Kesuksesan Anak == Hasil Kerja Ibunya
6 Mei 2008 oleh Budi Rahardjo
Kemarin berdiskusi soal anak dan kesuksesannya dengan istri. Salah satu poin yang muncul adalah peranan orang tua, khususnya ibu. Ternyata kesuksesan anak itu ditentukan oleh usaha dari ibunya. Tentu saja peranan lingkungan ada, tetapi peranan seorang ibu ternyata sangat kental. (Ada referensi juga dengan acara di Discovery Channel tentang penelitian tentang anak-anak.)
Salah satu faktor yang muncul adalah besarnya waktu dan perhatian yang diberikan kepada anak-anak (time spent with kids) katanya menentukan. Wah padahal di tengah kemajuan dunia saat ini, waktu dan perhatian merupakan barang langka.
Bagaimana menurut Anda?
setuju.
makanya perempuan harus pinter.
perempuan pinter menghasilkan lebih banyak orang pinter daripada laki2x pinter
seorang ibu adalah madrasah untuk anak2xnya
Salam
***kitu panginten***
Met pagi….
Deal pisan Pa, Ibu adalah pendidik yang utama untuk anak-anaknya. Itumah sudah pasti lah, begitupun sebaliknya kalau ibunya ancur biasanya anak2nya ga jauh beda
setuju. what chikaradirghsa said.
saya lebih sependapat dengan konsep di atas, regardless Bapak atau Ibu, masing-masing punya peran.
yang perlu diperhatikan adalah “apakah masing-masing menjalankan perannya?”
Ketika sang Ibu tidak bisa menjalankan perannya, maka ungkapan Hasil Kerja Ibunya juga patut menjadi pertanyaan.
Begitu juga sang Bapak.
Begini pak, saya punya istri yang bekerja, tentunya besar/kuantitas waktu dan perhatian untuk anak-anak kami tidaklah banyak, sehingga kami berkomitmen untuk meningkatkan kualitas perhatian kami untuk anak-anak
Saya kok tidak sependapat yah?
Mungkin kalo kepribadian seorang anak bergantung sama ibunya, saya setuju, coz si anak pasti mengambil contoh dari orang terdekatnya. tentu saja waktu kecil si anak banyak bergaul sama ibunya(tidak termasuk yang broken home).
sedangkan kesuksesan anak. itu murni bergantung sama kemauan si anak tersebut. plus gimana anak tersebut memikirkan langkah2x meraih kesuksesannya…. ibu disini cuman sebagai faktor pendukung aja..
tuh pendapat saya
Setuju Pak, sampe ada istilah 1 wanita pintar akan menghasilkan 1 generasi pintar….
saya setuju karena yang paling berpengaruh membentuk saya adalah ibu saya sendiri.
setuju pak anak urusan ibunya kalau si anak gak makan pan yang di salahkan bapak nya kalau anak nya gak naik kelas ibunya yang di salah kan itu sih komitmen saya sama istri?
Salam kenal pak,
Menurut saya, bounding with the kids is not the matter of how much time we spent with them (Quantity of bounding time), tapi seberapa intim (Quality) anda dan anak ketika waktu yang berharga itu tersedia untuk anda nikmati bersama anak2.
Jadi Kualitas ketika kita bersama2 dengan anak ini lah yang perlu ditingkatkan. Curahkan sepenuhnya cinta dan kasih sayang kita pada mereka disaat2 sempit begini dengan memperbanyak PELUKAN. Karena Pelukan itu menyalurkan ENERGY yang berbentuk KASIH SAYANG, AFFECTION, bagi si anak. Dan ini jelas akan sangat berpengaruh BESAR bagi perkembangen psikologis maupun tingkat kecerdasannya.
Ada penelitian yg mengatakan, 5 MENIT bounding antara AYAH dan ANAK, yang penuh pelukan (Quality of bounding time) itu akan meningkatkan kecerdasan anak 25% dari biasanya. (mungkin karena anak merasa nyaman dan diterima, membuat dia mudah menangkap pelajaran dengan baik).
5 MENIT aja bisa begitu berharga bukan?, bagaimana jika anda spend 10 atau 20 atau 30 menit yang berkualitas dengan mereka?, Saya yakin satu saat mereka bisa jadi pemimpin yang besar.
