Archive Bulanan: Januari 2009

Tumpukan Tugas Mahasiswa

Semalam saya membongkar lemari dan mengeluarkan tumpukan tugas mahasiswa tahun lalu. Lemari tersebut akan saya gunakan untuk menyimpan tugas yang sekarang sedang dinilai (yang ada di atas meja di posting sebelumnya). Ini foto tugas-tugas mahasiswa tersebut.

Oh ya. Itu semua adalah tugas akhir mahasiswa untuk kuliah security. Semuanya makalah. Sayangnya saya belum sempat mengonlinekan versi softcopy dari tugas-tugas tersebut. :(

Tugas tersebut sekarang enaknya diapakan ya? Diloak kiloan? Nanti pas dijadikan bungkus gorengan jadi ketahuan. hi hi hi. Kalau dijadikan kertas kotretan, sudah banyak. Apa dihancurkan atau dibakar saja? Saran?


Kerja atau tidur?

Maunya sih banyak kerja, eh ternyata malah banyak tidur … hi hi hi. Cape


Tidak Menegur Duluan == Sombong?

Sekarang saya punya masalah; tidak menengur (menyapa) duluan. Nah, sikap ini bisa dianggap sebagai sombong.

Sebetulnya ada alasan mengapa saya tidak menegur duluan. Alasannya agak memalukan, tapi biarlah … untuk pembelajaran bersama. Alasan pertama adalah saya sering lupa nama. Misalnya saya bertemu dengan seseorang, saya sering sekali lupa namanya. Sehingga untuk menegur duluan, saya menjadi ragu. Mau panggil dengan nama apa ya? hi hi hi.

Sudah banyak orang yang mengajari saya untuk mengingat-ingat nama, tetapi tetap saja susah. Tambah umur, tambah susah lagi.

Alasan kedua adalah saya banyak mengajar dan memberikan presentasi sehingga saya sering lupa di mana saya bertemu dengan orang yang bersangkutan. Ini juga masalah besar bagi saya untuk mengingat-ingat karena jumlah orang yang ditemui sangat besar. (Mengajar: 50 sampai dengan 80 orang setiap kelasnya. Memberikan presentasi di seminar bervariasi dari 10 orang sampai ratusan orang.) Jadi alasan saya adalah … jumlah (scale).

Selain itu … apa lagi ya alasannya? Mencari-cari … hi hi hi. Oh iya, karena gak sempat atau lupa saja. Yang ini alasan yang manusiawi. Mohon maaf kalau saya tidak menegur duluan ya?


Kamar Kerja Berantakan

Semalam saya memberantakin (merusak bahasa sedikit ah – ha ha ha) kamar kerja saya. Pasalnya, saya punya Macbook baru dan mau memindahkan berkas dari iBook ke Macbook ini. Itu alasannya. Padahal tidak ada hubungannya dengan berantakan kamarnya ya? Hi hi hi.

Ini fotonya.


[meja di tengah. ada macbook, ibook, external harddisk, handphone, scanner, dan tumpukan makalah mahasiswa.]


[meja di sebelah kanan. meja yang di sebelah kiri tidak dipotret. perhatikan ada mac mini nyempil di antara tumpukan.]

Kabel seliweran. Padahal bisa pakai wireless kan?


+6222 atau +62022?

Entah kenapa saya sering kesulitan menelepon nomor rumah (fixed phone) dari handphone saya, dengan pesan “nomor yang anda tuju, salah!”. Padahal nomor ini ada di handphone saya dan tidak saya ketikkan dengan tangan.

Saya perhatikan kadang nomor telepon yang muncul di handphone ini adalah +6222… dan kadang +62022… yang mana (22) atau (022) itu adalah kode area Bandung. Apakah ini kesalahan di operator saya atau di Telkom atau di mana ya?

Akhirnya saya ketikkan dengan tangan 022… (di layar muncul nama dari nomor telepon karena sudah tercatat di phonebook) dan koneksi terjadi dengan baik. Aneh.

Ada yang pernah mengalami masalah yang sama?


