Identitas Penulis dan Tulisannya
20 April 2008 oleh Budi Rahardjo
Beberapa waktu yang lalu kita mendengar umpatan - atau lebih tepatnya, opini - bahwa blog itu tempat berbagi kebohongan. Saya sendiri tidak mempermasalahkan hal ini karena setiap orang boleh memiliki opini (yang berbeda).
Sore ini saya memiliki sedikit waktu untuk membenahi tumpukan yang ingin dibaca di atas meja saya. Salah satu tulisan yang ingin saya baca adalah sebuah artikel di harian Pikiran Rakyat (Bandung tentunya), tanggal 16 Februari 2008 (Sabtu). Artikel yang berada di halaman 29 ini memiliki judul “Tulisan, Persona, Identitas” dan ditulis oleh Alfathri Aldin (Direktur PICTS, editor Jalansutra dan Pustaka Prabajati, anggota FSK ITB).
Yang membuat saya tertarik untuk membaca artikel ini, sehingga halaman koran ini saya tumpuk di atas meja saya, adalah bagian awal dari artikel. Ini dia:
Bayangkan, Anda membaca sebuah karya sastra yang indah lagi menyentuh tentang segala hal yang baik lagi puitis ihwal perempuan. Namun, sang penulis ternyata penindas perempuan. Kemudian, Anda pun sering membaca tulisan yang memikat berisi ketakziman dan keyakinan terhadap nilai-nilai kemanusiaan secara filosofis. Namun, dalam kesehariannya sang penulis ternyata sangat tidak peduli terhadap manusia. Selain itu, Anda pun gemar membaca buku agama karya seorang teolong. Namun, dalam realitasnya, ternyata sang teolog sama sekali tidak mengamalkan hal yang ia tuangkan dalam bukunya. Menghadapi fakta-fakta tersebut, kira-kira bagaimana reaksi Anda? Masih berhargakah karya mereka?
Halah! Ini topik yang sangat menarik, apalagi dikaitkan dengan keberadaan blog. Bagaimana pendapat Anda jika apa yang dituliskan oleh seseorang di blog berbeda dengan keseharian dia? Seseorang dapat mempersepsikan diri sebagai sosok yang lain sama sekali. Bisa jadi dia menggunakan blog untuk tebar persona.
Katanya, Foucault pernah punya ide; bagaimana jika dalam satu tahun semua buku diterbitkan secara anonim. (Saya tulis “katanya” karena saya sendiri tidak familier dengan fakta atau cerita ini.) Kalau jaman dahulu, mungkin susah memaksa agar semua buku diterbitkan secara anonim. Sekarang, dengan teknologi blog, sangat dimungkinkan untuk membuat sebuah layanan yang penulisnya adalah anonim.
Kembali kepada topik pembahasan. Apakah latar belakang penulis menjadi pertimbangan Anda dalam mencerna isi tulisannya? Seorang yang di blog menceritakan tentang agama, tetapi sehari-harinya tidak menjalankan ritual ibadah akan dianggap sebagai orang munafik. Umumnya, kebenaran karya dari orang (munafik) ini akan dipertanyakan. Nah lho. Bagaimana ini?
Pikir-pikir, apakah blog saya ini mencerminkan pribadi saya ya? Dan apakah itu (menuangkan personality pada tulisan) perlu?
Oh ya, artikel tersebut menarik untuk dibaca.
pertamax..
Iya betul, apa yang tertuang di artikel itu ada benarnya.
Apa yang tertulis bisa jadi tak menggambarkan watak si penulis sesungguhnya.
Walaupun banyak yang berpendapat, katanya, bahwa tulisan menggambarkan personality seseorang. 
bisa jadi orang itu mempunyai kepribadian ganda pak? atau bisa jadi orang itu termasuk jenis “just follow what i say not what i’ve done”?
jangan-jangan … ssssssssst …. wilder tuh islam ya pak
hm… kalo menurut aku sih tulisan tidak harus bergantung pada siapa yg nulis. Kalo memang kenyataannya tulisan tsb bertolak belakang dengan sifat penulis ya… harap dimaklumi
paling gampang sih, baca tulisan dan ambil bagusnya aja. terserah latar belakangnya apa
Baca full article nya dulu..Menarik pak.tp saya musti bolak balik bacanya..Menusuk-nusuk
Btw,comment dikit,soal anonimitas(utamanya di blog),saya kira itu hy akan membuat orang lebih ‘ngawur’ tdk arguable dan tak bertanggung jawab.Liat aja comment2 miring dari para anonimist ini (yg suka coment anonim jgn trsinggung ya..)
kyknya soal ini pernah saya posting jg.
saya bc artikelnya dulu lagi pak.
