Satu pelajaran yang saya peroleh dari kehidupan ini adalah kalau kita ingin membantu orang lain, maka kita harus mau ikut repot. Ini sebuah fakta yang sulit saya telan pada awalnya, tetapi akhirnya mengerti dan siap untuk melakukannya. Saya akan beri beberapa contoh.
Ketika ada sebuah kecelakaan di jalan raya, maka kita mencoba menolong korban. Konsekuensinya adalah … kita ikut repot (mulai dari membantu korban, sampai mungkin ikut urusan sebagai saksi di kepolisian). Ketika ada sebuah kejahatan (copet, jambret, penodongan, dll.) maka kalau kita ingin membantu korban maka kita harus mau repot juga. Masih banyak contoh lain, seperti misalnya di dunia kesehatan, lingkungan hidup, sosial, dan seterusnya.
Orang menjadi berpikir dua kali (atau bahkan berkali-kali) kalau ingin membantu. Logikanya, saya kan ingin membantu kok saya yang jadi repot. Aneh kan? Tetapi pada kenyataannya adalah demikian. Akibatnya, orang tidak mau membantu (dan hanya berkomentar).
Di persimpangan jalan (di berbagai kota di Indonesia), ada banyak pengemis yang meminta-minta. Kebanyakan orang tidak mau mengeluarkan uang karena seharusnya pengemis tidak meminta-minta di jalan. Ini membahayakan bagi banyak pihak. Apa yang dilakukan kebanyakan orang? Ngomel tetapi tidak melakukan apa-apa.
Ada juga yang hanya bersedia membantu selama itu tidak merepotkan dia. Misalnya ada orang yang kemudian menyumbang uang tetapi tidak mau ikut campur (menyumbangkan waktu dan pikiran). Artinya kita siap membantu kalau itu mudah atau nyaman (convenience) bagi kita saja. Selintasan aja gitu?
Atau bahkan ada orang yang kemudian berkhayal menjadi zorro atau super hero lainnya, pahlawan berkedok. Mereka membantu hanya kalau menggunakan kedok saja. Masalahnya mereka tidak ingin kehidupan mereka direcokin gara-gara mereka ingin membantu (care) orang. Pahlawan berkedok itu hanya ada di dalam khayalan. Di dalam kenyataan sehari-hari tidak ada. Yang ada adalah, mau terlibat membantu orang (dengan resiko repot) atau tidak. As simple as that.
Ini memang kenyataan yang sulit ditelan. Nah, sekarang tergantung kepada kita, maukah kita terlibat membantu orang dan repot karenanya? Do you care?