Creative City – Yokohama, Bandung

Hari Senin pagi saya harus sudah berjalan sementara orang masih lelap karena hari itu adalah hari libur imlek. Saya dan pak T. A. Sanny akan bertemu dengan tamu dari Jepang. Tadinya saya pikir tamunya rombongan, ternyata hanya satu orang. Kami bertemu di Common Room-nya Gustaf (di Jalan Kyai Gede Utama).

Topik pembicaraan kami adalah tentang creative city. Mitsuhiro (Mitch) Yoshimoto, sang tamu dari Jepang, sedang melakukan penelitian. Dia ditugaskan oleh kota Yokohama, Jepang, untuk meninjau kota-kota yang dianggap kreatif. Ada tiga kota yang dia kunjungi, Busan di Korea, Singapura, kemudian Bandung. Hore, Bandung masuk hitungan.

Alasan ketiga kota tersebut bervariasi. Busan dipilih karena di sana ada festival film-nya. Singapura dipilih karena pemerintahnya yang sangat mendukung (dan malah over? he he he). Bandung dipilih karena aneh, kurang didukung pemerintah, infrastruktur tidak terlalu bagus, tetapi kreativitas masih tetap muncul.

Yokohama sedang bebenah untuk menjadi creative city dengan topik art and culture. Dia ingin membandingkannya dengan Bandung. Nah, kalau Bandung ada dua komponen kreativitas yang dia lihat, yaitu art (seni) dan Information and Communication Technology (ICT/IT). Diskusi dimulai dari seputar itu.

Di Bandung memang banyak sekali art galery. Di kampus-kampus tentunya ada. Kemudian ada Selasar Sunaryo. Yang terakhir saya ketahui (dan belum ke sana) adalah Artsociates di Lawangwangi. Tentunya masih banyak lainnya lagi.

Creative city juga menjadi tema dari Bandung. Saya melihat ada beberapa upaya ke sana. Teman-teman di Arsitektur dan di Seni banyak memiliki kegiatan yang mengarah ke sana. Ada artepolis, ada acara-acara di C-59 yang belum sempat saya lihat. Ah. Pokoknya banyak deh.

Untuk IT di Bandung banyak perusahaan IT. Lucunya, hampir semua klien dari perusahaan ini berada di Jakarta. Sebetulnya ini tidak terlalu aneh. Klien perusahaan IT di India juga bukan di India :) Jadi normal-normal saja.

Diskusinya panjang lebar, tetapi lebih banyak ke saya dan pak Sanny menjelaskan ke Mitch mengenai situasi di Bandung. Selain itu kita juga berharap bisa belajar dari Yokohama mengenai peranan pemerintah. Sebelumnya telah ada simposium mengenai hal ini. Di tahun 2009 ini nampaknya akan ada lagi.

Begitu cerita singkatnya … Mari kita kreatif!


perfect and imperfect

it’s a perfect day in an imperfect world

begitulah potongan lirik yang terdengar dari sebuah lagu. ah…


Penerangan Jalan Disubsidi Rakyat

Agak aneh di negara ini. Penerangan jalan disubsidi rakyat.

Jalan seharusnya memiliki lampu penerangan jalan. Saya bisa mengerti kalau jalan kecil tidak ada lampu penerangan. Ini jalan besar di kota besar pun banyak yang tidak memiliki penerangan jalan. Atau kalaupun ada tiang lampunya, seringkali mereka tidak hidup. Akhirnya masyarakat sekitarnya yang memasang lampu di depan rumah mereka dan di pinggir jalan sehingga jalan tidak terlalu gelap.

Beberapa hari yang lalu saya melintas jembatan Pasupati di Bandung. Lampunya mati! Padahal dulu lampunya terang benderang. Mungkin sampai sekarang masih mati. Entah persoalannya apa. Apa belum bayar listrik ke PLN? he he he. Mosok tidak dibudgetkan? Untungnya di pinggir-pinggirnya ada iklan rokok yang menyala lampunya. Setidaknya mereka bisa menjadi panduan jalan.

