Entah mulai dari sejak kapan, setiap malam Minggu di jalan Dago (Ir. H. Juanda) Bandung banyak anak muda (mahasiswa?) bergerombol, menyanyi (sambil tepuk-tepuk tangan), menyodorkan tangan dari mobil ke mobil. Hmm… sejak kapan mereka belajar menjadi pengemis ya?
Kita bedah satu persatu. Soal bergerombol. Yang ini bisa kita perdebatkan manfaat atau tidaknya, tetapi yang pasti ini merupakan ciri anak muda. Saya tidak begitu mempermasalahkan hal ini. Biarlah mereka bergerombol selama tidak mengganggu kepentingan umum. Yang terakhir ini perlu saya tekankan.
Saya pun pernah menjadi remaja. Duduk-duduk, kongkow-kongkow, di pinggir jalan pernah kami lakukan. Hanya saja saya ingat bahwa kami tidak mengganggu kepentingan umum; tidak menghambat jalur lalu lintas (karena parkir seenaknya di bahu jalan), tidak mengganggu orang lain (pengguna jalan atau orang yang melintas). Apa yang kami lakukan memang menghamburkan waktu (wasting time), doing nothing, tetapi … sekali lagi, tidak mengganggu orang lain. Jadi, bergerombol masih ok-ok saja menurut saya.
Yang kedua, soal mengamen. Mengamen menurut saya sah-sah saja. Yang saya tidak suka adalah mengamen yang mengganggu orang. Pengamen ini mengunjungi mobil ke mobil (apalagi angkot yang terbuka! kasihan juga pengguna angkot – maksud hati mengirit, tapi malah dipaksa memberikan uang untuk pengamen). Mereka sudah mengganggu orang banyak, dan cenderung menjadi seperti pengemis! (Saya sudah komentar di blog DM ini.)
Di luar negeri ada juga pengamen pinggir jalan. Mereka membawa gitar (atau alat musik lainnya) dan mangkal di sebuah tempat. Di depan mereka diletakkan topi, kaleng, atau kotak tempat untuk menerima sumbangan. Mereka tidak memaksa orang untuk memberi sumbangan. Mereka tidak berlaku seperti pengemis. Bagi orang yang suka atau tertarik dengan lagu yang sedang dimainkan bisa berhenti, merogoh saku, dan meletakkan uang tersebut ke kotak yang sudah disediakan.
Saya masih ingat di jaman dahulu ketika saya masih kecil (tahun 70an) ada pengamen di jalan Braga, Bandung, yang dikenal dengan nama “Braga Stones“. (Saya tidak tahu nama aslinya.) Dia (setahu saya buta ya?) sering mangkal di jl. Braga dengan menggunakan alat musik kecapi. Lagu yang dia bawakan adalah lagu-lagu dari Rolling Stones. (Lady Jane, anybody?) Itulah sebabnya dia diberi julukan “Braga Stones“. Seingat saya dia juga sering dipanggil untuk manggung di kampus-kampus, tetapi dia masih tetap mangkal di jl. Braga. Saya masih ingat juga mengerumuni Braga Stones di jalan Braga itu.
Saya tidak antipati terhadap pengamen jenis ini. Mereka bukan pengemis yang saya maksudkan. Mudah-mudahan paham perbedaannya ya.
Nah, yang saya heran adalah anak-anak muda yang bergerombol tadi. Mereka tidak mengamen dengan sungguhan (lagu nggak jelas dan dengan tepuk tangan yang nggak jelas – menunjukkan tidak niat!). Mereka hanya ingin bergerombol dan (belajar) menjadi pengemis. Saya lihat mereka tidak butuh uang. mereka bukan pengemis! Heck, mereka mahasiswa yang pakaiannya keren! Mengapa mereka menyodorkan tangan seperti halnya pengemis? Mengapa mereka malah belajar menjadi pengemis?
