Masihkah Ada Harapan Bagi Indonesia

Kekacauan-kekacauan terus menerpa negara kita ini. Saya tidak ingin membahas ini satu persatu. Sudah banyak bahasan di tempat lain dan Anda juga mungkin akan bosan bila saya uraikan lagi di sini. Saya sudah tidak membaca koran karena isinya hanya membuat hati makin ciut.

Salah urus negara kita ini!

Masih adakah harapan bagi Indonesia?

Dalam skala kecil, di lingkungan sekitar saya, “mini Indonesia” juga terjadi. Ada banyak sistem, instansi, institusi yang juga salah urus. Bagaimana kita bisa membereskan yang besar jika tidak bisa membereskan yang kecil-kecil. Salahnya dimana ya?

Keinginan bersama untuk maju dan memperbaiki Indonesia sedikit demi sedikit sirna. Masing-masing memikirkan diri (dan permasalahan diri). Termasuk saya tentunya.

Beberapa tahun yang lalu saya kedatangan induk semang saya – seorang ibu dari Kanada yang saya anggap sebagai ibu ketika saya berada di Kanada. Dia sempat tinggal di tempat kami untuk beberapa hari. Tentunya dia mengamati saya. Pada suatu ketika dia berkata.

Mengapa kamu mengurusi orang yang tidak mau diurusi?

Saya terkejut dengan pertanyaannya. Mungkin itu juga salah satu masalahnya. Diurusi saja tidak mau, apalagi mengurusi ya? Saya kemudian berhenti mengurusi komunitas. Terlalu banyak yang sirik. Cape deh. Akhirnya saya memilih untuk undur diri.

Mungkin banyak kejadian seperti ini yang membuat orang menjadi patah arang.

Apa lagi masalahnya? Ah, masih banyak lagi. Ruwet.

Terus bagaimana? Sebenarnya – kalau mau – bisa diperbaiki. Amerika juga tidak bagus langsung dalam satu hari. Butuh tahunan (puluhan tahun?) untuk memperbaiki diri. Hanya masalahnya itu dia; mau atau tidak? Kalau mau ada konsekuensinya, yaitu membuat hidup kita jadi sedikit susah. Nah, itu yang mungkin membuat kita tidak mau. Saya lihat sebagian bilang “mau” tapi tingkah lakunya mencerminkan “tidak mau“.

Lantas apa yang bisa saya perbuat untuk mengurangi keruwetan ini? Diam saja?

Ah, terlalu abstrak. Sudah malam gini memang jadi abstrak pikirannya. Jadi sedih … Mudah-mudahan tidak terbawa mimpi.

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

20 Tanggapan to “Masihkah Ada Harapan Bagi Indonesia”

  • Mr.K

    ya..yang pasti klo udah malam, abstraksi sudah bercampur ngantuk..atau jangan2 abstraksi impact dari kelelahan.

    btw, klo menurut saya, complicated problem yang ada di Indonesia mungkin tahap menuju kebaikan ke depan. Seperti yang bapak bilang , Amerika saja tidak bisa menjadi “Maju” seperti skrg ini dalam satu hari.

    so, tetap optimis!!!!! dan harus baca koran juga tentunya, untuk terus mengetahui kemajuan dan kebobrokan yang mulai terungkap satu per satu di negara ini.

    “Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan”.

    Wassalam.
    K

  • djunaedird

    Mestinya back to basic, mas. Awalnya ya ngurus yang di rumah sendiri. Lantas yang ada di lingkungan kita, dan seterusnya.
    Kalau ngurusi negara? Malah bisa bikin kurus, kali. :P

  • Iman Brotoseno

    mestinya selalu ada jalan dan optimisi..
    tidak ada alasan menjadi apatis.Mungkin bukan generasi kita, mungkin generasi yang akan datang.
    the time will come eventually

  • Nanang Suryana

    yang penting kita berbuat sesuatu yang baik, mungkin kecil pengaruhnya tetapi dari yang kecil-kecil tersebut segala keruwetan bisa di bendung dan dikikis….

  • hariadhi

    Manggut-manggut dengerin ceramah Pak Budi. Hoo iya begitu sih ya, pak? Mulai dari yang kecil-kecil dulu kaya….

    *ehm jadi ingat sesuatu

    PR saya belum selesai, huaaaaaaaa..!

  • Bonar Buaton

    Saya setuju tuh mas dengan kata-kata induk semang masnya.

