Aku Tak Tahu Namamu (7)

Daftar isi: Aku Tak Tahu Namamu (1), (2), (3), the story behind, (4), (5), (6), (7).

Sore itu, tepat waktu, Deden menjemput Andro dengan mobilnya. Mereka menuju sebuah kafe yang kalau dilihat dari namanya menyajikan masakan Italian. Andro tidak begitu mempedulikan alamatnya karena toh Deden yang mengemudikan mobil. Dia asyik mencari CD dan memainkan stereo di mobil Deden.

Handphone Deden berdering. Ternyata dari Lila. Dia mengatakan bahwa dia sudah ada di kafe dan menanyakan posisi Deden. Deden menjawab sudah dekat karena memang mereka sudah hampir memasuki pelataran parkir kafe tersebut.

Memasuki kafe duluan, Andro melihat seorang perempuan yang duduk menghadap ke pintu masuk melambaikan tangan. Ah, itu Lila. Andro mengenali dia dengan cepat. Bergegas Andro dan Deden menuju meja tersebut.

Apa kabar nDro?
Baik. Gimana kabarnya?
Baik. Den apa kabarnya?
Baik …
[lah kok jadi formal begini? padahal sebenarnya tidak]

Mereka kemudian duduk. Lila masih menghadap ke pintu masuk, Andro duduk di depannya, dan Deden duduk di sebelah Andro.

Gimana kabar keluarga Lila?
Papa baru meninggal dan mama sekarang sedang sakit.
Oh maaf. (Andro terkejut dengan jawaban itu dan membuat situasi menjadi kaku.)
Gak papa kok. Mama sekarang di Singapur. Aku sekarang ke sini mau ngurusin urusan keluarga. …

Lila sedang bercerita ketika Andro menangkap sekelebatan bayangan menuju kamar kecil. Lah, bukankah itu si gadis halte? Andro tidak terlalu yakin karena dia hanya melihat sekelebat dan kemudian hanya terlihat punggungnya saja. Andro tidak begitu mendengarkan apa yang diceritakan Lila. Pikirannya masih terganggu oleh keberadaan gadis itu. Sambil mendengarkan Lila, sesekali dia memperhatikan pintu masuk kamar kecil. Berharap.

Muncul seorang gadis berpakaian putih dan rok krem. Hah! Benar dia. Sudah kuduga.

Sang gadis merasa ada yang memandanginya, kemudian melihat ke Andro. Dia juga terkejut. Kemudian ada senyum kecil. (Sementara Andro masih melongo. Hoi! Andro, tutup mulut itu. Lalat bisa masuk!) Dia mendekat ke meja Andro.

Apa kabar Andro? (sambil mengulurkan tangan)

Andro berdiri dan cepat-cepat mengulurkan tangan. Lila dan Deden melihat ke mereka.

Baik, jawab Andro.

Sang gadis tersenyum dan kemudian menjulurkan tangannya juga ke Lila untuk memperkenalkan diri.

Oh… (Andro tersadar)
Ini …

Sengaja Andro membiarkan kalimatnya kosong tidak selesai, berharap si gadis terpeleset dan menyebutkan namanya. Sang gadis tersenyum kecil dan menyabut dengan cepat;

Saya temannya Andro.

Ada senyum kecil di bibirnya yang mungil. Sialan! dalam hati Andro mengumpat. Pinter juga dia.

Lila. (kata Lila)
Deden. (kata Deden)
Umm… silahkan dilanjutkan. Saya mau kembali ke tempat saya, kata sang gadis.

Sambil menatap Andro dengan senyum penuh kemenangan, sang gadis kembali ke tempat duduknya. Di sana menanti seorang pria tampan yang membuat hati Andro panas. Lho kok panas? Mengapa aku ini, dalam hati Andro berkata.

Andro duduk kembali, sementara Lila melanjutkan ceritanya. Andro menatap Lila tetapi sebenarnya perhatiannya tidak ada di sana.

Mikirin cewek itu ya, Lila tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.

Andro gelagepan. Lho kok tahu? Ya jelas tahu lah. Ketika Lila selesai berbicara, Andro masih menatap Lila dengan pandangan yang tidak berubah. Ha ha ha. Ya ketahuanlah.

Udah, kamu duduk di sini, biar bisa lihat dia dan cowoknya.

Lila menunjuk tempat duduk di sampingnya. Andro menurut dan pindah ke sana. Sebetulnya dia agak malu karena ketahuan, tetapi rasa ingin tahunya lebih besar. Jadi dia pindah ke samping Lila.

Siapa sih dia?
Aku nggak tahu namanya, jawab Andro.
Hah? Lila dan Deden terbelalak.

Deden kemudian secara demonstratif memutar badan untuk melihat gadis yang diceritakan oleh Andro. Kemudian Andro menceritakan perjumpaannya dengan gadis itu. Lila (dan Deden) mendengarkan dengan seksama dan terkadang senyum-senyum.

Aku tanyain namanya ya?

Lila mengganggu Andro sambil pura-pura mau berdiri. Jangan! Andro cepat-cepat memegang tangan Lila. Serrr… Lila merasakan perasan lain. Dia duduk kembali dan tanpa sadar tangannya juga menggenggam tangan Andro, yang matanya masih memperhatikan gadis itu. Deden tersenyum kecut melihat kejadian ini. Ah …

Entah karena merasa bahwa dia diperhatikan, atau sekedar kebetulan, sang gadis menoleh ke arah meja mereka. Dilihatnya Andro sedang pegang-pengangan tangan dengan Lila. Lila tersenyum. Sang gadis, tepaksa membalas senyumnya – meski tanda kemenangan tidak ada lagi di sana. Andro masih belum memahami apa yang terjadi. Deden mulai merasa sesak di dadanya.

[kok jadi kompleks begini???]

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

23 responses to “Aku Tak Tahu Namamu (7)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.902 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: