Berikut ini adalah contoh tugas mahasiswa saya (nama tidak saya tampilkan – anonim). Perhatikan bagian yang saya beri tanda lingkaran dan warna kuning. Nampaknya yang bersangkutan masih sulit memahami penggunaan kata “di”.
Saya tampilkan gambar ini supaya mahasiswa mengerti. Sudah bolak balik dan sampai berbusa-busa saya jelaskan di depan kelas tentang hal ini, tetapi nampaknya masih belum dimengerti oleh mahasiswa. Satu gambar bernilai ribuan kata.
Bagaimana dengan Bahasa Indonesia Anda? Sudah baik dan benarkah penggunaan Bahasa Indonesia Anda?

he…he… iya dalam penulisan ilmiah penulisan di sering salah. kadang2 saya juga di protes dosen yang rajin dengan bahasa indonesia
Padahal itu pelajaran waktu sekolah dulu. Sudah lupa kali ya? Atau waktu pelajaran itu sedang membolos??
Sebagian kesalahan yang lain ada di sini:
http://pelangiku.wordpress.com/category/kata/
ini sengaja?
sudah benar atau masih salah??
sepertinya saya pribadi masih juga banyak salahnya pak…
tapi kalau boleh menambahkan (saya yakin diantara mahasiswa anda tidak ada), saya sendiri sering menemukan adanya kesalahan penggunaan tanda “-” yang diberi spasi pada kata-kata misalnya undang-undang, atau yang seperti diatas “berbusa-busa” yang ditulis jadi berbusa – busa…
di mana-mana memang begitu, ada yang di sengaja ada juga yang di sadari. penggunaan kata ‘di’ itu sebaiknya di sambung apabila di ikuti kata kerja dan di pisah apabila di ikuti oleh kata benda, bukankah begitu pak Budi ? , jangan lupa mampir di situ.com , disitu.com atau di situ.com ya ?
sabar pak dosen. mahasiwa itu emang bandel kali
Hidup bahasa Indosesia.
Sekualitas mahasiswa Pak BR saja susah memahami.
Apalagi yang lain…
Makanya saya milih jadi guru matematika saja,
lebih mudah dari pada guru bahasa.
Gimana kalau Pak BR terus ngajarin kita bahasa Indosesia yang baik dan benar melalui blog ini?
waduh… jangan buka blog saya kalo gitu **ngeri bayangin blog saya di coret-coret, trus ada nilai nol di atasnya**
Sepertinya ketikan itu bukan tulisan mahasiswa, tapi ketikan pegawai rental. Ya kadang penggunaan bahasa Indonesia tidak dipergunakan dengan baik oleh kita, bahkan kita merasa puas ketika bisa mengoperasikan ms word, tapi masih “lemah” dalam penulisannya.
hehehe…iya ya, sekarang kita bener-bener nyaris melupakan cara menulis bahasa Indonesia yang baik dan bener. Yang paling parah adalah penggunaan kata ’secara’ yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Parah deh…
Memangnya masih ada *aktif* yang menggunakan Bahasa Indonesia?
Secara gitu, lho… aturan-aturan baku Bahasa Indonesia itu kurang disosialisasi. Bisa jadi, nilai Bahasa Inggris lebih tinggi daripada nilai Bahasa Indonesia.
Gimana, dong?
walah…
gimana ituh pendidikan SD nya…
an idea from my weblog ya…
Mungkin bisa dibilang latah dan berkompensasi. Coba diperiksa, tanda serunya kadang berlebihan. Kalau weblog mau dibikin seperti skripsi, gimana ya? Capek deh……..
kalo saya sih masih bingung…
mana bhasa ind yang baik/yang salah….
Kata temen saya, bahasa itu bukan keahlian tapi bakat. Katanya sih begitu….
Saya sendiri yang kerjaannya tiap hari ketemu orang dan kadang ngajar juga masih susah buat kalimat yang baik dan benar. Ada resepnya?
itulah anak muda indonesia. pake bahasa sendiri nggak becus. pake bahasa inggris pun nggak oke. serba nanggung. padahal bahasa indonesia adalah bahasa daripada kita semua. apa jadinya kalo orang indonesia tidak bisa berbahasa dengan baik dan benar? bangsa indonesia bisa mangkin diremehkan oleh bangsa lain, apalagi bahasa daripada inggris kita juga nggak bagus bila dibandingkan dengan malaysia dan singapura. hihihi…
Bisa jadi yang ngetik itu pegawai Rental.
Disarankan kepada pemilik rental komputer dan pengetikan agar apabila menerima pegawai khususnya di bagian PENGETIKAN, syarat utamanya adalah nilai BAHASA INDONESIA-nya harus 8 (minimal).
Kebetulan saya dulu pernah jaga rental komputer, pas diintervew kebanyakan yang ditanya adalah
ke-tatabahasa-an. Dan satu lagi, Nilai bahasa Indonesia saya.
