Kemarin saya berbincang-bincang dengan kawan (dosen ITB). Saya menanyakan tentang kebenaran dinaikkannya SPP mahasiswa yang telat lulus (belum lulus dalam batas wkatu tertentu). Apakah benar ini ada di ITB? Saya ingin tahu surat resminya. (Belum nemu. Ada yang tahu?)
Terus terang saya tidak setuju dengan “hukuman” tersebut. Sudah susah lulus, kena hukuman harus bayar uang sekolah lebih banyak lagi. Ini seperti sudah jatuh, tertimpa tangga pula. What the hey!
Katanya alasan “hukuman” tersebut adalah agar mahasiswa terpacu untuk lulus tepat waktu. Kalau dari kacamata saya sih “hukuman” tersebut malah memacu mahasiswa untuk berbuat curang (menghalalkan segala cara asal tidak terlambat selesai). Pasalnya, dengan kondisi sekarang saja mereka sudah kesulitan secara finansial (dan terancam berhenti sekolah gara-gara tidak mampu). Apalagi kalau nanti harus bayar lebih! Lebih baik curang karena belum tentu tertangkap. Risikonya lebih kecil. Ini tidak mendidik menurut saya.
Pengalaman saya waktu di Kanada, karena saya terlambat selesai cukup lama, justru uang sekolah saya menjadi murah. Alasannya, saya tidak menjadi beban dari kampus. Hanya terbebani di databasenya saja. Kalau saya mengambil kuliah, itu cerita lain, tentunya harus bayar (sesuai dengan SKS-nya).
Kadang saya heran. Apa bapak-ibu yang mengelola kampus ini lupa masa mahasiwanya (yang lengkap dengan berbagai kesulitannya)? Atau mungkin ketika menjadi mahasiswa tidak mengalami masa sulit? Mahasiswa kok dipersulit ya?
Mahasiswa sekarang tidak boleh ini dan itu. Pokoknya mahasiswa harus “lempeng” saja. Gak neko-neko. (Kalau neko itu mah Koencoro. he he he. domain kok ganti melulu om.) Kenapa mahasiswa gak boleh nakal? Apa yang buat aturan dulu tidak pernah nakal waktu jadi mahasiswa? Atau malah karena nakal sehingga takut anak-anak sekarang nakal juga? (Pemahaman saya sih kebanyakan yang ngurusi kampus bukan anak bandel pas jadi mahasiswa. he he he. Jadi tidak tahu bahwa kenakalan ketika menjadi mahasiswalah yang membentuk karakter.) Ah sudahlah … ngedumel kayak gini gak didengerin.
Kemudian saya ingat ada beberapa orang yang ketika masih menjadi mahasiswa merupakan orang yang paling idealis (dan kritis terhadap orang yang tidak benar tingkah lakunya). Setelah keluar dari kampus dan hidup di masyarakat ternyata dia menjadi “orang yang dia kritik” ketika di kampus. Aduh… lupa dia.
Kacang lupa akan kulitnya …
Setuju pak. Sewaktu saya masih menjadi mahasiswa di ITB, banyak aturan yang saya rasakan tidak kondusif mendorong mahasiswa mengembangkan kemampuan akademik dan non-akademiknya. Banyak tugas yang dijejalkan dan ujian yang membuat otak dijadikan harddisk, bukan difungsikan sebagai processor.
Ada berbagai aturan yang mengekang, baik tertulis maupun tidak. Saya sendiri pernah kena tegur hanya karena sedang bereksperimen menghidupkan DHCP server di salah satu komputer di lab jurusan. Admin jurusan saya memang terlalu protektif terhadap jaringan jurusan, bahkan membuat rekan-rekan saya hampir tidak punya kemampuan teknis ngoprek jaringan, kecuali yang jadi admin tentu saja.
Semoga makin banyak dosen seperti Pak Budi yang mampu memperbaiki kualitas ITB di masa mendatang.
Solusi seperti itu memang akan efektif “membersihkan” mahasiswa yang sudah karatan. Bukan meluluskan, tapi mungkin mendropoutkan. Yang penting kan kampus bersih dari para mahasiswa karatan itu.
