Saya masih terus ingin menjadi pembicara yang handal dan … lucu. he he he. Dalam teori presentasi, ada berbagai style yang bisa dianut. Saya termasuk yang menganut aliran melawak. ha ha ha.
Nah, ternyata style saya ini tidak mudah dikuasai karena ada banyak faktor yang terkait. Salah satu faktor yang “bermasalah” bagi saya adalah sense of humour saya mungkin agak berbeda dengan kebanyakan orang di Indonesia. Lucu atau tidaknya sebuah lawakan atau guyonan sangat bergantung dengan kultur yang ada. Sense of humour saya agak ke-barat-baratan (dalam artian North American-like). hik hik hik.
Saya ambil satu contoh. Lawakan di Indonesia biasanya adalah dalam bentuk kelompok (group) sementara di Amerika Utara lawakan biasanya muncul dalam bentuk stand up comedy – satu orang. Tentu saja ada lawakan yang kelompok juga seperti ditampilkan dalam komedi situasi, tetapi yang terkait dengan cerita saya adalah yang stand up comedy itu. Saya bisa tertawa terbahak-bahak melihat (mendengar) Eddy Izzard, David Letterman, atau stand comedian lainnya (sayangnya tidak banyak acara semacam ini di Indonesia), sementara saya lihat kawan-kawan saya di sini hanya terdiam.
Masalah ini kemudian terbawa ketika saya akan menggunakan (membuat) bodoran (jokes). Kadang cerita lawakan yang saya gunakan hanya membuat tertawa sebagian orang saja, karena lawakannya harus sedikit berpikir. Di tempat presentasi dan di kelas saya lihat ada beberapa orang yang mengerti lawakan saya. Mereka tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya (sambil menahan suara tawa kalau di kelas, he he he), sementara yang lainnya bengong atau meringis. Akhir-akhir ini sayangnya saya melihat lebih banyak yang melongo. Artinya? Lawakan saya tidak dimengerti, atau memang tidak lucu.
Di Indonesia lawakan yang sering membuat orang tertawa adalah yang menyangkut hal-hal yang porno. Justru itu yang kurang saya sukai. Repot ya?
Ada lagi yang lebih susah, yaitu menceritakan bodoran di depan audience yang campur latar belakang kulturnya. Sering saya diminta untuk memberikan presentasi di seminar dalam Bahasa Inggris. Maklum, yang datang campur dari luar negeri dan dari Indonesia. Situasi ini yang paling berat sebab kalau saya buat lawakan yang dimengerti oleh kultur Indonesia, orang asingnya melongo. Demikian pula sebaliknya. Aduh… Susah mencari lawakan yang netral terhadap kultur. Ada sih, slapstick (seperti yang dilakukan oleh Charlie Chaplin), tapi saya tidak pandai itu.
Di Indonesia sebetulnya ada beberapa contoh sih. Dulu ada Johnny Gudel. Kemudian ada Gepeng. Meskipun mereka main dalam satu group, tetapi monolog mereka sering lucu.
Siapa namamu?
Joni guuuuuudel.
ada yang masih ingat kata-kata Gepeng
untung ada saya
Nah … saya masih berjuang belajar membanyol. Style saya menulispun maunya seperti itu (BR-style), tetapi ternyata susah untuk konsisten. Saya masih perlu belajar, belajar, dan belajar.
Tulisan ini bercerita tentang humor tapi kok jadi serius ya? hi hi hi. Humour is a serious business.
Paling tidak, dalam sebulan biasanya saya dan Pak BR sering tampil dalam satu presentasi (baca: bukan melawak) bersama. Selain berusaha ‘melucu’, menurut saya ada satu hal positif dari Pak BR yang mungkin patut ditiru, yaitu: “berani mengatakan tidak tahu”.
Pada umumnya orang selalu berusaha jaim (jaga image) ketika ditanya sesuatu yang dia tidak tahu. Dengan berbagai cara berkelit agar ketidak-tahuannya bisa disamarkan. Pak BR ini beda! Kalau tidak tahu, ya tidak sungkan-sungkat mengatakan “Wah, saya juga tidak tahu!”