Salam kenal Pak Budi,
Mieke
Kalo dibilang “Kesuksesan Anak == Hasil Kerja Ibunya” mah saya tidak setuju.
Secara umum lingkungan sangat berpengaruh,
termasuk lingkungan terdekatnya yaitu keluarga lebih khusus lagi ayah dan/atau ibunya.
Karena ada kondisi tertentu dimana ibu ga selalu bisa dekat dengan anak. Kalo memang seperti ini harus tetap ada yang menggantikan peran ibu.
Kesuksesan anak adalah tanggung jawab kedua orang tuanya.
Ibu sudah mendidik sejak dalam perut … jk anak lebih dekat dengan Ibu sangat wajar … dan jika Ibu lebih mudah masuk ke anak juga sangat wajar …
Saya sendiri lebih sering menjadikan bapak & mbah kakung sebagai figur teladan (standar) bagi diri saya sendiri.
Dan saya pikir anak lelaki yang lain juga sama,
akan lebih mudah meniru tingkah laku, sikap seorang laki2 juga.
Itulah kenapa sekarang saya juga berusaha supaya bisa memberikan contoh yang baik bagi anak saya.
to Mieke:
penjelasan di awal dan di akhir bertolak belakang.
di bagian akhir Anda justru menekankan kembali “time spent with kids” - namun sekarang including additional scorecard: quality.
mungkin yang lebih tepat adalah kuantitas (dan) kualitas. jika dipisahkan, bisa jadi pembenaran ngga apa-apa kumpul sama anak sebentar yang penting berkualitas. Padahal belum tentu kebutuhan anak saat itu adalah kualitas. Mungkin yang dia inginkan saat itu adalah “waktu” bersama.
btw, saya jadi teringat posting saya yang ini.
http://aryanugraha.wordpress.com/2006/12/23/yang-tak-terekam-tentang-ibu/
Trus, gimana dengan anak yang ditinggal pergi ibunya Pak?
Saya sependapat dengan no 5 dan juga no.6…
salam,
Chanks
Kira-kira pola pendidikan terbaik buat anak hingga jadi anak sukses, bentuknya seperti apa ya?
Salam..
Pokoknya mah sebisa mungkin luangkan waktu buat anak… either kualitas maupun kuantitas. Ya kalo gak bisa kuantitasnya dibanyakin, ya jangan kecewa…. kita toh masih bisa perpaiki kualitasnya.
setuju mbak mieke… and setuju juga sama mas arya. Duh, tulisan anda inspiring yach… makasih artikelnya
saya lebih sependapat kalau, keberhasialan seorang anak adalah hasil kerja keras kedua orangtuannya terlepas itu peran seorang ibu atau seorang ayah dan faktor pemilihan lingkungan untuk pertumbuhan dan perkembangan anakpun menjadi salah satu faktor yang berpengaruh.
menurut saya bukan berapa lama waktu yang dihabiskan bersama ibu, tetapi kualitas yang diajarkan ibu ke anak. saya tumbuh di lingkungan orang tua yang bekerja, namun nasihat-nasihat dari orang tua selalu saya coba turuti.
tapi saya ga tau saya udah sukses apa belum ya?
Sependapat dengan cK no 20
Agama Islam memang menekankan bahwa pendidikan anak sejak awal berasal dr si Ibu sendiri. Selain masalah hubungan yang erat antar keduanya, juga karena si Ibu yang lebih paham perkembangan si anak.
Salam kenal pak budi…
Menurut pengalaman saya, peran istri yang paling besar dalam membentuk karakter anak. Makanya setelah punya anak, kami sepakat istri tidak bekerja di luar rumah. Hampir semua kepandaian dan keterampilan anak-anak kami, istri saya yang mengajarkannya. Tugas saya sebagai ayah adalah sebagai “pendorong” dan “tukang puji” ketika anak berprestasi. Waktu saya berinteraksi dengan anak hanya ketika pagi hari, krn pulang kerja biasanya anak-anak sudah tidur. Di pagi hari itu adalah waktunya saya memandikan, menyuapi dan mengantar anak-anak ke sekolah.