    ” ngapain ngurus orang yang gak mau diurusi”

    lebih sadis lagi nih mas, saya pernah dengar kata-kata

    “ngapain ngurus orang yang gak ngurusin kamu”

    Wah, kata-katanya tuh terlalu mengerikan. Sebenarnya sih ada benernya juga. Ngapain kita ngurusin orang yang gak perduli ama kita. Lebih baik kita mulai dari ngurus diri kita sendiri,seperti kata bung djunaedird, mulai dari ngurus kamar aja, terus ngurus diri sendiri, kejauhan deh kalo ngurus negara.. wong orangnya itu2 aja gak ganti2, yah gimana bisa berubahhh….

  • trisetyarso

    Mari, Pak, kita ciptakan harapan itu dalam setiap lubuk hati kita … mungkin harapan itu lah satu-satunya warisan berharga yang kelak akan berharga bagi anak cucu kita …

  • trisetyarso

    Btw, Pak Budi, saya setelah lulus S1 dan S2 di ITB memilih berada di luar sistem, karena alasan ingin memotong budaya orba mulai dari diri sendiri.

    Ternyata di luar sistem Pegawa Negeri, Perbankan Indonesia dsb., masih ada orang Indonesia yang waras.

    Dan itu saya temukan dalam kehidupan para marbot (penunggu masjid) di Indonesia …

  • Ananda Putra

    Indonesia kini memasuki zaman kegelapan sedangkan dunia terus menuju zaman terang, Indonesia memasuki zaman primitif sedangkan dunia menuju modernisasi. Kacau balau negeri ini. Memang kacau balau itu tidak tampak sebagai kerusuhan fisik, namun budayanya yang rusuh.

    Perlu banyak orang untuk berteriak lantang untuk membangunkan saudara-saudara kita sebangsa setanahair dari mimpi-mimpi mereka. Kita semua harus bangun dan sadar bahwa negeri ini diambang kehancuran. Namun jangan hanya berteriak dari mulut, hati nurani harus tergerak untuk berbuat sesuatu, setidaknya maulai dari sesuatu yang kecil, dari diri sendiri, berhati jujur dan berpikiran lurus.

  • tehtarik

    gue yakin indonesia akan bisa bangkit dan kembali berkuasa di bumi ASEAN, jaman sebelum ada globalisasi, pulau jawa dikenal dengan nama jawadwipa ( pulau emas ), yang merupakan pusat peradaban dan ekonomi di asia tenggara, dulu para pemimpin di pulau ini sukses menggerakan roda ekonomi yang berbasis core industry ( agriculture ) industri yang lain sebagai penopang juga ikut berkembang pesat dan mampu menjadi penyeimbang, sehingga banyak orang yang migrate ke pulau jawa dan pusat peradaban di pulau jawa pun menjadi sangat tinggi.

    Nowdays, the gov gagal dalam mengerakan perekonomian indonesia, karena salah satu faktor utamanya adalah tidak adanya perhatian yang besar untuk menggarap atau memaksimalkan potensi agrikultur yang sudah kita miliki.

    we are busy hacking technology, now, i questioning you ?
    is it technology industry really matters in indonesia ?
    gue liat tiap hari cuma vendor luar yang jualan produk di indonesia ?

    it’s better we looking back to our history….jawadwipa

  • avianto

    Mungkin dengan kita tidak mengurusi orang-orang yang tidak mau diurusi kita bisa lebih konsentrasi ke urusan kita sendiri. Orang-orang yang tidak mau diurus akan ‘punah’ karena tidak diurus.

    “Survival of the fittest”, Darwinian.

    @tehtarik: Kenapa ya kita selalu sibuk ber’nostalgia’ dengan masa lalu yang jaya dan kaya raya. Daripada energi habis untuk bernostalgia, kenapa tidak lihat ke depan dan apa yang bisa kita lakukan untuk menjawab tantangan masa depan.

    Vendor luar yang jualan produk di Indonesia karena mental bangsa ini bukan mental inovatif (well, efek dari mental bercocoktanam dan pedagang jaman dulu juga). Mau buat produk dalam negeri ternyata jauh lebih ‘enak’, beli produk dari luar, di rebrand lokal lalu dijual lagi. Cepat, mudah dan dapat untung.