Saya pernah melihat motor terjungkal di jembatan ini entah mungkin tidak melihat pemisahan jalur yang terus dan yang turun (ke arah Cihampelas). Ujung pemisahan itu semestinya ada lampu kuning yang kelap kelip, tetapi sekarang mati. Serem sekali.

Kalau ada kecelakaan seperti ini siapa yang bertanggung jawab ya? Kayaknya yang disalahkan adalah pengguna jalannya. Duh …


Baca apa yaa?

Mau istirahat sebentar dari membaca dokumen-dokumen kerjaan atau tugas mahasiswa. Ada banyak buku yang menanti untuk dibaca. Malam ini mau pilih salah satu ah. Yang mana ya? Ini tumpukan yang saya ambil secara random dari rak buku.

Hmmm … atau tidur aja ya? ha ha ha.

Oh ya, itu tumpukan di belakang adalah makalah mahasiswa yang sudah saya nilai. Sementara yang di sebelah kiri (tidak kelihatan) adalah makalah susulan yang perlu diperharui nilainya.


Suka Ini … discovery song

Saya lagi suka “lagu” iklannya Discovery Channel … “The World Is Just Awesome” yang bisa diambil di sini: http://www.youtube.com/watch?v=at_f98qOGY0. Apa ya arti dari “Boom De Ya Da!” yang ada di lagu itu?

Ah it’s just so beaufiful. It makes me love the world and the things that I do. Yeah, I want to make a simple video like that.

And for me?

I like computers…
I like the internet…
I like to teach…
I like to dream things…

Apa yang Anda suka?


Futsal

Sudah lama tidak cerita tentang futsal. Maklum, rasanya kok tidak ada yang perlu diceritakan. Apa ya? Oh, tim kami kalah melulu karena satu dan lain hal. Lebih banyak karena pemainnya banyak yang tumbang sehingga kami tidak punya cukup cadangan pemain. Jadi harus main full terus. Saya sih tetap senang dan semangat saja. Having fun all the  time. Yah lumayan lah, cukup produktif juga menghasilkan gol. Padahal saya sebetulnya bukan striker, lampard saja ah.

Tampilkan foto-foto aja deh.


[pemanasan sebelum bertanding melawan Sharing Vision. bola melaju ke arah ... perut saya. he he he.]


[berpose sebelum bertanding]


Perjalanan Haji (11): Madinah

Seri perjalanan haji: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)

Setelah beberapa hari di Makkah, kami berangkat menuju Madinah. Perjalanan cukup panjang dan cuaca dingin. Kami sempat berhenti sebentar di tengah jalan untuk ke toilet dan makan ringan.


[pak dokter di kegelapan malam, menunggu ibu dokter ke toilet]


[berlari kedinginan dari bis ke tempat makan]

Sesampainya di Madinah kami langsung masuk ke hotel. Kali ini hotel kami lebih kecil dibandingkan dengan hotel di Makkah. Hotelnya juga berdesak-desakan dengan toko-toko. Untungnya hotel kami dekat dengan masjid Nabawi. Jaraknya ke pelataran masjid kurang dari 100 meter.

Yang menarik bagi saya, di salah satu jalan tersebut ada … Starbucks.


[Melihat Starbucks tepat di depan Masjid Nabawi]

Kios Starbucks ini sangat kecil. (Lihat foto di atas.) Jadi dia tidak menarik. Yang menarik dari Starbucks kan duduk-duduknya (experience-nya), bukan sekedar kopinya. Jadi memang tidak banyak orang yang membil kopinya. Ada, tetapi tidak banyak. Saya sendiri tidak membeli karena takut sakit perut (semenjak berangkat saya tidak minum kopi) dan ingin mengatur jam biologis dulu.

Kami cukup lama tinggal di Madinah, 12 hari. Di sana kami melakukan arbain, yaitu mengerjakan shalat fardhu 5 waktu di masjid selama delapan (8) hari berturut-turut dan tidak boleh bolong. Ini ternyata bukan kegiatan yang mudah dan alhamdulillah dapat kami lakukan dengan baik.

