Menulis Referensi Yang Salah
19 Februari 2008 oleh Budi Rahardjo
Ditulis dalam Curhat, Menulis, Pendidikan, kuliah | Bertanda karya ilmiah, Menulis, tugas mahasiswa | & Komentar
46 Tanggapan
Tinggalkan Balasan
-
Statistik
- 1,938,303 hits
-
Komentar terbaru
kategori
Blogroll
-
Top Clicks
-
Top Posts
- Dari Friendster (FS) ke Facebook (FB)
- Aku Tak Pandai Menulis
- Download YouTube dan Konverter FLV
- Backup Mac: Time Machine atau yang lain?
- Kesulitan dengan Notebook Acer
- Masjid dan Ikan Asin
- Konversi Bilangan: Biner, Desimal, Heksadesimal
- Bisnis Teknologi Informasi dan Komunikasi
- Upload-upload Foto
- Kesulitan Outsourcing di Indonesia
Meta
Pagerank

mungkin waktu masih S1, nggak masuk kuliah waktu diajarin nulis ibid, op. cit., dan loc. cit.
heheh karena cara membuat referensi ini gak mengacu ke sistem yang baku, misal model harvard atau Chicago…dan..yang kelihatan “tolol” adalah ..lha kok tahun di belakang tho?? Ini mah keterlaluan pak…jaman internet gioni kok nulis referensi aja masih salah…ngaku2 S2 pula dan ITB pula..bikin malu almamaternya aja.
@atas
IMO, ga ada yang salah dengan menuliskan tahun di belakang.
IMHO, kesalahan yang paling fatal dari referensi yang ditulis di satu halaman khusus (biasanya di akhir makalah) seperti contoh di atas adalah untuk satu referensi yang sama cukup menggunakan indeks referensi yang sama.
Untuk kasus di atas, kutipan-kutipan di dalam isi makalah yang menggunakan angka “[2]“, “[3]“, dan “[4]” seharusnya diganti menggunakan “[1]“. Begitu juga dengan referensi “[5]“, “[6]“, dan “[7]” yang seharusnya menggunakan angka yang sama (misalnya dalam hal ini [2]).
CMIIW.
Telapak Tangan? Otomatis! Diganti “refleks” kali ye?
Horeeeeeee saya betul ‘kan Pak?!
Eh satu lagi… habis [nomor] memang harus pakai titik?
wah pak, saya aja ngeliat nya udah males
bleh tau nggak pak, kira2 bapak kasih nilai berapa itu
di ITB kan ada pelajaran bahasa indonesia yg dikelola biro perkuliahan umum yang saya tau biasanya tugas akhir jaman dulu (25-30 th lalu…. he he tua juga ya) harus diperiksa oleh bpu tersebut, yaitu untuk mengoreksi yang begitu itu……. apa sekarang sudah tidak ada mas.
Kecerdasan seseorang bisa dilihat dari “tulisannya”, jadi kecerdasan menulispun harus termasuk di dalam kecerdasannya. Ah itu hanya kata orang lain…
Kalau liat TA atau tesis kayak gini biasanya saya langsung mules Pak …
Lepas ada/tidaknya pelajaran tulis/menulis (biasanya pasti ada di tingkat I) atau kalaupun toh lupa, apa susahnya sih ngeliat pola penulisan referensi yg ada di paper/makalah yg standar di bidang yg relevan (karena biasanya ada sedikit perbedaan untuk bidang ilmu yg berbeda).
Wah jadi kuliah nih, have a nice day aja Pak Budi, mudah2an nggak mules lagi …
Pertama, liat dulu pak, tempat Bapak mengajar pake format penulisan referensi APA, MLA, atau yang mana.
Dari tahunnya, sepertinya sang mahasiswa ingin memakai format MLA, yang umumnya dipakai bidang humaniora dan bukan bidang sains, tapi sudahlah.
Nama pengarang di no[1] maupun no [5] masih salah, dan tambahan [1], [2], dst di depan tiap entry seharusnya mencantumkan halaman, supaya bisa di-retrieve. Tujuan penulisan referensi kan supaya orang bisa me-retrieve kembali sumber penulisannya.
