Archive Bulanan: Februari 2009

Saran Buku Teks: Elektronika Industri

Semester ini saya mengajar Elektronika Industri. Pada pertemuan pertama saya sudah menyampaikan outline dari kuliahnya. Hanya saja, saya masih belum sreg dengan buku teks yang sudah saya miliki.

Untuk itu saya mencoba menggunakan blog ini untuk menggali pendapat mengenai buku teks yang sebaiknya digunakan. (Saya sebut pendekatan ini sebagai “family 100″. Sementara itu orang lain mungkin menyebutnya sebagai “delphi forum” atau “web 2.0″. hi hi hi. Atau, mungkin Anda punya istilah lain?)

Jika Anda pernah mengambil kuliah yang mirip di sekolah Anda, bolehkah saya tahu buku teks yang digunakan?

Ya, Anda sedikit harus menebak-nebak isi kuliahnya. hi hi hi. Silahkan lah. Bebas. Yang penting saya minta pendapat Anda.


ITB Kelabu

Hari Senin ini merupakan hari kelabu bagi ITB. Pagi ini saya mendapat kabar bahwa bapak Farid Wazdi, dosen Informatika, meninggal dunia. Langsung saya menuju rumahnya. Saya mengenal pak Farid ketika beliau menjabat sebagai kepala PIKSI dan saya menjadi salah satu anak buahnya. Semoga Allah mengampuni dosa pak Farid dan memberi tempat yang mulia di dunia sana. Amin.

Kelabu berikutnya adalah adanya kabar bahwa salah satu mahasiswa Geodesi angkatan 2007 meninggal dunia karena Ospek. Duh. Saya belum tahu berita lengkapnya tetapi tetap saja ini merupakan duka bagi kita semua. Semoga adik kita ini juga diampuni dosanya dan diberi tempat yang mulia di dunia sana. Amin.

Duh … :(


Selamat Pagi …

From Campur 2

People, Process, Technology dalam Impelementasi Sistem TI

Tidak bisa dipungkiri lagi perusahaan kini membutuhkan dukungan teknologi informasi, untuk menjawab setiap tantangan yang muncul dalam dunia bisnis yang selalu dinamis dan tak bisa ditebak. Tekonologi informasi dapat membantu perusahaan untuk  beradaptasi  dengan cepat terhadap perkembangan bisnis yang terjadi.

Dalam sistem IT, proses beradaptasi perusahaan adalah kemampuan perusahaan dalam menyesuaikan sistem-sistem IT yang dimilikinya guna merespon perubahan yang terjadi. Ada beberapa sistem teknologi informasi yang membantu perusahaan  menjalankan proses bisnisnya, salah satunya adalah ERP.

Namun, menyesuaikan sistem IT itu tak mudah karena ada banyak pihak yang terlibat dalam rangkaian proses bisnis, mulai dari karyawan, eksekutif dan BOD, di internal perusahaan, hinga distributor, vendor,  sub-kontraktor dan pemasok di eksternal perusahaan. Mereka yang terlibat dalam satu rangkaian ini, biasanya memiliki sistem yang berbeda baik dari kultur, kebiasaan, model data, jenis aplikasi, platform maupun tingkat kesiapan sumber daya IT-nya.

Oleh karena itu, dalam mengimplementasikan suatu sistem teknologi informasi (misalnya ERP) harus dilihat tiga aspek utama, yaitu People, Process, Technology. Atau dengan kata lain dalam implementasi suatu sistem TI harus diperhitungkan hal-hal yang bersifat teknis dan non-teknis.

Faktor non-teknis sangat penting, karena seringkali sistem sudah berjalan secara teknis tetapi sistem tersebut  tidak digunakan secara optimal, atau bahkan dilewati (di-by-pass) begitu saja. Sumber utama penyebab munculnya kegagalan non teknis, biasanya terkait dengan aspek manusia atau SDM.

