Seri perjalanan haji: (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)
Setelah beberapa hari di Makkah, kami berangkat menuju Madinah. Perjalanan cukup panjang dan cuaca dingin. Kami sempat berhenti sebentar di tengah jalan untuk ke toilet dan makan ringan.

[pak dokter di kegelapan malam, menunggu ibu dokter ke toilet]

[berlari kedinginan dari bis ke tempat makan]
Sesampainya di Madinah kami langsung masuk ke hotel. Kali ini hotel kami lebih kecil dibandingkan dengan hotel di Makkah. Hotelnya juga berdesak-desakan dengan toko-toko. Untungnya hotel kami dekat dengan masjid Nabawi. Jaraknya ke pelataran masjid kurang dari 100 meter.
Yang menarik bagi saya, di salah satu jalan tersebut ada … Starbucks.


[Melihat Starbucks tepat di depan Masjid Nabawi]
Kios Starbucks ini sangat kecil. (Lihat foto di atas.) Jadi dia tidak menarik. Yang menarik dari Starbucks kan duduk-duduknya (experience-nya), bukan sekedar kopinya. Jadi memang tidak banyak orang yang membil kopinya. Ada, tetapi tidak banyak. Saya sendiri tidak membeli karena takut sakit perut (semenjak berangkat saya tidak minum kopi) dan ingin mengatur jam biologis dulu.
Kami cukup lama tinggal di Madinah, 12 hari. Di sana kami melakukan arbain, yaitu mengerjakan shalat fardhu 5 waktu di masjid selama delapan (8) hari berturut-turut dan tidak boleh bolong. Ini ternyata bukan kegiatan yang mudah dan alhamdulillah dapat kami lakukan dengan baik.
Berbeda dengan Makkah, kota Madinah terasa lebih indah. Penataan kotanya terasa lebih cantik. Demikian pula orang-orang yang ada di sana terasa lebih rapi. Mungkin kalau di Makkah banyak yang tergesa-gesa untuk beribadah (karena memang fokusnya itu), di Madinah ini fokus utamanya adalah shalat di masjid. Jadi orang memiliki kesempatan untuk berpakaian rapi, bersih, dan bagus untuk pergi ke masjid. Sayang sekali saya tidak memotret pakaian-pakaian mereka.
Di dekat hotel kami banyak tersedia toko-toko kecil. Ada toko yang berjualan baju-baju, oleh-oleh, makanan, dan seterusnya. Untuk urusan makanan tidak sulit karena ada “Bakso si Doel anak Madinah” atau “Bakso Jawa”. Ha ha ha. (Lihat foto di bawah ini, Rumah Makan Bakso Jawa.)

[perhatikan logo operator STC yang senada dengan warna Axis di Indonesia. apakah benar mereka memiliki saham di Axis?]
Saya sendiri memilih … kebab. Wah, kebab di sana asyik. Kalau saya lagi bosan makanan di hotel (makanan Indonesia melulu, bosen), saya langsung beli kebab 3 real. Kebab dengan teh susu, ah sedap. Cukup kuat untuk mengganjal perut bagi saya. Bagi sebagian besar orang Indonesia nampaknya ini belum cukup, harus ada nasi. ha ha ha.
Ketika kami datang, Madinah mulai dingin. Awalnya dinginnya seperti Bandung di jaman dahulu dan kemudian menjadi lebih dingin lagi seperti di Lembang (di gunung) di pagi hari. Saya tidak tahu berapa derajat suhunya. Kalau ke luar hotel, terutama di pagi hari atau malam hari, terpaksa saya menggunakan jaket. Masker untuk menutup hidung dan mulut juga ternyata bermanfaat.