*dari mantan mahasiswa karatan dan neko-neko, serta hobi ganti domain, meski gratisan*
Iya.. ya pak… seperti yang pernah bilang…
“kalau sudah duduk lupa berdiri” …
apalagi… jalan.. padahal untuk bisa duduk di kursi kan harus jalan dulu…
“habis enak sih”…
kalau kelamaan duduk.. kursinya bisa patah… lewat reformasi.
@ Donny K. Saya pernah mengalami hal serupa, saya dibikin pusing oleh mahasiswa gara2 server dhcp yg pd akhirnya menyebabkan kerusakan beberapa switch. Tapi itulah pengalaman mereka, sehingga mengakibatkan beberapa node macet menunggu pengadaan brg pd thn berikutnya
Dengarkan suara hati, tak sedikit kebijakan tersebut disikapi oleh beberapa dosen utk empati. Membantu, dan menjadi jawaban. Sebagai contoh, merekrut mereka dlm sebuah project, melibatkan dlm asistensi prakt dll. Tak jarang mhs yg merasa hutang budi kepada dosennya. Disinilah atmosfir akademik yang kadang membuat trenyuh…
Salam Pak Budi,
Saya kira fenomena ‘komersialisasi’ perguruan tinggi negeri sudah jamak terjadi belakangan ini.. Saya sendiri beruntung waktu masih kuliah di ITB segalanya terasa masih serba murah dan terasa banget perbedaan cost-nya dibandingkan dengan yang di swasta.
Tetapi benchmarking ke zaman sekarang, wah…wah…luarrr biasa. Contoh kasus, kebetulan istri sedang mengambil S2 di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Masa tesis ditargetin 3 bulan ? Kalo gak kelar kudu bayar lagi. Udah gitu, suka tiba-tiba dimajukan tenggatnya, dari 3 bulan ke 2.5 bulan, dsbnya. Yang konyol, kalau keterlambatan ini dikarenakan dosen pembimbing yang belum ada waktu (maklumlah, rata2 mereka adalah profesional yang super sibuk), mahasiswa tetap harus menanggung akibatnya dan bayar…Hal yang sama terjadi kalau nilai telat keluar sementara pendaftaran kuartal baru sudah harus dimulai, mahasiswa yang belum jelas lulus apa engganya, kudu bayar dulu. Kembali hal konyol terjadi, kalau nanti ternyata lulus, uang yang sudah dibayarkan cuma bisa dikembalikan 50%…Ada kasus dimana nilai baru keluar setelah 1 tahun, lagi2 karena para dosen yang super sibuk…
Nah, silahkan di nilai sendiri apakah dosen2 yang super sibuk itu juga termasuk kacang lupa kulit? Mereka juga pernah jadi mahasiswa toh…
Sorry kepanjangan Pak… Abis pengen curhat juga sih… hehe
pandangan saya sama seperti pendapat anda pak..
kuliah itu cepat saja biar murah…tapi kalo kelamaan ya dibantu biar ga nambah biayanya bukannya malah dimahalin.
aaahh ITB ……
jd penasaran dulu waktu mh, Pak Budi nakalnya kayak apa sih
“…Pemahaman saya sih kebanyakan yang ngurusi kampus bukan anak bandel pas jadi mahasiswa. he he he. Jadi tidak tahu bahwa kenakalan ketika menjadi mahasiswalah yang membentuk karakter…”
Saya rasa juga begitu Pak. Banyak yang jadi dosen/administrator kampus anak baik2 bebas masalah, bebas nakal, IP tinggi dan langsung melanjutkan S2/S3 tanpa mencicipi dunia industri/dunia luar yang lebih realistis.