Saya nggak percaya dengan istilah “kualitas pertemuan”, mana bisa kita mengukur “kualitas pertemuan” kalau kuantitasnya kurang.
ini pasti kesalahan simbok (ibu) saya.
[mencari alasan dan pembenaran atas ketidak suksesan]
http://jarwadi.wordpress.com
untung anakku gak jauh dari ibunya…
walau jauh dariku
Kalau inteligensi memang diturunkan dari ibu. Itu sudah ada penelitiannya, Pak.
Kalau mendidik, saya jadi teringat jargon lama, “kalau kau mendidik 1 laki-laki maka kau hanya mendidik satu orang, tapi jika kau mendidik 1 perempuan maka kau mendidik satu generasi.”
Yah, memang sebagian besar ditentukan peran ibu.
iya… kira-kira begitu idealnya
tapi sekarang banyak yang gak ideal karena berbagai hal… cari nafkah misalnya
http://hmc.web.id (blajar bahasa inggris pake nasyid)
Mmmm.. menarik.
Btw, ukuran kesuksesan anak apa ya?
Menarik untuk ditulis di blog Pak Budi selanjutnya neh.
Oh ya, saya yakin ibu berperan amat penting untuk mengubah kehidupan anak. Bisa mengubah jadi baik, atau bisa juga buruk.
Jadi ingat Hee Ah Lee… yang cuma punya empat jari tangan, dan tidak punya kaki. Tapi karena ibunya tidak pernah membiarkan dia menyerah, dia jadi pianist hebat sekarang. Dengan hanya empat jari tangan.
Benar pak, saya punya sebuah buku tentang biografi ibunda orang-orang “mulia” di sepanjang masa keemasan Islam. Judulnya “Ibunda Para Ulama” buku ini saya berikan sebagai hadiah untuk istri saya pada saat melahirkan anak saya yang pertama.
Kalo Pak Budi dan keluarga mau baca, insyaAllah akan saya bawa ke meja pak Budi.
Bagi ibu bekerja, kualitas akan sangat mempengaruhi perkembangan anak. Saya sendiri perempuan pekerja, bahkan sesudah pensiun masih bekerja walaupun lebih banyak melalui internet.
Bagi saya keberhasilan seorang anak, adalah kerja sama ayah ibu, serta lingkungan sekitar, seperti guru dsb nya. Pengalaman saya, lingkungan sekitar berperan aktif dalam mengembangkan anak, tanpa lingkungan ini anak-anak saya tak berhasil.
Saya banyak menulis postingan tentang ini, agar para perempuan yang ingin bekerja di luar rumah tak kawatir, karena lingkungan saya banyak perempuan bekerja, namun anak-anaknya tetap bisa masuk ke PTN seperti UI,IPB,UGM, ITB dll.
Wah kalau 1 ce pinter melahirkan 1 generasi pinter.Cewek ITB laku keras dong..hehehe
Harapan bunda bukanlah harta,bukan pula sanjung puja….(Ahmad Albar)
idem dito, nice
Kesuksesan Anak == Hasil Kerja Ayah & Ibunya
…gak cuma ibunya, anak adalah amanah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Jadi anak adalah tanggung jawab ayah dan ibunya (kedua orang tuanya)
Ayah juga sangat berperan dalam kehidupan anak.
http://delau.wordpress.com/
Ayah juga berperan loh bukan cuma Ibiu etrcinta
klo sya pak fifty2, krna anak kan hsil proses brsama hehe..
bcanda tpi ..sya lbih mentingin kualitas kebersamaan bareng ibu. daripada sering ketemu tpi ga berkualitas yaa percuma..conthny ibu sya meninggal pas umur sya 13 tahun, trus sya ngerasa meskipun sebentar bersama ibu tapi kesan ibu bagi sangat dalem. mudah2 aj sya jdi org berhasil tpi dgn doa ibu tentunya…amien
Pak Budi
memang salah satu interaksi pertama seorang anak adalah dengan ibunya.. sehingga bekal dan dasar2 awal anak dapat sukses ya dari ibunya..
saya setuju.. dengan pendapat itu..,
hanya saja kadang disaat kita sudah dewasa.. kita lupa untuk memberikan do’a untuk ibu kita.. saya usul agar setiap kita berdo’a jangan lupa mendo’akan kedua orang tua kita..
semoga orang tua kita selalu diberi kemudahan… amien…
Eeeeee….Ayah juga mempunyai peran walau cuma ( x % )
Kesuksesan anak ITB tergantung pada cara dosen mendidik.
denger2 negh pak BR, katanya klo anak bidan, dokter (mamanya) anaknya kebanyakan rusak semua….
soalnya jarang diperhatikan, apalagi klo mamanya sering dinas malam or full time in RS gitu….
