Archive Bulanan: Maret 2009

Demam Panggung

Hari ini mahasiswa saya di Elektro mau maju sidang tugas akhir. Tentu saja sang mahasiswa demam panggung, karena belum terbiasa memberikan presentasi. Saya katakan santai saja, tetapi dalam hati saya tertawa karena sebelum memberikan presentasi saya pun demam panggung. Ha ha ha. Jangan kasih tahu siapa-siapa ya. Ini rahasia kita ya. hi hi hi.

Tadinya saya pikir hanya orang-orang biasa saja yang demam panggung. Kalau orang yang sudah profesional mestinya tidak demam panggung. Eh, ternyata saya salah. Minggu lalu terlihat oleh saya salah satu acara Oprah. Tamunya kebetulan adalah Cher dan Tina Turner. Nah, si Cher ini ternyata demam panggung juga untuk acaranya. Padahal dia itu Cher gitu loh.

Biasanya demam panggung itu terkait dengan kesiapan kita. Kalau kita siap, biasanya demam panggungnya berkurang. Mungkin dia tidak hilang, tetapi berkurang lah. Nah, kalau tidak siap … ya jangan salahkan diri kalau demam panggung.

Nah … masalah saya adalah saya tidak siap dengan manggung minggu ini. Ada presentasi IT dan ada ngeband. Demam panggung udah mulai dari sekarang. D@mn! Salah sendiri tidak mempersiapkan diri dengan baik…


Mengajarkan Kebaikan vs Riya

Kadang saya bingung. Mau menceritakan kebaikan diri, tapi takut riya.

Mengapa perlu menceritakan kebaikan yang pernah kita lakukan? Sebetulnya ada pentingnya menceritakan tentang kebaikan yang pernah kita lakukan, yaitu agar yang lain juga ikut terinspirasi jadi ikutan baik. Misalnya, kalau kita ikut bersedekah maka orang lain juga menjadi ingin ikut bersedekah juga. Tapi, ya itu … nantinya jadi riya.

Di sebuah acara fund raising (upaya mengumpulkan donasi) untuk keperluan masjid beberapa tahun yang lalu (di luar Indonesia), orang-orang malu-malu untuk menyumbang. Katanya takut riya. Kemudian ada yang berkata (saya lupa, apa salah satu ustadz yang ada). Saya lupa tepatnya tetapi kira-kira isinya begini, lebih baik menyumbang (bersedekah) diketahui oleh orang banyak daripada takut riya kemudian malah tidak bersedekah. Biarlah Allah yang menilai. Nah lho.

Kalau dipikir-pikir, bagaimana kita tahu kebaikan dari Nabi (Muhammad s.a.w.) dan sahabat-sahabatnya? Tentunya kita tahu karena itu semua diriwayatkan. Ya, memang beda antara kita dengan beliau, tetapi setidaknya dengan adanya contoh para sahabat kita menjadi terinspirasi untuk berbuat baik juga kan?

Jadi bagaimana menurut Anda? Ceritakan kebaikan yang pernah Anda perbuat? Atau tidak usah?


(haruskah tulisan) Berkualitas

Haruskah tulisan kita di blog berkualitas?

Ini pertanyaan yang valid. Sudah beberapa kali orang menanyakan hal ini ke saya. Jawaban singkat saya, mestinya sih iya tetapi mengapa “harus”?

Dalam beberapa presentasi saya bercerita mengenai pengalaman saya dalam membuat blog. (Saya punya banyak blog.) Kunci untuk menjadikan blog populer adalah banyak menulis. Singkatnya, mantra saya adalah “kuantitas lebih menentukan daripada kualitas”. Entah ini mau dibilang menyedihkan atau tidak, tetapi inilah kenyataannya. Silahkan Anda mencibir.

Jika tulisan Anda berkualitas tetapi hanya ada satu tulisan dalam satu bulan, maka pengunjung blog Anda akan mengunjungi sekali (atau dua kali) dalam satu bulan. Mereka akan memprogram diri mereka seperti itu karena mereka tahu bahwa di blog tersebut tidak ada hal yang baru.

Kalau blog Anda diperbaharui setiap hari, setidaknya mungkin ada yang mengunjungi setiap hari. Tentu saja kalau tulisan Anda menarik, pasti ada yang datang lagi. Kalau tidak menarik (baca: tidak berkualitas), setidaknya ada orang yang nyasar atau iseng atau lagi tidak ada kerjaan datang ke tempat Anda. ha ha ha.