Mestinya apa yang dia bilang adalah apa yang dia pikirkan dan apa yang dia lakukan. Kalau tidak itu namanya ‘kongslet’. Orang Islam bilang munafik.
Sayangnya kita jarang bisa tahu dengan sekaligus soal itu.
Jangan lihat siapa yang bicara,
liat substansinya.
.nasgur
Saya justru bersyukur ada media blog seperti ini, sehingga kita dapat saling menuangkan ide, uneg-uneg, komentar. Waduh saya tidak bisa baca artikelnya ya..soalnya saya sekarang di Yogya. Tapi dari potongan tulisan artikel yang dituangkan oleh pak Budi R. menurut saya ada benarnya juga. Mungkin kalau kita menulis novel, bisa jadi kita memiliki khayalan tentang suatu karakter yang bukan diri kita. Nah, blog menurut saya boleh dikatakan sebagai sebuah catatan keseharian kita yang ingin kita share bagi orang lain. Saya sendiri memelihara blog dengan tujuan agar apa yang pernah saya kerjakan, apa yang pernah saya uneg-uneg-kan
ingin saya bagikan kepada rekan-rekan yang lain. Dari yang pak Budi R tulis di blog bapak, inilah catatan-catatan dari pak Budi R. yang selalu menarik untuk diikuti juga. Waduh kepanjangan…sekian dulu. “Berbagi lebih indah daripada untuk diri sendiri” 
Yang penting kita tidak menghakimi mas… semua pasti ada sebabnya, ada alasannya, ada jawabannya, ada hikmahnya… bukankah manusia tempatnya khilaf.
Dengan menulis, kita bisa membuat apa yang tidak dapat kita wujudkan menjadi terwujud.
Itu sih yg pasti
.
Tulisan memang dapat menunjukkan watak seorang penulis, tp tidak segamblang dan semudah itu. Seperti kasus penulis yg mengagung-agungkan perempuan tp ternyata menganiyaya perempuan. Bisa jadi dia membuat tulisan itu dengan harapan bisa mendapat pemuja2 wanita yg bisa dia manfaatkan atau dia sebenarnya mengharapkan wanita yg sempurna– alias ga bisa menerima realita.
yang penting bebas dan bertanggung jawab lho pak,
jadi gak asal tulis, apalagi klo mo mengkritik orang lain
udah ada kasusnya tuh, si pakar dan yang mengkritik si pakar
Hmmm…. well great !!!
Bisa jadi bahan renunganku malam ini mas. Thanks a lot.
Jadi ingat 3 kata kunci almarhum ayahku dulu …. harus Jujur - Baik - Sabar
Kalau menurut saya, lihat (pelajari) apa yang ditulis (diucapkan), jangan melihat siapa yang menulis (mengucapkan). Jadi kalau ada koruptor yang bilang, “jangan korupsi” itu tetap ok anjurannya nya. Boleh/harus diikuti jika benar. Juga sebaliknya.
Kalau saya sendiri lebih suka pakai nama. Lho kok weblognya Abasosay? Ini nama yang sudah dipakai bertahun-tahun (sejak kuliah) sebagai penghormatan kepada Tigi yang setia menemani sejak masuk kuliah hingga sekarang, Halah. Toh Weblog saya juga dilink ke situs saya yang lain yang mengumbar identitas asli saya.
Kalau bikin buku, saya pasti pakai nama pengarang. Lumayan buat nambah-nambah cv.
Isi tulisan yang saya buat sebagian besar hasil perenungan dan pengalaman. Eh, yang ditanyakan apa latar belakang menjadi pertimbangan ya.
Bagi saya latar belakang cukup berpengaruh atas kedalaman tulisannya saja. Nantinya bila tulisan itu digunakan untuk tulisan ilmiah semacam paper atau tugas akhir harus memiliki penulis yang relevan dengan bidang yang dibahas dalam paper atau tugas akhir tersebut. Kan tidak mungkin bikin paper IT mengacu kepada saya yang hanya jebolan SMU ini.
