Waktu
27 April 2008 oleh Budi Rahardjo

Ah waktu
… mengapa kau menyiksa diriku
… detik demi detik
… membuat dadaku semakin sesak
… (akan kerinduan itu)
Ingin kupercepat waktu
… menuju titik akhir itu
… titik tempat nafas terhenti
… (dan semua tidak penting lagi)
Ditulis dalam Curhat, Prosa | yang berkaitan Prosa, sedih | & Komentar
Tinggalkan Balasan
you certainly need a friend,to get through those bad times..
i promise to be there next time…
please. i am counting on your promise!
kayaknya bapak mau bunuh diri. hi hi hi
won’t let you down again next time…!
Mengapa kita bisa membedakan “saat ini”, “nanti” dan “tadi” tanpa pernah keliru ya?
@5 dari konteks?
Rindu sama seseorang tapi justru ingin segera sampai pada titik tempat nafas terhenti ?
Gotcha! Pasti rindu pada Sang Pencipta, Allah SWT.
@ 6
Dari konteks esensi waktu. Maksudnya, kita secara real sungguh2 merasakan bahwa waktu benar2 bergerak maju, tanpa referensi apapun. Apakah ada semacam counter yg selalu berjalan dalam pikiran kita??
@8
kayaknya di pikiran kita ada peta, yang justru dijadikan referensi esensi waktu ?
yang jadi pertanyaan, representasinya kayak gimana ya? beda2x untuk smua orang?
[halah, dibahas...]
Ah waktu … katakanlah apa yang ingin kau katakan, rasakan apa yang ingin kau rasakan, dan jika ada yang menyia nyiakan engkau waktu, datanglah pada saya … karena saya tidak akan menyia nyiakan waktu.
Saya dan waktu ….
ah, waktu apa benar seperti itu?
aku juga ingin mempercepatnya, kalau begitu.
wah, pak. kayanya kategori “curhat” bapak, isinya bikin penasaran semua. ini teh cerita nyata? :p