Terus terang saya sebel dengan topik politik yang dibahas di berbagai mailing list (yang tidak dibuat untuk mendiskusikan politik). Sebel membaca analisis orang-orang yang sok tahu tentang politik!
Seharusnya saya tidak boleh kesal karena setiap orang berhak beropini atas politik. Ya kan? Tapi entah kenapa, saya kesal saja. Mungkin karena capek dan apatis? Entahlah.
Saya tahu bahwa buta politik itu tidak baik. (Benarkah?) Tetapi mual rasanya mendiskusikan politik di Indonesia ini. Mau muntah.
[There ... muntah udah keluar. Maap atas keluh kesah yang gak mutu sama sekali ini.]
TIap orang pun berhak untuk sebel kok…. tapi mau diapalagi pak, politik di Indonesia dinamikanya beda dengan negara lain… malah aneh…
semua cuman bisa ngomong … klo dia yg jadi, belom tentu bisa juga :p
susah di mengerti bahasa politik….skrg ini besok bisa itu
yah, mungkin yang membuat mual justru ‘yang membicarakan’ dan ‘yang dibicarakan’ sama-sama tidak enak diketahui.. hehehe
Kata Arvan Pradiansyah, “Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi!”
Ha…. saya senang bahas hal politilk.
Ya semua sudah ada bidangnya masing2, yg keilmuannya bidang politik ya biarlah ngomong politik, yg keahliannya di bidang teknologi ya ngomong masalah teknologi. Mungkin ada ilmu “politik teknologi” atau “teknologi politik” ??
setuju, yang bikin kesel itu orang yg ngomong politik tapi ga tau dasar faktanya (bahasa anak muda:sotoy).
biasanya yang masuk kelompok ini adalah yang udah termakan fanatisme berlebihan, lalu biasanya sih karakter bicaranya juga kasar dan emosional banget.
waduh, sama pak, saya juga dibuat mau muntah. tapi sadar ga sadar politik bagian dari bangsa ini sih…
Untung cuma buta, Pak. Paling tidak, Bapak Budi ga “Bisu” karena masih punya hak suara utk pemilihan Presiden nanti.
[...] netral. Juga berharap agar dapat menulis dengan kerendahan hati. Dan yang terpenting tidak membuat para pembaca menjadi sebel atau bahkan sampai [...]
Justru sebagai orang yang “melek” politik kita tidak boleh tinggal diam Pak…., atau begitulah orang yang buta politik bisa mencerminkan kualitas konstituen kita. Ayo siapa yang berani mengkoreksi EYD-nya Pancasila…. gak ada khan? Takut dikira berkhianat, padahal belum tentu paham apa itu Pancasila. Bukankah Pancasila itu juga jargon politik pendiri negeri ini?
Coba pikir, mengapa sila ke lima berbunyi : “Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Kok bukan :”Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” jadi bukan hanya sosialnya saja…
Ada yang tahu?
politik? sama, saya juga buta dengan politik…
tapi yang saya pribadi tangkap adalah politik adalah suatu hal yang mengapung di permukaan… sedang kepentingan lain adalah arus dibawahnya… kemana arah politik itu tergantung pada kepentingan2 yang lain…
yang jelas kalo kepentingan itu tentang uang, kekuasaan dan wanita.. saya juga memilih untuk tidak “bersuara” saja.