Kadang saya bingung. Mau menceritakan kebaikan diri, tapi takut riya.
Mengapa perlu menceritakan kebaikan yang pernah kita lakukan? Sebetulnya ada pentingnya menceritakan tentang kebaikan yang pernah kita lakukan, yaitu agar yang lain juga ikut terinspirasi jadi ikutan baik. Misalnya, kalau kita ikut bersedekah maka orang lain juga menjadi ingin ikut bersedekah juga. Tapi, ya itu … nantinya jadi riya.
Di sebuah acara fund raising (upaya mengumpulkan donasi) untuk keperluan masjid beberapa tahun yang lalu (di luar Indonesia), orang-orang malu-malu untuk menyumbang. Katanya takut riya. Kemudian ada yang berkata (saya lupa, apa salah satu ustadz yang ada). Saya lupa tepatnya tetapi kira-kira isinya begini, lebih baik menyumbang (bersedekah) diketahui oleh orang banyak daripada takut riya kemudian malah tidak bersedekah. Biarlah Allah yang menilai. Nah lho.
Kalau dipikir-pikir, bagaimana kita tahu kebaikan dari Nabi (Muhammad s.a.w.) dan sahabat-sahabatnya? Tentunya kita tahu karena itu semua diriwayatkan. Ya, memang beda antara kita dengan beliau, tetapi setidaknya dengan adanya contoh para sahabat kita menjadi terinspirasi untuk berbuat baik juga kan?
Jadi bagaimana menurut Anda? Ceritakan kebaikan yang pernah Anda perbuat? Atau tidak usah?


Maret 16th, 2009 at 10:37 pm
kalau subjek yang diceritakan adalah diri sendiri, yang diceritakan jangan kebaikan yang dilakukan tapi bagaimana keputusan untuk berbuat kebaikan bisa didapat.
Maret 16th, 2009 at 11:25 pm
Kebaikan akan menularkan kebaikan. Tapi kebaikan yang diwartakan dengan maksud pamer, justru melahirkan kesombongan. Kebaikan yang kita lakukan bisa diceritakan tanpa harus disebutkan bahwa pelakunya adalah kita sendiri agar tetap menjaga keikhlasan.
Maret 17th, 2009 at 2:27 am
karena semua orang punya sifat riya……..jadi gitu dech……..hehe……..
Maret 17th, 2009 at 5:42 am
Iya Pak, saya juga pernah mendengarkan ceramah, bahwa berbuat kebaikan seperti sedekah jika diketahui orang lain tidak apa-apa.
Yang terpenting kita iklas dan tidak mengungkit-ngungkit atau menceritakan kembal kebaikan kita itu terus-menerus, hal ini untuk menjaga diri dari riya dan sombong.
Maret 17th, 2009 at 6:14 am
bersedekah bisa melalui perantara orang lain, atau kalau ada yg minta sumbangan tulis aja hamba Allah atau NN…. bukan no nude loh….. ^_^
Maret 17th, 2009 at 6:51 am
Riya lebih ke penilaian orang. Ada juga orang yg memang niatnya pamer tp orang melihatnya wajar. Yg paling penting terus menebarkan kebaikan walau itu sekecil biji qurma
Maret 17th, 2009 at 8:27 am
Menurut saya pribadi sih tidak apa diceritakan, toh niatnya baik, dan efek baiknya akan jauh lebih banyak
Maret 17th, 2009 at 8:41 am
Justru, tidak berbuat karena takut riya, itulah riya pakde. Setidaknya begitulah yang pernah saya baca dalam sebuah kitab agama.
Lebih baik berbuat sahaja dan jangan ceritakan atau diingat lagi. Tapi jika suatu saat anda harus ceritakan kebaikan anda, ya ceritakan saja, tapi tambahkan dgn kalimat “tahadduts bin ni’mah” di depannya
Maret 17th, 2009 at 9:44 am
semua tergantung niat aja pak
Maret 17th, 2009 at 11:35 am
iya, yang penting berbuat dulu aja. yang menilai maha tahu koq.
Maret 17th, 2009 at 11:33 pm
ah klo saya to dak tak pikirin mau dibilang riya atau terserahlah yang penting tujuannya motivasi orang untuk bisa “berbuat”
Maret 18th, 2009 at 12:16 pm
Adabnya:kl qt brsedekah ya tdk perlu qt cerita ke org lain. Krn memang tdk blh mengungkit-ungkit masa lalu bhw diri ini brsedekah. Spy tdk riya, niatkan cr pahala. Sebodo amat apa kata orang. Masalah hrs dismbunyikan ato tdk…prinsipnya tdk blh pamer, selebihnya lihat situasi, misalnya pas kajian ada kotak infaq, ya sudah smua pasti lihat kan. Bgmn spy org lain rajin bersedekah jg ada byk cr misalnya scr tdk lgs ktk qt brsedekah itu sdh contoh, ato dgn dakwah bil ilmu(din). Smg ini brmanfaat. Barokallahufiik.
Maret 18th, 2009 at 6:17 pm
“Barangsiapa berbuat baik, karena ingin surga maka ia akan dimasukkan ke neraka, barang siapa berbuat baik karena takut neraka, maka ia akan dimasukkan neraka”
Menurut Bpk. Damarjati Supajar (Filsafat UGM), Neraka itu tidak ada, tetapi diada-adakan, yang pasti ada itu surga (tempat sempurna). Tdk mungkin ALLAH menciptakan ketidaksempurnaan (neraka), yang merupakan “sistem” terjauh dari ALLAH.
Iblispun dimurkai bukan karena tidak beriman pada ALLAH (dia melihat DIA), tetapi dimurkai karena sombong.
Jadi yang pasti tahu riya (dan sombong) memang hanya ALLAh dan diri sendiri. Sedangkan Syariat berlaku pada hal lahir, bukan bathin. WALLAHUa’lam….
Maret 19th, 2009 at 10:11 pm
Punten ikut komentar…
pak, bukannya ketakutan akan riya’ yang menghalangi berbuat baik menandakan di hati orang itu ada setitik riya’?
Maret 20th, 2009 at 1:19 pm
wah…pernah juga pak kepikir seperti itu pak…
Klo dari sudut pandang saya..*alah..
Mulut kita satu, tapi mata kita dua
Ternyata, walau mata kita dua, mata orang-orang yang melihat kita lebih banyak.
Jadi, berbuat baik aja dengan menjadi diri sendiri. Toch, klo memang sudah terbentuk karakter “suka beresedekah” (misalnya).
Maka, hal itu akan dilakukan secara konsisten kapan, atau dimanapun, (atau apapun makanannya…minumannya tetap..teh ***** *****..loh?)
Selanjutnya, masalah disiarkan orang atau tidak, itu diserahkan saja sama Allooh..mudah2an mata2 yang banyak tadi diberikan hidayah..
Oiya..pak..baru belajar nulis blok lagi nih..mohon petunjuknya ya pak….Hehehe…
Makasih pak..
Maret 22nd, 2009 at 4:42 pm
baiknya menyumbang aja lewat kotak-kotak amal, Pak. Ga bakal dilihat orang dan ga akan ada yang peduli