  • tehtarik

    Pay more attention on BOOST

    @avianto :
    kita tidak bernostalgia, we take it as a lesson learn, kenapa kita dulu bisa jadi financial hub di ASEAN Region, sekarang diambil alih oleh Singapore ? that’s the challenge, to return back the past glory….

    that’s why we need to BOOST local industry,our core, our roots, bukan industri yang pada ujung2nya hanya membawa kemakmuran untuk US/EUROPE/JAPAN….? u got me ? where all our people money gone ?

    gue tahu, elu mau bilang, jalan2 satunya untuk lepas dari kemelaratan ini adalah dengan encouraging people to do innnovation, dulu gue juga berfikir seperti itu.. i thought, but that one before i move to singapore to work….i see diffrent things here

    Singapura tidak pernah bergantung sama namanya innnovasi ( product creation ) untuk jadi negara kaya ? u may say, negara calo but the thing is, mereka mampu mengidentifikasikan posisi mereka dengan tepat, they’re not investing money in technology, they’re UTILIZING tech to support their investment in so called “good service” MRT things like that, u know…mereka sadar, their ppl are not generally tech savvy…so it’s imposibble to compete with those US/EUROPE/JAPAN in term of innovation in short period…magically, jadilah mereka sekarang service hub, financial hub, tourism hub, education hub, property hub dan juga aviation hub…all those kinda visions can BOOST their economic growth instantly….and also sustainable, skrng kalo elu mau tau, di singapore orang lebih milih jadi calo rumah dari pada jadi engineer! apalagi researcher? open your eyes dude…

    we’re talking about how to BOOST economic…to create equality, then when this kind of basic things are settled down, we may talk about those monkey geeks pretending hackin’ some stuffs…

    sorry, if im mistaken…but, i think secara kultural dan mentalitas kita punya kedekatan dengan singaporean ( malay/chinnese ), so for me, it’s easier to use their template as a based to our development foundation.

  • suprie

    @tehtarik,
    Sebenarnya itu balik lagi ke teknologi … Temen – temen di IPB udah buat penelitian tentang bibit tanaman yang unggul , tapi cuman kurang sosialisasi nya, atau melakukan riset agar pertumbuhan tanaman sayur bisa dipercepat tanpa proses radiasi atau apa lah.

    Atau seperti dosen saya, seorang peneliti di LIPI , beliau meneliti tentang kacang mede, ternyata harga biji kacang mede itu murah, tapi yang jadi masalah harga kulitnya itu jauh lebih mahal, karena merupakan bahan pelapis roket, klo gak salah 1 ml harganya sekitar $50.000 , – tapi sayang nya, negara lain lebih licik, mereka membeli mede saat belum berbuah, saat itu harganya sedang murah – murahnya karena belum bisa di jual medenya… mereka membeli , dan mengambilnya saat hargnya naik, jika kita tanya petani mede kenapa gitu ? mungkin jawabannya “dah bisa makan aja dah syukur pak”

    Berani Berubah!!, itu lah yang paling penting kalau kita mau merubah Indonesia, kita harus merubah cara pikir kita, kita harus merubah kebiasaan kita. Repotnya anggota – anggota dewan terdiri dari orang – orang tua yang hampir tidak mau berubah, mereka sudah nyaman dengan gaya hidup mereka.

    Makanya daripada repot mengurusi mereka , lebih baik kita kembali ke diri kita masing – masing , siapkah kita berubah ?? Karena menurut kalau kita gak mau berubah, bagaimana kita bisa merubah masyarakat di sekitar kita, bagaimana kita merubah Indonesia ?

  • avianto

    @tehtarik:

    gue tahu, elu mau bilang, jalan2 satunya untuk lepas dari kemelaratan ini adalah dengan encouraging people to do innnovation, dulu gue juga berfikir seperti itu.. i thought, but that one before i move to singapore to work….i see diffrent things here

    Er.. no, saya gak mau bilang itu kok. What make you think I want to say that? Karena gue nulis ‘inovasi’? Er, kan saya bilang, bangsa ini mental ‘inovasi’nya memang tidak ada atau kecil sekali – masa harus dipaksa juga sih? Stress nanti.

    Tiap orang punya slotnya masing-masing, menganggap seluruh bangsa adalah “setali tiga uang” sepertinya sudah lewat jamannya.

    Justru yang saya mau tekankan, kalau kita memang bagus dalam hal berjualan, jualannya yang serius! Bagus dalam bertani, bertaninya yang serius! Mau inovasi, inovasi yang serius juga. Pokoknya serius. Jangan setengah-setengah. Jangan puas dengan asal dapat makan, tapi ingin lebih dari itu.

