Mana yang anda pilih
- tidak memiliki
- memiliki (termiliki) tetapi kemudian ditinggalkan (alasan gak penting)
Saya ingin tahu jawaban Anda! Tidak ada yang salah dan benar. Saya hanya ingin tahu (dan mungkin juga alasannya, tetapi tidak harus memiliki alasan).
pertamax..
laen kali kan pasti akan dapat yang lebih baek dengan cara yang lebih baek tentunya…
mending yang no 2 pak memiliki, walau kalo ditinggalkan pasti sakkkiittt rasanya, tapi setidaknya sudah punya pengalaman memilikinya daripada tidak sama sekali
Bener tuch mas ferry…
Paling nggak, kalo kita pernah memiliki menjadikan suatu pengalaman yang berharga. Walaupun akhirnya mendapat luka yang amat mendalam. Tetapi kedepannya kita pasti tidak akan masuk ke lubang yang sama…
Keledai aja gak mau masuk ke lubang yang sama….
@toga, … tapi keledai kan gak pernah jatuh cinta. (Barangkali … soalnya belum pernah jadi keledai. ha ha ha.)
Salam
Kedua pilihan ini sama-sama menyakitkan dan akan menorehkan luka, aku lebih memilih tidak memiliki karena luka dan rasa sakitnya hanya akan jadi milikku sendiri.
Pagi Pak Rahard, oh ya sekalian izin, title “Ngamuk Makan” nya, saya catut di postingan saya yang bertitle “Tobat Sambel”
“Ga pa pa kan Pa???” dan dengan legowo Pak Bud pun menjawab “Oh tentu boleh, silahkan” . He…he…
Peace akh
Termiliki? jadi gak sengaja ya? mmm.. tidak ada pilihan yang baik menurutku.
Kalau saya memilih “termiliki” walaupun kemudian ditinggalkan setidaknya saya PERNAH memiliki dan dimiliki… what a life
No. 2 dong. Puas kalo sudah nyobain hehe…
[bukan soal wanita lho, tapi HP model baru hihihi...]
Mending ‘tak memiliki’ deh pak…
termiliki tapi kemudian ditinggalkan, akhirnya toh sama juga ‘gak memiliki’…
jadi mendingan tak memiliki tapi punya kenangan yang manis, berhenti mengharapkan untuk termiliki disaat kita masih memiliki sejuta cinta (buat dia), dibandingkan termiliki, kemudian ditinggalkan dengan alasan yang tidak jelas, kenangan yang tersisia, mungkin bukan cuma kenangan yang (pernah terasa) manis, tapi juga luka. Bukan karena takut untuk ngerasa sakit, tapi lebih realistis, menyadari lebih awal jika seseorang (pada akhirnya) tak bisa termiliki (tak peduli waktunya kapan).
tidak memiliki = damai
Pernah memiliki lebih baik ketimbang tidak pernah.
Seperti pernah melakukan jatuh cinta (walau akhirnya ditolak) daripada tidak pernah sama sekali.
HEmmm…aku lebih milih termiliki walaupun akhirnya ditinggalkan dan kehilangan. Paling gag itu sebuah pengalaman yang menjadi suatu pembelajaran
sepertinya konteksnya ini pada pasangan hidup ya? OK apapun konteksnya, saya lebih memilih yang nomor dua. alasannya nggak penting kan?…
Sepertinya adalah salah kalau kita bilang keduanya ‘menyakitkan’. Tidak demikian menurut saya. Kenapa harus menyakitkan kalau kita tidak memiliki? Coba renungkanlah:
Al-Hanbali berkata: ” Siapa menginginkan kemuliaan dan ketenangan dari kesedihan panjang yang melelahkan, ia harus menyendiri dan rela dengan yang sedikit saja. Bagaimana seseorang akan jadi bersih, jika ia hidup dari yang kotor …”
Lha nyambung ma postingannya ga ya pak?
Gandhi Anwar
http://just2live.blogspot.com
http://agandh.blogspot.com
ada pilihan no 3 ga?
pak BR, sebagian judulnya saya “ambil” loh. saya jadikan judul disini http://kidungjingga.wordpress.com/2008/04/01/tak-termiliki-karena-aku-tahu/
maaf….
aku pilih yG no.2 dUNk ..walaupun termiliki kemudian di tinggalkan, paling tidak buat pribadi punya pengalaman. nD, walaupun itu menyakitkan . anggap Z itu adalah SEJARAH Hidup kita ..dan ,belajarlah dari sejarah itu.truslah melihat kedepan..
anggap Z itu adalah SEJARAH Hidup kita ..dan ,belajarlah dari sejarah itu.truslah melihat kedepan..
