Setelah berbahagia menggunakan operator seluler baru “yang baik”, ternyata penyakit operator yang lain mulai muncul. Sekarang mulai sulit bagi saya untuk menelepon. Sering kali ada tulisan “connection error” atau “no network coverage”. Padahal saya sedang tidak bergerak dengan cepat (misalnya sedang jalan kaki). Ada apa gerangan? Terlalu banyak pelanggan sehingga kualitas ambruk?
Sekarang saya punya dua nomor telepon yang keduanya susah dihubungi. Ha ha ha. Banyak orang yang ngamuk ke saya karena dikira saya tidak mau menerima telepon mereka. Padahal, berdering pun tidak ponsel saya. Yah, hitung-hitung ada ketenangan sebentar. ha ha ha.
Kembali ke topik! Nampaknya kualitas layanan telekomunikasi seluler main payah… Sedih.


Juli 28th, 2008 at 9:52 pm
Betul sekali Pak. Operator hanya giat mencari pelanggan, tapi lupa meningkatkan kapasitas jaringan mereka.
Juli 28th, 2008 at 10:17 pm
Nggak terlalu ngaruh kan Pak. Kan Pak Budi nggak suka ditelpon. Lebih suka sms kan?
Juli 28th, 2008 at 10:23 pm
Kualitas GPRS dan 3G juga semakin memprihatinkan Pak. Henpon jadi lebih nganggur daripada sebelum-sebelumnya karena untuk browsing sudah kurang nyaman lagi.
Juli 28th, 2008 at 10:30 pm
Setelah berbahagia menggunakan operator seluler baru “yang baik”
Hehe, kayaknya sering denger di TV, yang baik ya A*is. Oh memang bener gitu ya mas? soalnya operator yang satu ini belum sampe menjelajah di Makassar.
Biasanya memang ‘baik’ doang kalau baru launching, pas udah banyak yang make, gila, jadi overloaded.
Jadi, cuma bisa pasrah aja…
Juli 28th, 2008 at 10:35 pm
payah pak… benar2 payah, iklan aja gede-gede kinerja ga becus… *maaf pak esmosi*
Juli 29th, 2008 at 3:16 am
wah, saya sudah berpaling dari yang baik sejak promo paket datanya selesai.
sekarang pakai “operator selularku” biar bisa YM ceban sebulan sepuasnya tapi nguras batre hp…
Juli 29th, 2008 at 6:01 am
walah—walah…wala….
saya juga sama!
Sekarang pakai 3 nomor, bingung sendiri!
Juli 29th, 2008 at 7:24 am
untung nggak punya hp… ?#$#%$&
Juli 29th, 2008 at 7:58 am
he he he…akhirnya kembali bergantung kepada penguasa E-1
Juli 29th, 2008 at 7:58 am
Hihihi, keluhannya sama persis sama keluhannya teman saya.
Akhirnya dia ganti tu catch phrase jadi “operator yang tidak baik” :p
Btw, kayaknya udah zamannya orang punya >1 nomer HP.
Juli 29th, 2008 at 8:02 am
Masalah klasik! Yg dicari duitnya melulu. Setelah itu kapasitas jaringan dilupakan.
Kendala di indonesia masalah seluler, paling banyak adalah melebihi kapasitas, bukan kurang luas jaringan. Payah emang!
Juli 29th, 2008 at 8:14 am
Punya 3 nomor… Tapi tetap diprotes karena sulit sekali dihubungi. Yah, bunyi saja tidak – malah salah satu operator ada yang lucu, telpon tidak bunyi tiba-tiba terima SMS kalau saya mendapatkan miss call atau voicemail dari yang mencoba menghubungi saya. Padahal BTSnya satu lantai dengan kantor!
Duh… Payah deh. Oh iya, ini belum bicara soal koneksi 3G/GPRS yang makin tidak bisa dipakai saat ini.
Juli 29th, 2008 at 8:38 am
Ada masalah apa dibelakang ini semua?
Juli 29th, 2008 at 8:59 am
teman saya hampir diskors gara2 hal itu.
ditelpon bos, karena ada masalah.
bos-nya pun marah2. dan tiba-tiba….*putus*
Juli 29th, 2008 at 10:03 am
saya nggak tergoda oleh iklan operator baru. ngomong-2, kenapa pak Budi sampe menggunakan operator “yang baik” itu? Apakah karena dampak iklan? Atau mau yang murah?