Saya tidak mengerti …


Desember 9th, 2007 at 10:08 am
Kukira mereka (anak muda itu) memang melakukan hal itu untuk menghibur dirinya mereka sendiri. Tapi lupa, apakah orang (mobil, motor, angkot) yang digeromboli (istilah apa itu digeromboli?
) merasa terhibur atau tidak.
“Braga Stones” memang masih mengendap betul dalam ingatan. Menurutku mereka penghibur sejati.
Atau ada lagi yang dulu kerap mangkal di trotoar Palaguna: sepasang suami istri tua, tuna netra, memetik kecapi. Mereka tidak peduli ada yang memberi atau tidak, tapi sepanjang hari mereka tetap terus memetik kecapi.
Beda waktu, beda dimensi, beda pula gayanya. Meski tak semua orang bisa terima…
Ai, begitulah.
Desember 9th, 2007 at 10:19 am
di Brisbane ada yang namanya Busking License…..
Trus iklannya berupa grafiti di daerah kumuh Fortitude Valley.
Saya tinggal di Jakarta, jadi gak mengalami masalah terganggu di angkot kayak Bapak. Dan jujur aja, pengamen di dalam bus di Jakarta kadang-kadang lagu-lagunya asyik. Bahkan kadang-kadang pengamen cilik pun lagunya bagus2 dan suaranya bagus. Sampai pernah aku lari ke ATM buat ngambil duit buat mereka, tapi aku gagal menemukan mereka.. hiks.. sedih banget
Hanya saja, aku merindukan masa akhir 90-an di mana lagunya pada nyentil2 penguasa. Misalnya, ada lagu yang tadinya kukira tentang pacar yang sombong tetapi ternyata di akhir lagu aku baru menyadari bahwa temanya tentang pejabat yang ‘tebar pesona’. Sayang sekarang jarang banget lagu2 seperti itu. Kebanyakan pengamen memperdengarkan musik2 pasaran (baca: muncul di Radio dan Televisi).
Tapi kalau yang pengamen di lampu merah.. beneran.. tuh gak niat banget ngamennya. Aku gak pernah ngasih akhirnya.
Jadi ingat, di masa aku di Yogya, bolak-balik YK-JKT. Waktu di kereta ekonomi, tepatnya antara Purwokerto dan Cirebon… wuih.. banyak gerombolan2 pengamen gak niat dan bahkan lebih mirip perampok daripada pengamen.
Desember 9th, 2007 at 12:26 pm
Betul Pak, memang semuanya sudah berubah
Tahun 1999 saja setahu saya semua pengamen yang menyanyi di jalanan pasti enak didengar, mereka serius.
Bahkan malam minggu biasanya di Jl. Juanda tidak jauh dari SMK 1 ya, ada band lengkap plus alat tiup trombone, flute dsb. Mereka hanya bermain dan tidak memaksa meminta uang.
Desember 9th, 2007 at 1:02 pm
Kalau saya suka sebel sama pengamen di bis kota yang suka ‘nyepet’ (menyindir) orang yang ga ngasih. Mereka lupa kali bahwa dalam satu rit perjalanan bis bisa lebih dari 8x pengamen yang naik panggung.
btw, saya setuju ngamen bergerombol dari mobil kemobil tidak elok and terkesan intimidatif. (bahkan saya lagi berdiri nunggu angkot di pinggir jalan pernah juga di ‘kerubutin’
)
Desember 9th, 2007 at 3:26 pm
“Mereka tidak mengamen dengan sungguhan”
Saya setuju bahwa pengamen bukan pengemis, dan pengemis bukan pengamen.
Kalau mau ngamen ya harus serius.
http://awan965.wordpress.com/2007/12/09/pengamen-bukan-pengemis/
Desember 9th, 2007 at 3:29 pm
[...] ternyata banyak anak muda yang berkelompok untuk sekedar mejeng, diskusi, ngamen, bahkan ada yang ngemis, dan banyak lagi kegiatannya. Dari sekian banyak kelompok anak muda itu (mungkin siswa, mahasiswa, [...]
