Ini sebuah kejadian beneran di sebuah perguruan tinggi di Indonesia (tidak perlu saya sebutkan namanya kan? dan beberapa hal memang tidak saya tuliskan faktanya seperti sesungguhnya karena nanti terlalu mudah ditrace dan bikin susah yang bersangkutan). Syahdan ada seorang dosen peneliti yang kebetulan rajin menulis makalah. Dia menulis makalah hasil penelitian dengan sungguh-sungguh. Tempat dia mengirimkan makalah juga bukan main-main, IEEE beneran.
Hasilnya? Banyak sekali makalah dia. Kalau dosen biasa mungkin menghasilkan tiga (3) makalah dalam satu (1) tahun, dia mungkin bisa menghasilkan tiga (3) makalah dalam satu bulan. Luar biasa. Saya heran bercampur kagum. Angkat topi. Salut. Dia harus diberi penghargaan.
Tadinya saya berpikiran orang memiliki pemikiran seperti saya; heran dan kagum (dalam artian positif). Ternyata ketika dia berurusan dengan bagian administrasi ini menjadi masalah: Dia terlalu banyak menulis makalah! Urusan administrasi dia menjadi terhambat. (Orang tidak percaya bahwa dia bisa produktif menulis makalah! Ini terkait tulisan saya sebelumnya, tentang orang Indonesia tidak boleh menjadi hebat.)
Ha ha ha. Saya tertawa! Tapi kemudian saya terdiam! Ada yang salah di sini. Hmm… Bukankah kalau dia banyak menulis makalah itu baik bagi institusi yang terkait (dalam hal ini perguruan tinggi dimana dia berada)? Bukankah seharusnya yang masalah adalah dosen yang sedikit menulis makalah (seperti saya)? Apa kesalahan yang bersangkutan? Bukankah seharusnya dia malah diberi reward karena banyak menulis makalah (di journal-journal yang keren lagi)? Kok jadi kebalik-balik begini?
Apa ada kemungkinan dosen lain yang merasa dia menjadi terlihat buruk (tidak produktif) dibandingkan dengan kawan ini? Saya sih tidak. Justru dia ini bisa menjadi tolok ukur bagi dosen-dosen lainnya. Atau malah ini nanti bisa jadi susah (tolok ukurnya ketinggian)? Atau bagaimana? Saya tidak tahu jawabannya. Hanya saja saya merasa sedih melihat hal ini. Ada yang salah dengan semuanya ini. Sesuatu yang seharusnya di-reward malah diberi hukuman. Mudah-mudahan kejadian ini tidak membuat dia menjadi jera untuk menuliskan makalah (dalam jumlah yang banyak). Atau … malah hengkang ke luar negeri? Aduh, jangan!
Ada kawan yang nyeletuk, ini Endonesha bung!
[note: this situation rings a bell to me. ha ha ha ... correction ... hik hik hik]
ADa blognya gak pak si dosen itu
hmm… gak tahu ya apa dia punya blog atau nggak. Ada kemungkinan tidak. (Jadi pikiran juga. Nanti saya tanya ke ybs. tapi untuk konsumsi saya aja. he he he.)
Kalau pun punya, gak bakalan saya kasih tahu karena bisa bikin masalah (dengan urusan administrasi dia di institusinya – bisa-bisa pangkatnya gak naik-naik).
Mungkin maksudnya bagian administrasi, agar dosen ybs juga rajin ngeblog seperti bapak. Biar ada penyeimbangan
@aris, jangan dong. Lebih baik dia meneliti dan membuat makalah. Masing-masing orang kan punya passion sendiri-sendiri.
Sepertinya seru juga itu ya, baca curhatnya para periset ini, suka dukanya dalam riset, jarang juga baca curhatnya ilmuwan indonesia di Indonesia. Ternyata nantinya banyak dukanya, kek diatas itu. hahaha
Hwuaaa… nemu blog dosen ITB!! Saya jadi bangga… Hahaha… Kapan kita kopdar di (mantan) kampus, pak dosen? Salam kenal!
Menarik, makanya saya paling rajin nengok blog-blog nya para pakar bergelar PhD seperti Pak BR ini. Kesehariannya seperti apa sih? Yang dikerjakan apa aja? Dan kalau nulis, apa aja sih yg ditulis … sepertinya enjoy bener ya. Menikmati hidup banget … mau donk … he he he …
@donald, wooo… itu belum seberapa. ada banyak lagi yang lebih “lucu” yang bisa bikin nangis. misalnya, dana penelitian belum turun tapi sudah ditagih laporannya. hayo … sulap macam apa ini? hik hik hik.
@ratie, sok lah. kapan? he he he …
@harjo, keseharian saya? seperti yang saya tulis di blog ini. hi hi hi. (dan ini bisa diverifikasi oleh banyak orang di sekitar saya, yang kebetulan blogger juga. hi hi hi.)
iya … kita nikmati hidup dengan berbagai variasi atau dimensi.
terlalu sering bikin posting juga salah gak ya? hueheuehee ..
@ndoro kakung, ternyata … salah juga
aneh …
Wah salut utk beliau,produktif sekali tiap bln buat jurnal,thumbs up!
(
Andai2 beliau daftar jd dosen teladan,jangan2 ga bkl diterima,high profile bgt,susah yg lain ngejarnya,hehe…
Ah Endonesah
Wah, hebat tuh pak Yah. Ada ndak blog dosen tersebut !
Itu namanya dosen produktif karena mau menulis. Rata-rata orang Indonesia itu, lebih banyak omongnya daripada menulis buku, jurnal dan semacamnya.
Ada profesor saya, hanya menulis 1 buku ( Kok bisa jadi profesor yah) ?