Berbeda dengan Makkah, kota Madinah terasa lebih indah. Penataan kotanya terasa lebih cantik. Demikian pula orang-orang yang ada di sana terasa lebih rapi. Mungkin kalau di Makkah banyak yang tergesa-gesa untuk beribadah (karena memang fokusnya itu), di Madinah ini fokus utamanya adalah shalat di masjid. Jadi orang memiliki kesempatan untuk berpakaian rapi, bersih, dan bagus untuk pergi ke masjid. Sayang sekali saya tidak memotret pakaian-pakaian mereka.

Di dekat hotel kami banyak tersedia toko-toko kecil. Ada toko yang berjualan baju-baju, oleh-oleh, makanan, dan seterusnya. Untuk urusan makanan tidak sulit karena ada “Bakso si Doel anak Madinah” atau “Bakso Jawa”. Ha ha ha. (Lihat foto di bawah ini, Rumah Makan Bakso Jawa.)

[perhatikan logo operator STC yang senada dengan warna Axis di Indonesia. apakah benar mereka memiliki saham di Axis?]

Saya sendiri memilih … kebab. Wah, kebab di sana asyik. Kalau saya lagi bosan makanan di hotel (makanan Indonesia melulu, bosen), saya langsung beli kebab 3 real. Kebab dengan teh susu, ah sedap. Cukup kuat untuk mengganjal perut bagi saya. Bagi sebagian besar orang Indonesia nampaknya ini belum cukup, harus ada nasi. ha ha ha.

Ketika kami datang, Madinah mulai dingin. Awalnya dinginnya seperti Bandung di jaman dahulu dan kemudian menjadi lebih dingin lagi seperti di Lembang (di gunung) di pagi hari. Saya tidak tahu berapa derajat suhunya. Kalau ke luar hotel, terutama di pagi hari atau malam hari, terpaksa saya menggunakan jaket. Masker untuk menutup hidung dan mulut juga ternyata bermanfaat.


Ingin Baca Paper Lagi

[tuh kan ... postingan hilang lagi. apa masalah di proxy? nanti ditulis ulang. sekarang sedang tidak sempat.]

Perbedaan antara proses belajar S3 dengan yang lainnya adalah banyaknya eksplorasi terhadap hal-hal yang baru. Nah, hal-hal yang baru ini banyak terdapat di paper (makalah) journal. Journal biasanya memuat hal-hal yang baru sementara buku memuat hal-hal yang sudah stabil. Itu menurut pendapat saya lho.

Dahulu ketika saya sedang berusaha mendapatkan S3 saya, ruang kantor saya penuh dengan kardus atau folder yang di dalamnya sesak dengan fotocopyan atau printout paper. Di ransel juga ada makalah. Pokoknya semua paper dan paper. Sampai saya mau muntah :)

Kok sekarang pengen baca paper lagi ya?


˙˙˙ ʞnʇuɐƃu ˙˙˙

˙˙˙ ʞnʇuɐƃu ˙˙˙

ısɐuısnlɐɥ

ɹɐdɐʞɹǝʇ

¡ʇǝƃuɐq ƃuıʇuǝd ʞɐƃ


Menghapus Masa Lalu – Clean (re)Start

[ini untuk kedua kalinya dalam minggu ini tulisan saya hilang! ketik ulang!]

Sering kali kita terlalu terikat dengan masa lalu dan sulit melepaskan diri untuk maju ke depan. Untungnya(?) ada peristiwa yang membuat kita terpaksa untuk memulai baru. Restart with clean slate.

Ganti handphone. Kesempatan untuk menghapus daftar nomor telepon yang tidak digunakan lagi di phonebook.

Pasang OS baru. Kesempatan untuk menghapus program-program yang kita pasang untuk coba-coba. Ini juga kesempatan untuk menghapus direktori sementara (temporary directory) yang berisi berkas-berkas yang seharusnya kita hapus tetapi terlalu malas atau lupa untuk menghapusnya.

Apa lagi ya?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.