Desember 9th, 2007 at 3:37 pm
Seperti Pak Budi, saya juga heran mengapa para mahasiswa itu belajar menjadi pengemis. Saya khawatir sedang ada “virus miskin” yang membuat orang (tidak hanya para mahasiswa itu) merasa berhak mendapat bantuan/santunan.
Sepertinya kita memang perlu belajar tega.
http://jenddela.blogspot.com/2007/09/belajar-tega-terhadap-anak-jalanan-dan.html
http://jenddela.blogspot.com/2007/10/dari-manusia-gerobak-ke-sebuah.html
Desember 9th, 2007 at 4:27 pm
Oooo om yg komentar di nomor 1 itu pernah ngamen juga ya…
ngamen bareng yuk oom…
cik kicik kicik kicik…
begini nasib jadiiiiiiiiiiii…
cik kicik kicik…
Desember 9th, 2007 at 4:45 pm
Ehm, emang ini masalah sosial. Penduduk (perkotaan) kian banyak, rumah kian sempit, tempat publik terbatas, akhirnya bergerombol yang mengganggu orang lain pun jadi pilihan. Menyebalkan, emang iya. Kesian, iya juga. Solusi? Duh… pusing.
Soal ngamen, saya setuju. Yang mangkal itu lebih bagus. Jangan maksa, baik di kedai, toko, maupun bus.
Desember 9th, 2007 at 7:09 pm
Sepakat pak.
Soal pengamen,kdg jg sbel.Bayangin aja,makan dipenyetan*sputaran jakal- ugm* pengamen dtg bergantian. Capee dee..
Desember 9th, 2007 at 7:16 pm
mereka yang seperti itu kan biasanya,, hanya ingin seru-seruan aja ya…
tapi yang lebih baik,,, seru-seruannya ke arah yang positif aja ya….,,
nge-band ke’,, baca buku ke’,, pkoke yang positif….
Desember 9th, 2007 at 7:56 pm
biasanya akhir bulan menjamur tuh, om..
Desember 9th, 2007 at 8:02 pm
Setahu saya jika ada gerombolan mahasiswa yang mengamen di bandung (jalan dago) kebanyakan untuk pengumpulan dana guna membiayai kegiatan mahasiswa pak
, jadi bukan asal ngamen untuk dapat duit gak jelas.
Desember 9th, 2007 at 9:08 pm
hmmm suka males liat pengamen yg nyamperin di angkot. udah suaranya ampun deh pas2an nyanyinya ga niat cuma genjrang genjreng ga jelas.. dmei dapet duit. kalo udah gitu jd males juga ngasihnya. apalagi ga jelas yg dinyanyiin itu apa. belon lg kalo gerombolan duh bikin sakit kuping.. n jujur terganggu kalo di lampu merah kudu beberapa kali ada pengamen yg nongol.
thn berapa yah pas lg aktif2nya di organisasi kampus kita pengen kumpulin dana buat suatu aksi sosial.. terus akhirnya ngamen eh nyanyi di depan bip.. beberapa singer n pemain musik nyanyi menghhibur yg lewat di depan BIP.. n naruh kotak gitar buat sumbangan. … lumayan buangettt dapetnya. tp lebih puas pas ada yg brenti n nonton kita nyanyi n menikmati trus ikutan nyanyi….
Desember 9th, 2007 at 9:11 pm
gue sih lebih suka kalo ada yg ngamen mangkal disatu tempat ketimbang gangguin perjalanan org.
Desember 9th, 2007 at 10:12 pm
di terminal rajabasa lampung, lebih parah
Desember 9th, 2007 at 10:22 pm
Wah setuju Pak Budi. Tahun 2003 waktu saya masih di Bandung memang udah banyak yang gerombolan gitu di Dago(terutama Malam Minggu atau 31 Desember). Tapi belum rese. Cuma di tengah jalan, itupun paling nawarin bunga. Kalaupun nyanyi ga terlalu agresif.
Kalau sekarang udah ngerubutin mobil yah itu kayanya keterlaluan deh.