Juli 29th, 2008 at 10:09 am
Orang Indonesia punya kecenderungan punya banyak nomor dan banyak telepon genggam, dengan pemikiran mencari murah (telpon ke sesama operator) dan supaya makin mudah dihubungi.
Tapi bukankah dengan sifat GSM yang menggunakan TDMA, makin banyaknya telepon idle itu akan memperberat jaringan? Karena walaupun sedang tidak berbicara, time slot TDMA dari tiap BTS tetap terpakai?
Juli 29th, 2008 at 10:14 am
wah…sama korban iklan
Juli 29th, 2008 at 10:44 am
saya pakai 3 nomor,
buat komunikasi biasa
buat komunikasi murah meriah
buat ke Internet
tapi, dari 3 nomor itu selalu bermasalah untuk ngontak yang menggunakan provider yang sama dengan pak budi
Juli 29th, 2008 at 10:56 am
Saya sih dari dulu gak pernah ganti operator. Ya resiko sih, tarifnya paling mahal
Tapi buat saya, mahal-murah itu tergantung cara kita menggunakannya.
Tetapi pertimbangan saya jelas : kualitas koneksi.
Indikatornya gampang : coba pas malam lebaran dilihat, bisa gak kita kirim puluhan SMS selamat lebaran dengan persentase sukses 100% ? Kalo gak bisa, ganti operator !
Juli 29th, 2008 at 10:57 am
sepertinya ini perlu di campurtangani oleh pemerintah agar tidak saling menjatuhkan harga akhirnya yang susah pelanggan gonta ganti nomor …ya korban iklan gitulah..
Juli 29th, 2008 at 11:01 am
Saya di telkomsel saja juga sudah mulai bermasalah. Sudah beberapa kali SMS tidak sampai.
.
Lalu pernah suatu hari terjadi ketenangan – tidak ada telpon & SMS yang masuk. Tiba-tiba — ring – ring – ring – ring – ring – dst, puluhan SMS masuk sekaligus. Ada yang tertanggal hari sebelumnya
.
Alamak …
.
Apa sih provider GSM yang bagus sekarang ini ……….. ?
.
Ada yang tahu ?
Juli 29th, 2008 at 11:58 am
jarene cakno ono rego ono rupo.
Juli 29th, 2008 at 12:22 pm
Ya begini kalo pemerintah kalah sama pedagang, mirip disini
http://news.bbc.co.uk/2/hi/business/904748.stm
Juli 29th, 2008 at 12:55 pm
[...] juga, seperti yang dituturkan Budi Rahardjo, dosen ITB yang aktif menulis diblognya, mengatakan seperti ini: Setelah berbahagia menggunakan operator seluler baru “yang baik”, ternyata penyakit operator [...]
Juli 29th, 2008 at 1:46 pm
Saya kira cuma saya yang kebagian sial.
Katanya kapasitas jaringan 3G lebih besar per BTSnya (Node B), tapi tetep saja, mo 3G ato GSM only tetep tulalit.
Jangan-jangan kayak PLN, dagangan laris malah nyalahkan konsumen. Ujung-ujungnya disuruh ngirit atau padam bergilir.
Juli 29th, 2008 at 2:09 pm
hape nya udah triji tapi networknya masih driji..apa kata dunia??
Juli 29th, 2008 at 2:13 pm
ah, saya pake kartunya tim merah, aman-aman aja, sms nyampe, call nyambung, internet lancar. Kalo masalah murah atau ngga itu tergantung pemakaian.
Juli 29th, 2008 at 2:15 pm
Positip-nya, berarti operator-operator sudah sangat berhasil membangun brand image yang efetif buat pasar. sekarang mereka sudah sangat mengenal kebutuhan/tuntutan/kecenderungan konsumen.
.
), juga lucu ngeliat orang yg ganti-ganti operator ngincer bonus kartu perdana atau freetalknya.
Sayang juga kan kalau organisasi yang mampu membuat produk-produk yang baik dan sangat bermanfaat tapi gagal sampai ke masyarakat, jadi mubazir.
Tatangan buat konsumen supaya lebih cerdas menilai suatu produk. Sesuatu yang kelihatan bombastis (seperti nelepon gratis atau nol koma nol nol nol …. satu rupiah, barangkali hanya mengorbankan sedikit dari keuntungan operator, berdampak besar pada minat konsumen.
Atau trik-trik lain misalnya yang butuh akses GPRS atau WAP, kadang real value-nya buat konsumen baru bisa ditakar dari pengalaman sendiri atau orang lain.
