Accounting sehingga produk mereka bisa bersaing ketat dengannya. Apalagi soal rezeki adalah titik yang tidak bisa ditembus oleh pengetahuan manusia. Dalam soal rizki Ilmu pengetahuan dan usaha tidak berbanding lurus.
realisasi emang lebih susah bos.
Buanyak ide, tapi dikarenakan bisnisan juga banyak.jadi menguap begitu saja.
selain itu faktor modal juga menjadi kendala.
walaupun sebenarnya kita juga bisa bikin proposal untuk mencari investor.
tapi ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan hehehehe
balikin tangan sih gampang euy.
salam kenal bos.
Dilakukan lebih mudah daripada dipikirkan menurut saya. Kaya’ ngerjakan laporan, kalo dipikir gak akan selesai mending dikerjain, walaupun dikit yang penting selesai daripada cuman mikiiiiiiiiiir gak selesei2.
ide kadang susah di cari.tapi kalu lihat orang sukses idenya sepertinya sepele banget.kesimpulannya ide memang ada di ssekitar kita bahkan di diri kita.betul kan pak budi?
Pak Budi dan para komentator,
Membaca dan mencerna tulisan2 ditas, tiba2 timbul gagasan untuk mendirikan wadah (bisa dalam bentuk perusahaan, yayasan atau apalah bentuknya) yang dengan senang hati menampung dan merealisasikan ide2 cemerlang dari para ideawan atau ideawati. Wadah ini jelas butuh sokongan dana yang idealnya ‘tak terbatas’ (baca: unlimited) dan berisikan pakar analisawan/analisawati ide2 yang masuk dan juga yang paling penting sanggup mengkoordinir tim yang bersedia bekerja keras. Dua golongan orang yang terakhir mungkin tidak akan sulit ditemukan, namun golongan pertama (baca: orang kaya gila) yang sepertinya masih sulit ditemukan dimuka bumi Indonesia ini.
Tapi yah, memang inipun hanya sekedar ide.
Salam,
YennM.
el-itb’91
cari ide bisnis yang lucu2, cek disini http://www.cambrianhouse.com
Salam, mas.
Ide untuk mendigitalkan cerita/dongeng/apapun untuk anak-anak memang perlu untuk direalisasikan. Hal tu mengingat sekarang ini anak saya pantatnya nempel di depan TV melulu.
Dulu waktu jaman masih belum pada punya TV, hampir tiap hari kita -di kampung- mendengarkan radio, saat Sanggar Pratiwi beroperet di udara.
Ayuk..ah.. berkolaborasi..
Sundoro
Pustaka Lebah
salam kenal…. wah kalo dilihat dari saling tukar ide emang ada baiknya.. cuman melakukannya sangat berat… high konsen. PAk budi untuk tarian memang harus segera. siapapun orangnya yg buat… untuk melesarikan budaya dan juga biar nggak di klaim lagi ama malAysia.. MERDEKA
ide ide tersebut bagus tuh… saya tertarik pada software tari tadi pak… berarti kita menggabungkan dunia digital dengan dunia programming… wowww menarik sekali… aku sedikit membayangkan bagaimana jika hal ini bisa terwujud… aplikasinya akan sangat banyak sekali.. gak hanya sebatas tari saja.
bener gak pak
salam kenal pak, boleh dipake g idenya? hehehehe…
@ade, silahkan …
kenapa experts selalu wrong?
mungkin sekali2 experts harus terjun untuk wirausaha..
salam dari idebisnisusaha.com
Yth, Mas Budi
Boleh sharing pengalaman dengan teman-teman di sini,nggih ?
Saya perhatikan dari komentar di atas, teman-teman pengin berwirausaha, namun belum jadi karena terkendala modal, sdm de el el.
Yang pernah saya alami saat start-up adalah :
1. Bakar kapal
18 tahun lalu saya adalah pegawai negri, dengan usia 21 tahun. Setelah 4 tahun mengabdi, saya cabut dari kantor. Saya keluar dan menjadi ‘gelandangan’ selama 3 bulan.
Ternyata jadi pengangguran menjadikan saya lebih berani mengambil resiko, lha wong nothing to lose, karena sudah terlanjur
2. Modal Dengkul
Modal bukanlah kebutuhan nomor satu. Saya memulai di garasi rumah teman, membuka sebuah kantor konsultan. Saya manfaatkan satu-satunya keahlian saya saat itu, yang saya dapat dari 3 tahun sekolah + 4 tahun jadi peg neg.
Jangan gengsi jadi tukang bersih-bersih kantor, tukang ketik, kurir, sales sekaligus tenaga ahli. Pasak harus selalu kecil,karena tiangnya belum ada .
3. Buat penawaran yang tidak akan ditolak orang.
Proposal konsultan saya adalah saya minta waktu 2 minggu untuk memfoto kondisi perusahaan fulltime for free. Setelah itu saya mengajukan 3 alternatif solusi good,moderate, worst sekaligus manfaat masing-masing alternatif dalam hitungan rupiah. Biasanya calon klien kalau sudah lihat penghematan dalam rupiah langsung klepek-klepek pengin segera jalan. Jika calon klien tdk ok, ya anggap aja hilang uang makan transport 2 minggu, namun dari pengalaman saya jadi konsultan kok nggak pernak ditolak.