    Secara kultural kita sebenarnya berbeda loh dengan Singaporean. Mereka lebih gigih karena negaranya tidak punya sumber daya alam sehingga mereka memang mengandalkan kemampuan di bidang jasa.

    OK, tarikannya – jaman dulu Indonesia bisa jaya digjaya dengan industri pertanian (menurut anda) karena saat itu memang tidak ada saingan. Makanya saya bilang, kalau kita bernostalgia melulu yang ada malahan pundung, karena dunia telah berubah. Iya tentu sejarah bisa jadi pengalaman, tapi belajar dari sejarah sementara dunia telah berubah juga terlihat konyol…

  • devry

    Bingung, mau bicara apa lagi?
    Masalahnya terlalu kompleks & berat banget :(

    * Lagi blank mikirin situasi sekarang yang carut-marut mode ON *

  • tehtarik

    @suprie
    jangan frustasi, kita mungkin sangat kecewa dengan kinerja mereka, but that’s the fact, u choose to live with those people, so no choice for you, itu karena elu gak punya value di mata mereka, saran gue untuk frustrated youngster like you, coba2 deh cari opportunities di luar negri, kumpulin dollar dulu, buka mata mereka buktikan kalu elu bisa, do practise your english! hehhehe

    @avianto
    what i can say is, indonesia is huge market, thanks to our heroes who sacrificed their blood to unite indonesia, warisan yang tidak ternilai harganya, market value, kita cuma butuh formula yang tepat to boost our economic growth, all we need to do is to protect our market. jangan sampe uang2 yg di generate di sini, akhirnya di bawa ke luar negri or jangan sampe market kita di eksploitasi orang lain. prioritaskan industri lokal.

    it’s hard to say, since we dont have capacity to change, perlu global policy dari goverment untuk melakukan percepatan ini but at least kita aware and we do spread this awareness from blog to blog =)…and hope sumday one true shine indonesian rises to return back all the past glory…

  • Ananda Putra

    @16 (tehtarik) Yes, Indonesia is a huge market, (also) with huge consumer! Budaya konsumtif yg tinggi yg membuat bangsa ini tidak inovatif. Needs yg banyak membuat orang membutuhkan uang banyak, padahal pendapatannya tdk mencukupi. Akhirnya, munculah “inovasi2″ bagaimana mengkonsumsi dengan pengeluaran sesedikit mungkin (misalnya, telepon umum dicrack, akibatnya vandalisme; angkot tak layak masih beroprasi dgn penumpang yg berjubel2, akibtanya resiko kecelakaan tinggi, polusi tinggi, kemacetatan di mana2), dan “inovasi2″ bagaimana mendapatkan uang lebih tanpa banyak bekerja (misalnya, korupsi, pungli, markup nilai proyek tapi beli bahan yg murah, akibatnya jalan byk yg rusak padahal baru diperbaiki, fasilitas umum yg tidak memadai).

    Masih banyak lagi dampak dari budaya kosumerisme ini. Namun sadarkah bangsa kita akan hal ini?

    Kalau belum sadar, maka bagi yg sudah sadar berteriaklah menyadarkan mereka! Setidaknya mulai dari diri Anda dan keluarga Anda sendiri.

  • tehtarik

    @ananda

    u mean “budaya konsumtif” ?

    semua kebobrokan yang elu sebutkan itu gak cuma ada di Jakarta/Indonesia aja, Please lah jangan ngejelekin bangsa sendiri, wake up dude…gue pernah tanya sama expat amrik, are you affraid of crime when you living in Jakarta ? NO, i am not, detroit and nyc are more dangerous!

    Coba bandingkan living cost di Jakarta dengan Tokyo atau Singapore, siapa yang lebih konsumtif orang Indonesia atau Singapore ?

    Semua ini terjadi karena, pemerintah indonesia tidak mampu menghidupkan bisnis/ekonomi lokal maupun investasi asing, market lokal di eksploitasi asing, uang orang indonesia berputar disingapura, sehingga perputaran uang di indonesia sangat kecil, yang menyebabkan gaji orang indonesia kecil!

    akhirnya banyak orang stress….hehhehe

  • Ananda Putra

    @18, Budaya konsumtif di Indonesia = lebih besar pasak daraipada tiang. Komsumtifnya lebih tinggi daripada produktifnya.

  • torik

    delapan haran buat indonesia akan segera datang…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 650 pengikut lainnya.