Semoga bermanfaat dan terima kasih.
Bagi sebagian orang mengungkapkan kebaikan kadang untuk pengingat agar dirinya berbuat seperti yang dikatakannya.. masalah kapan dia berubah jadi baik, itu masalah yang beda, tapi yang terpenting dia telah menyampaikan suatu kebaikan, minimal untuk dirinya sendiri, dan syukur-syukur bermanfaat bagi orang lain.. dan orang seperti ini menurut saya bukan kategori orang yang munafik, IMHO
Asalkan jangan main pukul rata saja. Generalisasi itu biang paranoia, disintegrasi, dan serba berburuk sangka; over-apatis.
Salam,
tulisan fiksi jarang dan tak harus ada hubungannya dg pribadi penulisnya.
Tulisan ilmiah, tulisannya hanya menunjukkan kemampuan penulisnya.
Tulisan moral -etika-religi, disamping menujukkan kompetnsi kognisi penulisnya juga secara moral juga menggambarkan keseharian penulisnya. Untuk jenis tulisan terakhir, pembacanya akan menghukum penulis secara moral jika tulisan dan penulis tak berkorelasi.
just like me… anonym… and I like tp be anonym…
anonym is an art, so I’ll be an artist in anonymity..
ada ungkapan katanya mutiara/intan meskipun keluar dari mulut babi pun tetap berharga…..jadi menurut saya konten sebuah tulisan independen terhadap siapa penulisnya. Hanya kadang kita yang suka membandingkan dengan pribadi penulisnya. Kalau ada ahli agama mengajarkan “A” yang positif, tapi dirinya bejat…kita secara refleks akan gampang menghakimi “halah, kamu aja bejat kok sok ngajarin gitu”. Nah jadi terlepas dari bagaimana kita menyikapi isi tulisan itu kan? Selama konten tulisannya positif, berguna, bermanfaat kenapa kita harus memusingkan siapa dan bagaimana latar belakang penulisnya?
WYSWYG
Setahu saya Tractacus Logico-Philosophicus-nya Ludwig Wittgenstein dan God and Philosophy-nya Antony Flew masih terpakai dan diakui sebagai masterpiece bahkan setelah penulisnya ‘mengkhianati’ pendirian mereka sebelumnya, kok, pak.
Itu namanya ad hominem tu quoque. Karena si pengucap wejangan berbuat yang bertentangan, maka langsung saja ucapannya dianggap salah. Padahal belum tentu kenyataannya begitu.
Contoh: seorang koruptor berkata “jangan lakukan korupsi, korupsi itu dosa”. Tidak berarti kata-kata “jangan lakukan korupsi” itu menjadi salah karena yang mengucapkan bersikap munafik.
Katanya sih –katanya lho– tulisan itu mencerminkan kepribadian. Dan kalau ada penulis munafik ya berarti dia menipu dirinya sendiri dan orang lain. *hoalah, kagak nyambung*
“On the internet, nobody knows you’re a God.”
Makanya ada ujar-ujar:
makanya buat para blogger jangan jadi blogger yg munafik.
ntar bisa2 RS bikin sensasi lagi bilang klo blogger itu munafik.
Menulis semestinya dengan kejujuran!
Nope, kalaupun Budi Rahardjo, seorang dosen elektro, menulis kritik tentang desain grafis masa kini pun saya akan percaya! Yang penting saya bisa copy paste tulisannya. (hihihih, becanda pak…
Saya justru lebih senang kalau blogging dimanfaatkan untuk mencurahkan sisi lain. Kalau cuma mau lihat sisi sebenarnya kan bisa ketemu di dunia nyata aja…?
Yup setuju dengan komen qizinklaziva , Menulis semestinya dengan kejujuran
Yang membedakan blog itu sampah atau emas adalah kredibilitas. Kayaknya susah banget kita percaya penulisnya kredibel kalo identitasnya tidak diketahui.
Tapi selalu ada kasus khusus (seperti blogger di Cisco) saat penulisnya anonim, tapi materi yang ditulis dilandasi fakta-fakta dan bukti-bukti yang amat kuat sehingga membuat blog itu kredibel. Tentunya ini sangat sangat jarang sekali.