Pada umumnya ketika proses implementasi sistem TI berlangsung, kebanyakan perusahaan terlalu berfokus kepada aspek teknologi dan sehingga melupakan aspek lainnya yaitu people dan process. Fokus yang terlupakan terhadap aspek people dan process, dapat menyebabkan kegagalan jalannya sistem TI tersebut. Contoh kegagalan yang disebabkan faktor proses  adalah, misalnya  perusahaan belum memiliki proses bisnis yang jelas. Misalnya belum ada definisi dari roles (siapa berhak melakukan, misalnya purchasing / delivery order / approval apa) untuk berbagai fungsi bisnis dari sistem yang diimplementasikan.

Disamping itu, kegagalan bisa juga disebabkan, tidak disadarinya adanya perbedaan antara proses bisnis di lapangan dengan yang diterapkan di dalam sistem TI. Misalnya ada perbedaan yang terkait dengan aturan keuangan antara bidang industri dan institusi yang menggunakan sistem TI tersebut.

Oleh karena itu, sebelum mengimplementasikan sistem ERP ini, melakukan kustomisasi terhadap aplikasi adalah penting. Perlu ditekankan bahwa hal itu bukanlan pekerjaan yang mudah, karena seringkali tidak ditemukan orang di dalam perusahaan yang paham terhadap seluruh proses bisnis di perusahaan. Untuk itulah, dibutuhkan waktu untuk melakukan interaksi dengan berbagai pihak di perusahaan dalam melakukan kustomisasi.

Aspek sumber daya/pengguna juga bisa menyebabkan terjadinya kegagalan sistem TI. Ini terutama disebabkan pengguna (dari mulai users sampai dengan top management) tidak memiliki komitmen terhadap penggunaan sistem tersebut.  Misalnya, penentuan pengadaan dilakukan dengan tidak  transparan, tidak ada sanksi terhadap pelanggaran, dan seterusnya.

Pengguna yang tidak familier dengan sistem baru, karena tidak dilakukan pelatihan juga bisa menjadi penyebab kegagalan impelementasi sebuah sistem.  Seringkali orang teknis beranggapan bahwa sistem akan mudah digunakan sehingga pengguna tidak perlu diajari (ditraining). Padahal penggunaan sistem yang baru harus selalu diajarkan.

Training adalah salah satu kunci keberhasilan dalam mengimplementasikan sistem TI. Namun, training seringkali dianggap remeh, padahal proses training membutuhkan waktu dan biaya yang seringkali lupa tidak dimasukkan ke dalam budget.

Untuk di Indonesia, sistem TI bisa juga gagal, karena faktor pengguna yang tidak mau menggunakan sistem tersebut, karena berbagai alasan. Misalnya, pengguna tidak dapat  melakukan kecurangan lagi karena dengan sistem TI semuanya akan berjalan secara real time dan transparan. Maka sistem “disabotase” dengan berbagai cara, misalnya saja diperlambat penggunaan, sengaja salah mengentri data, dan seterusnya, atau bahkan dicari-cari celah untuk melakukan fraud dengan cara baru.

Untuk meminimalkan kegagalan yang disebabkan oleh faktor SDM, yang terpenting adalah adanya komitment dari top managemen hingga user, pelatihan dan integritas dari para pelakunya. Semuanya harus terpadu.

Pada dasarnya implementasi sistem TI (misalnya ERP) pada perusahaan atau organisasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan produk yang sudah mapan (seperti SAP yang kemudian dilakukan kustomisasi) atau dengan mengembangkan sendiri dari awal (roll your own application). Keduanya memiliki kelebihan, kekurangan, dan risiko yang berbeda. Untuk perusahaan kecil, mengembangkan sendiri mungkin lebih tepat karena aspek biaya lebih menjadi pertimbangan dibandingkan aspek lain (kehandalan, support, performance).

Untuk perusahaan menengah dan besar dimana aspek performance, kehandalan, dan support merupakan hal yang lebih penting, produk yang sudah mapan (seperti SAP dan sejenisnya) dapat menjadi pilihan. Mengembangkan sendiri dapat berisiko lebih tinggi daripada menggunakan (dan melakukan customization) terhadap produk yang sudah mapan tersebut.

