Archive Bulanan: Mei 2009

Melihat Pola (Angka)

Beberapa hari yang lalu seorang kolega dosen membuat teka teki urutan huruf dan angka, kemudian kita diminta untuk menebak polanya. Hari ini juga saya dan kawan-kawan utak-atik rumus matematik untuk mencari pola (yang kemudian dikodekan dalam bentuk program). Jika pola ditemukan maka kita bisa membuat sebuah algoritma untuk dijadikan program komputer.

Kalau polanya sangat jelas, mudah bagi kita untuk menentukan polanya. Kadang kita berada pada sebuah situasi yang mana polanya tidak terlalu mudah dikenali. Mungkin ini dikarenakan datanya yang terlalu sedikit atau memang pola yang kita amati tidak berpola (random?).

Masih berkutat … mencari pola

Jadi ingat kuliah pengenalan pola (pattern recognition).


Selamat Pagi

Dengan secangkir teh panas, kita sambut pagi ini. Semoga hari ini indah, cerah, membawa kebahagian dan barokah bagi kita semua.

Apa sarapan Anda pagi ini? Bagi-bagi dong. :)

Selamat pagi …

Sukses selalu …


Kabelgetty

Iseng-iseng tadi pagi saya jalan-jalan ke Fakultas Seni Rupa dan Desain. Di sana nemu ini dipamerkan di dinding. Langsung saya potret. Bagus ya?

Teks di sebelahnya berisi ini:

Yummy Plugger
Arie Lastri Handayani

In her works, Arie tries to point out a notion about how technology becomes an object of consumption in most urban society. One of the important parts in information technol0gy is internet. Internet is a vital facility for every part of urban society’s life. Here, Arie presents a piece of internet connection cable that we usually see connected to our computer sets. Arie puts the cable in a piece of ceramic plate along with metal spoon and fork. All these pieces represent people desire upon information technology that grows rapidly nowadays. It is almost like eating a plat of spaghetty said Arie.

Selamat menikmati :)


1 MB bisa untuk apa?

Pada saat tulisan ini saya tulis, ada banyak iklan operator seluler yang mengatakan bahwa setiap harinya kita bisa mendapatkan 1 MBytes gratis. Hmm… menarik. Sebetulnya 1 MBytes itu sebesar apa sih?

Untuk mengetahui hal ini, saya menugaskan mahasiswa saya untuk menangkap sesi email mereka (gmail atau yahoo) dengan menggunakan Wireshark dan mencatat jumlah paket yang mereka gunakan. Ternyata hasilnya bervariasi. Ada yang menghabiskan 300 kBytes untuk satu sesi email (login, menampilkan daftar email yang ada di mailbox, dan mengirimkan sebuah email kecil). Ada yang lebih kecil dari itu dan ada yang lebih besar. Saya belum perhatikan lebih detail paket yang mereka tangkap.

Kesimpulan sementara, 1 MBytes / hari tidak cukup untuk email-emailan. Mungkin dia hanya cukup untuk chatting dengan menggunakan YM! saja? Saya belum cek dengan facebook. Kemungkinan juga facebook menggunakan bandwidth yang besar juga.

Ada yang mau coba tangkap satu sesi facebook Anda dan ukur berapa banyak paket yang lalu lalang?

Berikut ini beberapa link terkait.


Koding Lagi

Penasaran. Lagi baca buku “introduction to cryptography” yang banyak matematikanya, ada bagain tentang fast exponentiation. Di sana ada potongan kode (pseudo code? C++?). Agak susah juga menelusuri kode itu, meskipun singkat. Akhirnya saya putuskan untuk menuliskan kode itu dan menjalankannya.

Sebetulnya saya ingin menuliskannya dengan menggunakan bahasa perl, tetapi saya putuskan pakai bahasa C saja. Toh kodenya juga sama. Jadinya, koding kecil-kecilan lagi.

Program jalan dan saya jadi mengerti alur algoritmanya. (Meskipun sebetulnya ada bugs di programmnya. Biarkan saja! Toh tujuannya hanya untuk memahami algoritma.)

Iseng aja … :)


WiMAX 100% Indonesia

Tadi pagi menjelang siang saya diajak pak Trio untuk melihat pengembangan produk WiMAX buatan mereka.  Pak Trio dan kawan-kawan sedang gembira karena mereka berhasil membuat perangkat WiMAX yang 100% buatan Indonesia, termasuk chipsetnya. Chipnya saat ini diimplementasikan dengan menggunakan FPGA. Sebentar lagi akan jadi yang full custom.

Wah, selamat untuk pak Trio dan kawan-kawan.

Indonesia bisa!


Selamat Pagi

Pagi ini cerah. Semoga hari ini cerah terus setelah kemarin malam hujan deras.

Selamat pagi. Sukses!


Close to the Edge


Kebijakan Komentar di Blog

Saya menerapakan kebijakan untuk tidak mengomentari komentar yang ada di blog ini. Alasannya adalah karena saya ingin mendapat masukan dari pembaca dan takut menimbulkan polemik.

Alasan selanjutnya adalah saya tidak ingin terjebak menghabiskan waktu untuk mengomentari komentar (atau yang memberi komentar). Toh tujuan saya yang utama adalah mendengar komentar dari pembaca, bukan malah memberikan komentar balik. hi hi hi.

Oh, semua komentar saya baca dan pembaca boleh saling berdiskusi di blog saya. Jadi sesama Anda bisa salah komentar dari komentar. Silahkan. Asal santun saja ya.

Tentu saja kadang, jika dibutuhkan, memang saya bisa saja memberikan komentar sebagai tambahan informasi. Ini sudah beberapa kali terjadi, tetapi bukan default-nya.