Omong2 di Jakarta yang begitu juga banyak, tapi biasanya Preman. Nyanyi ga jelas apa baca puisi yang nadanya ngancem. Bikin orang ketakutan, bukannya menghibur.
Nah apa ga malu kalau anak muda Bandung niruin preman Jakarta?
Desember 9th, 2007 at 11:46 pm
Setuju bos…
disini (Banjarmasin) jg sekarang lagi merebak kasus seperti ini
entah knp jg padahal pakaian keren2, rambut gel 1 kaleng abis kyknya buat modelin rambut LoL
kl memang hanya ingin unjuk bakat benar sekali, contohlah orang2 seperti di jpn/us/eu yang tidak memaksa orang untuk memberi…
waktu itu saya lagi bokek2nya, hati dongkol gara2 di dompet cuma sisa 5rb perak, itu jg buat isi bensin motor saya yg memang sedang menuju pom bensin…
eh “ditodong” deh… gondoknya…
Desember 10th, 2007 at 12:56 am
kalau tersedia lapangan pekerjaan yang cukup kira-kira masih banyak pengamen bermunculan nggak ya mas?
Desember 10th, 2007 at 2:28 am
Bener tuch kata Anto, kadang diRajabasa malah ada yang maksa minta. Kayaknya penting pengamen dibikinin undang-undang sendiri *halah* Semoga Tergugah.
Desember 10th, 2007 at 2:45 am
Kampus kayaknya perlu memberikan cara memberdayakan mahasiswa dalam mencari penghasilan buat mahasiswanya
Desember 10th, 2007 at 2:49 am
hm…
kapan2 tak jalan2 kBandung..
kebetulan ada teman yg kul disana..
saya juga pengin… suatu saat nanti bisa Pede main gitar di pinggir jalan malioboro trus didepannya ada hardcase gitar terbuka… buat orang buang sampah.. ha666… yg penting permainan saya sampai ke hati mereka… trus nggak dilempari sandal jepit… itu sudah cukup.. he666…
Desember 10th, 2007 at 7:16 am
Di terminal Bungurasih Surabaya payah juga, juga di terminal Arjosari malang. Tapi kayaknya bukan mahasiswa yang ngamen. Mungkin sekali-kali perlu ada mahasiswa yang ngasih contoh gimana ngamen yang baik..bukan ngasih contoh mengemis lho pak…
Salam kenail
Desember 10th, 2007 at 8:04 am
hmm kenapa muncul kek gini apa karena dianggap pengemis itu ga usah ngapa2in modal tepuk2 tangan or cuap2 ga jelas udah dapet duit?
Desember 10th, 2007 at 8:52 am
Gadi saya mereka itu sekedar untuk mengaktualisasikan dirinya. Dia ngamen, maka dia ada. Soal minta uang, mestinya mereka tak perlu memaksa. Asal lagunya enak, pendengar pasti tak segan-segan kasih uang.:P
Desember 10th, 2007 at 10:08 am
Harusnya mereka belajar mengamen dari kita ya mas … dipanggung dan jelas-jelas tujuannya untuk menghibur, bukan mengemis, kecuali ada panggilan khusus yang dibayar. gak berani nolak juga…
-Ade-
Desember 10th, 2007 at 12:03 pm
wah mungkin itu sebenarnya mereka2 sedang menggalang dana untuk acara2 perkuliahan mas…
misalnya malam akrab atau segala macam lain…
oleh karena sulitnya mencari dana dan sponsor yang mau membiayai acara tersebut,,,
yaa mungkin kita semua pun pernah mengalami hal itu dulu…
asal mereka2 tidak menggangu dan memacetkan jalanan ya mungkin kita bisa maklum…
sekalian meramaikan suasanana malam hari juga
Desember 10th, 2007 at 3:57 pm
Sepertinya mahasiswa sekarang kurang ide. Bukan saya bermaksud merendahkan cara mencari uang. Tetapi apa tidak ada ide lain untuk menggalang dana selain mengamen. Kalau untuk anak sma hal itu masih wajar. Saya pribadi cukup sering ketika masih sma dulu. Semenjak kuliah, rasanya makin banyak ide yang lebih baik untuk mencari dana.