Saya pernah pindah operator karena tergiur cost GPRS / kb yang murah tapi begitu mo akses popmail, susah konek dan kalau pun konek kecepatan transfer datanya 0,0000001 kb per detik
IMHO masalah operator seluler kita gak perlu terlalu fanatik tetapi juga jangan meperlakukan seperti (maap) pelacur.
Suka heran aja sama orang yang begitu mengagung-agungkan operator yg dipakenya (kayak agama aja
Juli 29th, 2008 at 2:33 pm
Makin parah. Sms saja laporanx tdk datang. Pdhl yg di hub aktif. Koneksi Gprs naik turun.
Juli 29th, 2008 at 2:59 pm
[...] Sumber : http://rahard.wordpress.com [...]
Juli 29th, 2008 at 3:15 pm
[...] Seputar HP di/pada Selasa – 29 Juli 2008 Menarik apa yang diutarakan oleh Pak Budi Rahardjo di blognya. Kadang kita sangat jengkel dengan segala macam iklan operator tanpa menambah kualitas layanan itu [...]
Juli 29th, 2008 at 3:44 pm
Gimana mau berkualitas…..
BTS perlu listrik…..tau sendiri lahhh, PLN lagi byar-pyet koq mau dapat signal bagus.
Battery backup BTS paling 3-4 jam dah drop
Juli 29th, 2008 at 3:56 pm
Anyway, murah lebih2 gratis kok mintak baik kualitas pelayanannya he he he… Kayak seperti joke seorang tukang becak yg ngangkut penumpang dgn biaya seribu jarak tempuh 5km, trs becak rem blong masuk sungai…. Si penumpang menggerutu : “Pak hati2 dong klo jalan, payah…” , jwb si tukang becak : “Bayar seribu kok mintak selamat!”.
Juli 29th, 2008 at 4:10 pm
iyah..kenapa pas awal2nya aja yang bagus. tapi lama2 kok kualitasnya semakin menurun aja.
seharusnya semakin lama, semakin menjadi lebih baik lagi.
Juli 29th, 2008 at 4:45 pm
kalau seperti ini terus kondisinya tentu akan mempengaruhi iklim bisnis yang mulai tumbuh khususnya bisnis online
.
Juli 29th, 2008 at 5:03 pm
…itu namanya bonus pak. Semuanya jadi serba murah alias murahan
seperti ini http://skyrider.wordpress.com/2008/07/11/hematnya-menggunakan-mentari/
Juli 29th, 2008 at 5:52 pm
Bukannya Bapak anggota BRTI?
Tapi kok cuma nggrundel nulis di blog aja, mana langkah konkritnya?
Juli 29th, 2008 at 5:56 pm
Wah, pak emang betul, emang masih ya pak? Saya juga sering wawancara bapak tentang hal ini, akhirnya jadi penasaran pengen tahu hal yang ‘miring-miring’ tentang mereka. Hehe…..
saya juga punya blog nih pak, kunjungi ya: http://www.kotasubang.wordpress.com
Salam,
wartawan IT
Juli 29th, 2008 at 6:03 pm
Betul Pak..
Saya juga menggunakan 2 kartu. Kebetulan saya berhubungan jarak jauh dengan pacar saya. Saya di Jogja dia di Palangkaraya. menurut saya menurunnya kualitas sinyal karena semua perusahaan operator terlalu fokus ke tarif murah yang sebenarnya hanya tipuan belaka.
Saya blogger baru pak..
Bisa diajarkan cara ngedit Blog?
kunjungi di m4rvy.wordpress.com
Juli 29th, 2008 at 6:39 pm
Berarti ‘GSM yang ga baik’ donk??!! hehehe..
Juli 29th, 2008 at 7:05 pm
Operator seluler yang baik…hm…baik menurut mereka kan? No network coverage menurut mereka kan? Puas menurut mereka, connection error menurut mereka…
Juli 29th, 2008 at 7:50 pm
Alhamdulillah saya mah pake ‘iem-tilu’ lancar2 aja. Murah meriah buat ngenet ; ngeblog pake operamini 4.1), sms/chat pake y’-slick, ngobrol pake fring.
Juli 30th, 2008 at 10:22 am
Memang sekarang-sekarang ini banyak sekali operator seluler yg berpromosi begini-begitu tapi sayangnya dari nilai kualitas ternyata cuma ‘segituh’.
Bangsa Indonesia memang payah, mereka gampang banget terpengaruh iklan yg belum tentu semuanya benar.
Em…rencananya pada umur 25an gw gak pengen punya HP. Kenapa? Untuk apa punya HP, sibuk saja tidak, kalo sekarang sih cuma nurutin permintaan orang tua.
