Archive Bulanan: Mei 2009

Buku Desain

Tadi jalan-jalan ke Gramedia dan melihat di bagian buku impor. Tadinya mau lihat-lihat siapa tahu ada buku yang menarik. (Lagi ngincer beberapa buku, seperti Outliers-nya Gladwel.) Ternyata yang ada di sana kebanyakan adalah buku desain. Wah ini mah buku-bukunya orang seni dan desain.

Saya buka-buka beberapa buku. Sangat menarik isinya. Saya teringat bahwa di rumah masih ada satu buku desain pinjaman dari Tita (aka esduren). Itu pun belum selesai saya baca, sudah ngiler lihat buku desain lagi.

“Untungnya”(?) buku-buku tadi mahal harganya sehingga saya tidak membeli :) Kalau harganya terjangkau, pasti keluar dari toko buku sudah nenteng buku. Maksudnya buku desain itu. Soalnya tadi keluar toko buku juga nenteng dua buku :) he he he.

Hmm… siapa (mana) lagi yang bisa saya datangi untuk pinjam buku desain ya?


Bekas Daftar Hadir Mahasiswa

Tadi pagi beberes lemari yang salah satu isinya adalah arsip administratif perkuliahan yang saya lakukan. Di sana ternyata banyak map yang berisi daftar hadir mahasiswa.

Saya keluarkan isinya. Besok isinya akan dihancurkan. Soalnya kalau diloak nanti bikin malu. Nanti ada bungkus pisang goreng yang isinya daftar hadir mahasiswa kelas saya. Hi hi hi. Malu ah. Sementara itu mapnya akan saya gunakan untuk keperluan lain (seperti mengarsip ini dan itu). Lumayan juga. Warnanya juga sudah bervariasi. Cool.

Pada satu sesi perkuliahan biasanya saya mengajar dua mata kuliah. Jadi dalam satu tahun saya mengajar 5 sampai dengan 6 mata kuliah (termasuk semester pendek). Koleksi mapnya lumayan banyak juga :)


Selamat Pagi


[dipotret 1 Juni 31 Mei 2009 di belakang rumah]

Selamat pagi semuanya …
Hari yang cerah. Semoga hari libur ini membawa banyak keceriaan kepada kita semua.

Sukses!


Diskusi Ekonomi dan Politik

Akhir-akhir ini berbagai mailing list dibahas tentang topik ekonomi dan politik. Adalah diskusi tentang neolib (what the heck is that? do I have to care?). Mungkin karena mendekati pemilihan presiden sehingga topik ini dibahas?

Terus terang topik tersebut tidak terlalu menarik bagi saya karena sudah terlalu banyak yang membahasnya dengan tidak jelas. Belum lagi yang membahasnya adalah orang-orang yang bukan bidangnya. ha ha ha. Ditambah lagi diskusinya dilakukan di milis umum, yang bukan spesifik untuk membahas masalah itu. Akhirnya, saya selalu menekan tombol delete untuk setiap email yang bersubyek seperti itu.

Delete, delete, delete …


Pagar di Indonesia

karena kebutuhan?


Presentasi: Antara Mikro dan Makro

Sebagai bagian dari kegiatan di kampus, saya membimbing mahasiswa. Salah satu yang saya perhatikan (dan bimbing) adalah presentasi yang mereka lakukan.

Salah satu kesulitan yang dihadapi mahasiswa ketika melakukan presentasi adalah memilih kapan memberikan topik mikro dan makro. Memang ada dua ekstrim, tetapi mahasiswa sering terlalu mikro dalam presentasinya. Maksud saya, dia bisa tiba-tiba menceritakan tetang sesuatu hal yang detail (rinci) dan sangat dalam mengenai hasil penelitiannya. (Kalau di istilah algoritma komputer mungkin adalah depth first search. hi hi hi.)

Sebetulnya hal ini tidak salah, tetapi ada masalah besar. Penguji (atau pendengar) sering tidak paham dengan apa yang dipresentasikan. Penguji bukan orang yang bodoh (mereka Doktor dan/atau Profesor), tetapi mereka belum tentu menguasai bidang ilmu yang dipresentasikan sehingga mereka tidak dapat memahami atau mengapresiasi apa yang dikerjakan oleh sang mahasiswa.

Untuk itu perlu adanya sebuah penjelasan yang sifatnya makro (high level), yang menjelaskan peta apa yang dikerjakan. Saya pikir ini hal yang mudah, tetapi pada kenyataannya seringkali mahasiswa kesulitan. Mungkin karena saya sudah melalui banyak jalan (baca: tersesat) sehingga bisa melihat dengan lebih jelas?

Jadi, saran saya, di awal presentasi coba buatkan sebuah peta atau overview mengenai apa yang Anda lakukan sehingga kerjaan Anda lebih diapresiasi. Semoga sukses.


Nature vs Man-made Objects



[dipotret beberapa menit yang lalu di belakang rumah]

Manusia selalu ingin membuat hidupnya lebih “baik”. Maka, diciptakannya berbagai perangkat yang seringkali “melawan” alam. Mungkin manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa melakukan ini (melawan alam) ya?


Beli MP3 Baru Ternyata Bekas!

Kemarin saya membeli pemutar MP3 murah meriah (Rp 185 ribu). Setelah dicoba saya bawa pulang dan semalam dicharge. Setelah 4 jam, saya matikan.

