Selebriti, infotainment, dan kutipan
3 Januari 2008 oleh Budi Rahardjo
Saya tidak mengerti mengapa banyak selebriti yang sangat marah dengan wartawan infotainment. Ada yang menonjok wartawan, ada yang hanya memberikan “the finger”. Pada intinya mereka sangat benci sekali terhadap wartawan infotainment tersebut. Mengapa? Bukankah mereka hidup dan dibesarkan oleh media itu?
Setelah mendengar, melihat, dan mengetahui sisi lain, saya baru bisa memahami. Ada selebriti yang digosipkan dengan selebriti yang lain (bahkan dengan foto - yang tidak jelas asli atau rekayasa). Padahal sang selebriti ini tidak melakukan apa-apa. Tentu saja dia kesal sekali. Ketika dia protes, katanya silahkan menggunakan hak jawab. (Hak jawab dengkulmu, kata sang selebriti.)
Kadang para selebriti ini dikutip dan ternyata kutipannya berbeda dengan apa yang dia katakan, atau dalam konteks yang berbeda. Ngamuklah para selebriti ini karena kutipannya ternyata menimbulkan salah paham. (Misalnya kutipannya berisi menjelek-jelekkan orang lain.)
Saya sendiri tidak paham itu sampai suatu ketika diwawancara oleh sebuah media (tak perlu disebutkan namanya ya) dan dikutip. Kutipannya … salah! he he he. Saya jadi kelihatan bodoh karena dikatakan (dikutip) mengatakan sesuatu yang bukan fakta. ha ha ha. Biarin aja deh. Untung namanya masih ditulis bener, bukan Rudi Baharjo. ha ha ha. Em, tadi, nama mas siapa mas? Hmm… pikir-pikir, mendingan dia salah nulis nama saja ya sehingga telunjuk menuju ke orang yang tidak ada. Kalau saja saya iseng; Nama saya mbak? Dudi Katajong. (halo nday… )
Lies, lies, and more lies …
Ah … jangan-jangan yang 68% itu salah kutip juga … Never mind!
Kemudian ada juga cerita tentang bagaimana banyak wartawan infotainment yang tidak mengindahkan hati seseorang. Saya teringat cerita tentang pemakaman seorang musisi kita. Para wartawan ini saling berebut, dorong mendorong, tidak mengindahkan keluarga. Demikian pula saya teringat cerita tentang wafatnya seorang selebriti, dimana sang wartawan yang sudah tahu akan berita duka ini memburu ke keluarganya dan menunggu melihat reaksi sang keluarga. Biadab juga ternyata ya? Ah …
Bad news is good news?
Kalau media konvensional saja bisa sesadis itu, bagaimana dengan media baru seperti internet dengan blognya? Mungkin bisa lebih sadis lagi ya? Wadaw!
Harusnya wartawan itu menulis sesuai dengan info dari narasumber .. tapi demi mengejar nilai berita maka ditambahkan sana sini, hasilnya jadi jauh dari sebenarnya.. wajar lah kalo ngamuk.
Seperti gosip itu …
-Ade-
Loh menjadi commentator pertamax yah ….
-Ade-
Gak mau hetrixxx sebetulnya … tapi mumpung sepi.
-Ade-
Hmmm Pak Budi… ada2 saja ya…
Saya yang bukan selebriti saja tiap kali melihat tingkah mereka rasanya mau nonjok ‘wartawan-wartawan’ infotainment itu kok. (wartawannya pakai tanda kutip karena mereka lebih cocok diberi gelar ‘preman’).
Benar-benar sudah tidak punya etika, rasa malu dan tanggungjawab. Alasan mereka biasanya “cari makan”, lah semua orang di dunia ini juga ‘cari makan’ dan bisa tuh dengan cara baik-baik.
Btw, kalau search “Rudi Bahardjo” di Google langsung keluar: “Did you mean: budi rahardjo”. Keren ;).
@boy … “search Rudi Bahardjo ditawarin Budi Rahardjo”
wah. gak kepikiran nyobain dulu. saya coba di google. bener juga. memang bener-bener keren itu google! kok tahu-tahunya ya.
eh, gimana kalau ada beneran nama Rudi Bahardjo, hayo…
Mendingan nama Rudi Bahardjo cepetan Bapak klaim biar ga bisa dipake di seluruh dunia ini, jadi setiap kali kita ketik di google selalu ditawarin utk ke Budi Rahardjo, hahaha… Niat banget ya?