Personally, saya sangat memandang siapa pembuatnya. Yah, maklum kan makan merek.
Peace…
nah.. ini artikel pas buat saya… gimana kalau isi sebuah tulisan tidak sama dengan keseharian si penulis?
blog saya isinya melulu tentang musik, musik dan musik. padahal keseharian saya, saat ini saya tidak dalam industri musik & bukan musisi
, apakah blog saya menjadi tidak kredibel? tidak dapat dipercaya?
jadi suka mikir, apakah sebaiknya, seorang penulis menulis apa yang ada dalam kesehariannya saja? atau si penulis harus menyesuaikan kesehariannya dengan apa yang ditulisnya?
ah … suatu nasib yang menyulitkan
anyway, salam pak! salam kenal buat semuanya!
wah kadang berfikir begitu, tapi pada akhirnya saya berpendapat bahwa setidaknya memberi pengetahuan dulu… walau blum bisa mengamalkan
” Seorang yang di blog menceritakan tentang agama, tetapi sehari-harinya tidak menjalankan ritual ibadah akan dianggap sebagai orang munafik. Umumnya, kebenaran karya dari orang (munafik) ini akan dipertanyakan. Nah lho. Bagaimana ini? ”
menggelitik sekali pak
menurut saya ajaran agama yang dikutip dan menjadi “karya” orang tersebut harus dinilai objektif murni. kebenarannya dibebaskan dari sosok yang menuliskan. jadi kebenaran ajaran agama ini tetap tidak berubah kebenarannya (saya begitu jika yang disampaikan adalah ajaran Islam )
sementara persetujuan kita terhadap opini nya terkait ajaran agama, maupun sosoknya sebagai penganut agama harus dinilai secara objektif dan subjektif (selain melihat ke ajaran agama yang diceritakan, juga kepada integritas si pencerita). kalau ternyata ia munafik, maka opini dan sosoknya sebagai hamba yang shaleh dan memahami agamanya perlu kita ragukan.
salam hormat,
arif rahman
http://arifrahmanlubis.wordpress.com/
menurut saya,,, tulisan ya tulisan.,,, pengarang ya pengarang…. mungkin hanya sedikit hubungannya… namun sedikit banyaknya tulisan tersebut juga mencerminkan sisi pengarangnya
menurut saya,,, tulisan ya tulisan.,,, pengarang ya pengarang…. mungkin hanya sedikit hubungannya… namun sedikit banyaknya tulisan tersebut juga mencerminkan sisi pengarangnya
kalau jaman para nabi orang orang yang seperti itu disebut sebagai orang farisi ( mengajarkan apa yang baik hanya dalam teori tapi tidak dalam peraktek mereka, berdoa ditempat keramaian tapi tidak setulus hati hanya untuk pame)
tapi sekarang ini, dengan media yang sangat mudah di akses. semua mudah dilakukan. sulit rasanya membedakan mana yang mempraktekkan dalam kehidupan mana yang tidak.
tapi kita bisa mengambil sikap postifnya saja.
lakukan yang baik menurut teorinya tapi jangan ikuti perbuatanya.
saya senang ada blog. bisa menuliskan ide, dan berkomentar. Memang ada yg identitas palsu, tapi ada juga yang nulis bener2… diambil positifnya aja…
iyah, tapi yang penting isinya …
kopdar itu juga buat konfirmasi ,tentang siapa mereka :d.
di ambil positifnya aja
mengapa wordpress dan blogspot masih memperbolehkan anonym ?
Terkadang tulisan itu adalah harapan atau imajinasinya, walaupun si Penulis sendiri tidak pernah mencapai harapan itu. Namun dengan menulis “seakan-akan” ia telah mencapainya.
Apakah novel ataukah cerpen mesti menunjukkan apa yang dia tulis itulah “sang penulis”, bukankah isinya terkadang hanyalah sebuah “pesan”.
—salam—
Dulu, ada banyak buku dan peraturan tentang moral dan nilai-nilai yang harus dijalankan di sebuah negara, dan yang pertama kali melanggarnya ya yang bikin buku dan aturan itu…
Saya sependapat dengan sora9n .. jika yang disampaikan itu adalah kebaikan — bukan soal kebenaran — tentu patut untuk dipertimbangkan.