Di doa kan saja
Juli 30th, 2008 at 11:47 am
Yup, setuju…
Akhir2 ini saya sering merasakan kalo pas ngehubungin seseorang pake hp kok suka gagal, tak nyambung. Lalu koneksi GPRS sering mati. Padahal dulu-dulu pas tarif lagi dikatakan mahal, pake hp tuh kerasa mudah dan nikmatnya.
Yang paling kesel tuh sama operator I-em-tigo yang ngerubah tampilan standby hp jadi ada iklannya. Defaultnya kan nama operator (Indosat) tapi sekarang sering dirubah jadi “Disc 20% at *****(nama toko)”. Keliatan sangat mengganggu dan tidak elegan bagi sebagian orang.
Juli 30th, 2008 at 12:13 pm
lucunya ….
kita lebih bangga dengan kuantitas, daripada kualitas ..
seandainya terus begini, alangkah baiknya jika hp lusuh ku itu kubuang saja..
Juli 30th, 2008 at 12:24 pm
Iya.. mereka lebih mementingkan omongan belaka demi keuntungan belaka tanpa melihat kondisi pemakai produk mereka.. huhf…:(
Juli 30th, 2008 at 12:36 pm
sdh spt hukum sebab akibat pak. kian meriah promo tarif murahnya dpt dipastikan kian bermasalah saat berkomunikasi
Juli 30th, 2008 at 1:35 pm
Ternyata pak Rahard bisa keblondrok juga, hwe ke ke…
Berarti copywriter iklannya jagoan juga ya?
Juli 30th, 2008 at 8:52 pm
yah begitulah di indonesia.. Duitnya aja yg diperhatiin. Kualitasnya belakangan.. heuheu..
Juli 31st, 2008 at 11:32 pm
Gangguan mulai dtg bertubi2..
Temen saya kalo gak salah malah punya sim card semua operator. Katanya di pake sesuai kebutuhan, tergantung siapa yang dihubungi..
Januari 15th, 2009 at 1:51 pm
Udah tau iklan yg modelnya Luna Maya baru2 ini? Dia sampe gak keberatan ponselnya di pake nelepon ma monyet. Kata dia soalnya tarif #L murah….
Apa gak guoblok tuh tim kreatif iklannya? Justru malah menunjukkan sisi negatif dari tarif murah.
Ya emang itu contoh nyata kalo tarif murah, kualitas yg diomongin lewat telepon juga makin murahan… sekelas obrolan monyet. Belum lagi lawan bicara yg ditelepon jadi kecewa karena yg bicara sama dia hanya seekor monyet yg pake nomor Luna Maya.
Bandingkan dgn jaman dulu pas tarifnya yg wajar2 aja, omongan telepon kita jelas lebih manusiawi daripada omongan monyet.
Januari 16th, 2009 at 7:34 am
Ada cerita lagi….
Pas gue lagi ngadep di ruang bos dengan materi yg cukup serius, tiba2 hape gue bunyi…
Gue gak peduli siapa yg nelpon, langsung gue reject…
Beberapa detik kemudian, bunyi lagi. Gue liat nama yg muncul, ternyata nyokap gue…. Akhirnya tetep gue reject trus gue silent.
Dah gitu, masih nekad nelpon juga….. gue cuekin, toh udah tak silent. Gituuu… terus sampe gak keitung brapa kali panggilan gak gue angkat.
Setelah selesai urusan ma bos, trus akhirnya aku terima juga tuh henpon. Trus dengan sdikit ketus, gue nanya ma nyokap kenapa sampe segitunya nelpon gue. Tau gak nyokap jawab apa ????
“Nggak apa-apa kok le, ibu cuman mau ngabisin bonus pulsa….” Glek!!!!
FYI, bokap ma nyokap gue gak ada bedanya, suka gonta ganti nomer cuman buat nurutin iklan yg lebih menggiurkan. Gak sadar gara2 itu sanak family jadi susah nelpon ke bokap-nyokap. Aku aja pas kelahiran anak keduaku, juga susah mo ngabarin. Berita sampe ke mereka istriku dah selesai operasi cesar, malah aku yg disalahin yg katanya gak mau ngabarin orang tua…. Glek !!!!
Mei 27th, 2009 at 8:28 am
saya sebetulnya sih ga’ ribet2 amat cuma ya kita pilih aja yang care sama custumer akhirnya kita jugalah yang menetukan…..ya nggak pak