Hari Senin ini merupakan hari kelabu bagi ITB. Pagi ini saya mendapat kabar bahwa bapak Farid Wazdi, dosen Informatika, meninggal dunia. Langsung saya menuju rumahnya. Saya mengenal pak Farid ketika beliau menjabat sebagai kepala PIKSI dan saya menjadi salah satu anak buahnya. Semoga Allah mengampuni dosa pak Farid dan memberi tempat yang mulia di dunia sana. Amin.
Kelabu berikutnya adalah adanya kabar bahwa salah satu mahasiswa Geodesi angkatan 2007 meninggal dunia karena Ospek. Duh. Saya belum tahu berita lengkapnya tetapi tetap saja ini merupakan duka bagi kita semua. Semoga adik kita ini juga diampuni dosanya dan diberi tempat yang mulia di dunia sana. Amin.
Duh …


Februari 10th, 2009 at 12:23 am
inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kalo pemberian gelar honoris causa (HC) oleh ITB utk pak SBY itu kelabu gk pak?
Februari 10th, 2009 at 1:43 am
baru dengar yang mahasiswa geodesi itu.
mudah2an, ga berdampak negatif buat ITB.
Februari 10th, 2009 at 7:14 am
menurut saya apa yang diungkapkan yodama itu juga kelabu …huhuhu….(darimana asalnya dapet HC)
Februari 10th, 2009 at 9:28 am
HC itu tak bikin ITB jadi kelabu, tapi biru. Mgkin jga “haru”. Tepatnya, mengharukan.
Februari 10th, 2009 at 9:29 am
Yup, turut berduka buat keluarga yang ditinggalkan terutama keluarga mahasiswa tersebut. Ngeliat orang tua mahasiswa tersebut di tv langsung kebayang wajah orang tua sendiri.
Mudah2an, ospek nggak ada lagi. Dan mudah2an juga, mahasiswa (yang gosipnya merupakan kaum intelek) mulai menggunakan otak dibanding otot.
Jangan sampai ITB menjadi Institut Tempatnya Buruh.
Februari 10th, 2009 at 10:37 am
Innalillahi wa innailaihi rojiun, turut berduka cita atas wafatnya pak Farid Wazdi, saya mengenal beliau ketika INACISC 2005. Semoga beliau mendapatkan balasan terbaik sesuai dengan amalannya
Februari 10th, 2009 at 2:55 pm
Saya baca dari berita di TV terkait dengan kasus kematian mahasiswa itu, dosen2 di ITB juga ikut diperiksa polisi pak ya ?
Turut berduka cita mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Februari 10th, 2009 at 3:06 pm
Saya baca dari berita di TV terkait dengan kasus kematian mahasiswa Geodesi angkatan 2007, dosen2 di ITB juga ikut diperiksa polisi pak ya ?
Turut berduka cita mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
Februari 10th, 2009 at 3:24 pm
Sepertinya, belum lama beliau memberikan pencerahan, semangat, dalam menghadapi masa depan
Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Tuhan Yang Mahaesa.
Februari 10th, 2009 at 6:55 pm
semoga. semua yang terjadi dapat diambil hikmahnya.
. AMIN!
Februari 10th, 2009 at 10:48 pm
Pak Budi … apakah yg membuat semangat para mahasiswa ITb bisa berhasil? apakah dg ‘kekerasan’ juga membuat para mhasiwanya sukses
Februari 10th, 2009 at 11:35 pm
@tehthe,
Sebenarnya yang bikin sukses, ga cuman mhs ITB tapi semua orang, bukan kekerasan, tapi “NEKAT”. Dalam artian positif tentunya. Kekerasan sebetulnya merupakan satu ‘trik’ untuk merangsang keberanian untuk nekat. Cuman ini bukan masalah digital 0 atau 1. Ini masalah fuzzy. Artinya, memang kekerasan itu adalah ‘trik’, tapi manajemennya itu adalah seni. Jadi, kekerasan yang berlebihan itu juga ga bagus. Kekerasan yang berkekurangan, itu mah bukan kekerasan , tapi kelembutan……
Anda tidak mengerti ? Sama, saya juga tidak.
Februari 11th, 2009 at 1:13 am
Gampang…….Gelang Karet.
Takdir itu sudah ditentukan (bukankah telah tertulis pada kitab yang nyata).
Takdir juga harus terpilih (Flow Chart takdir tidak hanya Yes or NO)
Ia seperti gerak air di atas pori2 kertas. Manusia air, pori pori kertas adalah takdir tertulis.
Bunuh diri bukan takdir terpilih….tapi Salah Klik.
Februari 12th, 2009 at 8:03 am
Innalillahi wa innalillahi rojiun
Tentang anak geodesi, saya punya cerita juga pak.
Keponakanku (sekarang udah lulus), mahasiswa Geofisika..dia ikut ospek untuk masuk Himpunan. Pas malam minggu, saya kebetulan ada di Bandung, dia sms kalau dadanya sesak. Saya meluncur ke kampus ITB, menemui panitia nya, dan sang ketua melarang, nanti keponakan bisa nggak lulus. Wahh saya marah sekali, saya bilang, andaikata keponakanku ada apa-apa, mereka mau nggak digugat yang bisa berakhir di DO dari ITB? Karena saya sebetulnya cuma mau mengajak keponakan periksa ke dokter, dan kalau udah sehat lagi, boleh melanjutkan ospek.
Kebetulan suami punya nomor hp ketua jurusan, yang dulu temannya saat kuliah, beliau menyarankan agar keponakanku di bawa keluar aja. Keponakanku udah ketakutan (dia cewek), untung menurut….dan setelah ke dokter saya kembali ke kampus membawa surat dokter. Saya menjelaskan ke panitia, apa risikonya bagi mereka, jangan sampai mereka taat aturan yang membabi buta, tanpa melihat kesehatan adik kelas yang seharusnya dibimbingnya.
Memang banyak ospek yang di luar sepengetahuan ITB…tapi kalau ada yang berakibat fatal, bagaimanapun ITB akan kena getahnya. Jujur saja, dulu, setelah kasus anak Fisika yang meninggal, temanku akhirnya melarang anak satu2nya kuliah di ITB, padahal dia bersaudara kuliah di ITB semua. Anaknya akhirnya diterima beasiswa melanjutkan kuliah di Nanyang University.
Semoga, apapun alasannya, ITB memberi arahan pada mahasiswa senior ini, yang kadang menurut saya, mereka belum memikirkan risikonya…akankah setiap kali peristiwa seperti itu berulang?
(Saat anakku ospek, sang ayah menunggu langsung…karena kawatir hal-hal seperti itu terjadi)