Dan mungkin perlu dicatat .. ketika kita mulai membaca sesuatu, apakah kita membaca nama pengarangnya terlebih dahulu atau tidak. Apa kita memilih secara acak berdasarkan materi tulisan??
Ada Hikmah, ada Teladan. Keduanya bisa dipisahkan.
Seseorang yg tak berintegritas bisa jadi menyuarakan banyak hikmah, namun tentu dia tak patut dijadikan teladan. Tak perlu juga kita mencela dirinya, kecuali klo dia memproklamirkan dirinya sbg teladan dan idola yg harus dicinta.
Intinya, klo yg dia sampaikan baik, ya itu kita ambil lah. Tapi tak perlu kita meneladani dirinya.
satuju
saya nemuain orang yg masuk dalam quote tersebut…
ah enjoy da blog saja
betul bos.. gak ngaruh kok sapa penulisnya.. sepanjang kita mendapatkan sesuatu dari tulisan itu..
sebab sebagus apapun tulisan abang rahard, jika aku tidak mengetahui sikap yang mendasari tulisan abang, tentu aku juga tidak akan memperoleh hal seperti yang abang harap lewat tulisan itu.
yang penting kita terbuka dengan pendapat orang lain dan masih mau belajar dengan pendapat orang lain itu sudah cukup.
btw, berapa banyak ya comment di atas yang menggunakan nama sendiri ?
orang tua bilang, walau keluar dari dubur hewan sekalipun, tapi kalo itu berupa telur (kebaikan) ya kita ambil, sayang kan klo dibuang, mahal n berprotein tinggi lho…., apa lagi kebaikan yang keluar dr tangan2 manusia, jenis kita sendiri, so what gt loh…
Soal bagaimana latarbelakang ybs, biar Allah SWT yang mengurus…Salam kenal
sering denger petuah ‘jangan liat siapa yang ngomong, tapi dengerkan apa yang ia omongkan’
cuman rasanya klo kita sudah tau ’siapa’ yang ngomong, meskipun isinya berupa kebaikan rasanya sulit untuk menerima…..bukan masalah kebaikannya tapi lebih ke yang ngomong.
Hmm…. sepertinya iya. Meski tersamar sekalipun, setiap gagasan kita bukannya - sedikit atau banyak - mencerminkan pribadi kita tersendiri, pak?
IMHO, tergantung tulisan jenis apa dulu, Pak. Kalau sejenis presentasi, makalah, tesis, agaknya tidak. Nggak kebayang saja kalau bikin tulisan yang ilmiah tapi pakai kata “aku, aku” misalnya
Kalau di blog sih… sepertinya banyak yang “menuangkan” kepribadiannya ke tulisan
Sebuah karya tulis, merupakan tahapan pemikiran orang tersebut pada saat menuangkan karyanya. Di lain waktu, bisa saja pemikirannya dan tulisannya berubah 180 derajat. Jadi lumrah saja.
Karya tulis juga tidak harus identik dengan perilaku keseharian penulisnya. Sebab, bagaimana kita harus menjelaskan andaikan tulisan tersebut masuk kategori sains?
Saya cenderung menilai, bahwa tulisan adalah realita dimasyarakat (atau alam semesta) yang dipotret sang penulis dalam bentuk tulisan.
Bisanya baru nulis…ya nulis dulu.
Setelah itu mengamalkan setiap kebaikan.
Bila yang ditulis tentang hal buruk ya jangan dikerjakan.
Gitu kalee…
Itu makanya title di blog saya namanya Not another chiell story.
Soalnya chiell(saya) yang asli, mungkin tidak akan pernah mengungkapkan apa yang saya ungkapkan di blog.
hmm,, selama tulisan itu bagus,, artinya tidak membahayakan pembaca,, tidak membawa dampak negatif dan tidak mengajak kepada keburukan,, menurut akuw si,, sah-sah saja,, pernah ada yang bilang ke saiia: undzur ma qola, wala tandzur man qola kira-kira gitu,, lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan,,
piss ah!!
btw,, lama ga main tempat pak BR ya.. *hehehe,, padahal saiia juga udah lama gak nge-blog,,
Seharusnya identitas penulis sama dengan kenyataan hidup penulisnya. Mungkin saja dilema antara impian idealis dan kenyataan hidup membuat orang melakukan demikian.