Yang lebih utama adalah adanya kesiapan SDM di internal (biarpun ada outsourcing, tetap harus ada SDM internal yang menguasai) dalam penerapan sistem TI ini. Selain itu perlu juga dilihat antara kebutuhan perusahaan dan ketersedian solusi yang ada.

Sedangkan aspek teknologi, pada umumnya lebih siap dan bukan menjadi sumber masalah utamanya. Dalam kasus sistem TI yang diterapkan pada salah satu perusahaan pemerintah dan menjadi perhatian utama media massa baru-baru ini, saya yakin bukan aspek teknologi yang bermasalah.


Hamburger

Baru saja saya nonton acara tv tentang berbagai restoran hamburger di Amerika. Memang burger ini icon-nya Amerika sih. Diceritakan tentang menunya, jenis burgernya, dan seterusnya. Ternyata ada banyak variasinya ya. Burger bukan sekedar daging dipanggang begitu saja. Pantesan anak saya juga suka burger banget. he he he.

Jadi laper

Oh ya, jadi teringat sesuatu. Saya sampai sekarang masih cari Burger Ramly (apa betul begitu ejaannya) di Singapore. Belum nemu lagi. Baru sekali itu makannya dan sekarang pengen lagi, tapi gak nemu. Hik hik hik. Burger Ramly itu dagingnya dibungkus dengan telur. Glek! Laper!


Sinkronisasi Folder di Windows, Mac, dan Linux

Bagaimana (dengan menggunakan apa) cara terbaik untuk melakukan sinkronisasi folder di Windows, Mac, dan Linux?

Ceritanya saya ada folder yang saya gunakan untuk mengajar kuliah. Kadang saya bekerja di komputer desktop yang menggunakan Windows dan Linux. Sementara itu kalau saya sedang bergerak (mobile) dan mengejar, saya menggunakan Linux. Sinkronisasi dilakukan secara manual, yaitu dengan membuat duplikat di masing-masing komputer. Nah, berkas sering tercecer. Di satu mesin ada berkas yang belum diperbaharui dan sebagainya. Kacau…

Inginnya ada aplikasi yang bisa melakukan sinkronisasi seperti itu. Ada sih, tetapi biasanya hanya satu platform saja. Untuk yang multiplatform? (Mosok pakai rsync? hi hi hi.)


Blog Baru Tentang Security

Saya ingin mengumumkan keberadaan blog baru tentang security. Sebetulnya ini belum layak diberitahu ke publik. Masih versi alpha (atau beta ya?), tapi biarin lah. Silahkan lihat di

blog.indocisc.co.id

Blog ini ditulis rame-rame. Idenya adalah memaksa kami untuk menuliskan sesuatu tentang security secara berkala.

Di tunggu di sana ya.


Minggu Pertama Ngajar

Minggu ini adalah minggu pertama saya kembali mengajar. Semester ini saya kebagian mengajar dua kuliah. Di tingkat S1 saya mengajar kuliah Elektronika Industri (untuk prodi Teknik Industri). Sementara itu di tingkat S2 saya mengajar kuliah Keamanan Sistem Informasi. Cukuplah dua kuliah saja.

Biasanya dan nantinya materi kuliah ini saya online-kan di budi.insan.co.id/courses. Hanya, saat ini halaman tersebut belum sempat saya perbaharui. Mudah-mudahan weekend ini bisa saya perbaharui halaman tersebut. Cerita mengenai kuliah dan isinya menyusul ya.

Kuliah yang elektronika industri sempat dipindahkan dari hari Rabu ke hari Kamis. Ternyata tidak mudah memindahkan waktu kuliah. Tadinya mau saya pindahkan ke hari Senin, tetapi mahasiswanya tidak pada bisa. Hari Kamis pun jamnya juga akan berubah. Saya harus membuat permohonan pindah jam lagi untuk mencari ruangan yang kosong. Sekarang sudah susah mencari ruangan kuliah, apalagi dengan jumlah mahasiswa saya yang banyak (81 orang! doh!).

Selamat belajar untuk mahasiswa-mahasiswi saya. Targetkan dapat A.


Glek!

