Hari Iedul Adha dimulai dengan sholat ied. Di tempat saya sholatnya dilakukan di tempat salah seorang warga (yang memiliki tempat untuk parkir – mungkin untuk truk? saya lihat selalu kosong). Terima kasih kepada pemilik tempat ini karena mengijinkan kami satu RW untuk shalat bersama. Semoga ini menjadi tabungan amal Anda.
Khatib dan imam dari shalat iedul adha di hari ini adalah pak Agung Harsoyo, yang merupakan kawan sesama dosen di Elektro ITB. Hari cerah, meskipun semalam ada hujan sehingga tempat shalat masih basah. Untung kami membawa plastik dan koran sebagai alas dari sajadah.
Ada dua hal utama yang disoroti pak Agung. Yang pertama adalah bahwa hari ini kita tidak hanya sekedar menyembelih hewan qurban, tetapi juga menyembelih kebiasan buruk kita. Yang kedua adalah ibadah ini juga terkait dengan sabar. Kemudian pak Agung mengelaborasi poin kedua ini.
Setelah shalat ied, kami bubar. Saya tinggal sebentar untuk ikut mengumpulkan sampah koran yang berserakan. Ciri Islam adalah kebersihan. Kebersihan adalah sebagian dari iman. Tidak boleh kita meninggalkan tempat berantakan. Sudah dipinjami tempat, eh meninggalkan sampah pula. Ada beberapa orang lain yang tinggal untuk mengumpulkan koran bekas tersebut dan menumpuknya di satu tempat. Setelah itu saya bergegas pulang untuk bersiap-siap melihat kegiatan pemotongan hewan kurban.
Berpose dulu dengan istri di belakang rumah.
Tempat penyembelihan tidak jauh dari rumah kami, di lorong jalan depan rumah kami, sekitar 30 meter. Di sana ada tanah kosong milik pak Bien. Saya sudah minta ijin ke pak Bien untuk menggunakan tanah tersebut untuk memotong hewan seperti tahun-tahun sebelumnya. Alhamdulillah, pak Bien mengijinkan dan bahkan bergembira. Terima kasih pak. Mudah-mudahan hal ini menjadi amal yang berlipat ganda. Di sana sudah menanti sapi dan beberapa domba. (Jumlah total di tempat kami adalah 1 sapi dan 11 domba. Alhamdulillah cukup banyak.)
Sapi baru tiba di tempat pemotongan paginya diantar oleh penjualnya dengan menggunakan mobil bak terbuka. Sementara kambing mulai berdatangan dituntun oleh pemiliknya atau anak-anak yang berebut untuk melakukan hal itu. Kadang ada kejadian yang lucu-lucu misalnya kambing yang menarik-narik anak-anak, kambing yang berantem atau malah mau kawin.
Untuk sapi ini kami minta juga disertai orang yang akan melakukan pemotongan karena memotong sapi tidak mudah. Untuk mengikatnya saja sudah membutuhkan 4 atau 5 orang. Ternyata dalam proses pemotongan ada banyak orang yang ikut membantu sehingga kami tidak kesulitan mencari orang. Nampaknya banyak orang bersemangat untuk berpartisipasi dalam acara iedul adha ini. Alhamdulillah.
Agar tidak tertukar dan untuk memudahkan proses penyembelihan (dan pembacaan doa), setiap domba diberi kalung yang berisi nama orang yang berkurban. Sebagai contoh, ini gambar kambing Luqman. Seperti biasa, anak-anak dan remaja sering bersenda gurau dengan membuat kalung dan memasangkan di leher temannya. Yeee si anu jadi kurban juga. (Anda pernah melakukan hal seperti ini?) Lucu. Gembira. Senda gurau. Inilah serunya acara seperti ini.
Itu foto-foto sebelum acara pemotongan dimulai. Foto penyembelihan tidak saya tampilkan di sini karena banyak orang yang tidak tahan melihat darah. Ini saya tampilkan foto sapi yang sedang dikuliti. Mudah-mudahan gambarnya tidak terlalu vulgar. (Mohon beritahu jika terlalu vulgar. Nanti saya hapuskan dari tayangan di sini.)