Hidup susah, wajar saja punya impian kaya.
Punya impian X, tapi realitanya Y.
Kalau tulisan merupakan impian dan harapan ini masih bagus.
Tapi kalau tulisan dan kehidupan keseharian sudah bertolak belakang, terjadi konflik internal yang lama-kelamaan akan meledak. Ini yang berbahaya sekali.
Salam.
Salam

Kata-kata itu sebenarnya tidak mempunyai makna untuk menjelaskan perasaan. Manusia boleh membentuk seribu kata-kata, seribu bahasa. Tapi kata-kata bukan bukti unggulnya perasaan. mungkin gitu kali ya
he..he.. nyambung ga ya, mungkin itu yang disebut lain di bibir lain di hati
Terkadang menulis or mengatakan sesuatu tergantung mood juga, mungkin saat pikiran, hati, perasaan or prilakunya sedang baik maka yang disampaikanpun hal2 baik tapi kenyataannya dalam menjalani keseharian hidup, pikiran, perasaan, hati dan perilaku tidak selamanya ada dalam keadaan yang semestinya kan.
Selalu ada motif dibalik semua itu dan hanya Tuhan dan si empunya blog yang tahu
Menulis itu soal keberanian…
Satu orang mengahadapi ribuan pembaca.
Kalau tidak kuat: habis. Kalau kuat: orbitnya makin luas.
Dengan kata lain: si penulis bertanggung jawab penuh terhadap apa yang ia tulis.
[...] Memang lebih mudah ngomong daripada melakukannya. B menyarankan R ke dokter sebagai bentuk perhatian seorang teman. Tapi sebagai seorang pribadi, B pun tidak konsisten dengan sarannya. Ada banyak alasan yang bisa dia ungkapkan bahwa kondisinya sekarang adalah sebuah pengecualian. Memang kondisi bisa berubah. Dan ke-tidak-konsisten-an itu sendiri kadang adalah buah dari negosiasi terhadap kondisi yang ada. Tapi jika terjadi dengan kondisi yang sama, apakah masih konsisten? Ini sebuah contoh kecil aja. Masih banyak contoh2 lain yang lebih rumit. Coba deh anda tanya diri anda sendiri, konsisten ga dengan saran, pendapat ato opini anda sendiri? Begitu juga dalam menerima saran seseorang, apakah anda perlu melihat konsistensinya dia dulu, ato b… [...]
Kalo bicara integritas diri, idealnya apa yang ditulis mencerminkan yang menulis, karena menulis notabene mirip dengan berbicara dan berbuat, hanya beda di sisi media.
memang sih yang namanya menulis biasanya ato kebanyakan mencerminkan kehidupan penulisnya….
Iya pak, menulis itu kan sama dengan bicara, jadi kadang seperti janji. dan kadang janji itu tak ditepati
Mungkin ada ungkapan yang lebih tepat untuk ini pak…
Look who’s taliking …
Tukang beca tidak akan didengerin oleh mentri kalau dia minta harga minyak goreng diturunkan kecuali presiden…
yach kan pak…
Masyarakat kita masih masyarakat simbolis pak… harap maklum… tugas kita-kita ini pak menghancurkan semua yang berbau simbol-simbol….. yang positif loh pak
Mungkin depends on situations ya.
Kalau Mirza Ghulam menulis Kitab Suci, kita percaya nggak?
Ada pendapat dalam bahasa Batak (asal saya) yang kalau diterjemahkan kira-kira seperti ini: “Bahkan dari anak kecilpun terkadang kita seringkali mendapat nasehat dan kebajikan.”
Jikalau seorang pembunuh pun mengucapkan kebenaran, maka apa yang diucapkannya itu tetaplahkebenaran. Kebenaran itu mutlak, tidak nisbi, tidak tergantung siapa yang mengucapkannya.
[...] Hanya Menulis sajah kok repot?? ^^ Jump to Comments Apakah setiap tulisan menunjukkan identitas penulisnya?? [...]
uhmm..
saya bohong kalo saya suka bohong.. :p
ajari aku menulis dengan air laut sebagai tinta nya, dan kebenaran yang ada hanyalah goresan garam yang tertinggal. menguap (quoted from tukang bengong)