Delivering The Message
14 Mei 2008 oleh Budi Rahardjo
Kemarin saya melihat sebuah wawancara di TV dengan seorang pianis terkenal dari Cina. Panjanglah ceritanya. Satu hal yang tertancap di kepala saya adalah ketika dia berbicara tentang bagaimana dia mencoba menyampaikan pesan melalui musik (dan visual). Nah, timbullan pertanyaan di kepala saya.
Pesan apa yang ingin saya sampaikan (dari keberadaan blog ini)?
[merenung mencoba menjawab... tentu saja telah terjadi perubahan tujuan dari awalnya terjadi blog ini; yaitu sebagai media saya untuk belajar menulis. merenung ... ini cerita lain.]
Anyway. Sekarang saya menjadi berpikir lain. Back to basic.
Ketika menuliskan sesuatu (atau melakukan sesuatu, memberikan presentasi, dan seterusnya), pesan apa sebetulnya yang ingin saya sampaikan? What message do I want to deliver? Itu yang pertama. Kadang susah juga memformulasikan hal ini. Kita sering tersesat dengan cabang-cabang sehingga lupa tujuan utamanya.
Setelah itu diketahui, kita masuk ke tahap kedua. Bagaimana cara menyampaikan pesan tersebut sehingga pesan dapat diterima dengan baik.
Problem yang saya hadapi adalah seringkali saya lupa bahwa saya harus menyampaikan sebuah pesan kepada seseorang (banyak orang). Saya mungkin terlalu terpukau dengan cara saya menyampaikannya sehingga lupa pada pesannya itu sendiri. Bahwa pesan tersebut harus sampai. Jadi bisa jadi, presentasinya memukau tetapi pendengar tidak mendapat apa-apa. Halah …
Atau, saya mencoba menyampaikan pesan dengan cara yang saya sukai tetapi belum tentu merupakan cara yang mudah diterima oleh pendengar (audience). Nah, haruskah kita menyesuaikan diri? Atau kita tetap memaksakan menjadi kita?
Bagaimana pendapat Anda?
this is exactly what i did today.
forget to deliver the message, arrrrghghhgg!!!
Salam
*halah sok tahu*
Di mixing aja kali antara cara kita dengan cara yang kira2 audience suka
menurut saya yang penting kita sudah menyampaikan pesan menurut cara kita. ttg bagaimana orang menerima itu terserah mereka, karena tugas kita menyampaikan dengan gaya bahasa kita. lha kalo sampai gayanya membuat orang terpukau tapi pesannya malah tidak tersampaikan, itu yang aneh. orangnya terlalu “tampan” kali, huahahaha….
menyampaikan pesan dengan cara sendiri sepertinya nggak ada masalah, yang penting kita punya maksud yang jelas.
bisa juga sih dengan meramu dengan teknik mengkomunikasikan pesan lewat media tulis, sepertinya itu ada ilmunya
cmiiw
yah baik tersirat maupun tersurat, kita bisa menyelipkan pesan khusus, urusan sampe ke audience sih uruan audience, paling kita coba mengevaluasi sejauh mana keberhasilan kita menyampaikan pesan?
validasi: am i sending the right message?
verifikasi: am i sending the message right?
[...] ilmukomputer, enda nasution sang presiden blogger, priyadi reviewer dan acounting serta seleb, budi rahardjo yg dosen biangnya IT selevel Onno, wimar witular sang presenter tapi jago ngeblog, budiputra [...]
“Atau, saya mencoba menyampaikan pesan dengan cara yang saya sukai tetapi belum tentu merupakan cara yang mudah diterima oleh pendengar (audience)”
Nah, mungkin kita juga harus menyesuaikan cara kita menyampaikan pesan ke audience tersebut
Disinilah letak seni kita dalam mengajarkan “ilmu” kepada orang lain. Inovasi dan kreatifitas kita dituntut utk lebih efektif dan efisien hingga muncul beberapa model pembelajaran seperti pengajaran langsung, model kooperatif, berbasis masalah, CTL dll.
Sebenarnya bukan hanya masalah sampai tidaknya pesan yang diterima, tetapi terkadang audience perlu dilatih untuk dapat menemukan konsep sendiri. Dengan demikian mereka nantinya juga mampu berfikir kritis dan mempunyai prestasi akademis.
@ pbasari, Yup. Salah satu bentuk evaluasinya dgn bertanya langsung.
kayaknya sesuaikan aja apa yang disampaikan dengan audience tapi tanpa mengurangi bobot pesannya, supaya proses transfer informasinya lebih mudah dan bandwidthnya lebih lebar sesuai pemahaman audience.
Salam
ada pemeo yg kurang lebih berbunyi: if you don’t like the message, don’t kill the messenger …
sama seperti mengajar, Pak. banyak dosen yang menyampaikan kuliah dengan bahasa yang sangat “advance”, tapi kami, mahasiswanya malah ga ngerti. hehe….
makanya banyak dosen yang berpendapat, lebih sulit ngajar mahasiswa tingkat awal dibanding yang sudah sama-sama advance dan familiar dengan bahasa yang digunakan…
what ever it is… kalo saya mah, After setting “what to be delivered”… selanjutnya… The message should be delivered in a FUN way. Jadi kalo cara penyampaiannya menyenangkan, aura yg dideliver juga positif, rasanya sich pesan yg mo disampaikan itu bisa ke “deliver” ke audience.
Kadang dalam beberapa hal, kita juga memang perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Karna, let say… saya disuruh present didepan anak SD ttg pentingnya membaca… pasti beda cara membawakannya ketika saya harus present about “Reading Habit” dihadapan hmmm, let say… ibu2 atau Artis2… pasti stylenya beda…
So, sometimes we have lo let the water follow the river flow, right??
Ehya, lupa… Slamat pagi. Semoga hari ini Menyenangkan
Wah nda tau juga sih, setahu saya dalam teori komunikasi yang penting “bahasa” antara komunikan dan komunikator sama. entahlah…