Tidak percaya? Coba Anda buat 5 tulisan setiap hari dalam 1 bulan. Nanti Anda akan lihat perbedaannya.

Tentu saja membuat 5 tulisan setiap hari bukanlah hal yang mudah, tetapi ini topik pembahasan lain kali. hi hi hi.


Terkunci di WC

Hari Jum’at yang lalu, saya terkunci di WC kantor saya! Ceritanya, sebelum wudhu, saya mau ke tempat buang air kecil. Saya pilih WC saja karena urinoirnya dipakai semua.

Setelah masuk, saya kunci pintunya. Ternyata kuncinya patah bagian pemutarnya, yang kemudian jatuh … masuk di lubang drainase! Plung! Hilang dari pandangan. Waduh bagaimana nih?

Untungnya saya bersama Parmis ke toilet itu. Langsung saya minta tolong Parmis untuk mengambilkan tang. Pintu kemudian berhasil saya buka dengan menggunakan tang tersebut. Alhamdulillah. Kalau tidak, bisa terjebak sampai shalat Jum’at selesai. Atau, saya harus memanjat dindingnya (ada spasi antara dinding dengan langit-langit.) Untungnya saya tidak perlu menjadi Indiana Jones. he he he.


[foto putaran pintu dan kuncinya yang patah]


Kemana Membuang Dokumen

Semalam saya beberes meja karena mejanya akan digunakan untuk komputer. Saat ini di atas meja itu berserakan berbagai dokumen. Ada tugas-tugas mahasiswa semester lalu, hasil cetak (misalnya ada perl reference manual yang saya cetak dari berkas PDF, ada catatan tentang protocol YM!, css reference card, dan sejenisnya), fotocopy beberapa artikel dari berbagai majalah (kebetulan yang ada kali ini terkait dengan masalah bisnis), dan dokumen kerjaan yang sudah selesai.


[potret meja berantakan]

Dokumen tersebut ada yang masih saya butuhkan dan ada yang memang sudah harus dibuang. Yang masih saya butuhkan akan saya simpan. (Maksudnya, menyampah di tempat lain – ha ha ha.) Nah, yang harus dibuang ini bagaimana ya penanganannya?

Ada dokumen yang bisa dibuang demikian saja tanpa masalah, misalnya hasil cetak manual. Namun ada dokumen yang harus dimusnahkan karena alasan kerahasiaan (misalnya hasil pekerjaan) atau kerahasiaan juga ya[?] (misalnya nilai mahasiswa). Yang ini saya masih sering bingung. Kalau dikilokan dan jadi bungkus gorengan kan bisa gawat. hi hi hi.

Dulu kami membeli shredder yang bisa menghancurkan kertas. Namun ternyata usianya tidak lama. Ternyata alat ini gampang sekali rusak. Jumlah kertas yang bisa dihancurkan (dipotong-potong kecil) pada satu saat tidak banyak. Salah sedikit, macet. Pokoknya repot lah. Sekarang alatnya rusak. Jadi bagaimana sekarang? Dibakar saja?

Untuk mendelegasikan pekerjaan penghancuran dokumen ini juga agak susah. Mereka (yang disuruh) juga kadang tidak boleh tahu isi dokumennya. Jadinya kita atau tim yang harus menghancurkan dokumen itu sendiri.

Salah satu solusinya mungkin adalah dengan menggunakan dokumen elektronik. Hanya saja saya masih lebih suka menggunakan dokumen konvensional dalam bentuk kertas. Untuk manual, saya tidak terlalu keberatan dengan dokumen elektronik, tetapi untuk reference masih lebih enak pakai cara konvensional. (Meskipun saya sudah mulai lebih banyak menggunakan dokumen elektronik.)

Sebetulnya kalau kita pindah ke dokumen elektronik, ada masalah tambahan. Kita cenderung untuk menyimpan dokumen-dokumen tersebut. Padahal ada kalanya dokumen memang harus dimusnahkan; baik dalam bentuk fisik maupun bentuk elektronik. Karena ukurannya yang relatif kecil, biasanya kita biarkan dokumen elektronik berserakan di harddisk kita. Menyampah juga …

Duh, nampaknya saya masih harus belajar membiasakan untuk membuang dokumen; kertas maupun elektronik.


