Mengapa orang senang membuat hal menjadi kompleks ya? Lihatlah beberapa thread dari komentar atas tulisan saya. hi hi hi.
Entah karena latar belakang saya yang engineering atau karena apa, saya justru senang membuat semuanya menjadi sederhana. Make things simpler. Dalam mengajar, itu juga cara saya mengajar. Dalam memberikan presentasi, saya juga mengikuti cara zen-nya Steve Jobs. (Lihat materi presentasi saya akhir-akhir ini yang bisa Anda download dari situs web saya.)
Latar belakang ilmu saya adalah IC (integrated circuit) design & verification. (Desertasi PhD saya adalah tentang verification of asynchronous circuits.) Di sana saya harus memeriksa transistor dalam jumlah ratusan, ribuan, dan bahkan jutaan (meski saya belum pernah sampai yang jutaan). Kalau semuanya dijadikan satu, tanpa ada partisi – divide and conqueror, maka kita tidak bisa menyelesaikan masalah atau mencari sumber kesalahan. Dengan kata lain, sistem harus disederhanakan.
Demikian pula ketika saya menganalisa protokol, maka menyederhanakan masalah menjadi sebuah keharusan. Kita bisa membuat model menjadi lebih akurat, tetapi akan menjadi lebih sulit untuk diverifikasi yang pada akhirnya kita tidak dapat mengambil kesimpulan (apakah protokol ini sudah benar atau tidak). Tentu ada kalanya kita harus membuat model yang lebih kompleks, tetapi ada batasan hal yang bisa kita cek (reason about) karena state space-nya menjadi mbludak besarnya.
Salah satu pengarang yang saya sukai adalah Simon Singh. Dia bisa menceritakan masalah matematika yang kompleks menjadi lebih sederhana. Tentu saja yang dia ceritakan adalah hal yang prinsipnya atau filosofi di belakangnya. Kalau sudah berhadapan dengan rumus sebenarnya, tentu saja mungkin masih bikin kita mencret. Buku pak Simon tentang kode, Fermat’s last theorem, dan big bang (yang ini belum selesai saya baca) sangat menarik untuk dibaca.
Sampai sekarang saya masih belum bisa memahami Maxwell equation atau persamaan Schrodinger. Keduanya masih membuat saya mual. He he he. Untung saja saya lulus (dengan nilai pas-pasan) untuk teori medan dan kuliah yang terkait dengan material semikonduktor. Nampaknya masih dibutuhkan orang-orang yang bisa menyederhanakan persamaan ini. Feynman mungkin?
Entah kenapa, saya juga melihat orang yang bekerja di Schlumberger memiliki kultur yang mampu menyederhanakan masalah. Bagus ini. Tapi ini hanya pandangan sekilas saja. (Saya tahu bahwa kerjaan di sana sebenarnya tidak mudah, kompleks.)
Dalam kehidupan sehari-hari pun sebagian besar orang berpikiran terlalu jauh, menduga-duga yang nggak-nggak. Padahal semuanya bisa disederhanakan.
namanya juga “pakar”, pak.. Apa-apa dibikin sukar… hihihihi
Make everything as simple as possible, but not simpler.
- Albert Einstein
Bukannya Maxwell sama Schrodinger equation itu sudah simpel ya Oom BR? Setau saya kedua persamaan tersebut merupakan persamaan sakti di elektromagnetik dan mekanika kuantum (nonrelativistik tentunya). Nah buat solve-nya untuk sistem tertentu (biasanya real system) yang emang ampun2an susahnya….
*sotoy_mode:on*
@bertoez … memang rumusnya sangat sederhana! hanya saya tidak bisa memahaminya. maksudnya, dulu kalau disuruh pakai rumus itu, bisa, tapi tidak mengerti. diperlukan orang yang bisa menjelaskan dengan cara yang sederhana.
mungkin ini karena saya belum memahami mekanika kuantum? (waktu kuliah dulu, semuanya masih klasik. belum ada quantum-quantuman. he he he.) bulan lalu saya ditanya oleh anak saya (di junior college) tentang sesuatu, yang setelah saya lihat ternyata … quantum physics. saya klenger… he he he. nggak bisa jawab.
dulu juga saya mengalami hal yang sama dengan fourier transform ketika masih mahasiswa S1. setelah ke grad studies, baru tahu maknanya. baru ngeh kehebatannya.
Wah, saya juga pengen bisa membikin masalah kompleks jadi sederhana alias menyederhanakan masalah.
yak … saya kemarin juga kesambet masalah yang bikin hari jadi ’sophisticated’ dan ‘complicated’. haha. ternyata kadang yang simple2 itu enak loh …
btw …. ukuran ’simple’ juga relatif pak
Untuk bisa bikin yg sederhana memang harus sudah memahami filosofi ilmunya (yang rumit). Kalau di ilmu bela diri, makin tinggi kelasnya makin sederhana jurusnya. Tapi makin dahsyat tenaga dalamnya.
Sayangnya di Friendster, enggak ada status, Simple, yang ada cuma Complicated ….
Show time kuliah saat itu betul2 tak tepat! Wis sore dan lelah trus mbahas persamaan, equation. Seorang kawan kami nyletuk, buat apa sih pak? ribet amat sih.
Dijawabnya, tuk ngukur petak sawah bapakmu! he he he, nesu ki [marah:red]. Sebuah jawaban simple, sorak gembira menyambutnya dan akhirnya menjadi penghilang kepenatan =))
Jrid, schroedinger =). Langsung kebayang sedikit masa lalu.
Btw, ( biar dianggap ga nge-junk) segala hal yang hebat itu selalu sederhana kok.