Salut buat Boss saya waktu itu.
ini baru masalah “di” yang disambung dan dipisah. belum lagi masalah penggunaan “di” yang seharusnya “pada”, “untuk”, dll.
kursus bahasa indonesia di mana ya?
ya di a juga sih nyang salah.
pan udah di kasih tahu dulu banget…
kalo bikin skripsi pake bahasa betawi boleh nggak ya…?
Mahasiswa mana tuh Pak
hoi,, hoi,, jadi malu,, saya juga merasa sering salah,,
semoga bahasa indo saya udah bagus walaupun kalo saya nulis di blog itu selalu menyimpang dari EYD. hihi.. minimal cara penulisannya ga fatal2 amat.
waduh jangan sampe berbusa, nanti kalo menggelepar bagaimana ? hehehe
EYD, barangkali, sudah menjadi “Ejaan Yang Dilupakan”.
kalau ngaca sendri.. kyanya msh jauh dr baik dan benar. baik mungkin iya. tp benar blm tentu. nah lho? :p
Wah … kalau cuman “di” di pisah atau disambung mah masih mending Pak (mungkin maksud Pak Budi, itu cuman sampel yah ?). Saya seringkali mendapati kalimat yg gak ada subyek, atau predikat seperti kita belajar di SD dulu. Jadi yg baca bingung maksudnya apa.
perlu panggil polisi EYD kali ya?
(1) Mungkin dia memang tidak tahu bedanya kata depan dan kata kerja pasif
(2) Mungkin saja itu kekhilafannya dia dalam memahami cara kerja wordprocessor. Harusnya jangan ‘justified-aligned’ atau dimatikan ‘auto-hypen’-nya.
poin(1) maknanya lebih berat, karena mustinya sudah paham sejak sekolah menengah. Poin(2) maknanya tak kalah berat karena ybs bersekolah di Teknik Elektro..hehehe yang notabene berurusan dengan yang seperti ini.
Memang memprihatinkan Mas Budi. Saya sendiri walaupun bukan bekerja di kampus tapi sangat care terhadap penulisan bahasa yang sesuai EYD. Yang lebih memprihatinkan lagi kebingungan menempatkan “di” sebagai kata depan atau awalan, juga terjadi di berbagai stasiun TV yg notabene sebagai sumber informasi masyarakat. Saya mencatat MetroTV yang berlabel newsTV sering membuat kesalahan serupa. Belum lagi kesalahan menampatkan huruf kapital, sangat sering terjadi. Saya salut Mas Budi mau membimbing mahasiswa untuk ha-hal demikian untuk kemajuan bahasa kita.
Soal pemakaian “di” di depan kata lainnya memang bukan hanya siswa bapak saja. Masih banyak yg begitu pak, padahal dari SD sudah diajarkan jika setelahnya ada kata kerja serta kata tunjuk (sana, situ, sini, mana) ya dirapatkan, namun kalo kata keterangan tempat, kata benda, dan kata ganti orang ya harus dipisahkan “di”-nya itu.
Banyak kok pak hal-hal kecil dalam bahasa Indonesia yang sering dilupakan. Misalnya lagi jika menyebut banyak lebih dari dua, untuk yang disebut ketiga atau yang terakhir, tidak memakai “dan” atau kalaupun pakai “dan”, tidak ada “, (koma)” sebelum kata “dan”.
Terlepas dari itu semua, saya yang juga mahasiswa Bapak sangat berterimakasih kepada Bapak yang benar-benar membimbing kami sampai ke hal-hal yang detail. Saya juga mungkin banyak bahasa yang kurang bagus hingga membingungkan bapak dalam membaca tugas saya. Mohon maaf sebesarnya Pak. saya memang punya kesulitan membahasakan atau menuangkan isi kepala yang apalagi bercampur dengan input pengetahuan dari banyak resources.
Saya rasa itu bukan kerjaan sendiri, karena masalah kata “di” seharusnya sudah terlatih sejak SD-SMA. Saya lebih curiga itu ketikan pegawai computer rental.
Wah bahaya pak, tu mahasiswa penyusup dari Negeri Tetangga , wong indonesia kok bahasa indonesia ga bisa !
^menyelidiki^
Kalo saya sih males pak ngomong berbusa-busa. Hihihi.
Biasanya saya tanya aja, ‘di’ yang akan dipakai bisa diganti ‘at, in, on, etc’ ga? Kalo bisa, pisah, kalo nggak ya, itu ‘di-’.
Dosen metodologi penelitian saya lebih kejam, kalau ketemu salah satu saja, langsung dia stop. Alamak, saya selalu kena salah di halaman pertama.
Hahaha… dan tahu nggak Pak, mahasiswaku itu ya seperti itu cara penulisannya. Sampai capek juga mengingatkan. Giliran dinilai, terus dapat B atau C matakuliah Bahasa Indonesianya, mereka malah protes. Ck ck ck… kok nggak melihat kapasitas ya?!
Mungkin para mahasiswa Bapak menganggap kesalahan seperti itu kecil? Padahal mungkin kesalahan seperti itu bisa fatal akibatnya. Bagaimana pun… sabar… sabarin menjadi dosen.
aneh ya…
seberapa banyak diantara kita yang jago berbahasa indonesia?
padahal kita belajar Bahasa Indonesia sejak kelas 1 SD.
setidaknya kita belajar bahasa Indonesia selama:
6 tahun di SD.