Wah masih mending itu wartawan beneran, klo dapet yang wartawan bodrex, mampus dah..
Dulu saya juga suka ngamuk ke mereka, sekarang tidak lagi, udah pensiun sih.
Yang gebleg juga dewan persnya. Wartawan (gak pake tanda kutip
infotainment udah kelakuannya gak beradab, hasilnya juga busuk sekali dari sisi jurnalistik. Bukan sekali-dua kali ada wartawan yang ditonjok, tapi mereka selalu berlindung di bawah UU pers.
Yang lebih parah lagi, kadang wartawan kalo memberitakan sesuatu tidak memikirkan akibatnya bagi negara, padahal yang diberitakan juga tidak confirmed, intinya cuma kejar setoran. (contoh kasus penerbangan Indonesia dan uni-eropa)
Ini mungkin sesuai dengan teori “”Distorsi Lebih Besar Dari Informasi”
Istilah ini sering saya pergunakan bila ingin menyitir (baca: agak menyindir) bahwa kehidupan itu harus selalu diukur dari selera kebanyakan orang, kebiasaan, pergaulan atau karena “sesuai rating TV”……
Mungkin pada saat SMU atau SMK kita masih ingat bahwa suatu “informasi dapat ditumpangkan pada gelombang pembawa (carrier)”….Namun bila gelombang termodulasi itu (informasi dan “carrier”), pada saat pengiriman terganggu oleh distorsi terlalu besar, maka informasinya akan berubah atau rusak dan tidak akan sama lagi dengan informasi semula…….
Silahkam mampir di:
http://sardjana.multiply.com/journal/item/73/Distorsi_Lebih_Besar_Dari_Informasi
waduhaduhâ„¢…. pak dhe jadi seleb nih ceritanya? hehehe….
(^_^)v
yah, begitulah orang mencari uang. menghalalkan segala cara. ga ada pendidikan etika jurnalis seleb, kali….
Memang itu pekerjaan wartawan (yang dalam tanda kutip). Mereka kan cari makan. Makanya, walau salah, yang penting dapat setor berita.

Atau mungkin dibuat salah, biar ceritanya bersambung, he-he-he
Ya… namanya tayangan yang “bagus” itu buat TV laku. Ya.. pelan-pelan aja dulu, sedikit demi sedikit mengubah media.
Pak Budi, ada pengalaman ya ? Hmm…
Sama kayak SMA saya dulu yang kena ulah wartawan pembuat sensasi… Jadi repot semua
Wah, critanya pak Budi lagi protes nih karena udah dikutip dan kutipannya ternyata salah, he.. gunakan hak jawab aja pak. Kan udah dipersilakan, hue he.. tapi paling gak postingan ini sebuah klarifikasi kok pak, semoga aja wartawannya juga baca.
di blog / internet sangat jarang terjadi salah kutip
Infotaiment adalah sebuah Industri. masalah klasik ini bukan saja terjadi di Infotaiment…
Wartawan News juga saya rasa gerasak-gerusuk kalo lagi ngejar berita yang mempunyai nilai berita tinggi.
Kenapa Infontaiment lebih terkesan Begitu ? ……
Mas pernah coba hitung berapa banyak tayanggan Infotaiment yang ada di TV ? lebih dari 30 nama Infotaiment. dan semuanya menginginkan hasil gambar yang maksimal dan ekslusifitas dalam wawancara… jadi menurut saya ini masalh klasik yang ada di dunia jurnalistik…
Pada akhirnya masalah ini adalah simbiosis mutulisme antara sang artis dan “pekerja Infotaiment ” yang dimana ada keuntunggan yang tercipta buat 2 belah pihak. dan “lucunya” masyarakat sangat menikmati cerita dan berita Infotaiment…..sehingga Infotaiment mempunyai Ratting yang jauh di banding News….
Moga aja kita dapat lebih melihat dari dua sisi mata uang
sudah pada sadar media kali yaks
Klo yg namanya wartawan inpotainment sih emang yg dicari salah paham…
suami istri yg asalnya rukun aja bisa langsung cerai gara2 berita infotaiment
ah wartawan. wartawan PR saja, yang sudah saya wanti-wanti untuk “spelling” dengan bener, eh tetep aja diketiknya “Adham Soemantrie”… ada kemajuan sih, biasanya “Adham Soemantri”.