Pernikahan Khairul

Siang ini kami (indocisc dan insan) hadir di acara pernikahan Khairul. Selamat untuk Irul dan Intan atas pernikahannya. Semoga berbahagia selalu.


Kreatif dan tidak kreatif

Saat ini sedang ramainya dibahas tentang “industri kreatif”. Saya sendiri tadinya merasa bahwa ini merupakan hal yang natural dan harus didukung. Tetapi kemudian ada pertanyaan, memangnya ada industri yang “tidak kreatif”? Halah. Benar juga ya? Nampaknya harus ada definisi yang lebih jelas mengenai yang dimaksud dengan “kreatif” di sini.

Pak Richard Mengko membuat sebuah tulisan mengenai rancunya definisi ini. (Sedang saya baca.) Sementara itu di lemari saya juga ada buku karangan Richard Florida yang berjudul “The Rise of Creative Class“. (Yang ini belum selesai saya baca.) Lihat juga situs webnya, CreativeClass.org. Kemudian Eko Mursito memberikan link mengenai cara pandang terhadap kreativitas dengan cerita tentang Understanding Comics. Teknologi informasi jelas dikaitkan dengan itu semua.

Wah … pusying euy.


Nyungsep di komputer

Kalau udah kecapekan kerja, nyungsep deh jadinya. hi hi hi.

Mungkin itu langsung masuk ke dunia maya, ala the Matrix.


Selamat Pagi

Bandung masih lembab, setelah semalaman hujan. Tapi ini tidak membuat semangat kita lemah kan?

Betapa indahnya warna langit itu ya… Lukisan alam asli.

Sebetulnya foto di atas diambil pada sore hari dari lantai 4 gedung PAU ITB. (Ada atap Gedung Serba Guna.) Agak tidak cocok dengan selamat pagi, tetapi biarlah. Biar image yang indah membuka pagi kita ini dan membuat kita bersemangat untuk mengerjakan tugas kita hari ini.

Selamat pagi! Sukses selalu!


Generasi Terbodoh

Saya baru membaca majalah IEEE Spectrum edisi Februari 2009. Pada halaman 15 ada review singkat mengenai buku dengan judul “The Dumbest Generation: How the Digital Ages Stupefies Young Americans and Jeopardizes Our Future.” (Jadi ingat film “Dumb and Dumber” itu.)

Penulisnya berargumentasi bahwa e-mail, blogging, dan games menghasilkan generasi yang mudah beradaptasi dengan gambar tetapi sulit dalam melakukan critical thinking. Waduh. Itu di Amerika. Mudah-mudahan di Indonesia kita berbeda ya? …

Eh jangan selalu setuju aja. Berbeda juga belum tentu baik kan? Kadang memang harus ada perbedaan (kecil saja, kalau sudah besar malah repot untuk mendamaikannya kembali.)

Pikir-pikir, kalkulator juga bisa dianggap sebagai produk (hasil teknologi) yang membuat kita menjadi lebih bodoh. Rasanya saya sudah pernah menuliskan hal ini deh. Lupa lagi. Dasar pengguna teknologi (aka bodoh). hi hi hi.

Jadi harusnya bagaimana ya?


Waktu (Berlari)

Waktu
… berlari
… kencang sekali
… sehingga aku tertinggal
… meski kaki sudah (mencoba) melangkah secepat mungkin

tergopoh-gopoh menyelesaikan berbagai tugas yang menumpuk; materi kuliah yang belum bisa disampaikan di depan kelas, tugas akhir mahasiswa yang belum terbaca, makalah yang belum terbaca dan terkoreksi, proposal yang belum diverifikasi, program yang belum bisa berjalan dengan sempurna, lagu yang belum dilatih, blog yang belum diperbaharui,  …


Koleksi Foto Gratisan Untuk Presentasi?

Saya sering memberikan presentasi. Untuk membuat materi presentasi lebih menarik, saya membutuhkan beberapa foto. (Saya tidak terlalu suka clip art yang biasa. Entah kenapa.) Oh, ya saya juga tahu bahwa saya tidak boleh terlalu banyak menampilkan gambar sehingga presentasi menjadi “murahan”. :D

Coba lihat contoh presentasi-presentasi yang bagus di slideshare.net. Ngiri melihatnya. Bagaimana mereka bisa membuat materi yang bagus-bagus seperti itu?