Wah masalah apa dulu nih pak BR ?
Kalo masalah DOSA : saya memilih no.1 “tidak memiliki”
Kalo masalah CINTA : saya memilih no.3 “memiliki” (bikin option sendiri), tapi kalo optionnya cuma 2 seperti option yang diberikan pak BR saya memilih “termiliki” walaupun kemudian ditinggalkan setidaknya saya PERNAH memiliki dan dimiliki.
Yang nomer 2 pak, karena saya tipe orang ‘pelaku’. kalo ga melakukan sendiri ga akan kapok.
Lebih baik tidakmemiliki daripada harus menyakiti pada akhirnya…
Saya selalu bilang : Begitulah Cinta Deritanya Sungguh Tiada Akhir
Saya baru saja pisah dengan pacar saya..
Menyakitkan.. Hancur sudah..
3 tahun yang manis.. Berakhir..
Tapi saat seorang teman bertanya..
“Bila waktu diputar kembali..
Dan kamu tahu semua akan berakhir seperti ini..
Apa kamu mau melakukannya?”
Jawab saya..
“YAH!”
Beroleh kesempatan untuk dapat mencintainya.. Dan beroleh cintanya.. Tidak akan saya sesali..
Salam,
Kalau menurut saya, pilihan jatuh pada no 2. Setidaknya apa yang akan saya alami pada pilihan no 2, tidak akan saya alami jika saya menjatuhkan pilihan saya pada no 1. Lain kata, dengan pilihan no 2, saya akan mendapatkan pengalaman yang lebih bagi jiwa saya. Masalah baik/buruk, positif/negatif, itu kan cuma bumbunya yang harus dinikmati…
Suksma….
kita ini bagian dari Yang Maha Memiliki
kita boleh saling memiliki atau tidak saling memiliki
menurut hukum logika yang selalu benar adalah memilih ATAU
Kalau saya milih yang ke-2. Memiliki, walaupun akan ditinggalkan, tapi nggak apa-apa yang penting sudah pernah memiliki. Hehehe…
Lebih baik yang kedua dong Pak. Karena apapun yang kita miliki ataupun termiliki di dunia ini, cepat atau lambat pasti akan meninggalkan kita. Salah satu hal yang pasti di dunia ini adalah ‘ketidakkekalan’ setiap ciptaan Tuhan.
Mending ke dua Pak.
Koq semua pada cinta2 sih.. ^_^
Kalau tidak memiliki ilmu pasti tidak akan bisa seperti bapak.
Ditinggalkan karena sudah merasa tidak perlu kaya perkuliahan aja. Abis ujian lepas, ditanya lagi ga bisa.
Setidaknya kita memiliki memori untuk mengenang masa-masa kita memilikinya. Kalau tidak memiliki mana ada cerita yang ingin diturunkan ke anak cucu. Piss men..
Dari 26 suara, no.2 tetap jadi pilihan mas .. gimana dengan mas BR. pilih yang mana? hanya mau tahu aja sih
boleh gak dijawab koq.
klo aku magh pilih memiliki, walaupun gimanaa gitu, namun ketimbang nggak sama sekali….
*siul – siul*
memiliki tentu jauh lebih baik daripada tidak memiliki sama sekali walaupun kemudian ditinggal karena 1.merasakan rasa memiliki; belajar mengasihi. 2. merasakan pahitnya ditinggal ; hikmahnya agar tdk melakukan yg sama, menempa keikhlasan mengasihi. Aku pilih yang kedua….
bagaimana kalau dilebarkan pertanyaannya ?
Anda pilih mana :
1. Tidak sukses
2. Sukses, tapi kemudian jatuh ke jurang ketidaksuksesan
Dilihat dr konteksnya :
- Utang : tdk memiliki
- Cinta : memiliki
- kebencian : tidak memiliki
- pacar : memiliki
- suami : abstains
- bahagia : memiliki
- nekad : memiliki
- uang : memiliki secukupnya
- perhiasan : tdk memiliki, kalo aku pakai cincin nyak bisa ngetik, kalo pakai kalung/anting : berat lalu pusing kepala
- rumah : di Perancis tidak perlu menjadi pemilik rumah, bayar pajaknya gede. Ngak punya rumah bisa sewa, ngak punya uang utk sewa : pemerintah kasih
- intelektual : memiliki
- pekerjaan : memiliki, tapi jangan jadi budak pekerjaan
- santai : memiliki
- mobil : tdk memiliki, tdk perlu mobil aku sudah ngeluyur terus, punya mobil lupa jalannya pulang ke rumah
banyak lagi ………
memiliki saja(h), rasa memili timbul ketika sesuatu menghilang, menghilang, meninggalkan kita.