Bagaimana hasilnya? Saya kira banyak orang yang salut akan kejujurannya dan memaklumi ketidak-tahuan tersebut. Tentunya asal jangan ditanya 10 pertanyaan dan semua jawabannya “tidak tahu”. Ha…3x
Salam dari bukit sebelah
ARRY AKHMAD ARMAN
http://kupalima.wordpress.com
.. real artists ship] Steve jobs kalau presentasi sepertinya selalu segar dan inovatif
Memang benar bahwa saya dan pak Aa (begitu pak Arry biasa saya panggil) setidaknya “manggung” sekali sebulan. Biasanya kami tampil bergilir atau bersamaan seperti group lawak juga. he he he. Kami ini adalah saya, pak Aa, pak Angger, pak Dimitri, dan pak Khairul. Kadang tambah yang lainnya (pak Joko, Pandu, dll.)
Masing-masing punya karakter sendiri-sendiri. Pak Aa sebagai yang serius dengan materinya. Pak Angger sebagai pembawa acara, games matematika, dan cerita (sufi, bodoran). Pak Dimitri sebagai filosofer dan futuris. Pak Khairul sebagai orang strategi bisnis (dan statistik). Saya? Saya sih tukang tendang “bola liar” dan “mendongeng” saja. he he he.
Iya pak, memang sense of humor orang beda-beda. orang indonesia kebanyakan nggak ngaruh dengar joke-nya orang luar.
btw pak BR orangnya humoris gak ya?
saya humoris gak ya? hi hi hi … ya jangan ditanya ke saya dong. harus ditanya ke orang lain yang kenal saya. he he he.
kalau ketemu saya pertama kali mungkin serem ngelihatnya, kayak preman kumisan (dan sekarang lebih sering jengotan).
kalau sudah kenal lama, mungkin baru tahu sense of humornya (keseriusannya? romantisme?). ho ho ho.
stop sampai di sini! kok jadi kayak gini diskusinya? hi hi hi..
romantis? wah robot di indonesia romantis banget.
@Nuel, kalau mau lihat tulisan saya yang berurusan dengan romantisme, lihat kategori “prosa”. Kebanyakan di situ tulisannya agak berbau “manusia”.
t t d
BR = bung robot …
Perlu banyak berlatih nih kayaknya..
Bagaimana kalau bikin lawakan cerdas saja seperti yang cukup sering ditayangkan di program televisi yang biasa membahas tentang politik itu?
@streetpunk, bagi saya lawakan tentang politik yang di TV itu malah *tidak lucu*. Tukul juga sekarang kurang lucu. (Slapsticknya sudah tidak ada kebaharuan. Mendingan Jacky Chan. he he he. Karuan.)
Saya malah lebih senang dengan lawakannya Extravaganza (saya ingin kenalan dengan yang bikin skripnya). Kadang memang ada yang tidak saya sukai, tetapi sebagian besar saya suka. Terutama mungkin saya suka dengan lawakannya Tora dan Indro.
OOom, tulis dong contoh-contoh lawakan BR style-nya, biar saya bisa tahu sampai di mana sense of humour dari seorang BR ituh?
*Jangan-jangan saya ga ngerti kalau postingan ini adalah lawakan BR style..*
Kalau ndak salah Taufik Savalas pernah nyobain beginian, Pak. Awalnya bagus tapi lama-lama jadi kering. Apa ya nama acaranya?
Menurut saya lawakan di sini ga ada yang smart karena budayanya kurang terbuka, Pak. Bikin lawakan harus hati-hati kalau ngga mau didemo. Padahal itu ya sekedar lawakan. Sesudah tertawa waktu manggung ya harusnya dilupakan, ga dibawa-bawa sampe pengadilan. Kasihan pelawak dan tukang bikin scriptnya.
Ah saya sendiri kalau ngelawak suka garing…
Mending jadi orang serius ajah, lebih aman… Kalau mau humor nonton pelawak aja.