3 tahun di SMP
3 tahun di SMU/SMK.
dan untuk beberapa orang di perguruan tinggi pun masih belajar.
apa yang salah ini. pengajarkah? atau murid-murid yang terlalu dablek.
Pembedaan penggunaan kata ‘di’ paling gampang menurut fungsinya. Kalau ‘di’ sebagai penunjuk tempat itu dipisah. Contoh: di lubang, di meja, di lemari, di blog. Lainnya disambung. Gitu deh kayanya.
heheh… mungkin mahasiswanya udah lupa lagi sama bahasa Indonesia, Pak dosen heheheh… nggak mungkin banget khan ya…
Sebenarnya mudah untuk membedakan (di) sebagai imbuhan dan kata depan. di- yang harus digabungkan penulisannya adalah di- yang memiliki bentuk me- contoh memukul-dipukul, membuang-dibuang, menulis-ditulis, mempertanggungjawabkan-dipertanggungjawabkan dll…
Sementra itu, di yang harus dipisahkan penulisannya adalah di yang merupakan kata depan dan tidak memiliki bentuk me, contoh di Jakarta-menjakarta*, di Amerika-mengamerika*, di ruangan-meruangan*…
Nah itu cara termudah mengajarkan di kepada mahasiswa… Hidup bahasa Indonesia.
mungkin SBY yang dinobatkan sebagai “terbaik berbahasa Indonesia” bisa meneranginya..???..
saya memang bukan mahasiswa, tetapi dari berbagai pengalaman saya, bahasa indonesia itu tidak boleh terlalu digampangkan. dan masalah diatas. mungkin dikarenakan kata -di yang terlalu banyak terpakai.
Saya sendiri sudah banyak lupa aturan penulisan EYD. Wah, polisi EYD harus lebih sering berpatroli nih
wah, tugasku kok dipublish sih Pak.. jadi maluu.. :redface:
*blajar bahasa Indonesia*
Mnurut saya, penulisan menggunakan ragam dan tata bahasa indonesia yang baik dan benar, yang nantinya akan diaplikasikan ketika menulis makalah, skripsi, jurnal, tesis, disertasi, dll di lingkungan akademik. Maka dari itu, saya (mahasiswa) memerlukan standar tersebut dalam menulis. Klo pun ada yg ber”masalah” dengan bahasa indonesianya dalam penulisan, mungkin kurang melihat esensi dan etika dalam penulisannya di
papermakalah.Klo nulis2 blog mending standar/mahzab nya liberal alias bebas. but, bebas jg asal dipertanggungjawabkan…hehehe…
harusnya digabung tuh…. saya aja yang gk ahli bahasa aja tau
Kadangkala, logika yang terlalu mapan menyebabkan banyak orang melupakan beberapa manner yang kelewat standar…
Bahasa Indonesia saya sendiri memburuk.
Masalahnya pak, mau diajari bahasa Indonesia dari TK, SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 dsb, nggak akan jadi kalo nggak dibiasakan nulis dari kecil. Lha wong porsi pelajaran mengarang kita aja sedikit sekali dibandingkan belajar grammar nya. Mungkin kalau belajar bahasa Indonesia nya disuruh mengarang terus2an, mudah2an tulisannya bisa jadi lebih baik.
Pada gambar, baris ke-3, “di lakukan” tidak dilingkari dan dicoret kuning, Pak?
Saya waktu SD aja udah ngerti kok. Bukannya udah diajarin dari kelas 1 SD ya?
terkadang yang susah tuh menempatkan bahasa pada tempatnya. nggak jarang klo ngomong pake campur2 bahasa. tapi kalo pake bahasa indonesia eyd, takut nggak banyak orang ngerti lagi…???
hehehehehehehe….
padahal gampang aja… kalau bisa menjawab pertanyaan dimana? berarti nulisnya dipisah, begitu sebaliknya…
dimana? di selokan
dimana? dibeli => bukan di beli
@prabujayadiningrat:
dimana ato di mana?
yang benar adalah DI MANA karena tidak ada bentuk kata MEMANA*. DI MANA menujukkan posisi jadi harus dipisahkan.
Susah juga ya kalo mo berbahasa Indo yg baik & benar? Apalagi sekarang ada kependekan2 khusus untuk sms maksudnya biar ngirit gitu…, tambah amburadul deh nilai bahasa Indo anak zaman sekarang.
Berusaha untuk berbahasa dengan baik-dengan bermain nalar di tiap kata. Namun masih suka keliru.
benar.
banyak yg sudah tidak memakai bahsa Indo lg dengan baik dan bnar.
tpi mau bagaimana lagi??
manusia yang mengakui bahsa manusia pula yang mrusak bhasa tersebut.
kenapa sulit berbahasa Indonesia yang baik dn benar?
padahal kita sendiri orang Indonesia.
syukurnya ada kebijakan pemerintah untuk tidak menghapus pelajaran bahasa Indonesia.