ITB aja begini, palagi yang swasta…. pendidikan emang mahal… kasian yang miskin…….:(
i agree pak
saya termasuk calon mahasiswa yang telat lulus.. (masih tingkat 4)
kalo gak salah jadi 2 kali lipat dari spp yang biasanya
bawaannya jadi gak enak ama orang tua
terpaksa renacananya make tabungan sendiri buat nambahin
kasian mhs sekarang. Gak boleh ngapa-ngapain. Begadang di leb gak boleh. Bikin server sendiri gak boleh. Bikin pelatihan buat profit organisasi -> haram. Ahhh gmn mau karakternya diubah kalau lempeng-lempeng bgini dan tidak teruji dalam organisasi dan terlibat dalam suatu kegiatan. Wah kampus grafiknya makin tambah exponensial negatif. nah pak budi we’ll see efeknya ini gimana 3-5 tahun ke depan..
Memang aneh…
Usul:
Pak Budi masuk struktural! 2010 mencalonkan jadi rektor! Saya dukung!
*maaf kalo ngawur
Wah Pa.. betul sekali.. Sebagai mahasiswa ITB, gara-gara ada keharusan 4 tahun lulus, saya kuliah jadi gak konsen. Selalu dituntut untuk perfect. Belajar jadi gak merasa enjoy.
Kalo kita tilik ke belakang, coba liat orang-orang di jajaran teras pemimpin ITB, berapa lama mereka lulus?? Saya rasa kebanyakan dari mereka di atas 4 tahun. Gak malu apa???
Di jaman mereka kan lulus ITB 6 tahun atau 7 tahun adalah hal yang wajar. Sekarang masa lulus di atas 4 tahun dianggap tabu, pake dikasih hukuman segala.
Waktu saya obrolkan dengan teman-teman, mereka kebanyakan juga merasakan hal yang sama. Tapi ada satu yang nyeletuk, “Berarti kamu kan itung2 berinfak biayain kampus. Salah sendiri kamu gak kuliah optimal. Itu memang salah satu dampak dari BHMN”. Wah, jadi kepikiran, kalo seandainya memang benar ini gara-gara masalah uang, berarti benar-benar ITB tidak beres. SPMB dikurangi, jalur “uang” diperlebar. Bisanya cuma “jualan kursi”, kalah sama UI.
Syukurlah kalo ternyata gak ada surat keputusannya…
berarti itu masih kabar burung.
Rasa-rasanya angkatan saya (2005) ini dijadikan “kelinci percobaan” oleh pihak kampus. Hik hik. Menyedihkan..
http://febiharyadi.wordpress.com
Kacang lupa pada kulitnya
coz jaman sekarang lebih enak gak apke kulit
heheeh
Komersialisasi, sepakat ma komentator #5…
Memang, barangkali itu bukan satu-satunya sebab/alasan, tp mostly krn itu IMHO.
Saya sendiri 10 tahun (wow!) dan sekarang masih berasa kurang, apa yg saya dapet dr bangku kuliah; padahal saya dlu gak cuma kuliah tp organisasi juga, bisnis di luar (tentu saja di luar kampus) juga… Apa jadinya klo’ saya cuman kuliah?
Karena sangat fokus ke soal “duit”, pihak pengambil keputusan jadi gak melihat sisi yg lain. Jadi, membuka/mengurus kampus sekarang seperti buka toko; gimana caranya saya dapet laba max, dg biaya pengeluaran min…
Mahasiswa/i lama/tua jelas adalah aib bagi kampus, mungkin ada yg anggap itu sbg indikator bahwa si kampus krg bagus mutunya sehingga masih ada juga mahasiswa 10 th… Lalu dibuatlah strategi gmn caranya agar mrk itu “terpacu” cepet lulus sekaligus kampus dpt duit lebih. Khan jd asyik tuh…
Jalan pintas koq dianggap pantas; tanya kenapaaa… (iklan)
ITB adalah kenangan terburuk buat saya. Tapi bagaimanapun juga di sana saya banyak belajar banyak hal.
Mengenai SPP yang lebih mahal, atau mungkin maksudnya disamakan dengan mahasiswa baru atau angkatan di bawahnya? Mungkin lebih baik jika ada nilai SPP minimal, sebesar SPP mahasiswa tingkat 4.
Sudah menjadi lazim kalau kacang harus keluar dari kulitnya Pak..