Ngomong-ngomong, pak, ini salah loh:
Hayo … salahnya dimana?
ngomong2, yg ini juga salah loh:
“Pertama, liat dulu pak,”
“Ngomong-ngomong, pak, ini salah loh:”
Yang namanya Referensi itu sama artinya dengan Daftar Pustaka ga pak? Kalau sama, salahnya di idem. Daftar Pustaka/Referensi itu hanya mencantumkan satu kali saja. Tidak peduli dipakai berkali-kali bahkan bila 90% dikutip hanya satu kali saja dicantumkan di Referensi.
Bedanya dengan footnote/endnote pakai yang namanya ibid., op.cit., dan sebagainya.
Semoga betul. Lumayan buat nambah nilai.
Pelajaran menulis referensi yang benar itu ada di kuliah apa ya harusnya? ‘Bahasa Indonesia’ di kuliah PT? atau di SMA? atau dimana?
Oya Saya kok juga tertarik baca komentar tulisan tangannya. Itu bacanya “Bunuh!!” atau “Buruh!!” atau apa ya…
hehehe…. Kalau bener bunuh, kok saya juga ikutan nangis, soalnya rasa kurang etis ya.. apalagi untuk lingkungan akademik.
@max:
Tulisan tangan itu dibaca: “Buruk!!”
*Bener ga ya, Pak Budi?*
Em, yah gimana ya? Yah, mungkin penulisnya belum tahu cara menulis yang benar. Mungkin juga sudah tahu, tapi malas. Mungkin juga sudah tahu, tidak malas, tapi iseng
Diberi contoh yang baik aja deh, Pak.
Ituuh.. yang nulis itu
Jelas nangis Pak… Asli nangis uhuk2…. tuh nangis kan.
Buruk.
kalo menurut bapak tulisan itu salah, bagaimana dengan dosennya, malah salah 2X dong. Saya lebih tertarik dengan tulisan tangannya. Pak, kalo boleh tau, yang nulis tulisan tangan itu siapa? mahasiswanya atau dosennya. sayang hanya satu kata. Kalo satu paragraf mungkin bisa di Grapho-Therapy he…he…
Kalau ‘Buruk!!’ saya rasa komentarnya jadi kurang benar. Karena yang saya lihat aturan penulisan pustakanya bukan ‘buruk’ tapi ’salah’. Iya gak sih?
Atau itu ‘Bumh!!’ .. yang kira-kira menggambarkan expresi ’sebel’ atau semacam ‘gotcha’ gitu ….hehee..
Hem.. iya.. ya max..
Kalo buruk.. bisa jadi berarti.. ga salah.. cuma buruk penyajiannya.
Beda dengan.. salah.. dunk
Hayoo, Pak Budi, gimana itu??
itu kan bahasa dot go dot id…… mohon pembenaran dong
Mau ikutan kuis Pak Budi.
1. Kalau ini catatan kaki, harusnya ada garis sepanjang 14 karakter sebelum bikin catatan kaki.
2. Harusnya ibid., bukan idem.
3. Nda perlu ada kurung kotak.
4. Nda lengkap. Nda bisa ditelusuri sumber referensinya. Minimal ada nama pengarang, nama buku, penerbit, dan tahun terbit.
5.Kalau ini daftar pustaka, harusnya nama dibalik dengan dipisah koma. Harusnya Hadian, Dadi. Bukan Dadi Hadian.
6. Referensi terlalu sedikit. Itu mah sama aja nyalin/nyontek!
Ayo bunuh, Pak… Bunuhhhh…! Saya aja yang belum tamat S1 ngeh kok di mana kesalahan terdakwa. HEuahueahu
yang buruknya ini, dia menuliskan idem “terlalu banyak” atau..itu merupakan bagian dari self censored dari Pa Budi sendiri? hmm mungkin disaat mata kuliah Metodologi Penelitian dia sedang izin, jadinya salah copy paste dari yang sudah ada..kyk di jurnal-jurnal internet.
Jadi klo referensi yg benernya gmn donk pak?????
ajarin donk?????
hehehehe…………..
IDEM melulu nkali
itu ref [1] nama pengarangnya kosong ya? krn gak tau? ato rahasia sih? hehe klo ini kerjaan mhs s2.. waktu s1 TA-nya kok bisa lolos?!?
@atas..
pas S1 TA-nya ga disidang sama Pak BR, hehehehe…
Coba disidang sama Pak BR, dah bubar jalan harusnya..