Bagaimana kebijakan komentar di blog Anda?


Breakfast at …

Setelah posting pagi makan donat, kami ditelepon keluarga yang mengajak sarapan di sebuah tempat di Dago Pakar. Langsung kami setuju dan siap-siap berangkat saat itu juga.

Saya tidak tahu nama tempatnya, tetapi ini adalah sebuah rumah kecil yang dikelola oleh Kang Yudi. Rumah ini sering disewakan untuk acara makan-makan keluarga. Ini untuk kedua kalinya kami datang ke sana. Kebetulan mereka adalah keluarga dari keluarga (jadinya keluarga juga ya? hi hi hi). Kali ini kami makan di tempat samping rumah menghadap ke arah Bandung. Pemandangannya sungguh indah.

Sesampainya di sana, langsung kami bertiga menyerbu tempat makan. Baru satu keluarga yang datang. Makanan yang langsung dibuat saat itu juga belum dihidangkan semuanya, tetapi sudah banyak.

Ada bubur, pisang goreng, singkong (sampeu) goreng yang renyah (enak banget! saya sampai ketagihan makanin terus), bakwan, teh, dan kopi. Nantinya ada nasi goreng dan capcay.

Semuanya saya cicipi satu persatu. Sedikit-sedikit sih. Yang penting semuanya dapet. Wah, ueeennnaaak banget. Semuanya dimasak pada saat itu juga sih. Jadi fresh dan panas.

Yang pertama saya makan adalah bubur.

Setelah menyantap bubur, saya menoleh ke singkong dan pisang goreng lagi.

Begitu nasi goreng datang, ya nasi goreng. Sebetulnya nantinya ada capcay juga, tetapi yang sempat terpotret adalah nasi gorengnya saja. (Nanti kelihatan gembul. hi hi hi.)

Sedaaappp…

Setelah itu sebagian main musik di ruang tengah.


Rencana Masa Lalu: Playing Gig 1000 People

Baru saja saya mendapat email dari diri sendiri, hi hi hi:

Dear future self,

I’m reminding you about your stated goal on 43 things, to
“play a gig in front of thousands people”.

How’s it going?

Sincerely,
Your past self

Halah. Baru teringat dulu pernah menulis di 43 things, bahwa saya bercita-cita ingin manggung di depan ribuan orang. Hmm… mungin di Madison Square Garden atau Budokan gitu? hi hi hi. Belum tercapai, euy. Ratusan sih sudah. Dari ratusan menjadi ribuan ternyata tidak mudah.


Selamat Pagi

Kali ini pagi disertai dengan sarapan … donat. Hu hu hu.

Sebetulnya ingin makanan lain yang lebih sehat(?), tetapi adanya donat kemarin dulu dan lapar berat. Sikaaattt… Nanti makan yang lebih bener. hi hi hi.

Selamat pagi. Mudah-mudahan hari ini cerah.

[soundtrack: Yes - Onward]


Selamat Datang Waktu

Tik … tok … tik … tok
… jarum bergerak
… waktu bergeser
… usia bertambah

Selamat datang waktu. Semoga waktu yang telah beranjak membawa berkah dan semoga waktu yang akan datang memberi kebahagian.


(Selamat) Pagi …

Selamat pagi …

Kali ini tanpa foto :)   Tadinya mau saya pasang foto jam, tetapi kok jamnya menunjukkan hampir jam 12 siang. Hi hi hi. Itu sih bukan pagi lagi. Jadi saya putuskan untuk tidak menggunakan foto itu.


Nyontek dan Curang di Kalangan Mahasiswa

Tadi sore sampai maghrib, saya ikut mendengarkan diskusi mengenai nyontek dan curang di kalangan mahasiswa. Saya sebenarnya agak terkejut mendengar bahwa ini hal yang lumrah karena jaman saya dulu rasanya tidak banyak yang melakukan hal ini.

Lebih sedihnya lagi adalah siswa SMA sekarang (dan lebih ke bawah lagi, SMP, dst.) sudah diperkenalkan dengan nyontek semenjak mereka sekolah. Ujian Nasional yang jawabannya bisa dibeli lah dan bahkan diorganisir oleh sekolah. Sebentar lagi mereka akan masuk ke perguruan tinggi. Bisa kebayang kultur atau kebiasaan yang akan mereka bawa?

Sedih …

Satu hal yang menarik dari diskusi tadi adalah usulan adanya faktor pencegahan. Kecurangan terjadi karena ada niat dan kesempatan. Jika kesempatan diperkecil, maka kecurangan tidak terjadi. Salah satu contohnya adalah keberadaan dosen ketika ujian. Meskipun pengawasan bisa diserahkan kepada asisten, ternyata keberadaan dosen ketika ujian merupakan faktor pencegahan yang sangat efektif. Nah.

Saya sendiri melihat bahwa kecurangan terjadi karena efek “takut gagal” atau “tidak boleh gagal”. Mahasiswa tidak boleh gagal dalam ujian. Kalau gagal maka dia akan malu. Aib. Ini menurut saya penyebabnya.

Saya mencoba mengajak mahasiswa untuk berpedoman bahwa gagal boleh, curang tidak. Misalnya, ujian boleh gagal. Kalau gagal nanti akan ada ujian lagi (remedial) dan seterusnya. Kalau perlu ujian remedialnya adalah dengan langsung tanya jawab. Pokoknya mengajak mahasiswa untuk mendapatkan ilmunya, meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama. Yang repot dengan cara ini adalah dosen menjadi jauh lebih sibuk. :(


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.