Tadi siang saya berkonsentrasi menyiapkan materi presentasi. Dari segi isi (content) nampaknya sudah cukup, tetapi dari segi desain banyak hal yang bisa dilakukan. Ada satu situs yang punya banyak contoh materi presentasi, yaitu SlideShare.net. Coba deh lihat ke sana.
Sayangnya ketika saya coba mengambil (download) beberapa berkas presentasi tersebut, ukurannya ternyata cukup besar. Ada yang 20 MB (misalnya ini “shift happens“). Aduh. Beginilah sengsaranya menjadi fakir bandwidth. Belum lagi saya ingin download banyak untuk mendapat ide-ide.
Jadi teringat masalah yang sama dengan TED.com. Ada banyak materi (lectures) di sana yang ingin saya lihat dan dengarkan. Lagi-lagi masalah bandwidth yang membatasi ini semua. Sudah ada diskusi dan usulan di milis Teknologia@googlegroups untuk mengumpulkan materi dari TED untuk di-DVD-kan dan disirkulasikan di Indonesia.
Sekarang saya melayang ke topik lain. Beberapa waktu yang lalu saya memberikan presentasi tentang akses internet untuk kampung-kampung di Indonesia (sebagai bagian dari USO dan program pemerintah lainnya). Saya katakan bahwa semua tempat di Indonesia harus memiliki layanan broadband. Ada beberapa orang (dari Indonesia, Malaysia, dan Korea kalau tidak salah) yang menanyakan tentang hal ini. Mengapa orang desa perlu broadband?
Sekarang saya lebih yakin lagi bahwa mereka membutuhkan broadband. Sekarang saya tanya kepada kita semua. Apakah kita mau diberi akses internet yang lambat? Saya yakin secara aklamasi kita menjawab: TIDAK MAU. Nah, apa bedanya orang desa dengan kita? Mereka sama-sama membutuhkan akses ke materi pelajaran (seperti misalnya Slideshare dan TED itu). Why should we give them second class internet access? They’re not second class citizen. We’re all first class citizen.
Broadband adalah hak azasi manusia!
ttd.
Fakir Bandwidth
Ngga coba teknologi HSDPA yang ditawarkan para operator pa ?, cukup cepet juga untuk download sekarang ini
Setujuuu….
*dukung Pak Budi*
waduh.. (@_@)
pakai bahasa indonesia aja pak
ttd,
dial.up
we don’t negotiate, we do vote
SETUJUUUUUU!!!!!
ttd
——
ulek-an cabe aka hp
#hendriadi
Masalah besar Internet di Indonesia tidak cuman di “last mile” atau media buat koneksi para user, tapi juga masalah di “big fat pipe” alias koneksi uplink dari ISP Indonesia ke The Internet. Selama ini cuman lewat Singapore dan bandwith terbatas. Mau pakai HSDPA atau last mile macam apapun, kalo uplinknya kere seperti sekarang ya tetap fakir. Kecuali kalo content yang diakses ada di server yang dilokasikan di ISP Indonesia
Kalo punya HP atau Modem 3,5G, cobain kartu mentari mudik pak. Kecepatannya tembus 2mbps, dengan tarif per detik hanya Rp 100,- Lebih cepat dan lebih murah ketimbang Telkomsel Flash.
Broadband adalah hak azasi manusia!
mengamini
Mas, di sini juga masih banyak yang fakir bandwidth, terutama untuk daerah-daerah yang ogah didatangi oleh operator telepon (land line) atau cable tv karena penduduknya yang terlalu sedikit atau alasan lainnya.
Moga-moga internet over power line bisa dijalankan demi mendukung “broadband adalah hak azasi manusia” manifesto. teeheehee…
Waw besar bgt mpe 20Mb…
kLo gw mending Download software dh,,,
heheheh
Saya download film 700 mega, transfer ratenya cuma 30 KB/sec
@dobelden,
bingung.. ente mo sombong atau sedih?
Pak Budi Yth,
Sejak saya ada fasilitas broadband, banyak sekali manfaatnya. Salah satunya saya jadi kerasan nyimak TED (boleh juga kalau ada milisnya..saya harot gabung…), knol-nya Goggle, ertahmine,..belum lagi banyak pengetahuan yang bisa didapat di jagat internet untuk mencerdaskan kita-kita. Tapi untuk mendapat manfaat maksimal dari internet kita cuman butuh satu : kecepatan.
Makin lama saya jadi tidak habis pikir, kenapa di negeri kita sepertinya susah sekali mendapat layanan internet yang cepat (kebutuhannya cuma satu : cepat). Barangkali pak Budi tahu ya..mungkin banyak faktornya. Saya agak awam dan hanya tahu kalo mau broadband, pertama mahal, kedua layanannya tidak bisa digaransi.(Saya banyak sekali punya pengalaman soal layanan publik yang berkualitas rendah).
Gemes sekali (apa bahasa Indonesianya) melihat para tetangga kita berlomba merambah internet broadband ke pelosok-pelosok dan saya yakin beberapa puluh tahun kemudian index kecerdasan masyarakatnya pasti naik.
Sekali lagi, saya amat penasaran. Mungkin ada yang bisa memberi penjelasan, kenapa layanan koneksi internet rata-rata di Indonesia masih jauh dari memuasakan?
ayo mas berteriak yang keras ..
Nah, karena Broadband mahal, setidaknya perlu diberikan semacam RUU dan kerjasama untuk membuat harga gratis bagi akses Broadband..
internet murah, saya setuju. lebih mahal wajar bila harganya premium. tapi saya ndak setuju bila gratis. soalnya bila ‘taken of granted’ orang jadi kurang menghargai, protes melulu dan tidak memakainya secara bijak.
email dan mesin pencari yang notabene gratis saja masih dimaki-maki.
tapi benar, akses internet merupakan hak azasi manusia.
[...] situs ini saya ketahui pertama kali saat bertandang membaca artikel Fakir Bandwidth dari blog Budi [...]
kalo saya lebih suka pake im3 dengan koneksi indosat@durasi. lebih cepet. tarif kena 110/menit
kalo HSDPA kan kudu beli card-nya mahalllll…..
Hidup kita emang internet..
ORang dulu kalo malem2 belum tidur,biasanya ke wedangan (di desa saya ini
),kalo sekarang ngenet..
Kalo lambat?Sama dengan wedangannya tutup,bisa luntang-lantung..
semua berhak untuk broadband…
tetapi, apa semua mampu untuk membayar?
semua berhak atas BBM…
tetapi apa semua mampu untuk membayar?
mau tanya nieee
maksimal kecepatan bandwidth 6600 tu berapa????
“bandwidth 6600″? apa itu? saya kok nggak ngerti. Itu nama produk? Atau apa ya?