@zaki: ok, thanks
Salahnya gak pake BibTeX sih.
disclaimer: posting komentar di atas gak pake bhs indonesia lo.
ah…saya lupa…
*skripsi udah lewat 2 taun yang lalu*
terus terang pak, saya juga bingung, karena beberapa dosen juga menggunakan sistem yang berbeda dalam penulisan, satu dosen ngomong ini benar, tap bagi dosen lain ngomong ini bukan ejaan baru.
Kalo bapak sendiri pake referensi apa yah pak?
[...] Menulis Referensi yang benar? Posted on February 20, 2008 by sumodirjo Pak budi mencatumkan tugas mahasiswa beliau yang konon penulisan referensinya salah. yang bener gimana [...]
diblog saja semua kesalahan tulis seperti itu pak. banyak hal seperti itu yang sampe sekarang banyak yang belum ngeh, termasuk saya
diblog saja semua kesalahan tulis seperti itu pak. banyak hal seperti itu yang sampe sekarang banyak yang belum ngeh, termasuk saya
heran, nulis aja belum bener kok bisa lulus masuk S2 yah…???
lebih parah lagi, kok bisa lulus S1 yah…???
hehehehehehehehe….
Numpang komentar…
Setuju dengan #28,
sepertinya kuliah penulisan makalah di ITB (Tata Tulis Karya Ilmiah dan Komposisi) sudah harus menerapkan penggunaan LaTeX dan BibTeX.
Sebagai mahasiswa, saya mengalami kesulitan memahami aturan penulisan referensi yang berbeda-beda dari setiap dosen bahasa Indonesia. Mungkin itu pula yang menyebabkan masih banyak mahasiswa yang salah dalam penulisannya. Tapi urusan itu gak jadi masalah lagi begitu pake BibTeX karena bisa pilih “style” sesuka kita, yang tentunya sesuai dengan aturan baku internasional.
Ngomong2, memang konyol juga melihat kerjaan mahasiswa S2 bisa seperti itu
kenapa hanya bisa menegur dan tidak memperbaikinya (minimal di blog ini) siapa tau yang anda tahu jg SALAH!!! ya kan pak
[...] 21, 2008 oleh dekisugi Membaca posting tentang cara penulisan referensi yg salah, saya jadi miris. Bukan krn contoh yg diperlihatkan, tp dari komentar2 yg arogan dan juga dari [...]
Tulisan ‘dokter’ bapak ini tadinya saya baca: Bunuh!

Untung pembimbing tesis saya bukan pak BR… qiqiqiqs… *kaboorr*
haaah s2.. gak salah tuh. hanya kejaar status aja tuh orang..
Aaaw, come on! Have a mercy!
Kan udah bayar mahal Pak…
Mungkin mereka kepikiran duit jadi ndak isa konsen…
Lalu yang benarnya seperti apa pak ??? supaya jadi pembelajaran bagi saya
Saya menunggu-nunggu agar ada yang memberikan referensi, ternyata nggak ada ya. Saya agak kecewa juga. Ya sudahlah.
Google is your friend.
Ada beberapa style penulisan referensi. Salah satunya, misalnya, yang ini:
http://www.ece.uiuc.edu/pubs/ref_guides/ieee.html
Tentunya itu bukan satu-satunya style yang bisa digunakan. Masih ada style yang lain. Yang lebih penting adalah konsisten.
Semoga bermanfaat.
Saya mau tanya apakah ada aturan untuk tidak boleh menggunakan referensi yang out-of-date(referensi yang terbitannya lebih dari 5 th yg lalu) misal, saya sedang menulis skripsi di tahun 2008 ini dan menggunakan referensi tahun 1999 , padahal referensi itu bagus misal buku Refactoring: Improving The Desing Of Existing Code, karangan Martin Fowler. ?
Mohon bantuannya
–eriq
Mhs Elektro Unibraw
Tidak ada batasan mengenai tanggal dari referensi. Saya pernah menuliskan referensi yang dikeluarkan tahun 1970
masa seh ini mahasiswa s2 , pak idem nya itu dari sana ya…
masa seh… gile abis…
Mahasiswa S2 ITB???
yaah sekarang masuk ITB cuman butuh duit kali yee??
ga butuh otak!!
atoo dosennya yang ga layak jadi dosen?
Human are helping others bro. elo kali bukan manusia biasa bro. tapi masih mencoba jadi manusia kali yeee???