Jika tidak ia akan tetap menjadi kacang kulit.
Dalam kampus mungkin masih bisa kita berkelit dan bersembunyi dibalik “kulit.” Justru saat ia berada dalam masyarakat, tanpa “kulit,” tersebut ketauan lah ia “kacang” yang seperti apa..
wah, kaka saya musti tau ini. makasih infonya yah
oh ya pak, kenal sama lulusan itb teknik elektro yang namanya Yudi Rulanto ngga? itu lho, yang pernah ngejabat jadi dirut utama IM3 trus skrg jd direktur lintas arta indosat…
Klo gak salah saya, kebijakan itu dimulai tahun 2001 (angkatan saya) Pak BR. Waktu pendaftaran ulang di annex, kami diberikan surat perjanjian diatas materai yang harus ditandatangani (sebagai syarat pendaftaran ulang) yang berisikan persetujuan membayar dua kali lipat pada semester ke 11 jika belum lulus juga.
@20 indri
lho semester 11 ya
bukannya semester 9 ??
wahh, pak budi emang dosen yang te o pe nih, masih berempati sekali sama mahasiswanya. tambah kagum deh. Betul itu pak, emang kesannya kampus ingin membersihkan angkatan2 veteran yg g lulus2 kok. Pengaruh BHMN kali yah. Nasib emang kalo lulus kelamaan harus seperti itu, dimana2 sama deh kayaknya, bukan di ITB doang.
Dulu sempat keder jg wkt ada isu2 macam itu.Udah mikirin apa yg bs dijual.Maklum sy jg telat lulus.Alhamdulilah blm berlaku,sampe sy akhirnya bs lulus.
Menurut sy mmg bbrp urusan birokrasi kampus msh byk yg blm memihak(baca:peduli) dg mhs
Gaya bahasanya luwes banget. Ngga kerasa kalau satire, euy! Hi hi hi
ooh .. seraaaam …. sekali itb ya pak hi ..hi ..hi ..
mendingan jaman baheula ,pakai coding form, punch card dan fortran … + ibm 8086 .. udah bangga kemana ..mana he .. he..
semua kampus rasa rasa hampir sama pak. semua kok jadi duit, banyak cara lain untuk memacu semangat supaya mhs cepat lulus. ok buat lah nanti mereka semua sudah lulus bagaimana dengan yang baru? katanya karena murah dan bagus jadi negri jadi favorite. sekarang wah negri sama aja dengan swasta.
Atau ITB dijadikan universitas swasta aja, mungkin?
Aturan dibuat khan katanya untuk dilanggar.
Rasanya sekarang semua kampus diberlakukan aturan begitu Pak. Gerakan pembersihan veteran…Padahal yang bikin kebijakan lulusnya berapa tahun ya..
wah untung saya termasuk mahasiswa yang “beruntung” saat di ITB dulu, karena mengecap masa 7 tahun untuk menyelesaikan kuliah, mengecap enaknya menjadikan lab sebagai “rumah”, menginap, melakukan kegiatan malam dan juga membuat server sendiri (sekarang ngga boleh lagi ya?).
Bebas membuat kegiatan dengan lab yang saya pegang, punya banyak pengikut sehingga terjadi kelompok belajar berdasarkan teknologi yang disenangi. Hasilnya….semuanya hampir menyelesaikan kuliah antar 6-7 tahun, tapi setelah lulus ngga kami jadi tidak minder dengan dunia kerja, dunia kerja itu keciiiiiiiiiiiiiil….tidak ada tuh namanya wawancara yg berbelilit2, yang ada kirim CV dan di telp kapan mau kerja
Saat mendengar bagaimana ITB sekarang…hmm…kasihan ya mahasiswa sekarang. sepertinya kuliah itu tidak fun, tetapi semoga kualitas ITB masih ok.
betigulah perang yang tak kunjung berakhir antara idealita dan realita. Bahkan Tuhan sekalipun membiarkan keduanya “bertarung” secara alamiah.