Saya pernah tanya ke dirkeu sebuah BUMN, mau nggak perusahaannya dapat duit 30 mil dalam 3 bulan, lha pasti saja beliau mau.
4. Pecah ndhase
Berpikirlah seperti kepala kita pecah, sehingga ide kita tidak akan sama dengan orang yang berpikir dengan kepala utuh.
Saat orang lain bikin pelatihan di hotel bintang 3 dengan tema pas ada momentum tertentu, saya bikin pelatihan 10 kali tiap bulan di bintang 5 dengan tema yang sama.
Lha ternyata bulan puasa saja banyak yang mau ikut kok.
5. Mulai berpikir punya produk bukan sekedar jasa.
Jasa seperti konsultan sulit bertahan lama, saat sang konsultan sakit, service jadi turun kualitas atau bahkan berhenti operasi.
Tahun 2004, saya mulai masuk ke dunia yang sama sekali baru, dunia anak-anak, membuat buku dan majalah anak.
Saya pikir pasar anak amat luas, karena anak-anak tidak banyak memilih.
6. Yang terakhir dan paling penting.
- Jujur, karena kata mbah-mbah dulu, yang jujur tak akan hancur
- Ngoyo 110% namun jangan ditangisi atau kecewa terlalu lama kalau udah pol-polan belum berhasil. Tidak ada yang tidak akan berhasil kalau kita pol-polan. Manusia wajib berusaha (110%), namun hasil milik Allah.
- Sebelum mulai, minta restu keluarga dan orang tua
- Jangan tinggalkan ibadah
- Banyaklah membantu orang yang membutuhkan
Alhamdulillah, mas Budi, dengan menjalankan no 6 ini, yang saya rasakan sampai sekarang selalu dimudahkan dan dibantu, bahkan tanpa saya sangka-sangka.
Demikian, mudah-mudahan pengalaman ini bisa membuat teman-teman merealisasikan niatnya untuk berwirausaha. Bangsa ini butuh teman-teman agar segera membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya.
Salam
Sundoro
NB : Monggo mampir ngopi,mas
ide baru…seringkali bukanlah ide yang orisinal. Seringkali ide lahir dari menggabungkan apa yang sudah ada menjadi ide baru yang belum ada orang buat kombinasinya.
Ide lahir dari kebutuhan adalah ide yang cukup kuat untuk direalisir dan mempunyai kekuatan besar untuk berhasil. Hanya masalahnya seringkali orang tidak tahan menghadapi kesulitan di awal realisasi ide ini.
Realisasi ide baru saya pikir membutuhkan kepintaran tersendiri. Terlalu pintar yang menghalangi realisasi ide baru saya kira adalah karena terlalu pintar untuk berpikir dua arah, positif dan negatif. Jeleknya pikiran negatif sering lebih kuat sehingga mematikan yang positif.
ini sebagian yang saya alami sewaktu memulai bisnis membuat mainan paket mewarnai patung. Detailnya bisa dilihat di http://www.mosaic5.indonetwork.co.id/
klo mau cari ide harus berpikiran terbuka dan lihatla sekitar apa yang memungkinkan.. klo sudah dapat ide ,rencanakan dan analisis hambatan-hambatanya dan yang terakhir bekerjala dengan standar tinggi
wahai para master baru 4 bln yg lalu saya berpikir utk bikin warnet. karena kseringan ngenet di warnet jd pengen bikin hik.. modal 1. impian 2.tekad 3. nekad 4. pasrah. 5. jujur
cr duit di semarang. he cuma modal 30 jt jadi (patungan dan salam tempel plus doa restu hheee.
sekarang warnet sy bk di semarang. maklum joja sudah susah bersaing. (asli jogja
mulailah dari yang kecil dulu. btw tetap jaga impian mu
jurus andalan :::;::::ilmu kepepet wak kak kak. apapun ide kalian sederhanakanlah dan mulai apa adanya. gunakan dekul lupakan idealisme,kelayakan sepantasnya dlll. maju anak muda indonesia !!!!!eh usia 27 muda kagak ya?????. Tanpa ada maksud menggurui. jangan menyerah badai pasti berlalu.
Ide bisnis….
Menarik, karena saya sudah lama tidak kumpul dengan kawan2
yg kreatif.
Bt jadi enterpreneur harus berani sih ga cukup cuma kreatif..
Blm mereka2 yang culas yg kerjanya tukang nyolongin ide yg orisinil.
Susah juga karena batasan konsep gak bisa masuk itungan HAKI. Karena belum ada wujud manifestasinya.
Saran sih musti gabung sama orang2 yg jujur, kerja keras,
dan mau kerja secara team.
ayo deh bareng2 kita Make something…
Biarin aja diketawain hehe…
Betul tuh, namun yang membuat kita bingung sendiri tuh coz kurangnya keberanian tuk memulai……..takut..!!!! padahal kita nih sebenarnya pinter-pinter.
Kalo boleh nih, Yudha tambahin ide kreatifnya Pak…
Selama ini internet menggunakan 2 dimensi, datar, coba kita buat softwarenya pake 4 dimensi layaknya dunia virtual agar lebih maya gitu….example kayak dunia game didunia offline, bisa jalan sini, jalan sana, muter-muter, dsb……..ada yang implementasikan gak ya ??
Itu sebenarnya hanya ide terbodoh yang Yudha pikirkan………
SDM Indonesia ada gak ya yang mengimplementasikannya ??