Setelah sekian lama saya tidak makan sate di dekat kantor yang di gedung Cyber, maka hari Rabu kemarin saya sempatkan. Tadinya kami sering makan di “pak Casmadi”. Sekarang kami pindah ke “Yoyon Gondrong”.

Sate kambing 5 tusuk dan sop kambing satu mangkok sudah cukup. Rasanya top markotop. The best so far! Yang paling lezat.

Indra sedang asyik dengan sop kambing.

Rois dengan sate.


Jreng!

Belum sempat menuliskan ceritanya. Masih capek dan dikejar-kejar kerjaan dulu. Yang penting gambar dulu … Jreng!

From Bullet For My Valentine Concert
From Bullet For My Valentine Concert

Yeah, Yeah, Yeah


Gadget khusuth…

Paling sebel itu kalau mengeluarkan handsfree dari tempatnya (dalam hal ini kantong saku celana saya, ha ha ha), dia kusut. Susah diurai…

Grrr…

Bagaimana ya supaya tidak pabaliut seperti itu?


Buku APIQ – Aritmetika Plus Inteligensi Quantum

Hari Sabtu siang kemarin saya bertemu dengan pak Agus Nggermanto (aka Angger) di hotel Hyatt Bandung. Di sana sedang ada training internal. Pak Angger tiba-tiba menyodorkan sebuah buku ke saya. Hah? Buku apa ini?

Ternyata yang diberikan ke saya adalah buku karangan pak Angger. Ini buku ke sekian dari pak Angger.

Buku ini berisi trik aritmetika yang asyik. Ada banyak permainan di dalamnya. Bagi yang senang main-main dengan angka dan matematika, buku ini menarik. Saya sendiri sudah pernah menjadi target dari permainan matematikanya pak Angger. hi hi hi.

Selain buku ada bonus kartu “ular angka”. Hi hi hi. Ini bukan ular tangga, tapi ular angka. Yang ini belum saya buka. Nanti ah.

Oh ya, informasi mengenai buku ini dan kartu ular angka itu bisa dilihat di blognya pak Angger: apiqquantum.wordpress.com

Ada satu hal yang membuat saya sedih. Buku pak Angger ini finishingnya sama-sama dengan buku yang rencananya saya buat. Buku pak Angger sudah terbit, tetapi buku saya masih saya edit. (Baru 1/2-nya! Aduh.) Wah, saya harus bekerja keras untuk mengejar ketinggalan ini.


Ide Buntu

Tengah malam tinggal beberapa menit lagi
… namun ide itu tak kunjung muncul
… ide buntu (yang ini jelas bukan distro Linux)
… nampaknya tulisan itu harus menunggu sampai esok pagi

Pusing deh. Saya harus menuliskan sebuah artikel, tetapi idenya sampai sekarang belum muncul. Padahal deadline sudah dekat. (Bukan dekat lagi, seharusnya kemarin. hi hi hi.) Saya tidak menunda-nunda sampai dekat deadline. Sungguh. Saya sudah mencoba berbagai cara jauh-jauh hari, tetapi tetap saja ide itu masih bersembunyi.

Tengah malam sudah. Ditemani dengan lagu-lagu new age dari Mike Oldfield (dan kadang bisingnya suara kendaran yang nanjak), saya masih terus berusaha memancing ide untuk keluar. Nampaknya ini usaha sia-sia. Saya harus mengaku kalah.

Selamat malam ide. Engkau menang kali ini…


Parkir: rem tangan dan/atau gigi?

Sekedar iseng dan gak penting, tetapi saya kok penasan.

Jika Anda memarkir mobil, apakah Anda:

  1. memasang rem tangan saja;
  2. memasukkan perseneleng (bahasanya ini lho, hi hi hi) ke gigi satu (atau gigi yang lain, hi hi hi);
  3. melakukan keduanya – pasang rem tangan dan masukkan perseneleng ke gigi.

Yang mana yang biasa Anda lakukan?

Yang repot itu kalau kita pinjam mobil ke orang yang memiliki kebiasaan berbeda (atau sebaliknya, meminjamkan mobil). Kadang kita terkaget-kaget dengan kondisi parkirnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.