Saya termasuk yang paling sakit hati dengan mahalnya pendidikan. Sudah dari keluarga broken home (maaf papi mamiku) dihina orang, bahkan sempat diusir oleh pejabat desa (Lebe). Padahal selama jaman kolonial simbah saya wedana aja gak arogan. Kalau pakai bahasa “komunis’ mungkin saya adalah tipe pejuang proletariat yang berhasil naik kelas, ke PNS. Kalau pakai bahasa agama mungkin saya tipe pejuang jihad yang meraih “hidup mulya” daripada mati syahid.
Akulah korban arogansi intelektual dosen (coba kalau hilang in dan tualnya kan sisa maaf “telek”, sok pinter padahal jadi dosen guru ataupin pejabat dulu hasil KKN sogokan, pengabdian yang lama atas dasar belas kasihan. Lalu ketika sudah menjabat sebagai pimpinan apapun lalu arogan sok pinter, sok kuasa. Menganggap yang bodoh adalah AIB yang harus diberangus, bukan mlah dikasihani. Tapi kenyataan memang banyak orang tidak merasa bodoh sehingga ketika akan ditolong orang lain tidak mau, malah menjauh. Atau….juga orang-orang pinter sudah pada bosen. Lalu cara untuk memecat secara halus maka NAIKKAN SPPP BEN SING MLARAT TAMBAH MLARAT SING BODHO TAMBAH BODHO….EMANG GUE PIKIRIN (EGP)
maaf yang terakhir nada marah…memang lagi marah
Bukan ganti domain, Boss. Itu memang tema berbeda yang nggak mau dimasukkan ke blog KUN.CO.RO
. Tadinya mau dipasang di Blogdetik, tapi yang itu penuh masalah. Jadi sementara di subdomain HTTP.KOEN.CZ yang kayak salah ketik itu dulu, sampai ketemu tempat lain yang lebih layak.
salam kenal om Budi…tau blognya Om dari Om G…
Om klahiran Jogja ya??mananya…??? aku jg Jogja…
ttg SPP naik di kampusku (UAJY) katanya sih itu bakal turun SKnya 2010 besok…lha padahal aku jg terancam telat lulus…
mmg, kbanyakan dosen di tempatku dulunya “kupu-kupu” (kuliah-pulang kuliah-pulang)…
tapi msh untung kegiatan di luar perkuliahan di lab msh bisa berjalan…
@21 Fajar
Waktu angkatan 2001 sih di semester 11, gak tau klo udah berubah..
ITB mahal…. UGM mahal… UI juga….
Perbandingan Uang Kuliah dan Harga Makan di (UGM)Jogja
2002
Uang kuliah masih 500 ribu, makan 1000 dah kenyang..
2003
Uang kuliah naek 750.000 makan 2000
Tahun 2004
Uang kuliah 1.800.000 makan 5000 aja dah syukur
sejak 2004 Plus SPMA min 20 juta…
ITB mahal…. UGM mahal… UI juga….
Perbandingan Uang Kuliah dan Harga Makan di (UGM)Jogja
2002
Uang kuliah masih 500 ribu, makan 1000 dah kenyang..
2003
Uang kuliah naek 750.000 makan 2000
Tahun 2004
Uang kuliah 1.800.000 makan 5000 aja dah syukur
sejak 2004 Plus SPMA min 10 juta… (10 juta biar yakin keterima)
mmm… RASANYA GAK TEPAT KALAU DI BERI JUDUL KACANG LUPA KULITNYA, LEBIH TEPAT KALAU “MENJILAT LUDAH SENDIRI”. emang banyak sih mahasiswa yang kritis tapi Setelah keluar dari kampus dan hidup di masyarakat ternyata dia menjadi “orang yang dia kritik”. Mungkin karena mereka BELUM MERASAKAN KEHIDUPAN SESUNGGUHNYA. masih dapet KIRIMAN DARI ORANG TUANYA. tapi banyak juga kok yang NGAK KAYAK GITU, yaitu mereka YANG TELAH BEKERJA MATI-MATIAN BUAT BAYAR MAKAN DAN KULIAH DENGAN HASIL KERJA KERAS MEREKA SENDIRI, sehingga akan berpengaruh pada kehidupannya setelah lulus KULIAH.
