Fatherless children wonder
… where their father is
… he’s never around
… he’s there but he’s not “there”Fatherless children are confused
… why their father is always at work
Fatherless childresn are sad
… that they are less important than work
… that their father is not interested in themFatherless children wish
… they have a different fatherFatherless children learn
… that they’re better off without their fatherFatherless children decided
… that they have no father
–
Years later, a father says
… children, where are you?
… children, where are you?
… children, where are you?
--
Tulisan ini ditujukan kepada para orang tua yang terlalu mementingkan pekerjaan dibandingkan anak-anaknya, khususnya kepada para bapak-bapak yang selalu ada di kantor bekerja. Jangan lupa bahwa kita tidak bisa mengembalikan waktu. Masanya anak ketika kecil, lucu-lucunya, tidak bisa diulang kembali.
Temanilah mereka, anak-anak kita.
Hmmm..
sigh, bagus banget…
Iya, pak. Saya juga merasa begitu. Makanya jika ada sesuatu mengenai anak-anak, saya selalu menomorsatukan. Seperti baru-baru ini nganter anak pertama masuk SD (kelas 1), saya anter ke kelas. Biarlah telat masuk kantor, yg penting bisa menemani dan melihat Andrea hehehe….
Saya sepertinya tidak asing dengan nasihat ini….
… oya itu khan dari ayah saat saya akan menikah……
…valid for working moms, too…
pengen segera menjadi ayah
Saya setuju dan berusaha beri waktu buat mereka … nice posting
Bagaimana pendapat anda mengenai pendapat beberapa orang yang berkata “yang penting kualitas pertemuannya, bukan kuantitas”.
Saat ini saya hanya berpengalaman sebagai anak, belum pernah menjadi seorang ayah..dan saya tidak sependapat dengan itu.
..jadi ingat pernah baca, kalau anak-anak itu menganggap TIME is LOVE…
so spend time with them , mean you love them.. not spent time with them, mean you dont love them…
gak kayak orang dewasa TIME is MONEY.. hehehehe
Saat anak-anak kecl, saya malah lagi sibuk-sibuknya…..jadi saat anak-anak sakit atau vaksinasi, sang ayah yang membawa ke dokter. Dan pertanyaan dokter..”Mamanya kemana?”
Thanks buat suami…..atas kerjasamanya selama ini. Kadang memang tugas tak bisa didelegasikan pada orang lain. Dan di satu sisi anak-anak lebih mandiri.
Kadang menyesal juga, saat sekarang, saya malah bisa memilih kerja di rumah, hanya sesekali mengajar. Namun ilmu yang saya peroleh dan kesempatan mengajar saat ini, juga merupakan akumulasi hasil pekerjaan selama puluhan tahun.
Yup that’s right. Zaman ini banyak orang tua terlalu sibuk mencari orang hingga lupa bahwa mereka punya anak yang menunggu kasih sayangnya di rumah.
dan siklusnya bisa berulang, ya, Pak … anaknya nanti bisa tumbuh dewasa jadi ayah dengan karakter sama … jadi inget lagunya Ugly Kid Joe (Cats in the Cradle) …
…
I’ve long since retired, my son’s moved away.
I called him up just the other day.
“I’d like to see you, if you don’t mind.”
He said, “I’d love to, Dad, if I could find the time.
You see my new job’s a hassle and the kids have the flu,
But it’s sure nice talkin’ to you, Dad.
It’s been sure nice talkin’ to you.”
And as I hung up the phone it occurred to me,
He’d grown up just like me.
My boy was just like me.
…
Menurut Imam Al-Ghazali, anak adalah seperti sebutir batu permata yang belum diproses. Ibu bapalah yang akan membentuk dan membuatnya mengkilap sehingga menjadi berlian yang indah dan berkilauan
*terharu …. *
Jadi pengen punya anak….
Ini saya juga ndak sependapat. Kualitas dan kuantitas sama-sama penting. Ibaratnya makanan, gizi memang penting. Tapi bagaimana kalau gizi untuk sehari dipadatkan dalam 1 sendok makan? Tetep saja akhirnya kita kelaparan tho…
Inilah salah kaprahnya kebanyakan orangtua; Mereka mengira untuk memperhatikan anaknya harus selalu membutuhkan waktu khusus di luar jam kerja, atau waktu khusus yang tidak bisa diganggu gugat oleh pekerjaan atau hal lain.
Denger cerita tentang anak orang, ingat anak sendiri….
Denger cerita istri orang, lupa sama istri sendiri….
Sedih….
terpukul……………..sibuk konsultansi
Gimana ya…pak namamnya berjuang untuk makan..anak2 hiks..hiks.
Jadinya ketika hari libur full attensi dan intens bersama anak2
Bagaimana pak dengan nabi Ismail yang hanya bertemu 2 kali dan sebentar dengan Nabi Ibrahim semasa kecilnya?
…
Apakah ini salah satu alasan bahwa kita sebaiknya menjadi seorang enterpreneur agar memiliki freedom of time?
Salam
My father is my hero, miss him so much *curhat colongan*
Jadi ingat sama anak-anak tercinta di rumah…
Itu bangunannya berasa tua banget. Di mana yah, Pak?
It makes me realize….. I have to find another Job…..
yahhh … anak adalah harta yang tak ternilai. Kepada merekalah kita menitipkan hidup saat masa tua menghampiri kita. Dan kebahagian sangat terasa saat bersama mereka, saat main dan bercanda ria, pokoknya jadi kangen anak terus setiap hari.
Nice reminder untuk para bapak sedunia…
Lagi bernostalgia ya Pak?
Wahhh, sudah lama gak main kesini, datang2 bukan cerita roman tetang mahasiswa yang dikantin lagi yach…
tahu2 udah cerita bapak yang meluangkan waktu untuk anak, ahhh, jadi terharu…
benar sekali… saya pernah baca bahwa kedekatan seorang BAPAK 5 menit saja dengan anaknya akan meningkatkan intelegency seorang anak 20% dari sebelum adanya bounding time tersebut…
So, if you can boost your child inteligentia for 20 %, then why don’t you spent your 5 minutes bounding with the kids… And remember to forget for a while, everything that always came up on your mind. On your boundary time… give all your attention, your love, and your heart.
Selamat menikmati moment2 menjadi ayah…
Silly
Kebetulan, saya bekerja di rumah (home-based worker)….jadi ya tiap hari ketemu anak-anak. Bekerja sambil bercanda dengan anak.
Tulisan Pak Budi mengingatkan saya utk selalu take care, dekat dengan anak anak. Kadang dimulut kita ngomong menomorsatukan anak. Kenyataannya pekerjaan selalu dipentingkan. Padahal kita bekerja juga untuk siapa ya…?
Thanks Pak…
Didi
semoga saya gak jadi ayah yang seperti itu nanti
Sampai usia berapakah seseorang lepas dari sebutan Anak-anak?
[...] aku tidak melihat langsung moment saat itu, ketika Faqih belajar tanpa menggunakan alat bantu, Fatherless Children itu yang diungkapkan oleh Pak Budi Rahardjo, yups, I’m lost it, saya termasuk golongan [...]