Kata kawan saya :
” Ini Indonesia Bung !!!!!!!”
wah, hebat bgt ya dosen itu………emang harusnya kaya gitu, produktif bikin makalah, meneliti………..karena dengan begitu ilmu pengetahuan berkembang, dan sangat disayangkan, seharusnya ada reward bagi setiap orang yang berprestasi,………….eh, maap pa, sebelumnya salam kenal, saya sam………punten pa……..hehe
wuih satu bulan tiga makalah, keren tuh pa, ko saya malah ketemu seorang dosen yang menulis satu makalah dan dikirim kemana-mana dengan bungkus yang berbeda tapi isinya itu-itu juga
Wah sedih saya dengernya Pak. Padahal saya mengharapkan dosen2 ITB itu semuanya rajin2 menulis paper. Spt dulu pernah ada yg bilang ITB only exists in Indonesia. Saya salut deh sama dosen itu (jadi pengen tahu siapa ya, biar saya search di ISI Web of Knowledge). Mungkin buat si dosen itu list of publications is more important than his/her position, jadi ya ngapain bersusah payah dgn administrasi. Harusnya yg kayak gituan tuh udah otomatis ya, artinya kenaikan entah itu pangkat atau gaji itu otomatis berbanding lurus dgn jumlah publikasi dan gak perlu ada request dr ybs.
bukan pak terry mart kan pak? ini mah saya baca di tempo, jd ga usah di-anonymous-kan
sempet denger orang2 d kantor jg kalo ada temen yg lebih senior dan udah byk publikasi termasuk d jurnal internasional tp ga bisa ngurus fungsionalnya. emang sih kemarin dia belum diklat fungsional, tp kalo dipikir2 lucu juga. masa dia diklat bareng saya, belajar bikin proposal, bikin presentasi, bikin abstrak bhs inggris (abstrak-nya aja, paper-nya bahasa indonesia).
Satu bulan tiga paper buat IEEE? Wah, ini Superman dari mana?
Bidangnya apa? Hasil inovasinya apa aja?
Nggak usah disuruh nulis blog deh. Konon blog adalah tempat orang yang nggak bisa nulis paper :p. Kayak saya: cuman disuruh review paper aja nggak selesai2.
O Walah, dah ada bocoran nama “Dosen” nya, hahaha. Ingat filmnya beautiful mind.
@ Mas Koen. Ha3, kalau reviewernya mas Koen, sepertinya makalah pak Dosen ini bakal lolos terus, reviewernya kelabakan dibanjiri paper
@rani
Bukan deh, ini bukan pak Terry kayaknya. Pak terry tuh kalo publishnya di Jurnal2 Nuclear Physics bukan IEEE. Tapi kasusnya sepertinya sama dengan yang dibahas disini. Dari ukuran paper, pak Terry termasuk salah satu fisikawan yang produktif di Indonesia. tapi ya itu, beliau mendapat kesulitan ketika mau jadi profesor (entah kenapa, saya gak gitu ngerti masalahnya). Waktu itu saya pernah liat kartu ucapan Tahun Baru (atau apa ya saya lupa) dari kolaborator risetnya di Jerman. Di kartu itu tertulis:
“Dear Prof. Terry Mart” (semacam itulah dalam bahasa jerman)
Yah seperti kata kawannya Oom BR, ini Endonesha bung!
info bisnis uang gratis …ada yang pnya makalah tentang small bisnis ndakya atau cara cari duit gratis yang baru… tolong dipos diwww.hnservis.blogspot.com
bukan, itu bukan pak terry. tapi kasusnya *mirip banget* he he he. salah … harusnya bukan he he he tapi hik hik hik. pak terry kan sudah dulu, yang ini sekarang. artinya, tidak ada perubahan ya? sedih nggak?
Setahu saya Pak Terry Mart itu dari Fisika UI ya? Ah … jadi inget jaman baheula waktu masih ikutan (pasif) ISNET. Bisa nge-mail, ikut mailing list aja sudah seneng. Web kayaknya belum ada ya (?) apalagi blog …
kayaknya saya kenal tuh dosen yg suka nulis di IEEE..
kadang di tempat kita ini memang orang dianggap bekerja kalau kerjaan itu “kelihatan”. kalau kerja otak yang seringkali lebih sulit dianggap remeh.
tepuk tangan buat dosen tsb.. saya mah satu artikel setahun aja deh
Tepuk tangan juga buat yang diatas (nomer 26).. saya mah satu artikel juga gak jadi2 (ha3x kebayang aja nggak mau bikin artikel apa)
saya sepertinya tahu ‘bapak dosen’ yang Pak Budi maksudkan. Beliau memang mendapatkan masalah ‘terlalu banyak menulis’ sewaktu mengajukan diri sebagai guru besar. Sedikit koreksi Pak, sebenarnya sebagai first author, beliau hanya punya sekitar 4 jurnal setahun, dan tahun ini atau kemarin hanya 1 jurnal di IEEE letter. Sebagian besar beliau hanya sebagai second author. Tahun 2007 saya menyumbang 1 jurnal internasional dan 4 paper di konferensi internasional dan nasional dengan beliau sebagai 2nd author. Jadi beliau mengimplementasikan MLM dengan cara mendorong mahasiswanya menulis di jurnal internasional kalau memungkinkan dan tentunya beliau berada di 2nd author karena sebagai pembimbing. Yah memang agak aneh institusi pendidikan dimana bapak itu berada.
Wah, akhirnya saya tahu siapa bapak dosen itu… Jika ada dosen muda berhasil jadi profesor, bukankah bisa jadi contoh dan lecutan utk dosen yg lain2, ya? Kok malah dihambat begitu? Gak ngerti saya…