*katanya - 1/2 dari pendapat saya*
Menurutku sihh… yg paling berperan adalah… siapapun yg lebih sering bersama anak itu… bisa ibu/pembantu/sodara/teman/lingkungan dll…
Dan yang tak kalah penting, seorang ayah yang betul2 peduli ama anaknya juga memiliki peran yg cukup penting
Bagaimana kalau ibunya kerja, sedangkan bapaknya dirumah saja. Kalau kasus seperti ini kan bapaknya yang lebih banyak berperan.
ga (begitu) stuju doung
ibu cuman salah satu faktor aja.
saya pernah disuruh baca buku (nanti saya cari lagi karangan siapa), yang bilang ga ada hubungan antara kesuksesan anak dan waktu yang diberikan ibu thd anak tsb. faktor sukses itu malah pendidikan ortu (ayah-ibu), gizi, dll.
yang saya anut adalah ibu itu harus bahagia, kalo dia bahagia maka anak dan suami juga bahagia. buat apa ibu merasa devoted untuk anak dan keluarga tapi dia terus ga bahagia bahkan depresi. (kasus terburuk, nyonya ani, pl - itb 94, yang membunuh 3 anaknya).
saya juga penganut peer-to-peer couple, jadi urusan (keberhasilan) anak adalah urusan ayah dan ibu
berdua doung.. bikinnya kan berdua 
boleh juga…
salam kenal…
Setuju bgt pa..mmg guru terbaik seorang anak adlh orangtuanya trutama ibunya..
clear banget ….. peran ibu 24 jam sehari di rumah.
Punten nimbrung Pak Budi,
Saya setuju dengan pendapat Mas Sapto [11], Ibu Edratna [31], Mba Kiki [35], dan jeruksunkist [37], dan lainnya. Menurut saya, kesuksesan anak adalah hasil kerjasama antara ayah dan ibu. Sangat tidak adil melimpahkan pengasuhan & pendidikan anak ke ibu saja.
Seorang ibu sudah sangat menderita dengan agenda bulanannya, melindungi anak kita 9 bulan ke sana ke mari, bertaruh nyawa untuk melahirkannya, belum 40 hari bahkan bisa lebih 3 bulan setelahnya harus bergelut dengan kondisi tubuh yang masih lemah sementara harus menjaga bayi kecil yang juga sangat lemah, dsb dsb.
Pokokmen urusan ayah dan ibu lho, seperti komen Ibu Ayi [44] wong bikinnya juga berdua hehe… Setuju pisan dengan Ibu Ayi, seorang ibu harus bahagia .. Ibu yang bahagia pasti ikhlas bahkan secara naluri akan dengan senang hati mengambil tanggung jawab lebih dari ayah. Hem .. ayah pun bahagia bisa tenang bekerja (seperti saya termasuk bisa tenang ngeblog di sini hihi …
dan tentu harus berperan juga bagi kesuksesan anak.
Terimakasih Pak Wasis [38] untuk nasehat yang sangat berharga.
Salam saya, -bandung.
Pararunten`….
Sumuhun (48), .. eta mah seperti teorinya John Locke. Tugas Ibu Bapa mengantar anak ke ITB kantos selesei atuh, terus ITB khan menjamin kesuksesan anak didik, mau bukti. Ingat sambutan rektor pada wisuda ITB kapan ya.. ?.. kira kira Juli/Agst 2004, tempatnya klo ga salah di Sasana Budaya Ganesa, Kampus ITB, judulnya klo ga salah “Kontrak Sosial Kolaboratif IPTEKS” Intinya Keunggulan Akademik ada hubungannya dgn Kesejahteraan dan Kemandirian Bangsa. Ingat lagi Triple Helix ABG (akademik,bisnis,government). Sekarang orangnya udah naik lagi jadi petinggi. Kite .. pendengar setia sebetulnya tinggal menanti trikcle down efeknya aja, satu tetes aja … kita tampung ame ember kite yang namanya logika matematika … he.. he…he…. Inget lagi kontrak …
setuju sekali, bahkan hal ini adalah salah satu rahasia kesuksesan Jepang.