Pagi-pagi ada yang aneh. Batrenya sudah low lagi katanya. Halah. Kemudian saya coba charge dengan USB ke komputer sembari mau mencoba mengisi beberapa lagu.

Direktori dari MP3 player terbuka … dan ternyata sudah banyak isinya! Ada dokumen laporan kerja praktek segala! Formatnya Microsoft Word. Untung tidak ada berkas yang “aneh-aneh”.

Jadi, sebenarnya MP3 ini sudah pernah dipakai orang. (Lantas buat apa saya menunggu ngecharge sampai 4 jam segala??? Kaco!) Saya tidak tahu apakah digunakannya secara sembunyi-sembunyi (misalnya dipinjam oleh salah seorang pegawainya) atau memang bekas. Padahal saya membelinya baru. No wonder the battery is now new!

Diapakah ya? Dikembalikan? Laporkan ke pemilik toko (dengan risiko salah satu pegawainya mungkin dipecat kalau dia yang menggunakan secara sembunyi-sembunyi)? Atau biarkan saja, toh tidak terlalu mahal harganya (ada harga ada kualitas)?


Suatu Sore di Jakarta

Suatu sore di Jakarta …


Injak Lampu

Mematikan lampu dengan cara menginjak …

Gak ding:D


Semut?

Kirain semut raksasa beneran. Ternyata gambaran mahasiswa(?). Dipotret di salah satu tangga labtek V (lupa namanya sekarang).

Mumpung gambarnya belum dibersihkan (karena dianggap grafiti?), saya potet dulu. Hi hi hi.


Membuat Soal Ujian

Bagaimana membuat soal ujian yang bisa mengevaluasi tingkat kemampuan mahasiswa dengan mudah ya? Masalahnya saya harus buat soal untuk kelas dengan kapasitas 100 orang. Selain membuat soalnya sudah pusing, memeriksanya juga repot :)

Ada ide?

Mahasiswa sih maunya multiple choice. Saya juga :) ha ha ha. Tetapi dari situ masih kurang bisa diketahui tingkat kemampuan mahasiswanya. (Ini materi kuliah yang seharusnya ada hitungan elektronik.)


Hati-hati bicara (untuk jurnalis dan blogger)

Tadi saya “mengunjungi” halaman maya kawan saya (j diamond) dan menemukan link tentang kasus yang dihadapi oleh Simon Singh. Hah? Saya kaget.

Simon Singh merupakan salah satu pengarang buku kesukaan saya. Dia menulis buku tentang sains, seperti matematik (Fermat’s Last Theorem), kriptografi (Code Book), sejarah penemuan sains (Big Bang). Tulisannya enak dibaca sehingga jelas meskipun materinya berat. Saya punya dua buku karangannya. Buku terakhirnya, Trick or Treatment, belum punya. Pengeeennn… (masuk wish list).

Nah, ternyata sekarang sedang berlangsung sebuah kasus yang mana Simon Singh sedang dituntut. (Lengkapnya silahkan baca di sini. Di sana ada link ke berita yang lebih lengkap.) Singkatnya Simon Singh membuat sebuah artikel di koran the Guardian yang isinya mengatakan bahwa British Chiropractic Association mempromosikan solusi kesehatan yang tidak benar (bogus). British Chiropractic Association kemudian menuntut Singh atas pencemaran nama baik.

Yang menjadi perhatian dari kasus ini adalah adanya kemudahan di sistem legal Inggris untuk mengadu pencemaran nama baik. Akibatnya jurnalis (dan juga blogger) akan mudah mendapat ancaman pencemaran nama baik jika ingin mengungkapkan sebuah temuan (hasil investigasi) yang tidak menyenangkan bagi orang lain.

Bagaimana di Indonesia?

Soal Simon Singh, nampaknya dia akan susah menang. Duh … kasihan.


Antara Nasionalisme dan Harga Murah

Pertanyaan untuk Anda. Apabila Anda dihadapkan kepada dua pilihan produk; yang satu adalah buatan Indonesia tetapi harganya mahal sekali, yang satunya lagi buatan luar negeri dengan harga yang jauh lebih murah. Mana yang Anda pilih?

Produk yang dimaksud di sini bisa berbagai jenis, mulai dari baju sampai ke alat elektronik. Ada banyak contohnya, tetapi yang paling menarik adalah produk telekomunikasi. Lihat saja handphone kita. Bagian mana yang buatan dalam negeri? Kita hanya menjadi pasar. Kapan kita bisa menjadi produsen ya?

Masalahnya kalau kita selalu memilih produk buatan luar negeri, maka produk dalam negeri tidak ada yang membeli dan tidak mencapai critical mass untuk harga murah. Akibatnya kita selalu impor. Uang kita ke luar negeri semua. Lantas devisa kita dari apa ya?

Sementara itu kita juga tidak punya uang (terlalu banyak) untuk membayar lebih mahal untuk sebuah produk. Kalau harganya tidak jauh berbeda, tentu saja kita membeli produk buatan Indonesia. Masalahnya kalau harganya jauh lebih mahal sementara kualitasnya sama. Bagaimana ya?

Dukung produk Indonesia!


Good Morning

Selamat pagi …

Foto lagi mau dicari. Bentar … Mau jogging sambil bawa digital camera. Siapa tahu nemu gambar / momen yang bagus di jalan. Di luar cuacanya bagus banget.

Akhirnya jogging … lupa bawa kamera digital :) Ya sudah. Apa yang ada dipotret dengan menggunakan handphone saja.

Selamat pagi semuanya …


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.