[...] Budi Rahardjo – Teknik, kampus, pendidikan [...]
Ada dua aspkek. Satu komersil. Kedua justeru ini yang namanya INGAT KULIT. Ini pasti karena dosen-dosen termasuk pembuat aturan adalah produk pabrik dosen masa lalu. Salah forma. Ketinggalan jaman. Dia lupa bahwa searang pergi ke kampus saja tidak ada uang. Apa lagi beli buku. Ya, jangan pikir cepat lulus. Dan dulu ada dosen-dosen KILLER , e bisik-bisik sekarang juga masih ada sang KILLER ,dosen yang ngajar sebagai sambilan untuk nyambi. Ketularan KILLER. Killing puchnya jelas kalau mau skripsi bukan bimbing malah nolak doang. jual mahal… dan berabe, ya hasilnya jelas, tunda lulusannya.
hehehe, saya senang kl Pak BR ngomong begini. sudah agak lama gak denger dosen ngebelain mahasiswanya
. terus berjuang pak !
pa
ga lulus2nya kenapa? memang kesulitan/punya idealisme ga mau asal TA/lulus?
atau memang sibuk bercabang “ngapa2in” ke sana sini?
kalo memang kesulitan, ya memang kasian. dipaksa-paksa lulus plus dimahal-mahalin.
kalo dia bercabang2?
wah saya gak pernah ngalamin, lulus SMA gak kuliah pilih bergelut dibidang musik
tomy————–>penggemar band-band legend
wah saya nggak lulus spmb itb
[...] sebelum peraturan ini dikeluarkan udah pasang target seperti itu juga, he..he.. (maaf bukan sombong, tapi diusahakan, InsyaAllah…). Alhasil dari peraturan ini apa…? kalo saya lihat temen-temen ketika TPB (tingkat 1) tapi setelah tingkat dua ini bisa jadi apa yang Pak Budi bilang bener juga, “menghalalkan segala cara”, Alhamdulillah semiga saya tidak sampe’ kesana… labih jelasnya baca aja postingan Pak Budi disini. [...]
Kalau tidak salah pertama kali diberlakukan aturan spp 2 kali lipat itu setelah batas waktu tertentu pas angkatan saya (angkatan 2000). Cuma tidak jadi diberlakukan. Saat itu, kami (seluruh angkatan dua ribu) pada protes, buat forum komunikasi angkatan 2K, lalu demo
, sambil mengumpulkan tanda tangan seluruh angkatan 2K. Perjuangan(?) berhasil, Beruntung sekali di tahun kelima saya tidak jadi bayar dua kali lipat sampai tahun ke tujuh.. he he he.
Jadi inget lagi masa-masa itu, kamarana atuh barudak 2K???..
Wah ternyata sama saja dimana-mana, saya kuliah di salah satu PTS di jogja, dan telat lulus juga, abis dulu banyak di kegiatan organisasi, sampai-sampai temen saya nyeletuk… INI HMJ (himpunan mahasiswa jurusan), atau IO… tapi untunglah saya masih sempet belajar Oprating System Freee… (LINUX). dan akhirnya berguna juga…. bayangintuh biaya kuliah mahal.. apa ngak pernah ngrasain susah ya… malah sekarang di kampusku ga ada rektornya juga, katanya ada pergantian… tapiko malah berlarut-larut gini masalahnya…
jika ingin maju
dunia pendidikan indonesia khususnya dunia kampus
harus diperbaiki adalah
80% dosennya 10% kampusnya dan 10% mahasiswa
terkadang dosen-dosen tersebut (beberapa, bukan semua)
seperti bukan manusia lagi
di mata saya
maaf terlalu kasar
memang inilah kenyataannya
anda tau kenapa tidak ada hari dosen
sementara hari guru ada,,,,
guru dianggap pahlawan,
nahhh dosen dianggap apa
pikirkan itu ????
[ manusia dinilai dari sikap dan perbuatannya sehari-hari bukan dari jabatan,status,dan harta]