Saya jadi ingat guru saya ketika di kampung dulu. Dia orang Chicago, William Pope. Guru bahasa Inggerisku, ketika masih SMP. Tugas pokok kami setiap hari belajar 10 kata baru. Setiap hari diberi guntingan ujung buku-buku tua untuk menulis kata-kata english. Ditengah ketegangan dia suka melucu. Tetapi ternyata selera lucu berakal gaya orang sana kurang menyentuh selera tawa orang sini. Jadi bukannya ketawa tetapi setelah lama baru kami nyeletuk:” benar juga”. Perlu analisa. Jangan-jangan Om Budi juga berselera sama dengan guru saya orang Amerika yang membelah kelapa pakai gergaji itu. Om lucu tidak lucu postingan Om masih terus membuka wawasan. Salam Om.
Menurut saya, Pak BR harus ngerubah penampilan biar kelihatan agak lucu. Potong kumis atau kalo perlu beserta jengkotnya (…..) biar kelihatan 10 tahun lebih muda.
Siapa tau aja berhasil…!!
Good luck deh…
dibotakin
tapi tetep jenggot sama kumis, terus pake baju rada jreeng … eh itu mah di ketawain
bapak tampangnya galak sih, suka galak lagi
coba belajar bengong sendiri, terus belajar melihat hal lucu pada diri orang, dimana pun berada
@lia & abahoryza, … (kumis dipotong dan dibotakin) itu sih namanya nyiksa saya. sadis juga nih … he he he.
kelucuan kan tidak harus dengan penampilan lucu. lihat saja si tora, tampang keren atau kayak preman (he he he ?) tapi lucunya bukan main. (setidaknya, menurut saya dia lucu banget. he he he.)
contoh yang bagus dari generasi tua adalah johnny carson. very funny! here…. is johnny!
saya kenal tuh pak, sama (bbrp orang) yg bikin skrip extravaganza. mau dikenalin? mau minta bahan lawakan apa mo ngasi proyek niy
@rani, mau kenal aja. apa orang-orangnya segila skripnya? he he he. saya pengen tahu apa yang ada di kepala mereka waktu mereka membuat skrip. (what makes them tick.) saya ingin belajar dari mereka. gitu ceritanya.
Pak Budi bener mau kenal yg buat script-nya extravaganza? Kebetulan saya kenal, meskipun kalau ketemu fis to fis mungkin nggak lucu … Pernah dia kasih stiker kelompoknya dulu (masih inget Padhyangan?) lalu saya tempel di kaca belakang mobil saya, trus ada temen yg nyangka kerjaan sambilan saya jadi pelawak (ha ha ha) …
mas “oemar bakrie” … mau dong kenalan. ya setidaknya bisa punya tambah temen (yang gila pikirannya?). he he he.
lucu-lucuwan ato humor emang selera pakdhe..
kalok menurut selera-sok-tahu saya, yang lucu itu kayak model jim carrey dengan celetukan dan mimiknya, slapstick, hiburan ringan, ketawa tanpa harus mengerutkan dahi
benar tuh pak kalo di kelas gak ngelawak siswa bisa pada ngantuk, jadi lawak yang seru itu kalo spontan. pernah saya mengajar di kelas sore yang hadir semua mahasiswa yang sudah bekerja. tampa lawak ruangan saya sepi senyap ada yang ngtuk ada yang muka tegang.
tapi susah juga kalo mau ngelawak bagi orang yang gak terbiasa ngelawak bisa jadi garing . tapi kalo lawakan yang sama di bawakan oleh orang yang dah biasa ngelawak jadi hebohhh.
Udah pernah nonton chooof yang di global tv belum pak ? Kalo udah gimana menurut bapak ? lucu atau garing ? Saya udah nonton beberapa kali dan bawaannya pasti mau ngakak terus.
iya, indonesia suka yg porno2 joke-nya. Saya juga sering melawak dan teman saya hanya diam. Setelah beberapa menit mereka baru tertawa karena baru tahu maksudnya baik dengan mikir sendiri ato saya jelaskan.
salam kenal
Pak Budi, salam kenal. Saya head writer-nya Extravaganza (tau postingan ini dari Rani), tapi jangan nuduh saya lucu ya. Saya sama sekali nggak lucu. Karena kelucuan Extravaganza keluar dari 12 kepala yang tiga kali seminggu @10 jam brainstorming untuk merangkum joke-joke dan menuliskannya menjadi sebuah skrip. Mungkin semua orang kalau dikondisikan seperti itu bisa melakukan apa yang kami lakukan
Kalo ada kesempatan ke JKT dan mau ikutan brainstorming atau mau nonton syutingnya, let me know (diantos)…
@yanto,
Yeahhh … hu hu … ada orangnya. Asyik. Salam kenal mas Yanto. Kalau Anda nggak lucu, apalagi saya ya? hi hi hi.