Kalau melihat fotonya, nampaknya bakalan lumayan juga daging yang tersedia. Mudah-mudahan mencukupi untuk kupon yang sudah dibagikan di masyarakat.
Saya sendiri bolak balik ke tempat penyembelihan dan rumah. Maklum sambil beberes rumah. Adik saya dan keluarganya juga datang untuk ikut berkurban di tempat saya. Setelah itu kami ke rumah adik saya yang satunya lagi (yang tempatnya juga hanya beda dua rumah dari tempat saya). Kumpul-kumpul sebentar.
Secara keseluruhan acara berjalan dengan lancar. Masyarakat di sekitar kami excited dengan acara ini. Tua muda berkumpul di tempat pemotongan dadakan ini. Saya puas dan bahagia karena masih bisa menjalankan ibadah dan bisa memberikan kegembiraan kepada beberapa orang di sekitar kami. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan ini dapat diterima oleh Allah swt. Amin.
Nah, sekarang tinggal menunggu makan … (apa lagi yang ditunggu? ha ha ha). Mungkin ada gulai kambing? Wah, program meringankan berat badan terpaksa ditunda lagi. hi hi hi.
pak budi, kalau tidak salah, hadist yang menyebutkan kebersihan sebagian dari iman adalah dhoif, jadi saya rasa tidak tepat pak budi sebagai dosen mengungkapkannya.
bahkan ini bukan hadist sama sekali, hanya ucapan-ucapan dan untaian kata-kata biasa saja yang tidak berasal dari mulut Rasul.
terdapat satu hadist yang mirip dengan kata-kata tadi adalah:
“Dan kebersihan itu menyeru kepada keimana, sedangkan keimanan bersama pemiliknya di dalam surga”
hadist ini adalah hadits yang lemah sekali, karena di dalamnya isnadnya terdapat Ibrahim bin Hayyan, dimana biografinya ditulis oleh Ibnu ‘Ady menyebutkan kalau Ibrahim bin Hayyan banyak menulis hadist maudhu dan munkar.
mohon pak budi lebih hati-hati dalam menulis, apalagi posisi anda sebagai dosen, muslim lagi..
jangan asal menulis banyak di blog, perhatikan juga kualitas dan referensi tulisan anda..
Allah berfirman:
Wahai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid.) QS. Al-A’raf:31.
Rasul bersabda:
Sesungguhnya Allah itu Indah dan menyukai keindahan
(HR Muslim)
Selamat Iedul Adha 2007.
Mas donny, saya tidak baca pak Budi menuliskan “kebersihan sebagian dari iman” sebagai “hadist” tuh? Kalimat yang mana ya?
Mungkin anda yang harus lebih hati-hati dalam membaca? Supaya tidak terkesan melempar tuduhan begitu saja?
Pak Budi, seru juga acara Iedul Adha di sana, jadi kangen Bandung…
@boy, memang lebaran dimana?
memang pak budi tidak menyebutkan itu adalah hadits.., tetapi saya hanya ingin membertahukan saja supaya kita tidak ikut menyebarkan esensi hadist palsu tersebut, apalagi pak budi merangkainya dalam kalimat:
“Ciri Islam adalah kebersihan. Kebersihan adalah sebagian dari iman.”
mudah-mudhan sejak saat ini tidak lagi keluar perkataan dari mulut muslim: Kebersihan adalah sebagian dari iman. Karena batasan iman sudah jelas ada dalam rukun iman.
sama seperti jargon: Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina. itu juga hadist palsu.
sudah saatnya cendekiawan macam pak budi turut meluruskan hal seperti inin
Kok pada ngeyel ya?Udah dapet sate belum? Saya belum neh… Kirimin doong.
Oh ya, jangan buang tusuk sate sembarangan ya. Inga – inga, “Kebersihan adalah sebagian dari iman” (copy-paste dari Pak Budi). Gimana tidak jadi bagian dari iman, lha wong mau sahadad harus BERSIH hati dan pikiran. Mau sholat… harus BERSIH dari hadas kecil & besar. Mau zakat, harus dengan harta yang BERSIH, dst.
