Berapa ya harga diri kita? Itu kalau ada harganya. Mengapa gengsi untuk mengulurkan tangan lebih dahulu, menyapa terlebih dahulu, mengajak berkomunikasi lebih dulu? Terlebih kalau yang akan djabat atau disapa adalah kawan baik atau keluarga. Kadang ego kita yang mematok harga terlalu tinggi. Ya, saya mengalami semua itu. Anda tidak? Hebat!
Ya, ya, ya. Kadang kita merasa bahwa dia yang salah. Harusnya dia yang minta maaf dulu, atau menyapa duluan, atau mengulurkan tangan duluan. Atau apalah … Pokoknya bukan saya yang harus pro-aktif. Saya mau diam dulu.
Lantas kuat-kuatan adu diam. Sssttt. Saling melengos, tidak mau bertegur sapa. Putuslah tali silaturahim itu.
Ah, akan kucampakkan harga diriku. Persahabatan lebih berharga daripada sekedar harga diriku.
[membanting (harga) diri ke lantai. sialan kau! menendangnya jauh-jauh, meskipun aku tahu dia akan kembali lagi bagaikan bayangan yang selalu mengikuti kemanapun aku pergi.]
Maafkan aku kawan. (Gak tahu apa salahku, tapi pokoknya maapin ya. Sungguh. Minta maafnya sungguhan lho. Bukan main-main.)
Akan kusapa kau…
Hai
.
(Menyapa –red)
lho. belum tidur juga om?
kalau untuk yang ini, baju gengsi mau dipakai lagi ah. siapakah dikau?
Tidur? Haha
. Tentu tidak.
Aku … aku adalah saudara kembarmu.
Aku libur tapi tak pernah libur.
Aku melewati malam tapi tak pernah bobo.
Aku baru menikmati cokelat, dikasih saudara 20 biji. Abis.
Tapi aku juga musuh besarmu.
Aku baru menikmati segelas besar kopi panas yang sedap luar biasa. Dan tega mengiming2. Sadar bahwa dirimu tak mampu mengatasi yang satu itu.
Muahahahahahahahahaaaa.
Gengsi dibalas kopi …
Gila ini orang! Kurang ajar! Kurang ajar! (Mana tadi sandal?)
Dikau tahu aku sedang tidak bisa minum kopi tapi ngiming2i kopi. Awas lho. Nanti ada balasannya. Ketika dikau tidak bisa minum kopi, akan aku balas!
hahahahaha… lucu juga melihat becandaan dua bapak ini! kalau sudah di taraf ini, lalu kemana si gengsi tadi pergi?
menghadapi bapak yang tidak tahu diri tadi (yang menyapa hai itu – lupa tadi siapa namanya ya? pokoknya yang avatarnya bergambar tangan) tidak perlu pakai tedeng aling.
si gengsi dengan cepat kembali melekat ke badan saya. gengsi saya menjawab hai-nya.
Karena gengsi dengan “orang yang beravatar tangan” itu, saya mau bobo dulu. Dah lewat jam 12 dan dokumen report berhasil saya baca dengan selamat. Besok pagi harus menuliskan komentar terhadap dokumen itu (yang bisa panjang juga).
Ah gengsi mau mengucapkan “selamat malam” … :p
Semalam mau dibalas lagi, tapi si boss udah keburu bobo.
Udah bangun kan? Serangan mulai lagi …..
Pagi ini sarapan roti dua biji, plus kopi hitam legam syedapp :p.
Itu kopi gratis dikasih barrista di Sbux Plasa Indonesia sebenernya. Cuman udah kebanyakan kopi semalam. Jadi ditabung buat syarapan.
OK, perang geng-xi melawan quo-pi dimulai lageeee …
And have a great day!
Btw, lucu juga. Semalam kayaknya summoning sandal. Yang keluar malah ardal. Salah kali mantranya :p
Ah, kopi basi dibanggain … basi om! Read my lips: b a s i.
Gak ngiri! Mau didoain biar mencret? he he he
Teh manis panas lebih sedap. Juga dengan roti buatan istri.
Emang kayaknya tadi malam, ngomong udah pelo. Jadi “sandal” meleset jadi “ardal”.
ya, saya? kenapa?
Read my lips? Kayak Bush sr. ajah :p
Basi? Biar bAsi aSal kopI !!!
Gelas kedua disiapkan. Yang ini grinding sendiri loh. Mau?
Udah Ade maafin mas ….
-Ade-
Koen! Anda jangan makin kurang ajar. Beri aku waktu … (kayak sinetron aja, hi hi hi). Mudah-mudahan minggu depan sudah bisa kopi lagi. Atau … nekad. Tapi minggu depan aku akan banyak di jalan (di jakarta). hik hik hik.
Awas. Koen, jangan dihabiskan kopinya. Itu berbahaya bagi kesehatan Anda!
[sementara ini terpaksa saya lempar kolor, eh ... maap salah ... lempar handuk maksudnya, mengibarkan bendera putih. nyerah kalah. but don't rub on it.]
Speaking of coffee… sedapnya kopi hangat tanpa gula… bukan karena lifestyle seperti yang ditulis Bapak ber-avatar tangan senyum.. tapi karena diet.. diet…
Just to say, “Hello World!”