Ibu …..
Anak adalah buah nikah. Orang tua adalah pohon nikah. Sukses tidaknya buah, tergantung pohonnya.
setuju pak BR !!
ketulusan ibu ga ada yang bisa menandingi,,,
jadi inget ibu ni…
Setuju…
Baik-baiklah pada ibu…
Ibu-ibu jadilah baik
kalo saya sih melihat kalimat “Kesuksesan Anak == Hasil Kerja Ibunya” sebagai suatu bentuk sanjungan terhadap kaum ibu. jadi jangan dulu langsung dianggap melimpahkan urusan anak2 ke ibunya saja. tentu saja baik ayah maupun ibu sama2 bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya. jadi berterimakasihlah kepada ibu kita.
Saya cuma mau berbagi cerita yang nggak lucu saja :
Yang susah begini, Bos!
Papanya pinter dan seorang Profesor terkenal tapi jelek. Trus mamanya bloon tapi cantik yang seorang foto model terkenal. Gimana kira-kira entar anaknya?
Kalo anaknya entar cakep/cantik dan pintar serta sukses sich oke2 saja.
Tapi susahnya kalo entar anaknya jelek dan bloon trus nggak sukses lagi. Gimana ya?! Hi hi hi
Akh… nyambung apa nggak ya???
* Ngacir mode ON *
Seorang wanita cenderung merasa memiliki ikatan emosional yang lebih kuat terhadap anaknya daripada seorang pria terhadap anaknya. Selain karena memang demikian sifat wanita, juga karena beratnya kesusahan yang para wanita alami selama mengandung dan mengasuh anaknya. Dalam hal ini, Pria kemungkinan besar tidak pernah mengalami apa yang terjadi pada wanita. Makanya, anak tiga kali diperintahkan mengutamakan Ibunya terlebih dulu sebelum Ayahnya.
Tapi dalam hal kesuksesan anak, hendaknya kita tidak menjadi takabur/sombong/tinggi hati dengan pernyataan, fakta, ataupun hasil penelitian yang menyatakan bahwa kesuksesan anak lebih ditentukan oleh Ibunya. Karena pada akhirnya yang menentukan nasib anak adalah Allaah dan anak itu sendiri.
Saya pribadi cenderung berpendapat bahwa yang punya pengaruh lebih besar adalah orang yang menjadi panutannya, baik panutan karakternya atau panutan emosinya. Pertanyaannya, siapakah yang lebih dijadikan panutan seorang anak? Bisa Ibunya, Ayahnya, atau keluarga lain. Ataukah pembantunya?
Kesuksesan Anak == Hasil Kerja Ibunya

*ada dua tanda sama dengan*
hmmmmmm…..
*berpikir*
Ibu begitu andil yaks….
saya rasa itu benar pak. Saya pernah baca tentang artikel penelitian yang menjelaskan semenjak merebaknya feminisme di amerika… berapa puluh tahun berikutnya gitu, ternyata terkait dengan meningkatnya kriminalitas.
Karena anak-anak yang dulunya kurang perhatian ( dari ibu terutama ) cenderung jadi “sukses” jadi pelaku kriminal… atau pengguna obat, dll
Idealnya memang ibu yg lebih dekat, karena yang ideal emang ibu tetap dirumah ga harus berngkat pagi pulang malam..
kalo bapak boleh berangkat pagi pulang sore/malam
tapi dengan dunia IT. bapak tidak mesti berangkat pagi pulang sore karena kerjaan sudah dapat di handle dr rumah…
Jadi komen yang ke-61 nih Pak…
Setuju lah Pak, dengan Ibu sesuatu yang sulit pun bisa jadi gampang…..Itulah yang saya rasakan…..
semoga doa ibu bisa membuatku jadi sukses…
halo