Kok ga keliatan kambing dengan tag “Budi” mas? Apa artinya saya ga dapet kiriman sate kambing nih kekekekeke
@donny, terima kasih atas kritikannya, meskipun saya bingung (seperti kata boy, karena saya tidak merasa mengutip hadits). Tapi memang ada kesedihan saya melihat banyak orang Islam yang tidak concern terhadap kebersihan dan lingkungannya. Apakah saya tidak boleh mengasosiasikan Islam dengan kebersihan?
@andhi, emangnya di sana ada iedul adha? Kirain kalau udah di hutan nggak ada. he he he. [menghina mode: on] Apa ada potong kambing? di sana memangnya ada hewan ternak? atau pakai hewan liar di sana? [he he he. menghina mode: on]
@andhi + adinoto, kalau satenya bisa dikirim via internet (di-FTP?) bisa dikirimi. he he he. Saya juga baru dapat kiriman 3 tusuk sate plus gule, sapi tapinya bukan kambing. Alhamdulillah … sedap. Selamat ngiler …
betul, hati kita harus BERSIH saat sahadat, bersih saat sholat, tapi tidak jadi pembenaran begitu saja mengucapkan: Kebersihan adalah sebagian dari iman.
ingat kata adalah menunjukkan definisi dan statement. definisi dan statement sudah diatur di Al-Qur’an dan hadist.
white is white, black is black.. sudah pasti ada ketentuannya.
kalau mau begitu sih semua juga bisa jadi sebagian dari iman, tersenyum adalah bagian dari iman, tertib juga bagian dari iman, dll. ya karena kita iman kepada Allah maka kita juga mengimani sifat-sifat Allah, semua juga bisa dikatakan iman, senyum, pemurah, pengasih, penyayang..
semua jadi baik kan..? tapi apakah karena baik lalu sholat shubuh 4 rakaat jadi baik..? tentu tidak.. karena semua sudah ada ketentuannya.
pak budi, mungkin kalimat tepatnya adalah: islam mencintai kebersihan, sudah itu saja cukup
ga perlu pakai statement: kebersihan “adalah” sebagian dari iman.
wallahu alam
@donny, terima kasih.
Kalau begitu … saya mohon referensi Al Qur’an atau hadits yang secara harfiah mengatakan “Islam mencintai kebersihan” sebagai mana yang Anda usulkan. Agar saya tidak salah di kemudian hari ketika ingin mengajak orang untuk memperhatikan kebersihan. (Nanti kalau saya tulis gitu – tanpa referensi – ada yang protes, kan puyeng juga saya.)
silakan dicari sendiri pak budi.., hehe jangan hanya baca buku starbuck..
salam..
selamat idul adha pak ..
Selamat Merayakan Idul Adha ya, Pak. Salam kenal dari Bali
Wah,pak agung khatibnya ya.. Jd inget kuliah dulu..
Ya pak,besok lg jgn nulis “tuntutlah ilmu sampe ke negri cina” tapi “tuntutlah ilmu sampe negri kanada..”
*kaburr…*
pakabar donny, hehehe……………
alamat blog nya donk……………….
buat donny jangan anonymous donk…………….
hehehe………………..
I was wondering, do you had any more blogs?
Pak, pernah merasakan memotong kambing secara langsung?
Cobain deh, Pak …
Ada perasaan yang lebih lepas dan lega ketika kita memotong secara langsung; entah itu apa …
Saya dulu pernah melakukannya ketika masih SMA.
Selamat Hari Raya Idul Adha Pak…
Masalah hadits… ternyata gitu ya. Kok ga dari dulu itu dibilang hadits yang lemah, dll
Kok baru tau aku…
Setahu saya sih, selama hadist tersebut bernilai baik, sekalipun sanadnya lemah atau bahkan palsu, silakan saja dikutip.
Yang tidak boleh menggunakan hadist palsu ketika menyusun fatwa halal-haram.