Saya sering ke Jakarta sih (setidaknya, seminggu sekali) tapi acaranya pabaliut … alias kosongnya dadakan. Kadang sore ada waktu kosong, yang saya habiskan dengan ngopi. (Good friends and good coffee … ah.) Atau, malah … larut malam. he he he. Boleh lah. Nanti kontak-kontakan via japri. Gimana ya caranya? hi hi hi … Magic lah.
Tim penulis dan kreatif kita juga semuanya diimpor dari Bandung, Pak… Mereka balik-bolak setiap minggu (mungkin bisa ketemu kalo naik kereta atau travel tertentu hehe…)
Oh ya, jadwal brainstormingnya hari selasa, rabu dan kamis, mulai jam 12 siang sampai jam 12 malam (kadang sampe pagi juga). Kalo jadwal syuting hari senin dan selasa jam 7 malam sampai selesai.
Kontak saya di yanto@layarkata.com aja pak, atau YM layarkata.
Saya tahu Pak Budi sebagai tokoh IT Indonesia sudah lama, tapi baru tahu kalo punya ketertarikan pada komedi juga
he he he … style presentasi yang saya ambil, … gaya bodoran. (ala johnny carson, dave letterman, jay lenno, dst.) dan untuk itu saya butuh banyak ide. biasanya ide bodoran saya datang dari ngobrol2. di tempat saya, pak armein yang sering punya lelucon intelek. he he he.
okay deh … nanti saya mau ikutan belajar. kayaknya rabu okay juga tuh.
Susah mencari lawakan yang netral terhadap kultur.
—–
That’s a fact. Mungkin karena persepsi ‘lucu’ untuk tiap2 kultur pun berbeda2. Selain bisa menikmati Letterman dan sejenisnya, dan sitcom seperti Seinfeld dan Frasier, saya juga suka sekali British comedy seperti seri2 tua Fawlty Towers, Dad’s Army – dan siapa yg nggak tau Monty Phyton dan Mr. Bean?
Lawakan Belanda juga cukup masuk lah ke saya, lebih masuk dari lawakan Jerman
Preferensi orang terhadap jenis lawakan sepertinya juga tercermin di bacaan2nya. Saat ini buku yg paling lucu buat saya adalah Good Omens (Neil Gaiman & Terry Pratchett) dan Hitchhikers’ Guide to the Galaxy (Douglas Adams). Kalo buku terlucu buat Pak BR sekarang ini apa?
Sebagai bahan bacaan aja nih, pak: http://komedian.blogspot.com/
@ 13
iya Pak Budi, rambut diubah gaya gogon …. he3 ini just buat lucu-lucuan saja …
pak bannernya kok skg “friendster” banget …. saya prefer yang gambar bayangan orang atau gambar kaki sesuai judul blog “menjejakan kaki” …
saya ikut2an kritik Pak Budi neh …. yorr post at blogdetik.com ttg blog para artis menurut saya sangat tidak lucu …. ya kita kan sudah tahu kualitas artis indonesia, mau ngeblog saja sudah hebat …..(daripada dugem)
ikutan iklan Pak …
http://beritaheboh.wordpress.com/
Nah, itu Pak BR malah sudah kenalan sama bos-nya tim kreatif extravaganza, kalau mau ketemuan saya diajak ya Pak? … atau kalau nggak salam saja buat salah seorang kru-nya (Fabian)
Bnr pak, ngelawak emg agak
susah kalo beda kultur.
Saya prnah coba ngelawak
ma org bule lwt ceting, eh
mlah marah. Sedih deh..
Oia, maap kalo komen ini
formatnya agak error ato
aneh, lwt hape soalnya..
Salam perkedel hangat!
Wah ga usah potong2 deh,kasian tu pak BR. Mending ikutan tim kreatipnya xtravaganza tu, sapa tau ntar sketsa2 xtravaganza jadi meng-IT. Hehehe