Pertanyaan saya:

dimana koleksi foto gratisan yang bisa saya gunakan untuk membuat materi presentasi?

Atau, biasanya Anda menggunakan apa? Saya biasanya menggunakan yang ada di Microsoft Office online. Tetapi di sana koleksinya terbatas sekali. Apa ada tempat yang lebih baik?


Kabuterimon di Bandung

Sudah dua hari ini Bandung diliputi kabut di pagi hari. Seru banget. Ini mengingatkan saya akan Bandung ketika masih kecil.

[Judulnya kabuterimon karena jadi ingat dengan film monster-monster anak-anak. hi hi hi. Ini hanya sekedar apa yang ada di kepala saya, bukan betulan ada monster di Bandung.]

meskipun dingin … selamat pagi …

oh ya, meskipun tadi kabut, sekarang sudah terang benderang dan bahkan sangat indah sekali di luar sana. aduh ngapain saya duduk di depan komputer ini ya? kayaknya mendingan saya ke luar saja. mari …


Halaman-halaman

Berikut ini beberapa halaman yang terbaca ketika merayap di dunia internet. Belum tahu mau dibaca atau disimpan atau diapakan.

  • Tulisan tentang menjalankan Ubuntu dengan VirtualBox ternyata dilink di sini. Kelihatannya mereka memiliki crawler untuk mendeteksi tulisan-tulisan yang terkait dengan VirtualBox. Belum tahu apakah tulisan ini dilink lagi di sana. Hi hi hi. Jadi rekursif.
    Mengenai crawler ini sebetulnya saya sudah kepikiran untuk membuat sebuah crawler dengan memanfaatkan RSS. Belum sempat mencari library (kalau bisa library perl) yang bisa memanfaatkan RSS, parsing HTML, dan menyumpannya dalam database.
  • Mahasiswa saya mencari panduan untuk menuliskan referensi sesuai dengan standar IEEE. Sebetulnya sih tidak terlalu susah mencarinya dengan Google, tapi ini dia halaman yang saya pakai. http://wwwlib.murdoch.edu.au/find/citation/ieee.html
  • Terus ada artikel dari sebuah mailing list yang tulisannya berisi seperti ini:
    The Roman orator Cicero said, “The aim of writing is not simply to be understood, but to make it impossible to be misunderstood.”
    Wow. Kutipannya bagus sekali.
  • Membaca dua dokumen singkat tentang pemanfaatan Agent untuk mensimulasikan epidemik penyakit (dan juga dispatching emergency resources). Kedua dokumen ini dari Bob, mantan supervisor S3 saya di Kanada sana. Menarik untuk kerjasama lagi.

Begitulah catatan saya pagi ini.


Ubuntu di atas Mac OS X

Asal mulanya saya ingin menjalankan beberapa aplikasi UNIX di Macbook saya. Ternyata aplikasi yang saya inginkan belum ada yang dalam bentuk jadi (termasuk di fink juga). Terpaksa saya harus merakit (compile) sendiri dari source code-nya.

Sebetulnya merakit sendiri itu tidak terlalu masalah. Saya bisa (dan biasa setelah sekian belas tahun, oh mungkin lebih) melakukannya. Sebelnya itu adalah dia memakan waktu.

Ambil source code ini, kemudian dikonfigurasi. Ternyata dia membutuhkan library tertentu yang harus saya rakit juga. Source code dari library tersebut sudah saya download dan ketika dikonfigurasi, dia membutuhkan library yang lain. Begitulah seterusnya. Lama kelamaan Mac OS saya jadi “kotor” oleh tangan saya sendiri.

Pikir-pikir dari pada begitu, lebih baik saya pasang Linux di atas Mac OS ini. Sayang juga kalau harus merusak konfigurasi yang sudah ada. Akhirnya saya putuskan untuk memasang Sun xVM atau VirtualBox, yaitu virtual machine yang dikeluarkan oleh Sun Microsystems. Ide ini muncul setelah melihat Yan melakukan itu di notebooknya.

Maka … saya pasanglah VirtualBox dan Linux Ubuntu di Macbook saya. Hasilnya … silahkan lihat di skrinsut berikut.

Asyik. Sekarang bisa ngoprek kode di Ubuntu, di dalam Mac OS :) Clean…


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.