Kalau untuk keutamaan ibadah, dsb ya silakan saja …
selamat hari Raya Idul Adha Pak
, semoga ketularan ikhlasnya nabi Ibrahim, dan berhasil membunuh sifat kebinatangan kita
*amien*
btw, untuk mas Donny, apakah jika hadist tersebut dhoif kemudian kita jadi jorok? atau jadi tidak mau menuntut ilmu?, pesan bijak itu bisa dirasakan mas, dan saya tidak peduli dengan sumbernya, toh untuk membuktikan benar atau salahnya siapa yg membawa pesan saat ini sangat sulit, bahkan tidak mungkin…
saya jadi ingat kata2 Ali.. “Mutiara, tetaplah mutiara walopun keluar dari mulut seekor anjing” — Ali Bin Abi Thalib, (susah untuk membuktikan pesan tersebut benar2 dari Syaidina Ali, tapi saya sangat setuju dengan pesan tersebut)
Berburu sate kambing, eh dapetnya sop ikan…
Nengok blog nya Pak Budi masih rame soal hadist. Wekekekeke.
Btw, saya seneng dengan kata2 Ali yang dikutip mas Warnet Ubuntu. Mengingatkan saya kata2 Gus Dur, “yang keluar dari bol ayam itu bukan telor saja…” (lah apa hubungannya ya? pokoknya jd inget aja).
Dari pelajaran ilmu Mustholah Hadist yg saya dapatkan sewaktu di MTs & SMU dulu, tidak apa-apa menggunakan hadist dhoif untuk hal-hal yang memang masih bernilai baik dalam pembinaan akhlak umat. Tapi memang tidak boleh untuk yang menyangkut akidah dan ibadah mahdhoh. Mencintai kebersihan kan terkait dengan akhlak dan kebiasaan yang baik.
Lagian, hadist dhoif memang ” hadist lemah”, tapi bukan “hadist palsu”.
Saya dukung pak Budi untuk terus mengajak pada kebaikan, meski kita mungkin belum bisa serinci pak Donny dalam menjabarkan silsilah hadist segala rupa. Karena kalau nunggu harus tahu hadist berikut statusnya dulu, cenderungnya orang bakal mengelak terus dari kesempatan mengajak orang lain pada kebaikan.
Assalamu’alaikum…
Salam kenal, pak
Selamat hari raya Idul adha, Pak
Nice blog…
Kalo berkenan, tukeran link dengan saya pak di http://wennyaulia.wordpress.com
Masih blog baru sih… :”>
[quote="Budi Rahardjo"]Kalau begitu … saya mohon referensi Al Qur’an atau hadits yang secara harfiah mengatakan “Islam mencintai kebersihan” sebagai mana yang Anda usulkan. Agar saya tidak salah di kemudian hari ketika ingin mengajak orang untuk memperhatikan kebersihan. (Nanti kalau saya tulis gitu – tanpa referensi – ada yang protes, kan puyeng juga saya.)[/quote]
tabik!!! ikut gabung nich
hadis ini mungkin bisa mbantu :
”Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah baik dan mencintai kebaikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan mencintai kedermawanan. Maka bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah kamu menyerupai orang Yahudi.” (HR. Tirmidzi)
sedangkan hadis tentang kebersihan menunjukkan bahwa kebersihan (an-nazhafah) merupakan sesuatu yang dicintai Allah SWT. Maka dari itu ungkapan ” Kebersihan Sebagian Dari Iman” adalah ungkapan yang baik atau Islami karena ada dasarnya dalam Islam yaitu hadits riwayat Tirmidzi di atas. Ungkapan itu dapat diberi arti, bahwa menjaga kebersihan segala sesuatu merupakan bukti atau buah keimanan seorang muslim, karena dia telah beriman bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Mahabersih
mudah2an kita selalu belajar…
Selamat Idul Adha pak
Semoga kita bisa mencontoh keikhlasan Ibrahim dan Ismail, Semoga Ade bisa seikhlas mereka. Amin …
-Ade-
@ fajar
Great argument !!
Thanx alot
Sekamat Idul Adha ya…
pak..pak..khotib lagi khutbah masih sempat foto-foto
hi hi hi … iya herr. kan wartawan amatiran. yang penting adalah menyimak pesan khutbah (daripada tidur atau ngelamun) dan tidak mengganggu orang lain.
Tadi ada yang jelas – jelas menampilkan foto kambing bersibak darah. Waw….