Membaca headline koran hari ini (yang jarang saya perhatikan), tertulis berita tentang meninggalnya pak Otto Soemarwoto. Bagi orang Bandung, siapa sih yang tidak kenal nama ini. Beliau adalah pejuang lingkungan hidup.
Saya sendiri tidak kenal beliau secara pribadi. Ketemupun mungkin belum pernah (atau kalau pernah mungkin saya lupa atau tidak sadar), tetapi membaca sepak terjangnya sudah cukup untuk memberikan respect kepada beliau. Lagi-lagi orang besar seperti ini mengingatkan saya kepada alm. pak Samaun Samadikun, alm. pak Kudrat, … pokoknya orang-orang besar lainnya. Besar dalam artian sikap dan pemikirannya yang layak (dan bahkan wajib) ditiru.
Ah, siapa yang sekarang akan memperjuangkan lingkungan hidup seperti bapak?
Makin habis saja orang bagus di Indonesia. Sementara itu jarang ditemukan orang-orang yang muda sebagai penggantinya. [sigh, keluh kesah] … Sedihnya Indonesia. Maafkan kami, ibu pertiwi.
Selamat jalan pak Otto Soemarwoto. Mudah-mudahan Allah swt mengampuni segala dosa bapak dan bapak dimudahkan di alam sana. Sebuah doa dan tetesan air mata dari saya, a nobody who doesn’t know you but proud of you.
Selamat jalan pak Otto..
Semoga bahagia di dunia sana…
Aamiin..
Ya, sama pak, walaupun saya juga tidak kenal beliau, tetapi saya yakin almarhum adalah salah satu putra terbaik bangsa ini yang telah berbuat banyak untuk kemajuan Indonesia. Kita do’akan semoga beliau dilapangkan jalannya dan dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Amin.
Ya, orang-orang seperti beliau menjadi besar because they care nasib kita ya.
Jujur, saya sudah lupa siapa juara dunia tinju kelas berat, pemegang nobel, pemenang Oscar, atau pemegang piala dunia FIFA tahun ini. Tapi saya tidak pernah lupa dengan Pak Rau Guru SD saya kelas IV, yang membuat saya mengerti dan excited dgn banyak pelajaran.
Jangan salah, para juara itu orang super hebat. Tapi setelah event berlalu yang saya ingat terus ternyata adalah orang yang dulu care dan berusaha untuk kebaikan saya.
Orang boleh bersilang pendapat dengan Prof Otto, tapi dia amat care dengan kehidupan kota Bandung.
Selamat jalan, Prof.
Tamu terakhir pak Otto telah datang ya mas … dan tapaknya jelas untuk lingkungan, jika tamu terakhir kita datang… apakah tapak telah kita buat yah? *merenung*
Selamat jalan Pak Otto…..
Selamat jalan, Pak Otto
berarti tugas BR masih banyak, belum selesai, jadi ga boleh kemana2x, harus urus Indonesia
Semakin berkurang juga “orang aneh” di Indonesia……manusia langka yang telah banyak berjasa ini meninggalkan dasar yang kuat di bidang lingkungan dan keaneka ragaman hayati…….
Selamat Jalan Pak Otto
Saya adalah salah seorang mahasiswa yang sempat diberi bekal ilmu oleh beliau, dan alhamdulillah ilmunya sangat berguna bagi saya saat ini, semoga bekal ilmu yang telah Pak otto berikan kepada saya dapat membawa berkah buat Pak Otto dan akan mendapat balasan syurga firdaus, Amin
Hari Prayogo Pontianak Universitas Tanjungpura
Selamat jalan dan semoga bahagia di kehidupan yg sekarang .amin.
Meskipun hampir satu tahun Prof. Otto meninggal dunia, tetapi karya beliau di bidang Lingkungan Hidup masih tetap diingat orang. Saya masih ingat ketika masih mahasiswa Tingkat Pertama Bersama ITB tahun 1973 mendengarkan 3 profesor utama Indonesia sekaligus pada sebuah seminar di Gedung BPI ITB, Jl. Surapati. Yakni Prof.DR. Koentjaraningrat (Antropolog UI), Prof.DR.Ing. Iskandar Alisjahbana (Dekan Fakultas Teknologi Industri ITB) dan Prof.DR.Ir. Otto Sumarwoto (Direktur Ekologi Unpad).
Pak Otto menjelaskan pada secara sederhana tentang Daur Ulang di sebuah pedesaan Jawa Barat. Begitu sederhananya tetapi membuat banyak doktor-doktor peserta seminar di ITB itu terkagum-kagum karena Daur Ulang ini menjadi model mata rantai siklus kehidupan yang jadi acuan banyak para ahli Lingkungan di dunia.