Selain itu, mereka ini terkadang cukup mengganggu Pak, sampai ke tengah jalan. Kalau masih sma sih maklum. Heuheuheu..
Desember 10th, 2007 at 4:39 pm
Kalo lagi makan di warteg & ada pengamen … jangan buru-buru kasih uang … tunggu ampe lagunya benar2 abis … –> paling ga ada usaha dr mereka u/ nyanyi ampe lagu abis ..
Yang bikin mereka ketagihan mgkn kita sendiri … baru 2 – 3 kalimat, udah dikasih uang …
Desember 10th, 2007 at 5:10 pm
wahh, saya tersinggung nih pak, saya ngamen juga, tapi ngamen dikantor pas jam 12-an
Desember 11th, 2007 at 10:24 am
[...] daftar mengesalkan perilaku pengamen, silakan Anda tambahi sendiri. Tulisan Budi Rahardjo, dan komentar di dalamnya, bisa Anda [...]
Desember 11th, 2007 at 2:10 pm
Apa ini yang namanya mental bangsa, keliatannya mentalnya musti dibangun dari kecil (pra-sekolah?) untuk lebih senang memberi daripada menerima, untuk lebih suka bekerja keras daripada bermalas-malasan, untuk lebih baik lapar daripada minta-minta, untuk bisa menempatkan rasa malu pada tempatnya, dst…
Prosesnya juga lama ngkali yak
Yaaah tiga-empat generasi kedepan baru deh…itu juga tergantung kita masih dijajah Amerika apa nggak…
Jadi inget blok M tempo doeloe
Desember 11th, 2007 at 4:14 pm
proses kehidupan yang sudah tidak tahu dimana dan kapan dimulai tetapi……nilai tambah pada diri kita adalah tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah ….nilainya yang diberikan bbukan disini tapi nanti …kali kali aja malaikat nyamar jadi mahasiswa …..keren….tapi …ngemis……yah…….titik akhir …bukan disini…..masih ada pintu yang harus dibuka kelak dengan kunci yang kita pegang…sendiri…..bravo bro….arif, bijak…., sabar….
Desember 11th, 2007 at 4:29 pm
iya, banyak koq pengamen yang enak nyanyinya , klo di bis suka nyariin malah pengamen gerombol , masing 2 megang alat musik , ada yang pake acordion, biola dan satu lagi gitar… kreatif, mereka nyanyi lagu sheila on 7 pake biola…
di kereta juga gituh.
tapi saya setuju klo kadang mereka mengganggu apa lagi yang nyanyi nya gak tuntas…
Desember 12th, 2007 at 2:57 pm
Kasihan Indonesia.
Pengangguran meningkat, kriminal semakin inovatif
Desember 12th, 2007 at 7:25 pm
Dulu saya juga bandel tapi gak pernah ganggu lingkungan, bergerombol oke saja malah bagus sambil ngeronda.
mereka itu anak muda apa nggak malu ya belajar mengemis, kalo mau ngamen caranya ya harus benar, kalo nggak bisa nyanyi jangan memaksakan diri.
Januari 20th, 2008 at 9:51 am
crek….ecrek…. crek…..ecrek……………………
numpang lewat doank…
April 14th, 2008 at 4:13 pm
gw masih inget kalo naek kereta Jabotabek Pakuan Jakarta – Bogor. Suka ada pengemane anak anak muda lengkap dengan bass and trebble nya. lagunya ngebeat banget n asik di denger. mereka kalo gw pikir masuk kategori pengamen serius. gak maksa juga kalo minta
beda kalo naek kereta kahuripan bandung surabaya. lo kudu nyiapin recehan paling gak 10 rb. kalo gak kasih suka di senggol kenceng keceng muka lo…..parah mereka
September 15th, 2008 at 9:01 am
bagus……