Setelah ada “sertifikasi guru / dosen”, kini konon kabarnya ada “sertifikasi peneliti”. Hah? Apa pula ini? Benarkah? Apakah ini hanya April mop?
Pemahaman saya ini adalah “akal-akalan” untuk meningkatkan penghasilan guru / dosen / peneliti saja. Jika memang tujuannya adalah untuk meningkatkan taraf hidup mereka (di mana saya termasuk di dalamnya), maka cara ini agak aneh menurut saya. Langsung naikkan gaji mereka saja.
Kok pakai muter-muter segala.
Sampai saat ini saya masih belum bisa menerima apakah (guru / dosen / peneliti) yang bersertifikasi memang lebih baik dari yang tidak bersertifikasi. Entahlah.
Katakanlah ada seorang dosen yang sudah S3 (dan mungkin sudah profesor), sudah mengajar 20 tahun, apakah dia perlu mengikuti sertifikasi lagi?
Di kampus saya di Kanada dahulu rasanya tidak ada sertifikasi dosen. Di research center tempat kerja saya juga tidak ada sertifikasi peneliti.
Bagaimana pendapat Anda?


April 8th, 2009 at 7:44 pm
Mm.. ijazah dan pengalaman sepertinya sudah tidak cukup berharga pada jaman sekarang ini ya?
April 8th, 2009 at 7:50 pm
mestinya guru yang bersertifikasi lebih baik daripada yang tidak, krn dia telah berhasil lolos sertifikasi
April 8th, 2009 at 8:06 pm
apa ini cuman akal-akalan biar ada proyek aja yah
April 8th, 2009 at 8:19 pm
Akal2an tuh, namax juga “usaha”.. ^_^
April 8th, 2009 at 8:31 pm
sertifikasi peneliti gak lebih berharga daripada sebuah jurnal paper..
apa artinya jadi peneliti kalo gak punya publikasi ilmiah?
April 8th, 2009 at 8:36 pm
kalo prasangka baiknya sih, mungkin utk meningkatkan kualitas guru…
kalo emang itu tujuannya…seharusnya dilakukan rutin…
mungkin ini sama aja kayak ujian kompetensi utk kalangan kedokteran yang harus diperbaharui tiap beberapa periode…
April 8th, 2009 at 10:19 pm
bakal ada berapaa macam serifikasi jadinya kalo gini???
April 8th, 2009 at 10:19 pm
bakal ada berapa macam serifikasi jadinya kalo gini???
April 8th, 2009 at 10:32 pm
halah.. bukannya akan meningkatkan produktivitas peneliti justru malahan membuat jadi kontra-produktif..
kalau mau meneliti harus ada sertifikat dulu? bukannya dengan begitu sama saja melarang orang belajar?
kalau persoalannya kepercayaan hasil penelitian, bukannya sejak dahulu kala sudah ada peer-review?
sifat sertifikasi biasanya hanya dipakai sekali lalu buang (kecuali buat/diperbarui lagi).. di sini mungkin bakal jadi lahan buang2 uang..
seharusnya yang dinilai bukan orangnya, tapi karyanya..
dalam dunia akademik penelitian umumnya dilakukan minimal saat S2/S3.. bukannya ini juga ‘analog’ dengan sertifikasi? syaratnya ujian masuk sekolah ybs.
ah, bener juga.. cuma muter2 aja.. udah lah.. perbesar aja ‘keran’ dana penelitiannya.. supaya kesempatan meneliti jadi lebih luas..
sistem gelar guru besar di Indonesia, bukannya ‘praktik sertifikasi’ juga?
April 8th, 2009 at 11:37 pm
siapa yang tidak mau taraf hidup lebih baik?
April 9th, 2009 at 12:50 am
just try to be positive…
kalo emang ngerasa udah berpengalaman dan lebih hebat daripada yang udah bersertifikasi,ikut aja lah…
kaya iklan sebuah partai “kalo emang bersih,ngapain risih..”
pro-kontra pasti akan selalu ada,apalagi untuk hal baru..
kalo kita ngerasa tanpa sertifikasi tetap bisa berkarya dan hidup lebih baik?ya ga usah sertifikasi,apalagi kalo prosesnya ribet&makan waktu,kan waktu kita yang ada lebih baik untuk meneliti toh?
tapi kalo ngerasa “ah..boleh lah toh ga ada salahnya ini..”
yasudah,ambil aja,mgkn dengan proses yang makan waktu dan biaya,tp mgkn ke depannya akan berguna..ya kan?
April 9th, 2009 at 6:37 am
Mungkin memang model di Indonesia pak. Di lembaga perbankan pun ada sertifikasi risk management…ada level 1 s/d 5. Konon katanya di negara lain, seperti Malaysia juga nggak ada.
Juga ada CWM (Certified Wealth Management) dll….
Atau mungkin maksudnya agar posisi apapun harus terus belajar? Yang perlu bukankah belajar dan mengamalkan?
April 12th, 2009 at 8:15 pm
Menurut saya, yang penting gaji dosen naik, biar uang saku saya ditambah. Bapak saya udah dinyatakan lulus sertifikasi dari november kemarin, sampe sekarang gajinya belum nambah juga. payah.
April 23rd, 2009 at 12:46 pm
Pemborosan langkah!!!! dan tidak logis!!!! seorang peneliti untuk bisa naik pangkat kan sudah melalui penilaian berkas yang panjang oleh para penilai yang cukup kapabel di bidang penelitian, terus mau diapain lagi? Sudahlah kalau tidak peduli dengan perkembangan ilmu hilangkan saja jabatan peneliti