Mangsudnya memiliki kan bukan mempunyai. Apa beda memiliki dan mempunyai hayoo? Terus ada istilah “cinta tidak harus memiliki”. Tapi yang benar kayaknya “cinta tidak harus mempunyai”. Cinta itu memiliki tapi cinta bisa tidak mempunyai. Loh kenapa terus yang ada “hak milik” bukan “hak punya”. Kebalik yah ?? Jadi “cinta tidak harus mempunyai” tapi cinta bisa tidak memiliki. similikiti saja yah
.
nomor 2!
toh waktu memilih untuk dimiliki (termiliki) juga ga tau mau ditinggal atau enggak.
jadi harus dicoba supaya tau.
memiliki pak..setidaknya kita punya kenangan…
Kenapa pilihannya gak ada yang enak? Enaknya tuh memiliki dan terus memiliki.
Kalau ikut keinginan (nafsu), maunya sih memiliki segala rupa terutama yang enak-enak. Cuma sebenarnya kan segala barang yang ‘dimiliki’ oleh manusia hanya pinjaman saja, sedangkan pinjaman ini ujung-ujungnya musti dikembalikan. Benda-benda yang kita miliki juga berpotensi nyusahin karena bakal kena audit di dunia maupun di akhirat.
lebih baik tidak memiliki.
tapi kalo ada pilihan lain, inginnya: memiliki sekaligus meninggalkan (bukan ditinggalkan lo)….huahahahah rasanya gimana gitu, powerful:D
tidak memiliki.
Tapi masalahnya hari ini saya ingin beli gitar, dan uang di atm (lagi-lagi) lebih cocok dipakai untuk bikin tugas.
Untuk pertama kalinya saya begitu marah karena jadi orang yang ga mampu, ga mampu beli apa aja yang saya mau, heheh.
*kadang kita harus berpuas diri dengan tidak memiliki ya, pak?
@hariadhi .. jangan dipaksa dong, ingat loh bukan apa yang kita mau tapi apa yang kita mampu..
dua2nya ga, Pak…
lha wong ini ga jelas..
tidak memiliki apa?
termiliki apa?
*tapi lucunya ini langsung tentang.. hal yang sama ya?? kok bisa?? hehe*
tidak memiliki & termiliki.. adalah dua hal yang kadang2 bisa dipilih dan kadang2 ga..
kalo menurutku lebih baik pernah memiliki daripada ga pernah sama sekali. alasannya karena apapun itu, baik kenangan buruk ataupun manis, semuanya akan menjadi pembelajaran bagi kita untuk ke depannya. Jika yang didapat tu kenangan pahit, ya setidaknya kita bisa belajar dari kesalahan lalu. jangan masuk ke lubang yang sama lagi..
@ Rindu
Hiyah, akhirnya sekarang lupa. Lebih karena cape moto-moto sebenarnya, hehehehe.
Nggak enak dua2nya pak. Kalo ada pilihan “nggak pernah tahu”, mending saya pilih yang itu.
Soalnya kalo milih “tidak memiliki”, pasti bakalan ada perasaan pengen tahu gimana rasanya memiliki. Trus kalo “udah memiliki trus ditinggal”, rasanya ditinggal itu soooo Painfullll!! *dangdut mode on*
Jadi kalo ada pilihan “nggak pernah tahu”, berarti nggak ada perasaan “pengen tahu rasanya memiliki” [penasaran], trus nggak ada perasaan ‘ditinggal”.
akhirnya kembali ke dunia blog….
hmmm..gimana ya…
Ketika kita lahir di dunia keadaan tidak memiliki dan memiliki ada dalam diri ini.
bayi yang lahir tidak memiliki apa-apa (kebendaan) tapi dia juga memiliki ayah dan ibu sumber benihnya. Dan yang terpenting dia termiliki oleh Sang Pencipta, walaupun Sang Pencipta tidak pernah meninggalkannya selama dia hidup.
Ketika kita hidup mulailah pengertian memiliki hal-hal yang fana mulai timbul, begitu juga rasa akan kehilangannya. Tapi kita tetap termiliki oleh Sang Pencipta, karena suatu saat kita akan “pulang” kepadaNya.
Ketika kita meninggal, keadaan awal berulang, dan tetap kita kembali kepada Yang memiliki kita karena diri ini adalah milikNya, dan kita kembali menjadi tidak memiliki apa-apa (kebendaan).
Ini menurutku lho yah…yang tidak setuju juga gak apa-apa